
Clara dan Karin langsung terfokus pada foto pernikahan milik Devano yang terpampang jelas disana, meski berulang kali mengusap mata untuk memastikan nyata tidaknya.
"Kar, sini. Gue mau ngobatin luka, Dev dulu." ucap Alfin, Karin pun mengangguk tapi masih mematung di tempat.
Tadinya Maya hendak mengobati luka Tuan mudanya, namun sudah diambil alih oleh kedua sahabatnya, Abiyan dan Alfin.
"Dev, ini beneran lo? Ya Allah, gue kira pas lo ngomong bawa istri ke nikahan gue itu prank." celetuk Karin tanpa sadar, sejurus kemudian ia membekap mulutnya sendiri demi melihat ekspresi Clara yang semakin terbengong-bengong.
"Devano nikah, elo nikah? maksudnya apa sih ini, kalian nyembunyiin sesuatu dari gue." tanya Clara yang terlihat syok, bagaimana bisa?
Abiyan pun meminta Clara duduk, setelah mengobati luka-luka Devano ia pun menceritakan semuanya secara detail tanpa terlewat.
"Jadi lo juga sempet mau nikah?" tanya Clara sambil menoyor kepala Karin.
"Ishhh, sakit tau! itu accident." Karin meringis, malu sendiri jika mengingat masa lewat.
"Elo juga Dev, kenapa gak bilang kalau udah nikah," Clara masih tak terima, karena diantara mereka semua, dialah yang paling ketinggalan berita.
"Terus tadi kenapa bisa berantem sama Briyan." tanya Alfin, tanpa sadar sambil menekan luka bibir Devano.
"Ish, sakit be go."
Namun, Alfin justru terkekeh, "Sorry-sorry, sengaja."
Devano pun menceritakan awal pertama Briyan menyindirnya, kemudian terjadilah adu pukul itu, dan video yang membuat Devano hingga saat ini dilanda gelisah. Lantaran pihak sekolah tau kalau ia menghamili perempuan, bahkan pak Tarma belum sempat mendengar penjelasan bahwa wanita hamil itu adalah istrinya, Nora Lee.
Mereka yang mendengar cerita Devano pun melongo saking terkejutnya, pun Karin dan Alfin yang merasa bersalah karena adu pukul itu terjadi karenanya.
"Sorry, Dev! Lagi-lagi gue bikin lo kebawa masalah gue sama Karin."
"Iya Dev, sorry banget. Tapi, gue sama sekali gak suka sama Briyan," tutur Karin.
"Gak papa, gue paham! Cinta gak bisa dipaksa Kar." ucap Devano, "Asal lo bahagia sama Alfin aja gue dah seneng." sambungnya lagi, sepasang kekasih itu pun bernapas lega sambil melempar senyum.
***
Sampai sore mereka menghabiskan waktu di rumah Devano, saat sebuah mobil memasuki halaman rumah, mereka semua semakin tercengang akan kehadiran Nora.
"Makasih Zi." ucap Nora lantaran hari ini Devano tak menjemputnya, Ziando pun mengantar Nora pulang ke rumah. Wajah letihnya sangat kentara terlebih ia sedang hamil saat ini, namun begitu masuk ke dalam rumah ia terkejut karena disana ada teman-teman Devano.
"Sore kak Nora." sapa Clara pun Karin menyambut, Nora mengangguk senyum, "Sore,"
"Dev, kamu kenapa?" tanyanya cemas begitu tau sudut bibir suaminya terluka.
"Kena bogem kak, sama Briyan." jawab Alfin.
"It's oke, aku gak papa." sahutnya tersenyum.
__ADS_1
"Gak papa gimana? biru gitu, sakit ya?" ambil mengusap lembut sudut bibir Devano, "Ehm, gak sakit kak Nora, kan obatnya dah dateng." ucap Abiyan, langsung mendapat sikutan dari Clara.
Setelah kepulangan teman-temannya, Nora mengajak Devano untuk naik ke lantai atas.
"Gak mau cerita?" tanyanya begitu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Devano menggeleng, lalu duduk di tepi ranjang.
"Beneran gak mau jujur?" ulangnya lagi, hingga berhasil membuat Devano menunduk dalam-dalam kali pertamanya.
Namun, Devano tetap teguh dan tak ingin Nora semakin kepikiran dengan hal konyol yang sedang menimpanya. Sorenya ia mendapati telpon jika papa dan mama sudah mendarat di Indonesia dan dalam perjalanan menuju pulang ke rumah.
***
Ia menatap Nora lekat-lekat, mencari kekuatan karena begitu sampai rumah, papa dan mama langsung memberondonginya dengan segudang pertanyaan.
"Masalah apa, sampai papa di panggil ke sekolah?" tanya papa Bayu, hingga memancing tanya di diri Nora.
"Masalah?" tanyanya menatap Devano pun papa mertua bergantian. Sementara sang mama langsung menusap lembut pundaknya agar ia sabar.
Devano, ia menarik napas berulang-ulang dan menghembuskannya perlahan. Meraup oksigen sebanyak-banyaknya, agar sesak yang menggerogoti dada segera hilang.
Dengan penuh keyakinan, ia akan jujur dengan kedua orang tuanya sebelum masalah menjadi pelik.
"Nora hamil, Pa, Ma." Akunya menunduk dalam-dalam.
"Oalah Dev, Dev! Khilaf kok tiap hari." gerutu sang papa menahan senyum, pun mama Nara yang masih menahan euforia bahagianya.
"Kenapa bisa hamil, hm? kalo sudah begini mau bagaimana?" tanya sang papa meski dengan wajah santai, membuat Devano dan Nora sama-sama menunduk.
"Maafin Nora, Pa, Ma! Nora yang salah." akunya meremas ujung dress.
"Terus sekolah kamu gimana? ujian kamu gimana? Sekolah minta papa dateng besok?" sungguh ia ingin sekali mengerjai anaknya, melihat bagaimana menggemaskannya ekspresi Devano ketika dilanda ketakutan.
"Sekolah?" tanya Nora tak mengerti, lalu menatap sang papa pun Devano bergantian.
"Pihak sekolah sudah tau sayang, tapi berita yang sampai di telinga guru..." Nara menghela napas sejenak.
"Devano menghamili anak gadis orang, dan memanggil pihak orang tua untuk datang ke sekolah besok." sambung Nara.
Nora membulatkan matanya tak percaya, ia bahkan tak menyangka jika kehamilannya akan mempersulit Devano.
"Maaf, tapi apa boleh Nora ikut besok, Pa?" tanyanya, ragu.
Papa Bayu menghela napas sejenak, "Iya, sekalian bantu jelasin kalau kamu istrinya. Besok biar mama yang ke kantor cek situasi." ujar sang papa.
Tiba-tiba, Devano meremas jemari Nora sembari mendekatkan diri, "Maaf," bisiknya lirih.
__ADS_1
****
Pagi hari, di SMA Tunas Bangsa. Devano datang bersama Nora dan papanya langsung menemui pak Tarma di ruang BK, namun di bagian kursi rapat orang tua sudah ada pak Hadi kepala sekolah SMA Tunas Bangsa.
"Selamat pagi, Pak Hadi, Pak Tarma, Bu Siska." sapa papa Bayu menganggukan kepala, pun Devano dan Nora yang mengangguk hormat.
Mereka duduk membentuk oval meja, hingga memudahkan pak Hadi berbicara.
"Kamu yang bernama Devano?" tanya Pak Hadi, Devano mengangguk.
"Dan anda pak Bayu, bagaimana bisa anda membiarkan anak anda menghamili anak orang?"
"Bisa biarkan kami menjelaskannya lebih dulu, Pak?" tanya Pak Bayu. Pak Hadi langsung terdiam.
"Wanita di samping saya ini, tentu bapak tidak asing karena sudah mengklaim Devano menghamili anak orang. Tapi dia istri sahnya, saya sendiri yang menikahkan mereka dua bulan yang lalu. Bukan karena accident, atau apa? tapi karena kehidupan dunia bisnis memang seperti itu."
"Ini buku nikah kami, kalo bapak tidak percaya." Nora bahkan sudah siap siaga, membawa buku nikah asli untuk ditunjukkan ke kepala sekolah.
"Maafkan saya pak!" aku Devano menunduk, pun Nora.
Pak Hadi terdiam mencerna kalimat yang diutarakan pak Bayu, wali dari Devano.
"Begini saja, Pak! Kita kasih pilihan untuk Devano, mau tetap ikut ujian di Sekolah, atau ujian di rumah dengan catatan tidak masuk sekolah lagi." ucap pak Hadi kemudian.
"Kenapa harus di rumah?" tanya papa Bayu heran dengan kening berkerut.
Bu Siska, wanita berwajah teduh itu mengusap bahu Devano.
"Untuk menghindari perudungan dan pembullyan terhadap Devano, terlebih video ini hasil laporan dari seorang siswa." ucap pak Tarma menjelaskan.
"Jadi gimana, Dev!" tanya sang papa.
"Dev, ikut ujian di Sekolah pa." sahutnya yakin.
"Termasuk siap dengan segala resikonya? kami tak menjamin Briyan belum menyebarkan video ini, tapi kami sudah mengupayakan dengan menghapusnya di ponsel Briyan." ucap pak Hadi.
Devano mengangguk yakin, bukankah dia laki-laki? dia kuat, dia hebat, dan dia bisa mengahadapi ini semua, begitu.
Papa Bayu bernapas lega, akhirnya masalah Devano sudah selesai. Kini ia bisa langsung melesat ke kantor bersama Nora, sedangkan Devano masuk ke dalam kelas hari ini.
**
Sampai di Aldeva group, semua karyawan menyambut kehadiran Bayu dengan antusias. Pun Nora yang sudah mulai akrab dengan para bawahan, meski sempat terjadi masalah pelik dulunya.
"Jangan capek-capek, kalau ada apa-apa minta tolong sama Ziando atau Kenzo, kamu lagi hamil sekarang nak." ujar sang papa.
"Iya, Pa pasti."
__ADS_1
Namun, tiba-tiba sang mama Nara menghampiri dengan raut euforianya, "Akhirnya mama mau punya cucu." ucapnya sambil memeluk Nora erat.