TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Ektra part 2


__ADS_3

Pagi menyapa, udara dingin tak mengurungkan niat Devano dan sahabatnya bangun pagi dan menikmati liburan terakhir di pulau seribu.


"Kau sudah siap," Nora mengangguk, melihat istri dan si kembar sudah rapi membuatnya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak berselang lama, Devano keluar dengan wajah yang sudah lebih segar dengan setelan kaos dan jeans selutut. Meski begitu, ia tetap terlihat tampan berkarisma.


"Sini sayang, sama ayah." Devano meraih Darren, sementara Qween memilih bersama Nora. Mereka keluar kamar, melangkah bersama menuju meja makan yang ternyata sudah tersaji banyak makanan buatan pelayan yang di percaya mengurus villa ini.


"Pagi, tuan!" Sapa pelayan tersebut mempersilahkan.


"Yang lain kemana?" tanya Nora dengan dahi mengkerut.


"Belum keluar, tuan. Belum ada yang keluar bangun," jawab pelayan itu menunduk.


"Oh mungkin mereka masih mengantuk, kalau begitu kita sarapan lebih dulu dan keluar jalan-jalan." ajak Devano.


Setelah menyuapi Darren dan Qween, memastikan si kembar kenyang, barulah mereka sarapan.


Bersama dengan itu para sahabatnya keluar, dan telah siap untuk sarapan.


"Wah keluarga cemara," sapa Abiyan, lalu menarik kursi dan duduk di samping Clara.


"Benar-benar membuat iri," tutur Alfin, namun dengan tangan terus bertaut dengan jemari Karin sejak keluar dari kamar.


"Jika sudah tiba, kalian juga akan merasakannya, tak usah iri. Kita punya porsi masing-masing." santai Devano.


"Kau benar, Dev! Sejatinya kebahagiaan itu bagaimana kita menikmatinya bukan." Jawaban Abiyan sontak membuat pagi yang nyaman kembali riuh.


"Sejak kapan Abiyan tumbuh menjadi begitu dewasa, nak," ledek Alfin, "Tapi benar juga sih."


"Diam, gak kasian sama Maya dan Ziando, cuma saling lirik."


"Sudah-sudah lebih baik kita sarapan." Nora menengahi.


"An-te tantik." celoteh Qween membuat yang lain gemas, sementara Darren mewarisi sikap dingin Devano, sangat cuek!

__ADS_1


Semilir angin ditambah view pemandangan indah sungguh memanjakan liburan mereka kali ini, tawa bahagia dan canda menyertai. Deburan ombak di pinggir pantai tak dihiraukan, sepasang suami istri asyik mengajak putra dan putrinya bermain pasir dengan bahagia, sementara yang lain asyik bercengkrama.


"Dev, sepertinya bentar lagi kita akan kewalahan, lihat itu." tunjuk Nora ke arah Ziando dan Maya.


"Bagus dong, kita berhasil jodohin mereka, tapi bagaimana dengan saudara kembar Ziando." Nora mengedihkan bahu, tak tahu.


"Ma-ma." ucap Darren, Nora pun tersadar dan menatap si kembar, "Oh, sayang maaf ya Mama malah ngobrol sama Papa."


"Mereka anteng, sayang. Biarkan saja."


"Nggak gitu juga, Dev. Mereka tetap harus ektra pengawasan." tegas Nora.


**


Ada beberapa hal yang membahagiakan di dunia ini, selain dicintai dan mencintai, perasaan berbalas, hidup bersama hingga melewati cobaan sama-sama, satu lagi dan itu melihat orang-orang yang mengasihi dan menyayangi kita bahagia.


Devano dan Nora sedang berada di puncak kebahagiaan. Namun, inilah awal baru, sosoknya yang bukan lagi hanya seorang suami, tapi juga ayah dan orang tua.


"Sayang, tau nggak kenapa pulau ini indah sekali?" Devano berusaha menggombali Nora, sudah lama ia tak menggoda sang istri dengan gombalan-gombalannya. Saat Darren dan Qween bersama Zi dan Maya, saat itulah waktu yang akan digunakan Devano sebak-baiknya untuk berduaan dengan Nora.


"Bukan, karena ada kamu disini jadi terlihat sangat indah."


"Ck, gombal." gerutu Nora, namun dengan bibir tersenyum.


"Kita naik kapal yuk, keliling pulau ajak Darren sama Qween." Ajak Devano, akan tetapi tangan itu masih melingkar erat di pinggang istrinya, seolah disini memang hanya dia si pengantin baru. Padahal yang baru saja menikah malah asyik mengoda anak-anaknya.


"Sayang ayo naik kapal, biarkan tante dan ommu bersenang-senang." Devano menggendong dua bayi kembarnya yang bersorak girang, sementara Alfin dan Karin saling tatap.


"Zi, kamu sama Maya ikut kami keliling," printah Devano.


"Siap tuan!" patuh Ziando, Maya sebenarnya ingin membantu menggendong si kembar, namun Devano dan Nora menolak, bersikeras menggendong si kembar sendiri.


Kini mereka naik kapal, kapal yang cukup mewah bahkan Maya rasa ia tak pantas ikut. Nora melotot tajam, mengisyaratkan kepada mereka bahwa ini adalah keseharusan.


Malu-malu dua insan itu membuntuti Tuannya, aura bahagia kentara sekali di wajah keduanya, tak bisa sipungkiri Maya sangat senang melihat keluarga tuannya sangat harmonis.

__ADS_1


"Aik kapal ye ye." Sorak Qween, begitu pun Darren yang kegirangan.



Malamnya, Nora memandang Devano lekat-lekat. Hal itu sering kali ia lakukan akhir-akhir ini saat suaminya itu sudah terlelap. Nora sering terbangun tengah malam tuk sekedar memperhatikan wajah tampan itu. Wajah teduh nan tampan, wajah yang selalu membuatnya bertanya-tanya, apakah kelak jika ia tua suaminya akan tetap setia? saat kulit mulusnya mulai berkeriput, dan mungkin saat ia sudah pergi dari dunia ini, karena usia seseorang tidak ada yang tau.


"Dev, aku nggak pernah merasa setakut ini sebelumnya, aku fikir kita telah melewati banyak hal." Nora menghela napas sejenak, jemari lentiknya mengusap kepala Devano agar suaminya itu tak sama sekali tak terganggu gumamannya.


Tanpa Nora sadari, Devano mendengar semuanya. Namun, ia memilih pura-pura terlelap dan menikmati belaian tangan Nora.


"Aku hanya bisa berharap, semoga kita menua bersama, mendampingi anak-anak kita, tanpa adanya orang ketiga, aku selalu berdoa agar senantiasa sehat dan menemani masa tuamu, meskipun nanti aku tak cantik lagi, meskipun akan banyak perempuan-perempuan yang berusaha menggodamu, aku harap aku adalah satu-satunya cinta dalam hidupmu." Nora tersenyum sekaligus menitikkan air mata.


Ia mengubah posisi dan menyenderkan kepala di bahu Devano lalu memejamkan mata sambil memeluk perut suaminya.


Devano membuka mata dan tersenyum, ia benar-benar dibuat gemas dengan sifat mellow istrinya.


"Dev, kau itu menyebalkan. Tapi, aku sangat mencintaimu." Nora memejamkan mata, ia berniat kembali tidur.


"Aku juga mencintaimu," balas Devano langsung membuat Nora mengadahkan wajahnya. Kedua mata bertemu dalam dan lama, hingga akhirnya ci*man lembut terjadi.


"Tidak akan dan tidak ada satupun orang yang akan menggantikan dirimu, ingat baik-baik istriku." bisik Devano tepat di telinga Nora.


Nora pun tersenyum mendengarnya, ia semakin mengeratkan pelukan dan menenggelamkan wajahnya yang merona di da da bidang milik Devano.


***


Liburan usai, mereka kembali ke Jakarta dan menjalani kehidupan selanjutnya.


Maya dan Ziando memutuskan menikah, dan cuti. Sementara Abiyan dan Clara memilih bertunangan dan akan menikah setelah usai kuliah. Banyak kejutan dan kebahagiaan dalam kehidupan Devano dan Nora. Hingga waktu cepat bergulir dan si kembar bertambah usia.


Assalamu'alaikum readers🤗


Makasih banyak-banyak untuk segala dukungan dari rate, like, komen gift dan vote. Big hug dari author🤗


Habis ini author bakalan lanjut ke season 2 ya, tetap stay favorit karena novel ini akan terus berlanjut. Penuhi kolom komentar positif yuk, dan kawal hingga popularitas naik😘

__ADS_1


Insyaallah akan rilis kisah Darren tengah bulan desember, sehat selalu kalian😘😘


__ADS_2