TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Istri licik


__ADS_3

Devano mengelengkan kepala demi melihat apa yang disuguhkan para pria paruh baya termasuk papanya. Beberapa botol wine menemani obrolan mereka! Lalu ingatannya kembali pada waktu dimana Alan berusaha menjebaknya bersama Karin.


Lebih tak percaya lagi jika ternyata papa mertuanya, pecinta minuman jenis itu dimasa muda.


"Haishh, apa bagusnya minuman beralkohol." desisnya sebal. Terlebih saat papanya justru menawari minuman kepada Alfin dan Abiyan, ia langsung menajamkan mata tak terima.


"Oh ayolah Dev, kalian sudah dewasa sekarang!" tutur papa mertua.


"Dia memang seperti itu pak Shaka, tak mabuk tak merokok..." jelas papa Bayu.


"Pantas saja anakku tergila-gila." ucapnya sembari terkekeh.


"Ishh, pa." gerutu Nora.


Nora sudah bersemu merah, tapi sepertinya ia menangkap gelagat mendung di wajah Maura, saudara iparnya tersebut terlihat lebih banyak diam semenjak menikah.


Matanya menangkap interaksi Zain dan Maura yang tak wajar.


"Dev, sini deh. Liat mereka?" bisik Nora menunjuk saudara kembarnya dan sang istri.


"Iya kenapa sayang?"


"Maura kaya lebih nyaman sama Karin dan Klara ketimbang kakakku, apa yang terjadi dengan hubungan mereka." lirih Nora, meski sudah menjauh dari kerumunan orang-orang, sebisa mungkin ia menjaga suara.


"Aku sudah melihatnya dari awal." ucap Devano, yang berhenti melihat ke arah Zain dan Maura, dan memilih menangkup kedua pipi Nora dengan gemas.


"Dari awal?" tanyanya dengan kening mengkerut.


"Oh, tidak!" pekik Nora tiba-tiba.


Nora tampak berfikir sejenak, ia tahu dari awal Zain terpaksa menikahi Maura demi dirinya bisa bersama Devano, apa itu artinya? Nora menggeleng kuat-kuat demi menepis apa yang kini sedang mengganggu fikirannya, perasaan bersalah mulai menyeruak.


"Sayang aku ada ide," celetuknya tiba-tiba.


"Apa?" Nora pun membisikkan sesuatu di telinga Devano, apa yang kini ada dalam fikirannya dan hal apa yang harus ia lakukan.


"Tapi mana bisa aku minum, kau tau suami tampanmu ini begitu payah dalam hal mabuk?" elak Devano.


"Oh ayolah Dev, hanya itu satu-satunya cara."

__ADS_1


"Oh baiklah, demi istri tercintaku. Aku akan meminta Ziando diam-diam membelikan obatnya!" Nora yang mendengar itupun sumringah.


**


"Ini tuan!" Ziando datang membawa obat pesanan Devano dan Nora.


Devano menyodorkan beberapa lembar uang sebagai tutup mulut, "Ck, tuan kira aku ini mata duitan yang gak bisa jaga rahasia." gerutu Ziando kesal.


"Jangan lebai, Zi. Itu upah, bukan uang tutup mulut, kau sudah bekerja keras hari ini, asal semua orang gak ada yang tau."


"Ck! sama aja Tuan."


Devano menyiapkan dua gelas wine, yang satu tentu saja untuk kakak iparnya Zain. Demi cinta, ia bahkan harus menjadi orang yang licik hari ini.


Dengan obat perang sang, Nora berencana membuat hubungan Zain dan Maura menjadi dekat. Perkara resiko, itu belakangan.


"Zain, sedikit minum akan membuatmu merasa lebih baik." Devano menghampiri Zain yang tengah memperhatikan interaksi istrinya dan teman-teman Devano dengan raut wajah datar.


"Terima kasih, aku hanya sedang tidak baik-baik saja." gumamnya pelan, namun dengan tangan menerima wine yang diberikan Devano dan meminumnya.


"Selera minumku buruk, bisakah kau mengajariku Zain. Ahh, aku kalah dengan papa mertua yang bahkan masih terlihat santai meski sudah habis hampir sebotol." ucap Devano menunjuk kagum ke arah Shaka.


Devano melirik Zain sekilas, tampaknya kali ini rencana ia dan Nora berjalan lancar.


"Ck! minuman ini." gerutu Devano, kalau bukan karena istrinya ia tentu lebih memilih minum air mineral dingin atau soda kaleng.


"Gimana sayang?" tanya Nora, menyambut Devano dengan bergelayut manja hingga berhasil membuat para orang tua pun teman-temannya terkekeh melihatnya, terkesan tidak bisa jauh-jauh dari Devano. Padahal sepasang suami istri itu sedang merencanakan hal licik yang mereka tutupi dengan kemesraan.


"Pa, kami ke atas dulu ya? Bentar. Ada hal yang mau aku bicarakan sama Nora, Fin! Bi! Gue tinggal bentar."


"Oke, Dev! Santai kita mah." sahut Abiyan, "Dah gih sono!" seloroh Alfin.


Devano hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah sahabat-sahabatnya, lain halnya dengan Zain yang terlihat memerah dan mulai menghampiri istrinya.


Melihat itu, Nora tersenyum puas dengan mata saling pandang ke arah Devano.


"Pa, Zain sama Maura pulang duluan." Pamitnya dengan wajah sedikit menahan pusing.


"Baru juga kau singgah Zain, tak bisakah lebih lama menyambut adikmu." gerutu Shaka.

__ADS_1


"Sudahlah, pak Shaka. Sepertinya Zain kelelahan, wajahnya memerah. Mungkin karena tak kuat minum." ujar Bayu.


"Maaf pa, Om. Sepertinya kak Zain kurang enak badan. Biar kami pulang dulu."


"Yasudah, pamit sama mamamu di dapur, nak!" ucap Shaka akhirnya.


Zain dan Maura akhirnya memilih pamit undur diri, Maura yang melihat keadaan Zain yang tak memungkinkan untuk menyetir pun memutuskan memegang kemudi sebelum akhirnya meninggalkan rumah mewah Aldeva.


Sementara Nora dan Devano kini tengah melihat ke arah pelataran rumah bersama dengan perginya mobil Zain.


"Apa kau senang sekarang, istri licikku." Devano langsung meraih pinggang Nora dan menge cup bibirnya.


"Ck! Bau alkohol, Dev!" gerutunya setelah kedua bibir itu tak lagi menempel.


Devano hanya tersenyum tipis mendengar gerutuan Nora, ia justru semakin ingin menerkam sang istri dan membawanya terbang ke awan sana. Sayangnya, ia cukup tau diri terlebih saat ini di bawah semua orang tengah berkumpul. Mau tidak mau, ia harus sedikit menahan keinginannya.


"Selamat bersenang-senang Maura dan Zain." ucap mereka sebelum akhirnya kembali ke bawah dan berkumpul bersama keluarga dan sahabatnya.


***


Hari-hari berlalu dan kini Devano sudah disibukkan dengan jadwal kuliah, meski begitu ia tetap menyempatkan diri menemani sang istri ke dokter sepulang dari kampus.


Sore itu, di rumah sakit Hermina. Ia mengantarkan Nora untuk periksa dan konsultasi seputar kehamilan.


Dokter Maura, adalah dokter paruh baya terlama di rumah sakit ini. Dokter yang membersamai rumah sakit Hermina seusianya itu masih sangat cantik meski sudah timbul garis keriput di wajahnya. Mungkin sebentar lagi, ia akan pensiun.


Mungkin nama Maura terinspirasi dari dokter kandungan di rumah sakit ini. Batin Nora saat sadar nama Maura anak om Radit, si pemilik rumah sakit sama dengan nama dokter kandungan disini.


"Bu Nora silahkan berbaring, biar saya periksa. Pak Devano, duduk dulu."


Lalu dokter Maura mulai memeriksa kondisi Nora pun dengan rahimnya lewat USG.


Nora dan Devano memperhatikan dengan seksama, terlebih saat dokter Maura menjelaskan secara detail kondisi rahimnya.


"Sudah bagus ya, bu! Sudah bisa mulai program hamil lagi. Tapi, saran saya harus banyak istirahat, fikiran rileks dan nggak boleh terbebani." Dokter Maura mengulas senyum.


"Apa istri saya bisa langsung hamil, dok!"


"Berdoa saja pak, semoga di segerakan. Untuk kondisi ibu Nora saat ini, alhamdulillah sangat-sangat subur. Tapi kembali semua tergantung kerja keras pak Devano."

__ADS_1


Jawaban Dokter Maura sungguh berarti ambigu bagi Devano, kerja keras dalam hal apa yang di maksud? ia dan Nora hanya mengangguk-ngangguk saja, sampai akhirnya konsultasi dan periksa selesai. Devano dan Nora pamit pulang dan meninggalkan rumah sakit Hermina.


"Kita kemana?"


__ADS_2