TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Apa aku terlambat?


__ADS_3

Alfin, ia semakin bersikap aneh tiap kali mendengar pembicaraan tentang Karin. Tindakan impulsif yang sama sekali tak ia sadari. Terlebih saat tahu jika Devano tidak masuk hari ini, padahal kemarin sepulang sekolah, sahabatnya itu sempat membawa Karin ke caffe dekat sekolah.


"Fin, inget kata-kata gue! Kalo lo suka, kejar! kalo lo gak nyatain gimana Karin bakalan tau perasaan lo, gimana dia bakal bales perasaan lo kalo lo sendiri diem, dan gak ngungkapin perasaan lo," begitulah Abiyan, konyol memang. Ia bahkan pernah ikut mengumpati Karin, tapi disaat yang sama ia juga mendukung keputusan Alfin menyukai gadis itu, apapun.


Why? itulah gunanya sahabat.


"Gue gak tau mesti mulainya gimana, yang jelas Karin pasti udah benci banget sama gue." ia terlihat pesimis, sesekali mengusap tengkuknya.


Namun saat matanya menangkap bayangan Karin dari kejauhan, gegas ia memakai helm tuk kemudian menyalakan motornya.


"Gue duluan." ujarnya kepada Abiyan.


**


Pulang sekolah, seperti biasa Karin jalan kaki menyusuri jalanan depan sekolah menuju halte bis yang terletak di ujung jalan, lumayan dekat. Hanya beberapa ratus meter dari SMA Tunas Bangsa.


Namun, tersentak saat tiba-tiba Alfin menghentikan motor tepat di depannya.


"Alfin..." matanya membulat sempurna, saat tahu jika laki-laki di hadapannya benar-benar Alfin.


Kenapa mesti sama om Si-Alan kan lo bisa milih Alfin atau Briyan.


Alfin suka sama lo!


Sekelebatan ucapan Devano membayangi kepala, apa benar Alfin menyukainya? Dan, dia si Alfin Narendra, mendekat dengan gerak slow motion. Membuat Karin tiba-tiba dilanda gugup.


"Kar, bisa kita bicara?" tanya Alfin yang sudah mendekat ke arahnya dengan wajah harap cemas.


Sejurus kemudian ia mengangguk, dan menurut saat Alfin memintanya naik ke jok belakang motornya.


"Kita kemana?" tanya Karin yang masih bingung.


Kita, kata sederhana mengandung harapan...


"Ikut saja." katanya singkat, Alfin sendiri bingung harus mengekspresikan perasaannya sendiri seperti apa.


Ia mengajak Karin ke mall, dahinya semakin mengkerut.


"Ke Mall?" tanya Karin dengan wajah bingung, sementara Alfin menanggapinya dengan mengangguk senyum, "Ayo." ajaknya, menarik tangan Karin dan mengajaknya ke foodcourt tempat mereka makan bersama waktu itu.


Karin meringis, ia merasa Dejavu! saat Alfin mengajaknya duduk di tempat makan yang sama, bahkan nomor kursi yang sama pula dengan waktu lalu, tiba-tiba pandangannya menerawang pada kejadian waktu itu, kejadian saat ia ke toilet dan bertemu dengan sosok Alan Carley.


"Hey, melamun?" Alfin melambaikan tangan di depan wajah Karin.

__ADS_1


Ia tampak menghela napas berulang kali, sebelum memulai.


Sembari menunggu makanan datang, ia memilih memperhatikan wajah cantik Karin.


Perlahan ia mulai meraih jemari lentik itu, "Apa aku sudah terlambat, Kar! Aku menyukaimu sejak pertama kali aku mengkhawatirkanmu." Akunya dengan nada bergetar.


Respon pertama, ia mengeleng keras demi mendengar apa yang barusan Alfin katakan. Namun, belum sempat menjawab. Seorang pelayan datang membawa pesanan.


"Silahkan, selamat menikmati." Karin menelan salivanya kasar, beruntung Alfin mengajaknya makan lebih dulu, paling tidak sebagai pelarian canggung.


Dan selesai makan dan menandaskan minumannya, Alfin lagi-lagi menagih jawaban kepadanya.


"I'm sorry, Fin!" sembari mengangkat jemarinya, tuk menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya membuat Alfin memanas.


"Aku udah tunangan, seminggu lagi aku menikah!" akunya dengan mata berkaca, Cinta tak harus saling memiliki bukan?


"Aku hanya serpihan kaca, yang sampai kapanpun nggak akan pantes buat kamu, meskipun aku mau!"


"Apa orang itu Alan Carley?" tanya Alfin dengan bibir bergetar, ia sudah terlambat dan benar-benar terlambat, hatinya patah bahkan sebelum ia memulainya.


Karin hanya mengangguk lesu, tanpa sadar air matanya luruh.


***


Ia sendiri langsung memeriksa data diri Dasinta, ketika mendapat laporan dari Ziando bahwa mantan karyawannya itu langsung mendapat pekerjaan sebagai sekertaris Alan Carley.


"Dua musuh bergabung, tapi sepertinya aku punya rencana bagus." gumamnya sambil menyeringai.


Ia menelpon Ziando, agar masuk ke dalam ruangan Nora.


"Ada apa Tuan muda?" tanyanya, dengan gaya membungkuk formal, "Ish, Zi. Kau terlalu berlebihan, lakukan jika ada karyawan lain." gerutunya sebal, menirukan gaya khas Nora.


Ia tampak memibisikan sesuatu kepada Ziando, sambil sesekali melirik ke arah Nora, berharap istrinya tak bertanya hal apa yang sedang ia rencanakan.


"Aku butuh pengkhianat di perusahaan itu?" serunya dengan senyum menyeringai.


Sorenya saat mereka pulang dan berjalan beriringan semua orang menyapanya dengan senyum, kejadian pagi tadi memang cukup menggemparkan karyawan. Terlebih saat Dasinta di pecat tanpa kesempatan membuat karyawan yang lain tak ingin mengambil resiko.


"Kita mau pulang atau mampir dulu?" tanyanya sebelum masuk ke dalam mobil.


"Pulang aja, Dev! Aku capek." jawabnya dengan bibir mengerucut.


Mereka pun langsung melesatkan mobil tuk pulang ke rumah, tapi rasa lelah menguar begitu saja karena seharian bersama Devano.

__ADS_1


Sampai di rumah, langsung disambut oleh sapaan bi Liam yang tengah menyapu, pun Maya yang sibuk menyirami tanaman.


Sementara mobil di parkir mang Jaja, Devano dan Nora masuk.


"Ish, Tuan ganteng ya bik kalo pake jass gitu, gak kayak bocah." seru Maya ketika punggung tegap Devano tak lagi terlihat.


"Iya, makanya nyonya mau di nikahin, orang Tuan muda itu definisi jodoh sempurna." jawab bik Liam bangga.


**


Nora sudah lebih dulu naik ke atas, sementara Devano mengambil dua air mineral dingin di kulkas. Lantas menyusul istrinya.


"Haus gak? minum dulu, gih?" ia menyodorkan satu botol untuk Nora setelah membukanya.


Pulang kerja, paling enak menikmati udara sore di balkon, hal sederhana yang nyaris menjaid kebiasaan Nora.


"Tadi ngomongin apa sama Ziando?" mendengar pertanyaan Nora membuatnya mengukir senyum, "Cie yang pura-pura sibuj, tapi merhatiin." godanya.


"Enggak! Emang kebetulan aja." elaknya, mode sebal.


"Kamu kalo marah cantik, cantik banget malah." goda Devano.


"Jadi kamu suka kalo aku marah-marah?" Nora sudah mengerucutkan bibir.


Devano menggeleng, "Semua suka kalau itu kamu."


"Ish ish ish, gombal terus." desisnya dengan wajah merona, lalu mengalihkan pandangan.


Setelah mandi, Nora memilih tiduran di kamar, bahkan enggan turun tuk sekedar makan malam. Alhasil, Devano harus menyuruh Maya mengantar makan malam ke kamar.


"Kamu beneran capek sayang, mau di pijitin?" tawarnya.


"Boleh, tapi emang gak papa?" ia balik bertanya, karena entah kenapa ia merasa lelah sekali.


"Tentu saja, dengan sepenuh cinta. Bahkan sampai kamu terlelap pun gak papa."


"Hmm, baiklah!" Devano mulai memijit kaki Nora, dengan telaten ia melakukannya, meskipun pijatannya asal, tapi sepertinya Nora sangat menikmati. Buktinya, baru beberapa menit, istrinya itu sudah terlelap.


"Yang penting kan udah usaha, apapun itu untukmu sayang. Have a nice dream tante." serunya pelan, kemudian mencium pucuk kepala Nora, menyelimutinya lalu ikut merebahkan diri.


**


"Selamat pagi, Pak! Saya Dasinta, sekertaris Pak Alan." sapanya menunduk hormat ketika Asisten Alan memintanya masuk ke ruangan CEO, Alan Carley.

__ADS_1


"Duduk." titahnya kepada Dasinta, kemudian mengibaskan tangan ke atas, mengisyaratkan agar asistennya keluar meninggalkan ia dan Dasinta.


__ADS_2