
Devano Aldeva, meski tanpa aura seram. Ia tetap bermarga Aldeva, putra tunggal dari penguasa bisnis di Indonesia bahkan di Asia.
Siang ini, geng Devano seperti biasa berada di depan Sekolah, tujuannya hanya satu. Barangkali si-Alan akan kembali menjemput Karin pulang sekolah, sambil menyeringai lebar ketiga cowok tampan itu menunggu di mobil untuk melihat siapa yang akan menjemput Karin.
"Gue gak ngerti, kenapa kalian ngelihatin Karin kaya gitu, pake sembunyi-sembunyi di mobil?" tanya Abiyan yang bingung melihat kedua sahabatnya seperti sedang merencanakan sesuatu, merasa tak mendapat respon. Abiyan yang duduk di belakang pun menghela napas kasar, lalu memilih bersandar di kursi mobil sembari memijat pelipisnya. "Tuhan, punya temen bengek semua!" keluhnya tanpa sadar.
"Astaga, olahraga Bi, lo nyari info baku hantam, giliran gue ajak banyak nanya." Sahut Devano, "Tuh-tuh, ada mobil berhenti, Dev!" pekik Alfin, sontak Devano pun melihat ke arah pandang Alfin.
Benar saja, Alan memang sengaja mengantar jemput Karin hari ini. Abiyan pun mulai paham, "Jadi tu om-om sasaran kita?" bengekkan dia, menyebut Alan dengan panggilan om-om.
"Iya, tu si-Alan kemarin gangguin tante gue, untung ketemu Alfin kemarin, pengen gue patahin tangannya." Devano mengusap rahangnya, dengan tatapan tajam memperhatikan gerak-gerik Karin.
Sebenarnya bisa saja, Devano mempermainkan Karin. Tapi itu bukan sifatnya, sekali tidak suka maka tidak suka. Dev, tipe orang yang terang-terangan.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mobil Alan dan Karin melesat, gegas Devano mengikutinya dari jarak aman.
"Dev, sebelum jalan masuk rumah Karin itu sepi," ujar Alfin memberitahu karena sepertinya Alan hanya mengantar Karin pulang.
Devano pun mengangguk, dan saat sudah sampai pada jalan yang ditunjuk oleh Alfin segera Devano memotong mobil Alan dan berhenti di depannya.
"Damn! Beraninya motong jalan." umpat Alan emosi.
"Siapa kak?" tanya Karin pun heran melihat tiba-tiba ada mobil yang menghalangi mobil kak Alan.
Devano, Alfin dan Abiyan terkekeh sembari menunggu respon pemilik mobil, "Minum dulu gih, habis ini peregangan otot." titah Devano menyodorkan air mineral kepada Alfin juga Abiyan.
Benar saja, seperti dugaan Devano bahwa Alan akan menggedor kaca mobilnya. Bahkan laki-laki dewasa itu menggedornya sambil berteriak, benar-benar gak ada waras-warasnya.
"Buka, lo motong jalan seenak jidat, keluar lo." ucap Alan begitu emosi.
Devano dengan wajah coolnya keluar mobil, tersenyum miring.
__ADS_1
"Ups, sorry om!" santai Devano dengan tersenyum miring, Alan terperanjat melihat siapa pemilik mobilnya pun Karin tak kalah terkejutnya di dalam mobil. Belum sadar dari keterkejutannya, Devano sudah lebih dulu melayangkan tinjunya ke wajah tampan Alan hingga menyisakan rona merah disana.
"Pemanasan." ucap Devano setengah mengejek, Alan berusaha menyerang balik Devano namun dengan sigap pemuda itu menangkis setiap pukulan Alan. Karin yang menyaksikan itu pun memekik, lalu keluar mobil. "Dev, jangan!"
Bersama dengan itu berdiri Abiyan dan Alfin di samping Karin, hingga membuat gadis itu kian memucat, "Bi, pisahin mereka, tolong." pinta Karin memelas, "Cehh, jangan harap!" ujar Aby begitu santai.
Devano beringsut mundur kala bibirnya tak sengaja kena pukulan Alan hingga mengeluarkan darah. Lalu Abiyan dan Alfin menyerang Alan dari belakang hingga membuat laki-laki itu tersentak.
"Kak, awas!" pekik Karin yang ketakutan melihat Alan babak belur, lalu berlari mendekat.
"Udah stopp!" teriaknya frustasi, "Itu balasan karena lo ganggu calon istri orang." kecam Devano, kini Karin yang di buat mematung.
"Nora cuma milik gue!" ucap Alan,
Bugh! Bugh!
Devano langsung memukulnya, "Ceh, jangan mimpi om si-Alan." Devano kembali menghajar Alan dengan bringas, meski wajahnya cukup memar terkena pukulan beberapa kali.
"Dev, udah!" lirih Karin memelas.
Alfin menaik turunkan alisnya, "Ceh, jangan harap Devano akan berhenti."
"Fin, aku pikir kamu nganggep aku temen." tutur Karin dengan air mata berderai.
"Temen, itu anggapan gue beberapa hari yang lalu. Tapi kayaknya lo perlu kaca, ngaca gih! pantes nggak lo disebut sebagai temen? Sementara lo punya maksud dibalik itu semua." ucapan Alfin begitu menohok.
"Dev, cabut!" ucap Alfin dan Abiyan. Geng Devano itupun akhirnya memilih pergi, meninggalkan Alan yang sudah babak belur dan Karin.
"Puas nggak, puas nggak? puaslah masak enggak?" ketiga cowok itu sontak terkekeh bersama.
"Calon pengantin kena pukul, bwahaha." Canda Abiyan. "Itu kalo gak lo obatin, bahaya!" pungkas Alfin. Devano menautkan alisnya, "Cuma memar gini, apanya yang bahaya?" tanyanya dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Iyalah bahaya, gantengnya ilang hahaha." dua sahabatnya kembali tertawa.
"Cehh." Devano berdecih, lalu melesatkan mobilnya untuk mengantar Alfin dan Abiyan, motor mereka? tentu saja itu menjadi urusan Devano, ia hanya butuh menelpon Ziando, semua akan beres.
**
Sementara matahari siang ini semakin panas, dua wanita paruh baya bersama gadis cantik kini sedang berada di butik terbesar di kota Jakarta. Tentu saja semua itu atas keinginan nyonya Aldeva, Nara. Meski pernikahan putra putri mereka tidak akan dipublikasikan, Nara tetap ingin pernikahan Devano dan Nora menjadi pernikahan istimewa, dengan segala momen manis yang tak akan terlupakan.
"Ada beberapa desain terbaik disini, nyonya silahkan ikut kami." ucap pelayan itu saat Nara menanyakan model gaun pengantin untuk Nora dan Devano.
"Kamu mau yang mana sayang?" tanya Nara kepada calon menantunya, saat mereka melihat beberapa gaun terbaik limited edition.
"Menurut tante, mana yang bagus buat Nora?" tanya Nora meminta pendapat. Nara pun memerhatikan, dan meminta Nora untuk mencoba manapun yang ia sukai. Dan setelah mendapatkan pilihannya, mereka kini memutuskan untuk makan dan menikmati waktu di caffe. Selesai makan, dan puas mengobrol mereka memutuskan untuk pulang.
Kenia pun merasa tak enak, terlebih Nara menyiapkan segala sesuatunya serba terbaik.
"Jeng, terima kasih untuk semuanya ya, saya sampai nggak bisa berkata-kata. Nora benar-benar beruntung memiliki Devano." ujarnya lalu memeluk Nara.
"Gak papa jeng, Nora kan anak saya juga. Dan saya mau yang terbaik untuk anak-anak kita." Sungguh pelukan yang membahagia dan mengharukan bagi Nora, apa ia tega merusaknya jika tau ia tidak mencintai Devano, bukan tidak! mungkin belum.
"Ya Tuhan, aku tak sanggup mengecewakan mereka, aku tak sanggup melihat mereka sedih jika tahu semuanya. Semoga aku dan Devano akan selalu baik-baik saja tanpa harus mengecewakan mereka." batin Nora yang merasa sedih karena melihat betapa dua wanita yang begitu berharga baginya kini terlihat sangat bahagia menyambut pernikahannya.
Di sebuah rumah sederhana, Alan tengah duduk sembari terus meringis kesakitan saat tangan Karin dengan telaten mengobati lukanya.
"Maafin, Devano ya kak?" ucap Karin yang merasa sedih. Kenapa harus terjadi adu pukul antara mereka. Dan yang membuat Karin lebih sedih adalah penyebabnya.
Banyak wanita cantik di dunia ini, tapi kenapa hanya Nora?
"Pelan-pelan, Kar! Sakit." ucap Alan sembari terus meringis.
"Tahan bentar biar cepat sembuh, untung mama lagi kerja, kalau ada? Karin bisa kena marah karena gak bisa jagain kak Alan." terocos gadis itu. Ada perasaan hangat saat mendengar Karin mengomel, namun buru-buru Alan menepisnya. Karena tetap baginya, hanyalah Nora.
__ADS_1
"Aku akan buat perhitungan." ucap Alan,
"Akh..." lagi Alan meringis karena Karin menekan lukanya seperti kesal. "Kak Alan, cari mati? Devano itu bukan cuma cerdas tapi juga jago beladiri, baru gini aja kakak udah keok, gimana mau balas!" gerutu Karin.