TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Satu kosong


__ADS_3

Karin menghela napas lega, kala mendapati tamu bulanannya datang lebih awal. Setidaknya ia tidak akan langsung hamil karena tragedi memilukan itu. Meskipun pada akhirnya ia tetap harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Alan.


Wait! Jika boleh memilih, ia belum ingin menikah. Tapi apa ia bisa memilih? atau paling tidak ia punya kesempatan memilih yang lain?


Sejak malam itu, malam dimana ia mulai memupus ego dan memaafkan. Alan belum lagi menemuinya. Belum lagi ungkapan perasaan Alfin juga perkataan Devano tentang sahabatnya itu membuat perasaannya semakin Ambigu.


"Hai sayang, sini deh. Kamu mau kebaya pengantin yang mana?" tanya sang mama sembari menunjukan beberapa pict baju pengantin di layar ponselnya.


"Terserah mama." jawaban flat yang membuat mamanya Karin seketika menautkan alisnya.


"Kok mama, yang nikah kan kamu? Lagian nih ya, menikah itu seumur hidup sekali, jadi pilih yang sesuai dengan kemauan kamu, bukannya kamu dan Alan saling mencintai?" Pernyataan dan perkataan menohok mamanya Karin membuat ia semakin ragu.


"Kak Alan gak ada kesini ma?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Enggak sayang, mungkin sibuk!" membuat Karin meraih ponselnya tuk kemudian menscoll aplikasi wattshap.


Namun, tak ada satupun notif pesan dari Alan, membuat ia berfikir keras.


"Apa dia benar-benar sibuk?" tanyanya dalam hati. Setelah lama berfikir, ia memutuskan untuk menemui calon suaminya di Kantor.


"Aku harap dengan begini, hubunganku dengan kak Alan nggak canggung lagi."


Setelah berpamitan dengan sang mama, gegas ia memesan taxy online yang akan membawanya ke Kantor milik Alan. Karina, sedari kecil sudah terbiasa hidup apa adanya, jangankan untuk punya mobil. Bisa sekolah saja ia sudah bersyukur, karena ia hanya punya mama yang bekerja keras untuknya. Ia pernah salah jalan karena terobsesi pada Devano, jalan yang membawanya dalam kesialan karena terjerat dengan Alan Carley, patner jahatnya waktu itu.


"Kar, kenapa pesan taksi sayang. Kan motor ada?" tanya sang mama.


"Gak papa ma, nanti kalo mama mau pergi kemana biar gak ribet, dah terlanjur ini. Lagian biar nanti Karin pulang dianter sama kak Alan." serunya sambil menyunggingkan senyum.


"Yaudah, hati-hati sayang! salam buat Alan." kata sang mama.


Kemudian melangkahkan kaki keluar rumah, kala taxy online sudah datang.


Ia setengah berlari menuju lobi, saat resepsionis melarangnya masuk tapi justru Aldo mengajak Karin untuk langsung naik ke lantai dimana ruangan Alan berada. Dada Karin berdegup kencang, kala memasuki lift, entah kenapa perasaannya tak lagi enak. Namun, ia berusaha menahannya.


"Di dalam ada Dasinta, kamu tunggu disini karena nggak boleh ada yang masuk." titah Aldo, "Saya kembali ke ruangan dulu sebentar," Aldo bermaksud mengambil ponselnya, untuk menayakan perihal Karin kepada Ziando. Sedangkan Karin, ia masih setia menunggu di depan pintu yang tertutup.


Hening!


Namun, tiba-tiba ia mendengar ******* aneh yang membuat pikirannya kacau tak jelas.


Dengan tangan bergetar, ia mencoba meraih handle pintu, sialnya pintu terkunci. Lalu terdengar samar suara Alan, suara yang sama persis saat bersama dengannya malam tragedi itu.


Flashback on


Dua jam yang lalu, Dasinta datang dan resmi menjadi sekertarisnya, akan tetapi saat tahu jika Dasinta adalah mantan karyawan Aldeva group membuatnya mengeraskan rahang berulang kali.


"Saya bersumpah pak, jika saya bekerja disini murni karena saya butuh. Bukan karena di kirim dari perusahaan itu untuk mematai bapak." ucapnya bersungguh-sungguh.


"Apa bukti yang bisa membuat saya percaya?" tanyanya menaik turunkan alis.


"Saya akan melakukan apapun, apapun yang bapak minta!" ucap Dasinta mantap.

__ADS_1


"Apapun?" ulang Alan memiringkan senyum.


"Iya, apapun untuk bapak."


"Termasuk ini," Katanya dan langsung menyerang Dasinta dengan ciuman, ciuman membawanya pada situasi paling rumit.


Flashback off


**


Nora masih sibuk memasak di dapur, ia tengah memasak ayam asam manis versinya spesial untuk Devano dengan di bantu bik Liam. Sementara Maya, ia membereskan seluruh ruangan lantai bawah sembari sesekali menengok ke dapur untuk menjadi tim icip-icip.


"Gimana May, rasanya?"tanyanya harap cemas saat Maya mencicipi rasa masakannya. Lalu dengan antusias mengacungkan dua jempol ke arahnya, dengan seulas senyum.


"Nyonya hebat, ini mah enak banget banget banget." pujinya.


"Nahkan, bener kata bibik! masakan Nyonya emang enak, pasti Tuan muda sangat suka." Nora tersipu malu, lalu mulai memindahkan makanan ke dalam mangkuk.


"Biar bibi yang simpan, nyonya." pintanya yang diangguki kepala oleh Nora, "Aku mau bikin camilan buat mereka dulu ya bik, May kamu tolong buatin minum buat Devano sama Ziando ya." titahnya.


"Siap nyah."


**


Di ruang tamu, Devano sedang berbincang dengan Ziando.


"Dia Aldo, Tuan! Asisten Alan Carley," Devano langsung menajamkan matanya, "Bo doh!"


Respon Devano, begitu tau jika pengkhianat yang Ziando cari di perusahaan Carley adalah assisten CEO.


"Maksud saya, oke maksud gue itu om Si-Alan yang bo doh, Zi! Bahkan orang kepercayaannya, gak bisa di percaya! Oke pokoknya atur terserah kamu gimana bagusnya, yang penting itu barang ada sebelum minggu depan, bisa?"


"Pasti bisa Tuan." jawabnya antusias, Ziando memang suka sekali tantangan, terlebih ini bukan tentang pekerjaan tapi memacu adrenalin.


"Ini Tuan minumnya," Maya meletakkan dua capucinno latte di atas meja.


"Istriku mana, May?"


"Em, masih di dapur Tuan muda. Biar saya panggilk..."


"Gak usah, May. Biarin aja, nanti kalau sudah selesai aja suruh kesini." titahnya kemudian diangguki kepala oleh Maya, "Siap Tuan." sebelum melangkah pergi.


Ia membiarkan Ziando menyulut sebatang rokok, sembari sesekali mengesap capucinnonya.


"Apa nggak sesek tuh dada?" tanya Devano keheranan, lantaran Zi sangat menikmati rokoknya.


"Anak SMA, gak boleh coba-coba Tuan!" jawabnya bergurau.


"Ck! Yang penting gue gak jomlo, Zi!" dan satu kosong, ketika Devano berhasil membuat raut wajah Ziando yang tiba-tiba suram.


"Apalagi jomlo tersakiti, no no no big no! Gue, sekalinya jatuh cinta itu langsung jadi istri, keren kan? typical idaman banget kan gue." selorohnya.

__ADS_1


"Hmm." Sahut Ziando, biarlah! biar seneng.


"Ngobrolin apa sih?" seru Nora yang datang dari arah dapur membawa satu nampan berisikan aneka macam camilan.


"Ini apa?" tanya Devano begitu mencicipi camilan buatan Nora.


"Gak tau sayang, hehe lupa namanya. Tapi mama sering ngajak bikin." Nora nyengir kuda, lalu duduk di samping Devano.


"Tapi enak kok." ia mengedipkan matanya, membuat Ziando menghela napas karena tiba-tiba rumah sebesar ini membuatnya sesak.


"Saya permisi dulu Tuan." pamitnya, melangkah pergi.


"Lo kok pergi sih?"


"Biarin sayang, kan kita berdua jadi dia setannya."


"Ngomongin apa tadi? kok kayaknya seru banget." Sedangkan Devano tak mengindahkan pertanyaan Nora, tapi justru malah mendusel tak jelas.


"Ishhh, Dev! Malu, diliatin orang." gerutunya kala Devano jutru menenggelamkan wajahnya di da da sang istri.


"Jadi kalo berdua aja gak malu, hmm?"


"Ish, dasar me sum!" namun, tak mampu menahan rona merah di wajahnya.


**


Malamnya, Devano makan dengan lahap. Terlebih saat mencicipi ayam masakan Nora, membuatnya menambah nasi dua kali. Senyum mengembang sempurna di bibir Nora, terlebih Devano sangat menyukai masakannya.


"Hmm, istriku memang luar biasa, selain jago ranj.. Aduh, dia juga jago masak." beruntung Bik Li maupun Maya sama sekali tak mendemgar ucapan Devano.


"Bisa di rem nggak, masak ngomongin ranjang disini, malu." bisiknya kesal, setelah menginjak kaki Devano.


"Iya sayang, tapi nanti malam lagi ya."


"Ishh, nggak!"


"Katanya sayang?" Devano mode cemberut.


"Ishhh, udah gak pernah belajar, minta jatah mulu." desisnya sebal.


"Kalau aku belajar, boleh ya?" tawarnya dengan mata mengerling.


"No no no big no!" tolaknya namun dengan pipi merona.


"Demi cintaku padamu, aku akan tetap belajar, demi cinta kita maka aku akan sabar. Ia tengah memilah buku sesuai jadwal pelajaran besok, kemudian mengerjakan beberapa PR terbengkalai karena tidak masuk. Namun, hanya sebentar bahkan tidak ada setengah jam ia belajar membuat Nora keheranan.


"Cepet banget?" tanyanya yang penasaran karena kini Devano sudah menyusulnya naik ke atas ranjang.


"Namanya juga siswa teladan," ucapnya bangga.


"Tidur tant, udah malem." Nahkan kumat lagi Devano.

__ADS_1


"Ishh, jangan panggil tante." gerutunya sebal, lalu memunggungi Devano.


"Yaudah, sayang." bisiknya sembari melingkarkan tangan di pinggang Nora dan memeluknya sepanjang malam.


__ADS_2