
Di sinilah kita, berada di bawah sinar rembulan
Mataku selalu berkaca-kaca
Karena kau terlihat luar biasa
Aku minta maaf atas segala yang aku perbuat
Sebelum hari ini kau bukan milik siapa-siapa
Namun kini kau adalah milikku
Genggamlah tanganku
Tatap aku
Karena kau lah yang membuatku menjadi seperti ini
Aku berjanji akan menghargaimu sayang
Hanya kau yang aku butuhkan
Tuk melengkapi duniaku
Kau, kau adalah cintaku, hidupku, permulaanku
Dan aku masih bingung kenapa bisa mendapatkanmu
Sayang, kaulah bagian diriku yang hilang
Sekarang aku teringat
Setiap kali aku merasa sendiri
Tunjukkan aku jalannya
Aku akan mendengar dan menggenggammu
Menuju pintu yang ada di depanmu
Kau adalah cintaku, hidupku, permulaanku
Itu kamu~
**
Detik berikutnya, ia berhasil dibuat haru oleh makna dari lagu it's you milik - seizairi. Lagu yang saat ini sedang ia dan Alan dengarkan melalui satu headseat berdua di bawah sinar rembulan.
Selain demi mama yang menuntutnya bahagia, Karin juga tak ingin terus menerus melakukan hal bodoh, karena mencintai orang yang salah.
"Aku janji tidak akan membahas Nora lagi, tidak akan mengejarnya lagi, asal kamu mau maafin aku, kita mulai sama-sama."
"Hya kak, aku juga minta maaf." lalu dengan gerakan lembut, ia meraih kepala Karin dan membawanya ke dalam pelukan.
"Besok sekolah ya, harus. Aku sendiri yang akan mengantarkanmu!"
"Tapi..." terpotong oleh telunjuk Alan yang menempel tepat di bibir mungil itu.
"Sttt, gak ada tapi-tapian, kamu udah bolos tiga kali."
"Hm, iya kak!"
***
Pagi menjelang, matahari bahkan belum merangkak naik, pagi-pagi sekali Devano dan Nora terbangun, liburan yang rencananya masih berjalan beberapa jam lagi untuk ia nikmati terpaksa batal. Karena mendadak Ziando menelpon, jika kedua orang tuanya akan berangkat ke luar negeri jam 9 nanti.
"Kita anter mama sama papa ya ke bandara, next time kita liburan lagi sayang, kamu gak papa kan?" ucapnya sembari mengusap lembut pipi Nora, satu gerakan yang selalu berhasil membuat si empu membeku.
__ADS_1
Meski jujur dalam hati ia merasa kecewa, namun rasa kecewa itu ia simpan jauh-jauh di dalam hati.
"Gak papa, kita pulang dan anter mama ke bandara, mumpung masih sempat waktunya." ujar Nora mengingatkan, lalu gegas Devano bersiap pun Nora untuk meninggalkan villa.
"Masih ada waktu tiga jam, tenanglah!" ujar Nora lagi-lagi saat Devano melesatkan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Tapi mama sama papa pergi mend.."
"Stt, udah ya? papa sama mama kan dah bilang kalo mau ke luar negeri setelah kita menikah." Hya , Devano bahkan lupa akan hal itu, kini justru Nora yang mengingatnya.
Lalu meraih benda pipih di sakunya dan menghubungi Ziando.
"Hallo Tuan muda," sapa Zi di seberang sana, kepada Devano.
"Hallo, Zi. Kamu dimana? mama sama papa udah berangkat apa nunggu aku sama Nora?"
"Kami mau berangkat tuan, kita tunggu di Bandara, karena pesawat akan berangkat dua jam lagi." terang Ziando.
Devano menghela napas lega, setidaknya ia masih punya banyak waktu.
**
Sampai di Bandara, Devano langsung mencadi keberadaan mama dan papanya bersama Nora.
"Aku kira akan terlambat," desahnya dengan napas lega, pun Nora yang langsung memeluk mama mertua.
"Kok mendadak sih ma," protesnya, dengan bibir mengerucut.
"Nggak mendadak sayang, sebelum kalian menikah kan mama sudah cerita."
"Iya-iya, untung masih ada satu jam. Trus perusahaan gimana pa?" tanya Devano, "Ada Ziando, Nora juga Kenzo, nanti papa di bantu sama om Alex." serunya dengan seulas senyum.
"Papa sudah buat pengumuman kemarin sama Ziando soal Nora, besok kamu masuk seperti biasa ya, papa percaya sama kamu." ucapnya mengusap kepala Nora.
"Dan kamu Dev, jangan bandel! Sekolah yang bener, sekarang kamu bukan lagi bocah tapi juga suami." tekan Bayu menepuk pundak Devano hingga pemuda itu meringis juga tersenyum.
"Iya pa, iya!"
"Nora pasti bakalan kangen mama," ucapnya dengan mata berkaca-kaca setelah mengurai pelukan pun Nara yang tak kuasa menahan sedihnya. Layaknya drama, ibu dan anak yang baru sah kemarin itu berhasil membuat hati Devano mengharu.
"Udah ya udah, kasian tuh Zi kepengen di peluk." seloroh Devano, menjadikan Ziando yang mematung sebagai alibi.
"Ah, iyaa eh enggak nyonya." Ziando hanya nyengir sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
Sampai di rumah Devano, Ziando langsung kembali ke kantor. Sementara Nora dan Devano langsung masuk rumah dan di sambut dengan sumringah oleh Maya juga bibi Li.
"Selamat nyonyaaa, Tuan." ucap Maya dan bik Li bebarengan.
"Makasih bibi, Maya." ucap Nora lalu duduk bersandar di sofa tamu, disusul Devano.
"May, barang yang di bagasi bawa ke kamar ya. Ada baju kotornya." titah Devano.
"Hah, oh iya." Nggak biasanya Tuan pulang bawa baju kotor, hmm. Batin Maya yang merasa aneh, karena setahu ia dan bik Li, jika tuan dan Nona mudanya baru pulang dari rumah mertua pagi ini, kenapa harus bawa baju kotor? membuat jiwa keponya meronta.
Maya pun menuruti perintah Devano, mengambil beberapa barang yang ada di bagasi mobil Nora, satu koper kecil juga dua paperbag berisi baju kotor, Oh my god!
"Tant.. Tanteee,"
Yang di panggil pun menoleh dengan wajah sebal, "Mau ngabisin waktu kemana sebelum..."
"Sebelum apa?" tanya Nora.
"Sebelum aku sekolah, sebelum tante sibuk sebelum..."
"Aku mau renang," selorohnya cepat.
__ADS_1
"Hah!"
"Iyaaa, aku mau renang. Sama kamu!".tegasnya sekali lagi. Membuat Devano benar-benar menelan salivanya susah payah.
Ohhh godaan lagi? Ujian lagi..
Beruntung Devano bisa mengendalikan diri, ia tak akan tergoda apabila si empu tidak memberi izin. Dan menjelang malam, ia membantu bi Li memasak di dapur, ya ia ingin memasakkan sesuatu untuk Devano.
"Biasanya Devano suka lauk apa bik?" tanya Nora sembari melihat-lihat isi kulkas.
"Biasanya Tuan suka ayam asam manis nyonya!"
"Yah bik, ayamnya habis." ucap Nora dengan nada kecewa, bik Li yang melihat ekspresi Nyonya mudanya itu pun mengulas senyum.
"Besok bibik belikan Nyonya, soalnya tadi habis ayamnya di pasar."
"Okee bik, kita masak sayur mayur aja hari ini, ada ikan juga. Semoga Dev suka!"
"Pasti suka Nyonya, Tuan itu orangnya nerima, walaupun tajir melintir tapi soal makanan nggak pilih-pilih, apalagi kalo yang masak istri tercinta." selorok bik Li sembari terkekeh.
"Ahhh bibik, aku gak begitu pandai masak kok." jawabnya merendah dengan raut wajah malu-malu.
Tapi meski begitu, Nora tetap ingin memasak untuk Devano.
Taraaa! Dengan bangga Nora mempersiapkan makan malam meletakkan makanan demi makanan ke atas meja, hasil kreasi tangannya bersama bibik Liam.
"Kamu masak, tant?" tanya Devano yang baru menuruni tangga karena tertidur sehabis mandi.
"Iyaaa dong, spesial." selorohnya dengan tangan masih sibuk menata.
"Uluhhh, spesial buat siapa sih, hmm?" sontak pipinya memerah, "Ish, buat kamu lah masak buat Maya." jawabnya sebal, "Eh cie, yang masak spesial buat suami tercinta." goda Devano lagi.
"Eh, apaan sih. Enggak ya!" elaknya, tanpa melihat ke wajah Devano.
"Sudah boleh makan kan ya?" ucapnya sembari mengambil nasi dan lauk, tanpa menunggu Nora yang justru memasang wajah sebal sekaligus malu kucing.
"Hm, boleh. Asal gak boleh protes kalo rasanya kurang." ucap Nora lebih dulu membuat Devano menahan senyum.
"Hmm," Dev mengangguk-angguk, kemudian mulai menyuapkan nasi serta masakan buatan Nora ke dalam mulut, yang pasti dengan mode pura-pura mengabaikan Nora yang menunggu respon rasa masakan darinya.
"Gimana? enak nggak?" tanya Nora.
"Over inih..." sembari tersenyum jahil.
"Masa sih?" lalu mencoba makan.
"Enak kok, pas." elak Nora yang juga telah merasakan masakannya sendiri.
"Over enaknya, kayak cintaku ke tante."
"Nahkan gombal lagi, kamu tuh ya!" protes Nora namun dengan wajah tersipu malu.
Maya dan bibi Li yang melihat keuwuan pasutri itupun ikut baper.
"Bik, walaupun Tuan Muda masih bocah tapi bisa bikin nyonya mau yaa, jadi baper aku bik." seloroh Maya.
"Iya mau lah May, orang Tuan muda ganteng gitu tajir lagi."
"Eh tapi, nyonya awalnya gak tau loh bik kalau Tuan muda itu tajir, taunya cuma bocah sekolah yang hobi gombalin dia gitu."
"Lah May, tau dari mana?"
"Dari Alfin, hehehe sekolahku tinggi bik, pasti bisa sesukses nyonya ya, hihihi halu dulu."
"Gak papa kerja gini juga yang penting halal May, kamu kan masih muda ya? cari pacar lah May, jangan diem-diem bae."
"Mau satu bik, yang berondong kaya tuan muda, tukang gombal gak papa asal Maya dinikahin hwaha." sontak Bik Li pun mencubit tangan Maya.
__ADS_1
"Halu terus tanpa usaha mana bisa May."
**