
Rangkaian acara demi acara usai, Resha tak kuasa menahan lelah di sekujur tubuh karena terlalu lama berdiri menyambut para tamu dan kolega bersama Darren. Dan satu hal yang membuat ia semakin melebarkan senyumnya kala melihat kehadiran Jessika yang datang bersama Noah tadi. Di balik senyum kaku Resha, ia menyimpan banyak pertanyaan untuk sepupunya. Namun, masih harus urung karena tak ingin merusak momen bahagia yang tercipta saat ini.
Di samping rumah, sudah tersedia berbagai macam bahan untuk pesta BBQ khusus keluarga.
"Kalian silahkan duduk saja," ucap Nora yang seperti sebuah perintah, sementara Leon dan Qween terlihat sangat menikmati pesta ini sambil sesekali curi pandang.
"Kamu udah nggak cemburu 'kan kalau aku ketemu Jessika?" tanya Leon, Qween menggeleng.
"Siapa aku yang harus cemburu," ucapnya bergumam.
"Kamu itu, calon ibu dari anak-anakku," Leon menggenggam tangan Qween yang seketika memalingkan wajahnya karena tersipu.
Tak jauh dari mereka, Darren dan Resha memilih duduk sambil menikmati suasana hangat bersama keluarga.
"Terima kasih," bisik Resha tepat di telinga Darren, laki-laki itu menoleh lantas tersenyum.
"Untuk?"
"Karena kamu telah menghadirkan keluarga lengkap untukku, makasih ya." Resha tersenyum penuh arti. Malam ini seluruh keluarganya berkumpul. Lalu tiba-tiba, Bayu menghampiri Darren.
"Ada apa, Kek?" tanya Darren saat laki-laki tua itu menepuk pelan pundaknya, Bayu mengeluarkan sebuah kunci.
"Selamat berbahagia, ini adalah kunci pintu rumah baru kalian, kakek sengaja memberikannya sebagai kado pernikahan."
"Benarkah, Kek?" tanya Darren dengan mata berbinar, Bayu mengangguk.
"Tidak jauh kok dari sini, letaknya tepat ditengah antara rumah Kakek dan Ayahmu, kapan-kapan ajaklah istrimu yang cantik ini menginap." sambung Nara.
"Wah wah ada apa ini?" tanya Devano menghampiri.
"Wah papa memberikan putraku rumah, padahal aku juga berencana, tapi sepertinya sudah keduluan," ucap Devano, akan tetapi pandangannya tak lepas dari sang istri, Nora sedang menata makanan yang sudah di bakar Leon dan Qween di atas meja.
"Kamu belikan saja mereka yang lain."
"Iya-iya, papa tenang saja, Oh aku mau menghampiri istriku dulu!" pamit Devano, "Kalian pengantin baru, kalau sudah lelah lebih baik segera masuk ke kamar." goda pria berumur 45 tahun itu seraya melenggang pergi.
Resha tersenyum malu-malu, keluarga Darren memang istimewa.
__ADS_1
Darren meninggalkan Resha sebentar, tak berselang lama ia kembali dengan satu piring penuh makanan.
"Makan dulu," ucap Darren. Resha mengernyit bingung.
"Satu piring?" tanyanya.
"Iya, satu saja berdua." membuat Resha tak kuasa menahan senyum.
Mereka berkumpul menjadi satu, Bi Liam memutuskan ikut pulang bersama Jessika sore tadi. Meski begitu, keluarga besar Darren membuat Resha sudah sangat bahagia.
"Resha sayang, sini-sini sudah ngantuk belum, kalau belum kita ngobrol ala-ala perempuan." pinta Nara.
"Ma, kasian pengantin baru," ujar Nora berbisik.
Resha mengu lum senyum, lalu ikut bergabung bersama mereka, membiarkan Darren melakukan hal yang sama dengannya, bergabung dengan para laki-laki.
"Mbak Res cantik banget." puji Qween, karena kecantikan Resha yang tersembunyi sudah terlihat hari ini.
"Kamu bisa aja, Qween. Kapan nyusul?" canda Resha.
"Kapan ya mbak, apa minggu depan aja biar bisa honeymoon barengan," ucap Qween terkekeh.
"Yah, mama kan ada ayah! kalian juga boleh honeymoon lagi, cinta kan gak terbatas usia, bukan begitu Nek?" Qween melirik Nara yang tersenyum seraya menggeleng.
"Iyain kenapa nek biar seneng." Qween menekuk wajahnya.
"Iya, Qween." bukan Nara, melainkan Resha yang menyauti, sontak wanita beda lima menit dengan Darren itu memeluk Resha antusias.
Baru beberapa menit, Darren sudah menghampiri Resha.
"Ijin bawa istri Oma, mama, Qween."
"Mau kemana?" tanya Resha tak mengerti.
"Iya udah kalian istirahat sana, pasti capek banget," ucap Nora.
"Iya, pasti pegel semua!" Nara menyauti.
__ADS_1
Qween yang paham situasi pun ikut mengiyakan, meski tak enak Resha akhirnya memilih pamit dan mengikuti langkah Darren masuk ke dalam rumah.
"Ada apa, Derr?" tanya Resha setelah sampai di dalam kamar, kamar yang ternyata sudah berubah 80% dari tadi sore karena sudah penuh lilin dan bunga mawar bertaburan.
Resha mengatupkan bibirnya dan salah tingkah.
"Sini." Darren menepuk ranjang sisinya ia duduk meminta Resha ke sisi.
Resha menurut. Namun, dengan bibir diam terkunci ia perlahan naik ke atas ranjang tepat di posisi sebelah Darren, sebenarnya ia sudah sangat lelah tapi melihat tatapan Darren membuatnya tak yakin akan tidur cepat malam ini.
"Sudah mau tidur, kita nggak ganti baju dulu?" tanya Resha, Darren menatap diri kemudian terkekeh.
"Aku lupa kalau masih pake jas, bukain sayang," bisiknya membuat bulu kudu Resha meremang seketika.
"Ah iya, bentar." Resha mengubah posisi kemudian melepaskan jass yang dikenakan Darren. Saat Resha mencoba melepaskan dasinya, Darren dengan segera melahap bibir mungil itu.
Eummt....
Tak berhenti disitu, ia juga membuka kancing kemejanya satu persatu, menjatuhkan Resha dalam kungkungan.
Darren terdiam tiba-tiba, lalu memilih merebahkan diri di samping Resha, ia tahu istrinya sudah sangat lelah.
"Kenapa berhenti?" tanya Resha, meski sekujur tubuhnya pegal ia tak ingin membuat Darren kecewa karena penolakannya.
"Aku tau kamu lelah, maaf ya!" bisik Darren, Resha tersenyum penuh arti, Darren ternyata sosok yang sangat berbeda setelah jadi suaminya.
"Kamu tahu?"
"Aku cukup tahu dengan hanya melihat raut wajah kamu," ujar Darren.
Pipi Resha langsung merona mendengarnya.
"Mulai sekarang, kamu harus jujur dalam hal apapun!" tegas Darren.
"Hm, iya."
*Cinta adalah tindakan nyata, bukan hanya sekedar kata-kata karena kata-kata tanpa tindakan itu percuma~
__ADS_1
Darren*