TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - Bertemu Reyhan


__ADS_3

Darren menggelengkan kepala berulang kali saat Resha memintanya menyapu halaman pagi ini. Bukan tidak bisa bukan, hanya saja dirinya sama sekali tak pernah menyentuh pekerjaan ini. Hanya mengandalkan pengurus rumah tangga juga tukang kebun di rumahnya.


Lima belas menit yang lalu,


"Ya ya, biar lekas beres aku akan mencuci piring menyapu rumah dan mengepel lantai, kamu bantuin bersihin halaman kotor ini saja." Resha menunjuk daun-daun kering yang berserakan, dengan senyum simpulnya hingga berhasil membuat CEO Arsa Group itu mengangguk tanpa penolakan.


"Baiklah, aku kan calon suami idaman," ucap Darren meski setelah Resha pergi ia terheran dengan diri sendiri.


Dengan malas, ia mulai menyapu halaman berpaving itu. Namun, saat melihat Resha begitu semangat membuat Darren merasa bersalah. Resha berulang kali mengusap dahinya dengan tangan guna menyeka keringat.


"Seharusnya aku bisa melihat dia wanita pekerja keras dan luar biasa," gumam Darren kemudian ia melanjutkan menyapu halaman itu hingga hampir selesai.


"Makasih ya, sudah dibantuin." Resha menyodorkan air mineral dingin kepada Darren.


"Sama-sama, oh ya apa kamu tidak ingin bertemu Reyhan?"


"Untuk apa?" tanya Resha, dengan kening mengkerut. Entah kenapa ia merasa heran dengan Darren yang seolah mendukung dirinya kembali pada Reyhan, padahal jelas Resha sudah memutuskan berada di sisinya.


"Tentu saja menyelesaikan yang belum terselesaikan," ucap Darren, namun Respon Resha justru menggeleng.


"Semua sudah selesai, termasuk hubunganku sama mas Anton. Bukan aku mempermudah, hanya saja aku melewati banyak masa sulit, dan aku tidak ingin kembali." Resha tersenyum getir. Baik Reyhan atau mas Anton sama-sama pernah memberikan cinta sekaligus rasa sakit. Barangkali, ia bisa berharap akan mendapat cinta yang lain.


"Baiklah, aku hanya memberi kesempatan kamu untuk memilih. Karena jika kamu tetap ingin disisiku, selamanya tidak akan bisa pergi."


Deg


Deg, jantung Resha berdetak cepat dengan wajah memerah. Entah kenapa ucapan Darren justru terdengar menyenangkan di telinganya. Tegas dan penuh kepastian.


"Aku akan ikuti, alur indah yang Tuhan ciptakan untuk kita," batin Resha.


"Sekarang mandi dan bersiap-siaplah," titah Resha.


"Kemana?"


"Tentu saja mengantarku belanja, semua bahan dan isi kulkas habis."


"Oh baiklah, calon istriku." Ringan sekali Darren mengatakannya, tidak bisakah dia melihat saat ini Resha sudah tak kuasa menahan rona di pipi karena ucapannya?


"Kau ini, apa tidak bisa memanggil Resha saja," protes Resha.


"Tidak, kenapa?"


"Tidak apa," gumam Resha saat Darren sudah melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Ia begitu bahagia dengan hal-hal sederhana yang Darren ucapkan dan lakukan. Pandanganmya tertuju pada halaman rumah yang sudah bersih, Darren benar-benar bisa diandalkan padahal Resha berfikir jika Darren tak akan melakukannya karena mengingat laki-laki itu CEO Arsa Group yang sudah jelas tidak pernah melakukan pekerjaan seperti ini.


***


"Hallo, Zi. Kamu tolong handle kantor hari ini, saya ada urusan sama istri saya,"


"Baik Tuan, kebetulan jadwal meeting hari ini tidak ada. Hanya beberapa dokumen perlu tanda tangan Tuan." jelas Ziando pada Devano lewat sambungan telepon.


"Baik, bawa ke rumah sebelum jam 9," ucap Devano.


"Ma, siap-siap dulu, gih." titah Devano.


Nora tersenyum, ia tahu rencana suaminya yang akan menyusul Darren ke Bandung dan akan langsung menemui pihak keluarga Resha.


"Semangat banget," goda Nora, kepada suaminya.


"Ini kesempatan sayang, sekali mendayung dua tiga terlampaui. Kita sudah tau latar belakang Resha seperti apa bahkan sebelum Darren menceritakannya nanti,"


"Kamu selalu bergerak cepat," ucap Nora yang menyandarkan tubuhnya di dada bidang milik Devano.


"Tentu, jika tidak kamu mungkin akan menikah dengan om sialan itu,"


"Kamu masih mengingatnya sayang?" heran Nora.


"Tentu saja, hmm."


Kembali ke Darren yang saat ini tengah menunggu Resha bersiap, hari ini mereka akan keluar bentar untuk jalan-jalan. Entah kenapa, berada di dekat Resha membuat Darren betah berlama-lama disini, masih belum menyadari perasaan aneh yang menyeruak saat berhadapan dengan Resha.


Resha terpaku, dengan polesan tipis wajahnya ia benar-benar terlihat seperti gadis.


"Memang aku masih gadis," gerutunya pada diri sendiri, setelah memastikan sempurna ia gegas keluar. Dress floral yang melekat di tubuh dengan rambut panjang tergerai. Meraih tas dan memasukkan dompet serta ponselnya.


"Ayo," ucap Resha kala keluar dari kamar. Darren bukan hanya tak berkedip bahkan ia membulatkan matanya demi sosok cantik yang kini berjalan ke arahnya.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Di sebuah taman, Darren berjalan beriringan dengan Resha. Mereka sangat menikmati hari meski dengan hal-hal kecil seperti makan es krim dan berswafoto.


"Kenapa kamu seneng banget Res?"


"Iya, karena sudah lama aku nggak menikmati hidupku sendiri. Terlalu fokus sama kebahagiaan orang lain."


"Baguslah, aku suka melihatmu seperti ini."

__ADS_1


Resha..." sebuah teriakan yang berhasil memancing Darren untuk segera menoleh. Terpaku begitu lama saat sosok tampan penuh kerinduan menghampiri Resha.


"Reyhan," lirih Resha yang mampu di dengar oleh Darren.


"Hampir setiap hari aku mencarimu, kamu kemana? apa benar kamu sudah tidak bersama Anton lagi, kenapa suratku tak kamu balas, bahkan tuk sekedar mengirim pesan perpisahan padaku."


Deg, Resha tertegun. Ia paham surat yang dimaksud oleh Reyhan adalah surat yang ditemukan Darren kemarin di kamarnya.


Ia menoleh sebentar ke arah Darren, hingga Reyhan mengikuti arah tatapannya.


Darren hanya berdehem, tak ingin mengganggu meski sebenarnya dalam hati sangat kesal.


"Maaf, silahkan kalian berbicara aku akan pergi beli minum," pamit Darren melangkah tergesa meninggalkan Resha dan Reyhan.


"Duduk dulu, Rey." Resha meminta Reyhan duduk di kursi panjang taman. Menghela napas kasar, kemudian menatap Reyhan.


"Maaf sebelumnya, aku dan mas Anton memang sudah berakhir. Tapi, bukan berarti aku akan kembali sama kamu. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan."


"Kenapa, Res. Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Reyhan.


Diam-diam Darren memperhatikan interaksi mereka, lalu tangannyaa mengepal tanpa sadar saat Reyhan berusaha menggenggam tangan Resha.


"Maaf, bukan itu. Tapi aku nggak bisa, ada Darren di sisiku sekarang," ucap Resha merasa bersalah dan melepaskan genggaman tangan Reyhan yang tampak memohon.


Maafin aku Der, aku menjadikanmu alasan untuk menjauhi Reyhan. pikir Resha.


"Res, beri aku kesempatan?"


"Maaf, Rey. Tapi aku beneran tidak bisa, kita sudah berakhir bahkan sebelum aku mengenal mas Anton."


Deg, kini Reyhan yang dibuat tertegun. Pria tampan itu menunduk dalam-dalam. Memang tidak ada yang lebih menyakitkan dari pengkhianatan.


"Kamu tahu?" tanya Reyhan merasa bersalah.


"Perempuan memiliki firasat dan kepekaan yang tinggi, bahkan jika kamu menyembunyikannya serapi mungkin. Tuhan tidak akan membiarkan mataku buta terus menerus. Aku tahu, kamu mencariku karena penyesalan dan rasa bersalahmu. Tapi maaf, aku tidak bisa, semoga kamu bisa menemukan cinta yang lebih baik." Resha bangkit dan pamit, ia mengusap sudut matanya dan setengah berlari meninggalkan Reyhan.


"Apa yang terjadi," batin Darren yang tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.


.


.


.

__ADS_1


Next, 200 like up๐Ÿ˜˜


LIKE KOMEN GIFT YA YA SAYANG๐Ÿค—


__ADS_2