TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Lamaran


__ADS_3

Devano mengguyur tubuhnya yang nyaris sempurna di bawah guyuran shower, ia butuh air dingin untuk meredam pikirannya, menetralkan otaknya sebelum ia datang ke rumah tante kesayangannya malam nanti.


Masih pukul enam, masih ada satu jam baginya untuk bersiap, ia keluar dengan mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.


Tok..Tok..Tok..


"Tuan, ditunggu nyonya dan Bapak di bawah." suara Maya dari luar membuat Devano berdecak, masih satu jam dan satu jam itu waktu yang sangat lama baginya.


"Bentar, May! Lima belas menit lagi aku turun." Ucap Devano tanpa membuka handle pintu pastinya. Maya pun gegas turun memberitahukan kepada Nara dan Bayu di ruang tamu.


"Anak itu, apa sedang gugup sekarang." ucap Bayu setelah mendapatkan laporan dari Maya.


"Namanya juga mau ngelamar anak orang pa, mau sekaya apapun kita, belum tentu bisa membuat orang tua Nora menerima, penilaian itu tak selalu tentang materi," ucap Nara.


"Itu dia, Ma! Istriku memang bijak, apapun keputusan orang tua Nora, harus kita hargai, yang penting kita sudah berusaha, Devano juga sudah berusaha." Bayu pun meraih Nara ke dalam pelukannya, bersamaan dengan Devano yang baru akan menuruni tangga.


"Moment yang tidak tepat kan!" gerutunya namun dengan senyum tipis kala melihat kemesraan kedua orang tuanya.



Dengan setelan jas berwarna putih Devano sudah siap, tak lupa ia membawa kotak hadiah berisikan kalung yang sempat ia beli kemarin. Perlahan ia menuruni tangga menemui kedua orang tuanya yang telah menunggu di ruang tamu.


"Anak mama memang tampan, dia sudah dewasa rupanya." ucapnya kala melihat Devano, sang anak sedang menuruni tangga dan berjalan menghampiri mereka.


"Hya, dia memang tampan, sempurna dan berkharisma seperti papanya." Sahut Bayu, dengan bangga.


Langsung mendapat cubitan mesra dari Nara, "Sudah tua, narsisnya masih kelewat pa." Nara pun meraih tas, lalu berdiri di ikuti Bayu.


"Sudah siap, sayang?" tanya Nara, Devano mengangguk.


"Ayo, Ziando sudah di depan." ucap Bayu akhirnya, lalu gegas mereka keluar rumah dan masuk ke dalam mobil setelah Ziando membukakan pintu lalu ikut masuk di kursi kemudi. Devano duduk di depan bersama Ziando, karena Devano yang paling tahu dimana rumah Nora berada.


"Kamu nggak lupa tempatnya kan sayang?" tanya Bayu, "Tenang pa, rumah tante Nora ada di komplek perumahan cempaka indah." Sahut Devano, lalu mereka mulai berangkat ke rumah orang tua Nora.


"Kok aku gugup ya? Apa lebih baik aku bilang tante Nora kalau sekarang mama dan papa mau kesana? ke rumah orang tuanya, tapi gak surprize lagi dong nanti, ah semoga saja Tuhan melancarkan semuanya," Batin Devano berkecamuk, ia benar-benar merasa gugup, terlebih berhadapan dengan orang tua Nora yang jelas-jelas belum menerimanya.


"Ah semoga saja.." Devano terus berdoa di dalam hati, semoga ia bisa, ia pasti bisa. Tolak ukur kedewasaan seseorang tak harus dilihat dari umur, dan Devano harus bisa membuktikannya kepada orang tua Nora. Bahwa ia memang pantas, bahkan sangat pantas untuk Nora.


**


"Ma, apa-apaan sih, kok masak banyak banget gini." protes Nora kala melihat meja makan yang penuh dengan makanan yang menggugah selera.


"Tentu saja untuk menjamu calon menantu mama, iyakan bi?" ucap Kenia melirik ke arah bi Ijah, bi Ijah hanya menanggapi dengan senyum dan anggukan kepala.


"Ishh mama, tapi gak perlu begini juga." rengek Nora seperti anak kecil, siapa yang tahu hatinya merasa bersalah saat ini karena telah membohongi orang tuanya akan kehadiran Devano.


"Udah sana ganti baju, katanya Devano mau kesini kok malah pakai baju tidur? Jangan lupa dandan yang cantik." titah Nora dengan seulas senyum. Nora mengigit bibir bawahnya, raut wajahnya tampak cemas.


Nora semakin merasa bersalah kala sang papa dan Zain sudah menuruni tangga dengan setelan jass yang rapi, "Astaga." pekik Nora tersentak, lalu tersenyum masam.


"Loh, kok belum ganti baju?" tanya sang papa, "Eh, iya Pa, ini mau ganti baju." Nora gegas melangkah, berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Nora aneh gak sih pa?" tanya Zain, lalu mengikuti Shaka yang telah lebih dulu duduk di sofa tamu.


"Aneh gimana, palingan gugup dia, itu wajar Zain." ucap sang papa, Zain pun hanya ber-oh ria setelahnya.


Seorang satpam setengah berlari menghampiri Shaka, dengan napas masih ngos-ngosan ia memberitahu jika di luar, ada tamu.


"Suruh masuk," titah Shaka, tak berselang lama sebuah mobil memasuki halaman rumah Shaka setelah satpam rumahnya membuka pintu gerbang.

__ADS_1


"Pasti itu Devano, Zain kamu panggil Nora." titah Shaka.


***


"Masuk saja Pak, Tuan Shaka menunggu."


Devano, Ziando juga kedua orang tua Devano kini sudah berjalan, meski pintu rumah itu terbuka, gegas Devano menekan bell pintu.


Shaka langsung bangkit, ia ingin menyambut kedatangan Devano sebagai permintaan maaf akan sikap buruknya kemarin.


Namun, langkahnya berhenti dengan tubuh mematung sekian detik ketika melihat dengan siapa Devano datang.


"Selamat malam pak Shaka." Sapa Bayu ramah, Nara pun ikut menyunggingkan senyum.


"Malam om." sapa Devano, namun saat ia ingin meraih punggung tangan dan menciumnya, Shaka justru diam mematung.


"Om, Om Shaka." ulang Devano, barulah Shaka tersadar dari lamunannya.


"Maaf, maaf silahkan masuk." titahnya meminta Devano, Ziando dan kedua orang tua Devano masuk.


Nara memandang sekeliling, mencari sosok Nora berada.


"Silahkan duduk, Nora masih bersiap di atas."


Suasana yang benar-benar canggung, Shaka benar-benar dilanda gugup terlebih saat tahu ternyata Devano adalah putra dari Bayu Aldeva.


"Kenapa aku tak menyadari dari awal, jika marga mereka sama." Batin Shaka merutuki kebodohannya.


"Jadi Devano ini..."


"Iya Pak Shaka, maafkan putra saya ya, jika berperilaku kurang baik, tapi gimana ya anak muda memang begitu." ucap papa Bayu.


"Saya yang minta maaf pak, saya terlalu egois hingga lebih mementingkan bisnis ketimbang kebahagiaan anak saya, bukan karena saya tidak menyukai Devano bukan, saya hanya syok terlebih Devano masih sekolah, dan ditambah usia Nora terpaut lima tahun lebih tua darinya." terang Shaka.


"Sekarang, saya tanya alasan kenapa Devano melamar Nora waktu itu?" Tanya Shaka, Devano yang sedari tadi diam pun menghembuskan napas kasar. Namun, demi hidup bersama dengan tante kesayangannya, Devano akan berusaha.


"Karena saya mencintai tante Nora, om!" aku Devano.


"Alasan kamu mencintai Nora apa, Nak?" Kali ini suara Kenia.


"Nggak ada tante, saya nggak butuh alasan untuk mencintai tante Nora, semua mengalir begitu aja." ucap Devano. Shaka pun mengangguk-anggukan kepala mendengar jawaban Devano.


Sementara Nora yang belum menyadari kehadiran Devano pun duduk di depan cermin, "Cepetan Noe," titah Zain, Nora pun mempercepat gerakannya. Rasa bersalah dari tadi menyeruak di dasar hatinya, mempersiapkan rentetan alasan yang terangkai sedari tadi.


Zain menghembuskan napas kasar, lalu keluar kamar Nora, dalam hitungan detik ia sudah kembali.


"Noe, Devano dan orang tuanya sudah datang."


Nora membulatkan matanya, hampir tak percaya terlebih sedari tadi tak ada kabar dari Devano bahwa ia akan datang ke rumahnya malam ini.


"Astaga, Zain. Serius?" tanya Nora kelabakan, saat rambut belum ia rapihkan. Zain mengulas senyum, "Gimana sih, kamu sendiri kan yang bilang kalau mau dateng, kok malah kaget gitu." secepat kilat Nora menutupinya dengan senyuman.


Dengan balutan gaun putih dengan belahan dad* rendah, Nora mematutkan diri di depan cermin.


Memindai penampilannya, "Sempurna."


Bersama Zain, ia menuruni anak tangga, langkahnya terhenti saat Devano menatapnya hampir tak berkedip.


"Kenapa dia tampan sekali bahkan tak terlihat sama sekali jika dia masih kelas tiga SMA," Batin Nora dengan mata tak lepas memandang Devano.

__ADS_1


"Ehmm, ayo udah ditungguin." Suara Zain menyadarkan, lalu dengan segera turun dan menghampiri ruang tamu.


Nora mencium tangan orang tua Devano bergantian, lalu bersalaman dengan Ziando juga Devano.


"Wah cantik sekali, Nora." puji Nara dengan senyum, "Sama seperti mamanya." sambung Nara lagi, hingga membuat Kenia malu.


"Ah, jeng bisa aja."


Nora duduk di samping Devano, sedangkan Zain bersebelahan dengan Ziando, dan dua orang tua mereka yang bersebrangan.


"Lihat deh jeng, cocok sekali ya." ucap Nara, penuh semangat. "Iya, anak muda sekarang emang suka janjian kalo milih baju." pungkas Kenia saat mereka sadar akan penampilan Devano dan Nora yang terlihat serasi dengan warna senada.


"Ehm, kedatangan saya kesini bersama Devano itu untuk melamar putri pak Shaka, agar menjadi bagian dari keluarga kami, sadar Devano masih sekolah, tapi saya sendiri yang akan memastikan jika Devano akan menjadi sosok suami yang bertanggung jawab." Tegas Bayu penuh harap.


"Kalau saya pribadi dan istri pun sudah merestui mereka, kemarin-kemarin saya sempat ragu, ya karena Devano masih sekolah. Untuk yang lain saya tak mempermasalahkannya, terlebih perihal materi, saya sama sekali tak menilai orang dari sudut itu." tegas Shaka, "Saya bahkan sangat menyesali keegoisan saya saat berencana menjodohkan Nora dengan anak rekan bisnis yang membuat putri tercinta saya memilih kabur." aku Shaka.


"Tak apa pak Shaka, anda adalah sosok papa yang baik, buktinya sekarang anda lebih memilih mengendurkan ego dan merestui mereka." sahut Bayu.


Nora dan Devano pun hanya menyunggingkan senyum, menanggapi perkataan papa mereka.


"Ck! Kenapa gak bilang-bilang kalau mau kesini Dev." bisik Nora, "Kejutan, kalau aku bilang-bilang bukan kejutan namanya." lirih Devano. Sontak dua netra itu saling tatap beberapa saat.


"Saya minta maaf om, jika sikap saya kurang sopan beberapa waktu lalu, tapi saya bersungguh-sungguh mencintai anak om." Aku Devano dengan wajah serius, ia harus menahan sakit, karena saat ini tangan Nora sudah mencubit pinggangnya keras.


"Gak papa, Dev! Om juga minta maaf," ucap Shaka dengan seulas senyum. Nara dan Bayu pun bernapas lega, terlebih akan sikap Devano yang berani mengutarakan niatnya.


"Jadi bagaimana, om! Apa lamaran saya diteri-, Aduh." pekik Devano, karena Nora semakin mengeraskan cubitannya.


"Nora tuh ma, nyubitin Devano gimana gak sakit coba." celetuk Zain, rupanya saudara kembar Nora itu sedari tadi memperhatikan tingkah polah Nora. Nora meringis, memasang senyum manis.


"Gimana sayang," tanya Shaka.


Nora mengangguk malu-malu, lalu dengan perlahan Devano mengeluarkan kotak kecil, dan meletakkannya di telapak tangan Nora.


"Apa ini Dev?" tanya Nora dengan wajah sudah bersemu merah.


"Tanda," Devano mengedipkan sebelah matanya, "Buka aja, tapi jangan dibaca sekarang." titah Devano.



"Kamu tahu?" Nora menutup mulutnya, entah harus berekspresi seperti apa. Bahkan ia malu meluapkannya di depan semua orang.


Devano mengangguk, "Aku selalu tahu yang kamu mau."


"Dipakaikan dong Dev, masa' cuma di kasih gitu aja." sindir Bayu, gegas Devano pun memakaikannya di leher milik Nora, pertama kalinya ia sedekat ini dengan Nora, bahkan ia harus menelan ludahnya kasar saat melihat makhluk Tuhan yang paling indah di hadapannya. Nora pun hanya diam dengan fikiran berkecamuk, apakah ia terlalu jahat Mempermainkan perasaan Devano?


"Selamat kalian," ucap Shaka dan Kenia juga orang tua Devano bergantian.


"Maaf pak Shaka, ada hal penting juga yang ingin saya dan keluarga saya sampaikan." tutur Bayu, "Em, kalau begitu bagaimana kalau kita makan dulu, sudah kami siapkan makan malam spesial." usul Kenia, "Ah jeng, kami jadi merepotkan ya." sambung Nara diiringi tawa.


Mereka pun langsung menuju meja makan yang telah Kenia siapkan terkhusus menyambut keluarga Devano.


"Kami sengaja, mempersiapkan ini semua karena Nora bilang Devano akan datang malam ini." ucap Shaka, Nora pun menunduk meremas dressnya, "Tant, kok tahu aku bakalan dateng, padahal aku nggak bilang kalo mau kesini lo." bisik Devano.


"Hmm," Sahut Nora.


"Tandanya kita jodoh, kita seha aduhh, sakit tant!" pekik Devano, lalu buru-buru menutup mulutnya kala semua orang kini memandang kearahnya dan Nora.


Bersambung✍🏻🍉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen dan vote sebanyak-banyaknya. Tekan favorit jika kamu suka dengan Devano dan Nora🍉


__ADS_2