
Senja hampir memudar, Nora menggeliat bangun kala merasakan perutnya berdemo ria karena lapar luar biasa ditambah sekujur badan yang terasa lemas remuk tulang-tulangnya juga nyeri luar biasa di bagian inti tubuhnya.
Lamat-lamat memandangi Devano yang terlelap di sampingnya, juga tubuh polos tanpa sehelai kain menempel membuatnya memekik, namun buru-buru menutup mulutnya.
"Damned! Aku benar-benar melakukannya sama Devano," gumamnya sembari terus menepuk juga mencubit pipinya sendiri, karena tak percaya. Ia benar-benar khilaf dan..
Ah sudahlah, yang terpenting sekarang bagaimana ia menyembunyikan wajah malunya dari Devano, pipi rona merah karena kenyataan bahwa ia berhasil menggoda bocah tengil itu.
"Come on, Dev!" kata-kata itu masih terngiang, berdengung tak jelas di telinga. Siapa yang salah kali ini?
"Dev, bangun!" ucapnya pelan sembari menggoyangkan tubuh Devano. Devano pun membuka matanya, "Kenapa sayang, mau nambah?" tanyanya mengu lum senyum.
"Ishhh, me sum! Aku laper tahu, mau makan." gerutunya dengan wajah sebal.
Dalam satu gerakan, Devano menarik tubuh Nora hingga jatuh tepat di atasnya.
"Makan apa? Jadi jalan-jalan keluar?" tanyanya sembari nengangkup pipi sang istri yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Sejenak dua netra itu beradu, merasa tak mendapat jawaban Nora. Tangannya pun mulai menulusuri wajahnya cantik nan menggemaskan itu, "Mau lagi?" selorohnya dengan tawa kecil berhasil membuat si empu berdecak kesal lalu bangkit mengubah posisi.
Saat ini, bahkan Devano tak tau apa yang dilakukannya itu sebuah kekeliruan atau memang hal yang semestinya ia lakukan, sungguh kekhilafan yang membuat candu. Seolah Nora adalah satu titik dimana ia berhenti.
"Mandi dulu, baru kita keluar!" ucap Devano akhirnya memutuskan, saat Nora sedari tadi hanya berdiam sembari sesekali meringis sakit.
Nora hendak beringsut dari ranjang dengan menarik selimut tebal sebagai penutup tubuhnya. "Kenapa di tutup, aku udah lihat semuanya?" seloroh Devano membuatnya mencebik, lalu membuka kembali selimut dengan malu dan berlari ke arah kamar mandi, meski setelahnya ia semakin meringis merasakan sakit.
"Dasar, me sum!" umpatnya ketika sudah sampai di kamar mandi. Ia sedang membasahi tubuhnya di bawah guyuran shower air dingin, berharap otaknya tak lagi panas dan mampu berfikir dengan kepala dingin.
Come on, Dev!
Come on, Dev!
Come on, Dev!
"Arghhhh...." ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menutup telinga, setan apa sedang berkeliaran hingga kata-katanya tadi terus terngiang di telinga tanpa memberi jeda, memancing rasa malu sekaligus sebal bersamaan.
Sementara Devano, ia beringsut lalu memakai celana kolor juga kaos, menyibak selimut dan meraih sprei yang jelas masih tercetak noda darah disana. Membuatnya lagi dan lagi mengu lum senyum saat teringat kekhilafannya.
Setelah meminta seorang pelayan villa datang untuk mengganti sprei, Devano mengernyit kala melihat jam di atas nakas sudah hampir pukul 18.00 WIB yang artinya ia dan Nora gagal menikmati indahnya senja di pantai.
"Terima kasih," ucapnya setelah pelayan selesai mengganti sprei miliknya lalu memberikan dua lembar warna merah sebagai tips.
__ADS_1
"Tapi ini kebanyakan Tuan," tolaknya mengembalikan, "Ambil aja, asal noda di sprei itu jangan sampai ada yang tau." titahnya.
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak!" ucapnya kemudian pamit.
**
"Oh shitt, kenapa tandanya banyak banget!" menggerutu sebal melihat hampir setiap inci da danya penuh dengan kissmark.
"Tant, udah belum?" ketukan pintu berulang-ulang menyadarkan Nora, saat umpatan demi umpatan terucap dari bibirnya, ia tersadar jika sudah terlalu lama berada di kamar mandi.
Ceklek! Nora membuka pintu menampilkan wajahnya yang memucat, membuat Devano seketika dilanda khawatir lalu buru-buru mencekal tangannya saat ia melewati Devano begitu saja dengan raut kesal plus pucat.
"Kenapa, hmm?" tanya Devano dengan semburat khawatir, namun respon Nora hanya menggelengkan kepala.
"Mandilah, aku lapar!" titahnya agar segera Devano melepas tangan dan memilih mandi, agar ia juga segera bisa mengisi perutnya yang lapar karena telah melewatkan makan siang.
"Baiklah," ucapnya melepas cekalan tangan dan melangkah ke kamar mandi.
**
Devano dan Nora melangkah keluar kamar, menapaki tangga demi mencapai bawah Villa untuk segera keluar dan mencari makan.
Sungguh canggung, saat Devano berusaha meraih tangannya namun, Nora seolah pura-pura tak tau dan memilih berjalan lebih dulu.
Yang terjadi, haruskah ia sesali?
Namun, saat sang mama meminta, bahwa ia harus punya banyak stok sabar untuk menghadapi Nora. Disitulah ia sebenarnya sedang di uji, harus menghadapi setiap peragai Nora dengan sabar, Devano yakin ia bisa meluluhkan Noranya.
Deburan ombak terpampang nyata di depan sana, dari atas sangat kentara keindahan pantai membentang, harapan menikmati senja berdua berlarian di tepi pantai pupus sudah karena kini indahnya senja sudah berganti malam. Ada beberapa pengunjung pantai juga tengah menikmati, mungkin sedang mencari angin. Atau memilih waktu aman agar bisa menikmati pantai lebih leluasa.
Setelah memutuskan memesan makanan, kembali mereka berdua diam. Sesekali saling melirik pun Nora yang sepertinya memilih enggan bicara.
Lalu perlahan, Devano memulai dulu, meraih jemari lentik yang terus mengetukkan kukunya pada meja dengan gelisah.
"Maaf," kata itu lolos begitu saja dari bibir Devano.
What the hell, apa dengan meminta maaf, semua akan kembali seperti semula, Nora malu, benar-benar malu.
Nora menggeleng kuat-kuat, guna agar Devano berhenti, berhenti bilang maaf, berhenti merasa bersalah karena kejadian tadi benar-benar sebuah Accident bagi Nora.
"Udah ya, udah aku mau makan." ucapnya beralibi, terlebih saat pelayan menyajikan beberapa makanan menggugah selera ke atas meja. "Sesuai pesanan ya kak, selamat menikmati." ucap pelayan sebelum pergi.
__ADS_1
"Hm, iya kita makan."
Hening lagi, hanya suara sendok dan garpu yang bersentuhan. Namun, tiba-tiba Nora terkesiap saat jemari Devano mengusap lembut sudut bibirnya.
"Belepotan, pelan-pelan makannya."
"Ck, aku kelaparan karenamu Dev!" ia menggerutu sebal.
Selesai menikmati makanan, kini dua insan itu melanjutkan dengan jalan-jalan. Menyusuri setiap toko penjual berbagai macam pernak-pernik dan asesoris yang ia lewati sebelum sampai di tepi pantai.
Tanpa persetujuan, Nora melangkah masuk ke dalam toko, pandangannya menyapu berbagai macam pernak-pernik yang kerap menjadi pusat tempat orang-orang mampir. Ada kalung, gelang, cincin, juga topi, kaos dan banyak barang simple murah meriah dan ramah di kantong pastinya.
Lalu matanya berbinar ketika menangkap gelang sederhana juga unik menurut versinya.
"Beli apa?" tanya Devano penasaran karena Nora berusaha menyembunyikannya dengan segera di slingbag miliknya, sejak awal ia masuk tak ingin di buntuti, meminta agar Devano menunggunya di depan toko.
"Sesuatu dong," sungutnya dengan seulas senyum seolah berhasil mendapatkan sesuatu berharga.
"Rahasia." bisiknya dengan mata mengerling kemudian segera berlari menjauh.
Hya, dan adegan kejar-kejaran itu benar terjadi. Sesuai ekspetasi yang beberapa jam lalu terangkai dengan indah meski tanpa senja yang menyapa.
Semilir angin mampu menyibakkan rambutnya, menjadikannya berantakan namun tetap terlihat cantik, duduk berdampingan diatas pasir sembari menikmati hamparan laut meski tak terlihat jelas.
Dan untuk pertama kalinya, Nora berinisiatif meraih tangan Devano tuk kemudian mengeluarkan gelang sederhana yang ia beli tadi dan memasangnya.
"Nggak mahal, tapi semoga kamu suka! Aku nggak tau seperti apa seleramu, untuk kejadian yang tadi em...." Nora menjeda ucapannya, menghela napas sejenak untuk meneruskan kalimatnya.
"Nggak perlu minta maaf lagi, aku yang salah, aku yang iseng goda kamu, tapi jangan sampai orang tua kita tau dulu, paling nggak sampai kamu lulus." ia meringis, namun respon Devano justru menggenggam erat jemarinya.
"Biar jadi rahasia kita." sambungnya langsung diangguki oleh Nora.
Menikmati indahnya malam di pantai, berteman bintang-bintang dan orang yang disayang, sungguh sempurna!
Nora berulang kali mengusap lengannya kala merasa udara dingin menerpa, meski ia sudah memakai sweater tipis. Namun, sepertinya ia tidak biasa berada di situasi seperti ini.
"Ayo pulang," ajaknya sembari melepas jaket dan memakaikannya di tubuh mungil Nora.
"Tapi, kam..." terpotong oleh jemari Devano yang lebih dulu menempel di bibir mungilnya.
__ADS_1
***