TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2- bab 1


__ADS_3

Kecelakaan yang dialami bersama kakek dan neneknya hingga meninggal membuat Qweenza Alexsandra trauma. Sejak saat itu, bagaimanapun Qween harus tetap dalam perlindungan Darren. Laki-laki tampan yang kini dipercaya Devano mengelola perusahaan peninggalan kakek dan neneknya, Arsa Grup.


Flash back on,


Sebuah mobil yang ditumpangi Shaka, Kenia dan Qween cucu mereka. Melaju dengan kecepatan tinggi. Shaka begitu bahagia saat cucu kesayangannya dengan antusias mau menginap di rumahnya yang sepi sejak Nora dan Devano menikah. Kesepian, kendati ada Zain dan istri. Mereka lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah.


Shaka yang berumur sudah tak ingin mengurus perusahaan, terlebih satu persatu orang-orang yang ia sayangi pergi meninggalkan dunia ini.


"Kakek, sayang sekali Darren gak mau ikut. Dia sedang sibuk belajar agar bisa menjadi orang pintar dalam segala hal." Qween mengerucutkan bibir.


"Tidak apa, kelak Darren akan jadi laki-laki kuat yang selalu melindungimu, sayang." hibur sang nenek. Mereka lantas tertawa hingga tanpa sadar mobilnya sedang dalam kecepatan tinggi. Nasib memang tak bisa di hindari, ketika berusaha menghidari sebuah truck justru membuat Shaka menabrak pembatas jalan.


Badan depan hancur, kakek dan neneknya meninggal di tempat sementara Qween yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit.


Flash back off,


Darren dewasa tumbuh menjadi pria tampan, gagah dan dingin membuat sosok Darren banyak digilai perempuan termasuk karyawan kantornya sendiri. Namun, Darren tetaplah Darren. Sama sekali tidak tertarik dengan kisah percintaan yang hanya akan berakhir tragis seperti nasib sahabatnya, Leon. Dikhianati oleh perempuan berselimut wajah polos.


"Oh, ayolah, Derr! Kamu sudah berumur, jangan hanya karena kisah percintaanku yang sial lantas membuat dirimu enggan pacaran, wanita banyak di dunia ini." Leon menepuk-nepuk pelan pundak Darren, menasehati dan membujuk agar Dareen mau mencoba menjalin sebuah hubungan.


"Aku akan menikah, jika Qweenzaku sudah menikah." Santai Darren, Leon menghela napas kasar.


"Le, apa kamu tidak tertarik dengan adikku," tanya Darren balik bertanya kepada Leon, Sahabatnya.


"Dengan Qween?" tanya Leon, "tentu, siapa lagi, hmm!" Sahut Darren.


"Aku, entahlah. Bagiku, Qween terlalu sempurna, aku takut gagal lagi." Leon tampak pesimis.


"Baiklah, pikirkan baik-baik perkataanku. Jika kamu ingin aku segera menjalin hubungan, cobalah menerima Qween. Dia menyukaimu sejak kamu masih pacaran dengan wanita sial*n itu." Darren bangkit, melangkah keluar ruangannya. Sementara Leon yang juga bekerja sebagai asisten pribadi Darren mengikuti langkah kaki tegap itu.


Darren melempar kunci mobilnya ke arah Leon.


"Oh baiklah, kita kemana. Sebentar lagi meeting akan dimulai," ucap Leon.


"Aku mau beli minum sebentar, di dekat-dekat kantor sini ada kedai favorit, antar aku." ucap Darren yang langsung diangguki oleh Leon.


Hanya beberapa menit, mereka sudah sampai di kedai yang dimaksud oleh Darren.


Dania menyambut Tuan muda Aldeva itu dengan sumringah.


Minum es su su adalah kebiasaan Darren dari SMA. Namun, ada yang aneh hari ini ketika ia melihat sosok perempuan cantik tapi tertutup penampilan kucel berada di kedai miliknya.


"Selamat siang, Tuan." sambut Dania.

__ADS_1


"Siang,"


**


Mereka segera mencari tempat duduk yang nyaman, kemudian tangan Leon melambai pada salah seorang perempuan yang bekerja di kedai tersebut.


"Mbak, biasa!" ucap Leon yang langsung memesan apa yang biasa diminum Darren.


Wanita yang menunggu kedai itu menoleh tak mengerti, "Maaf pesan apa?" tanya Resha kebingungan. Ini adalah hari pertama ia bekerja setelah di usir oleh mertuanya.


Dania, tersenyum lalu membisikkan sesuatu di telinga Resha.


"Maaf, Tuan. Saya baru pertama kerja di sini," Resha berjalan masuk ke tempat yang di gunakan untuk membuat minuman. Tak berselang lama, ia keluar menyajikan dua gelas pesanan Tuan muda kaya tersebut.


"Cantik, tapi terlalu sederhana. Dipoles sedikit pasti sempurna." gumam Leon yang tak berkedip menatap Resha meski perempuan itu sudah kembali ke tempat semula.


"Ingat, kau hanya boleh membuka hati untuk Qween." bisik Darren penuh penekanan.


"Oh, ayolah Darren. Aku hanya memuji, tidak bermaksud apapun. Jika Qween mau denganku, aku pun akan menerima, mencintainya dan membuatnya bahagia hidup bersamaku."


Pletak...


Darren menyentil dahi Leon, hingga membuat si empu meringis lalu mengusap-ngusap dahinya pelan.


"Dasar, kakak ipar menyebalkan." gerutu Leon yang langsung mendapat pelototan tajam dari Darren.


"Baik, mari kalau begitu." Darren berdiri, saat Leon hendak ikut berdiri Darren melarangnya ikut.


"Diam disini, Le. Atau kupotong gajimu."


***


"Silahkan duduk, Tuan!" ucap Dania, yang membawa Darren ke sebuah ruangan yang ada di dalam kedai. Ruangan khusus untuk tamu dan yang berkepentingan.


"Ada apa, Dania."


Dania menghela napas, "Maaf, Tuan. Saya lancang menerima pegawai baru tanpa pemberitahuan lebih dahulu." Dania menyodorkan beberapa lembar kertas. Identitas Resha, pegawai baru Kedai yang ternyata adalah aset Darren yang di percayakan kepada Dania.


"Dia janda?" tanya Darren menautkan alis, "Iya, Tuan. Saya kasian sekali dengan nasibnya, baru tujuh hari suaminya meninggal dia diusir oleh mertuanya," jelas Dania.


Darren mengerti, "artinya dia tidak punya tempat tinggal?" tanya Darren.


Dania mengangguk, dia menempati euang kosong disini, Tuan. Maaf atas kelancangan saya." Dania mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Janda? Suaminya meninggal? apa dia tidak punya keluarga lain, dasar bodoh!" umpat Darren tanpa sadar.


"Kali ini tidak apa," Darren melangkah pergi, sementara Dania bernapas lega.


Brukkkk!


Saat keluar ruangan, Resha tanpa sengaja menabraknya. Kedua mata bertemu saat tangan Darren menahan pinggang Resha agar tidak jatuh.


"Maaf," Menyadari situasi yang rumit, Resha membuka suara hingga membuyarkan lamunan Darren.


Dukkk!


"Awhhh," ringis Resha saat Darren spontan melepaskan tangannya.


"Sakit, Tuan kenapa di lepas." gerutu Resha merasakan nyeri di bok*ngnya.


"Lantas bagaimana, mau dipegangin terus." Darren menaik turunkan alisnya. Dengan wajah datar, ia mengulurkan tangan guna menolong gadis itu.


"Saya bisa sendiri." Tolak Resha, lalu berusaha bangkit berdiri.


Sialnya, pergelangan kakinya terkilir hingga ia merasakan kesusahan.


Resha diam membisu, setelah menolak pertolongan Darren haruskah ia meminta tolong.


Tanpa aba-aba, Darren mengangkat tubuh Resha ala bridal style.


"Makanya, jangan sok nggak butuh bantuan kalau akhirnya bikin malu diri sendiri!" ucap Darren, Resha terdiam. Ia mengamati wajah tampan di hadapannya saat ini.


"Tampan, sayang masih muda." batin Resha.


Darren menyadari jika Resha memperhatikannya. Ia bahkan sama sekali tak merasa risih saat perempuan sederhana dengan usia lebih tua itu menatapnya lama.


"Sudah puas melihatnya? saya tahu kalau saya tampan," ucap Darren yang berhasil membuat Resha malu.


Darren menurunkan Resha di sofa, ia membantu memijat kaki resha.


"Sudah sembuh, terima kasih." ucap Resha.


"Ya, jika sudah sembuh kembali bekerja!" titah Darren.


Hah, apa? Apa dia seorang boss disini, dia hanya pembeli kenapa sikapnya seolah pemilik kedai. Menyebalkan, anak muda sekarang memang suka narsis!


Bersambung...

__ADS_1


Like komen dan vote ya, biar aku semangat lanjut🙏🏻


Hayolah masa yang baca berebu-rebu yang like bijian👀


__ADS_2