TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Bad day


__ADS_3

Akhirnya hari terburuk itu tiba, hari dimana sebagian siswa siswi Tunas Bangsa mengetahui kabar bahwa dia sudah menghamili seorang perempuan, yang bahkan lima tahun lebih tua darinya.


Disaat ia menerima pengumuman hasil ujian nasional, dengan nomor tertera paling tinggi, nomor satu. Devano Aldeva sebagai siswa berprestasi dengan nilai ujian terbaik, mendapat perudungan dari sebagian siswa dan siswi. Tentu saja salah satunya, Briyan Stein.


Jadi siswa paling berprestasi di TB minim akhlak?


Perusak anak orang


Simpanan tante-tante


Devano Aldeva tidak layak jadi yang terbaik


Harusnya ia mendapat pengurangan nilai


Dasar sampah, masih punya muka di TB


Ia hanya menghela napas kasar mendengar olokan demi olokan yang memanas di telinga, tak sampai itu siswa-siswi lain juga memandangnya dengan sorot mata kebencian. Kini ia hanya punya sahabat-sahabatnya di garda paling depan. Devano tak tau harus bersikap seperti apa, bagaimanapun hatinya tersentil saat ini.


"Aku tidak akan menyesal menikah dengan tante Nora, meski hal buruk seperti ini akan terus terjadi." batinnya, ia sudah menerima konsekuensinya dari awal.


"Gue mesti kasih pelajaran sama Briyan," geram Alfin.


"Jangan cari masalah, Fin!" cegah Devano, namun terburu Alfin yang sudah melangkah menjauh.


**


Koridor depan kelas Karin, Alfin mengepalkan tangan. Menerobos masuk kelas dan mendapati Briyan tengah terbahak haha hihi dengan gerombolannya.


Bugh!


Bugh!


Dua pukulan tepat mengenai rahang, hingga membuat heboh seisi kelas, teman-teman Briyan hendak ikut balas pukul Alfin, namun urung karena tangan Briyan melambai ke atas kode agar mereka tidak ikut campur.


"Ini urusan gue sama geng mereka." ujarnya,


"Pukul lagi," titahnya, "Lo mukul gue, lo sendiri yang mati." Briyan menatap Alfin dengan seringai lebar. Saat itu juga tangan lembut mengusapnya dari belakang, berusaha meredam emosi yang melanda di diri Alfin, "Kendalikan emosi, sayang!"


Briyan yang mendengar kata sayang tersemat untuk Alfin seketika memanas.


Bugh!


Ia memukul wajah Alfin hingga hidungnya berdarah. Gegas Karin menarik Alfin, membawanya pergi dengan dibantu Abiyan yang baru saja datang.


***


Sementara Devano, setengah berlari ia menuju ruang BK.

__ADS_1


Saat seorang siswi datang menyampaikan panggilan bu Siska.


"Duduk, Dev!" ujar bu Siska, Devano pun duduk di hadapannya.


"Ibu mau bicara bentar, untuk respon anak-anak Tunas Bangsa. Ibu harap tidak menjadikan mental kamu down. Kamu harus semangat..." bu Siska menjeda ucapannya, menghela napas sejenak, seperti berat menyampaikan sesuatu.


"Ponselmu mati?" tanya bu Siska, Devano mengangguk.


"Ada telepon dari Rumah Sakit Hermina..."


Tubuh Devano seketika bergetar, dengan wajah memucat, ia bahkan hanya diam bersiap mendengar kalimat bu Siska selanjutnya.


"Apapun yang terjadi, kamu harus sabar dan selalu bisa mensuport istrimu, dia butuh kamu sekarang. Jadi pergilah, ini surat izin kepulanganmu." bu Siska menyodorkan selembaran surat kepada Devano, dengan tangan bergetar ia menerimanya.


Dadanya berkecamuk, entah ia merasa hari ini adalah hari buruk baginya, ada apa?


Devano bahkan tak sempat memberitahu sahabatnya, ia langsung mengambil ransel dan pergi meninggalkan Tunas Bangsa.


Dengan kecepatan tinggi, ia melesat langsung ke rumah sakit Hermina.


Berulang kali ia menekan klakson karena merasa lalu lintas begitu padat dan lambat, ditambah ponselnya yang mati tak bisa membuatnya menghubungi siapapun.


Damned!


Sepanjang jalan terus mengumpat kesal, sudah satu jam dan ia masih terjebak di tengah-tengah kemacetan, setelah berhasil keluar dari zona macet, ia semakin tak karuan saat seseorang melambaikan tangan dengan keadaan mendesak akan melahirkan meminta pertolongan untuk mengantarnya ke klinik.


"Tolong mas, tolong istri saya ini ugrent."


"Ke klinik aja mas, saya gak punya bi..."


"Masuk aja mas, ini darurat. Biar saya bantu nanti." putus Devano, mau tak mau laki-laki yang sama paniknya dengan dirinya itu pun menurut.


Dev mencengkram kemudi melihat seorang perempuan kesakitan hendak ingin melahirkan membuat tubuhnya bergetar. Namun, sebisa mungkin ia berusaha tenang.


Sampai di pelantaran rumah sakit, gegas ia meminta pertolongan darurat agar perempuan yang akan melahirkan segera ditangani.


"Mas, dampingi saja. Saya akan urus administrasinya sekalian. Tapi maaf saya gak bisa ikut nunggu, istri saya masuk rumah sakit ini." tuturnya.


Belum sempat ia berterima kasih, Devano lebih dulu pergi.


Setelah urusan selesai, ia langsung mencari kamar VIP dimana Nora dirawat.


Begitu masuk, ia langsung limbung karena kondisi Nora yang terus menangis, Ada apa sebenarnya?


"Dev," lirihnya, dengan suara tak kalah bergetar. Sementara mama Nara pun kedua mertuanya tak henti-hentinya menenangkan Nora.


Shaka mendekat ke arah Devano, "Kamu tenang, kamu harus bisa tenang agar Nora tak tertekan. Mungkin belum rezeki kalian untuk mendapatkan..." Shaka menunduk dalam-dalam, pria paruh baya itu kemudian memeluk menantu laki-lakinya.

__ADS_1


"Nora kenapa, Pa?"


Kedua mamanya pun tak kuasa cerita, dan akhirnya Shaka menjelaskan bagaimana rentetan kejadian yang membuat Nora kehilangan bayinya.


Nora terpeleset di kamar mandi ruangan kantornya, awalnya Nora merasa lemas sekali namun karena ingin buang air kecil membuatnya gegas ke kamar mandi, tiba-tiba tubuhnya limbung hingga perutnya menghantam toilet duduk.


Sudah jatuh, orang pun tak tau. Kenzo yang merasa curiga Nora tak ada di manapun berinisiatif masuk ruangannya, beruntung kamar mandi tak dikunci, Kenzo mengecek di dalam dan mendapati Nora tak sadarkan diri dengan darah mengalir.


Devano meremas kepalanya, tanpa sadar bulir bening jatuh dari sudut matanya. Ada rasa sesal menyeruak, karena ia tak bisa menjaga istri dan anaknya.


Hari yang sangat buruk, benar-benar buruk!


"Sayang," ia meraih Nora yang terus saja menangis.


"Hiks hiks hiks, anak kita Dev, anak kita." cicitnya.


Mereka berdua pun menangis bersama, kemudian dokter memanggil Devano.


Devano menurut, saat sang dokter memintanya mengadzani bungkusan kain kafan kecil.


Dialah si jabang bayi, meski kecil dia tetaplah buah cinta dirinya dan Nora.


Dengan bergetar ia melakukannya, air matanya luruh dengan mata memanas.


"Maafin ayah sayang, ayah gak bisa jagain kamu dan mama." bisiknya, meski entah apakah anaknya akan tau atau tidak.


Tapi satu, walaupun anaknya telah pergi. Tapi dia dan Nora sangat menyayanginya, mengharapkan kehadirannya bahkan ketika seluruh dunia menolak kehadirannya sekalipun.


"Ayah mencintaimu sayang." cicitnya dengan tubuh bergetar.


Ia bersama mama Nara dan papa Shaka memakamkan janin di pemakaman dekat rumah Aldeva, sementara mama Kenia, ia menenangkan Nora yang masih mendapatkan perawatan pasca keguguran.


Nara menghubungi suaminya agar bertemu di pemakaman, papa Bayu yang masih mengurusi kekacauan di kantor baru bisa menyusul.


Sampailah mereka di TPU kenanga.


Dari rumah sakit, di dalam mobil hingga sampai TPU, Devano menggendong anaknya, sekecil apapun wujudnya, sebagaimanapun? Devano tetap menganggapnya anak, anak hebat kesayangan ayahnya.


Dengan berat hati ia meninggalkan gundukan kecil bertuliskan Dera, Devano menamainya dengan Dera, Buah cinta Devano dan Nora.


Ia mengusap sudut matanya yang berair, ikhlas! mungkin itu, tapi apakah itu mudah?


Mungkin mudah baginya, tapi Nora?


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2