
Ia tengah menyusuri koridor demi koridor kelas sebelum masuk ke kelasnya, disana sudah ada Alfin dan Abiyan. Dua sahabatnya yang menunggu di meja sudut paling belakang.
"Sorry, tadi Karin ngajak masuk duluan?" ucap Alfin begitu sosok Devano sudah mendudukan diri di kursinya, "It's oke." sahutnya kemudian melirik ke arah Abiyan dan Clara yang saling melempar senyum.
"Gimana mereka?" tanya Devano, sembari melirik Abiyan sekilas, "Aman, udah jadian." sahut Alfin terkekeh kecil.
"Godd! setidaknya gue gak bahagia diatas penderitaan temen-temen lucknut gue." selorohnya,
Bugh! Alfin memukul pelan pundak Devano, "Itulah guna sahabat," ucapnya sebelum terpotong oleh suara ibu guru yang masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi anak-anak,"
"Pagiiii, Bu!"
***
Saat istirahat, Devano CS berjalan menuju kantin, setelah sebelumnya menghampiri Karin di kelasnya, gadis itu tampak memucat karena sesosok di belakang yang menatap tajam ke arah Alfin, sorot mata kebencian dan penanda berkibarnya permusuhan.
"Kar, kamu sakit?" tanyanya khawatir, tak menghiraukan Briyan yang melewatinya dengan tatapan sengit. Devano, ia justru melangkah menyamai Briyan.
"Gue gak ada urusan sama lo, tapi kalo lo ganggu temen-temen gue, gue gak segan lagi." Ucap Devano dingin.
"Urusan gue emang bukan sama lo, tapi temen lo." ia menyeringai lebar, "Dan urusan temen lo, jadi urusan lo kan? Haha, apa jadinya kalo semua cewek tau kalau cowok terfamous di SMA Tunas bangsa, seleranya tante-tante, Ck!"
"Don't worry, nggak masalah buat gue, justru itu sangat membantu, yaaa jadi gue gak perlu ngehindar, mereka semua sudah jauh-jauh dari gue." sahutnya santai.
"Argghhh.." Briyan menggeram kesal dengan jawaban Devano, tapi ia tak menyerah. Cintanya kepada Karin tlah membutakan segala tindakan, ia sudah pernah kalah karena Karin akan menikah, namun saat tahu Karin gagal, ia kembali memupuk cinta agar bisa meraihnya, malangnya ia sudah keduluan oleh sosok Alfin Narendra, Damn it!
***
Pulang sekolah, Briyan sudah berencana membuntuti Devano, ia sangat yakin Devano akan menemui tante-tante yang belakangan terus bersamanya.
Briyan Stein, pewaris tunggal Antana grup, perusahaan makanan ringan yang sama besarnya dengan Aldeva, bahkan perusahaan yang terletak tak jauh dari Aldeva group itu sama megahnya, tinggi menjulang dengan segudang kerja sama.
__ADS_1
Briyan terus membuntuti Devano dari jarak aman, bibirnya menyeringai lebar saat Devano melajukan mobilnya menuju Aldeva group.
"Kena kau, Dev! Gue pasti bisa menguak hubungan lo sama kekasih lo itu, mungkin beberapa gambar bakalan cukup buat bikin reputasi lo hancur." Briyan tersenyum optimis.
Sementara Devano, ia sengaja mengirim pesan kepada Nora, mengajaknya makan siang bersama meski tahu, bukan lagi jam makan siang di kantornya. Namun, ide itu tentu karena pesan singkat sang istri, "Aku belum makan, gak naf su. Tiba-tiba mual tadi."
Pesan singkat yang merubah wajahnya menjadi khawatir hingga harus melesatkan diri ke kantor segera.
"Dia mau makan sama ayahnya, jadi mual-mual, tunggu aku di lobi, aku otw sana." pesannya, dan hya terkirim.
Dengan senyum merekah, Nora masuk ke dalam lift khusus atasan dan memencet tombil lantai dasar, tak sabar bertemu dengan hubby kesayangannya, Devano.
Devano turun dari mobil, membukakan pintu untuk Nora yang telah menyambutnya dengan sumringah, setelah memastikan sang istri masuk, ia memutar tubuh dan masuk ke dalam mobil.
Menuju caffe yang terletak tak jauh dari Kantor, Briyan semakin menyeringai lebar.
Perlahan, ia mengikuti langkah kaki Devano yang berjalan dengan seorang perempuan dengan jemari tangan saling bertaut, perempuan modis dewasa dan cantik.
"Ck! meskipun cantik sama aja, dia tetap tante-tante." gerutu Briyan.
"Fix ini mah, mereka pacaran!" simpulnya menyeringai, beruntung ia membawa jaket dan celana ganti, tak seperti Devano yang masih mengenakan celana sekolah meski atasannya berbalut jaket.
"Mau makan apa?" tanya Devano dengan senyum, senyum manis yang mampu menerbangkan kupu-kupu di perut Nora.
"Apa aja," balasnya, jadi tersenyum tak kalah manis.
"Njirr kenapa gue yang baper yak." gumam Briyan, kesal.
Devano mengangguk-ngangguk, lalu memesan dua menu terbaik di caffe ini, dan dua orange jus sebagai minumnya.
Briyan hanya memesan minum, meski perutnya lapar ia tak ingin lengah menguntit Devano. Sembari memotret, dia bertutupkan buku menu.
Potretan pertama, saat Devano mengusap rambut Nora dengan gerakan slow motion dan saling melempar senyum.
__ADS_1
Potret kedua, saat Devano mencium punggung tangan Nora hingga berhasil mencetakkan semburat rona merah di pipi.
"Bener-bener uji nyali nih gue," gerutunya, ia hendak mengakhiri aksi menguntitnya. Namun, tersentak kala melihat Devano yang tiba-tiba berjongkok di hadapan Nora.
"Gimana, masih mual?" tanyanya mengusap lembut perut Nora, keadaan caffe memang sepi di siang hari.
Nora menggeleng, "Udah enggak, obatnya udah dateng tuh!"
Dev tersenyum, "Anak ayah jangan nakal ya disana, kasian mama." serunya di usapan terakhir sebelum ia bangkit duduk lagi.
Nora hampir meledak jantungnya, ia bahkan lupa dengan sosok Ellena yang dinanti Devano, selalu luluh, lemah dan leleh oleh sikap Devano yang mampu menenggelamkan dirinya dalam buaian cinta yang melenakan.
Briyan, ia bergetar hebat dengan mata melotot tak percaya, dengan tangan bergetar ia menyelesaikan video yang ia ambil di momen itu, membagongkan sangat bagi Briyan.
Kembali duduk dengan tubuh lemas, karena syok. Namun, tiba-tiba menyeringai lebar mendapatkan sebuah kunci kehidupan sosok Devano Aldeva, yang mungkin tak semua orang tau.
"Ck! Masih bocah udah bikin bocah, kita lihat Dev, apa yang bisa gue lakuin dengan Video ini." gumamnya senang.
Pelayan mengantarkan makanan pun minuman, Dev juga Nora makan dengan lahap, apalagi Nora, ia sangat menikmati makan siangnya.
Briyan buru-buru menghabiskan minumannya kemudian gegas melangkah pergi, ia bernapas lega karena Devano tidak tau kalau ia sedang membuntutinya.
Dengan cepat, masuk ke dalam mobil dan melesat pergi. Foto-foto yang ia dapat, pun video itu sangat berguna baginya, ia akan menghancurkan Devano dengan segala ketenarannya di SMA Tunas bangsa.
Devano menemani Nora bekerja, pun membantu istrinya memeriksa laporan-laporan dari berbagai divisi.
Hingga tanpa sadar, waktu sudah sangat sore, bahkan cahaya matahari hampir memudar, kilauan senja akan segera hilang berganti dengan kelamnya malam.
Ia melangkah bersama Nora, tuk kemudian pulang ke rumah.
Ia sempatkan mampir ke supermarket untuk membeli camilan, membiarkan sang istri memilih apapun yang dimau.
Brukkk! Devano menabrak seseorang, saat mendongkak wanita cantik itu tak kalah terkejutnya.
__ADS_1
"Elle."