
"Dari papa, sayang! Ayo tidur lagi." ia memposisikan diri di samping Nora, menarik selimut tuk kemudian membawanya ke alam mimpi bersama pelukan yang menenangkan.
Nora benar-benar merasakan nyaman dan nyenyak dalam tidurnya, buktinya ia sama sekali tak terusik saat Devano bangun pagi-pagi sekali. Bahkan saat ini ia sudah rapi dengan setelan outfit yang melekat di tubuhnya.
"Bangun sayang." Sentuhan tangan Devano di pipi berhasil membuatnya menggeliat, sentuhan dingin nan familiar.
Matanya mengerjap beberapa saat sebelum benar-benar terbuka, akan tetapi langsung tersentak saat melihat Devano sepagi ini sudah rapi.
"Mau kemana?" tanyanya keheranan, sembari menggenggam tangan yang masih bertahta di pipi, seolah tak ingin dilepaskan.
"Kantor, bangun gih! Siap-siap." Namun, respon Nora justru menggeleng cepat.
"Aku anter, bila perlu aku tungguin." membuat si empu semakin bertanya-tanya. "Nggak sekolah?" meski jauh hatinya berbinar, jika benar Devano akan menemaninya bekerja seharian, tapi apa itu mungkin?
"Enggak, hari ini mau nemenin bidadari cantikku kerja." ucapnya sembari
mengusap pipi seputih su su milik Nora, perlakuan kecil yang selalu berhasil membuat pipi merona.
"Aku akan mandi." katanya langsung diangguki serta senyum dari Devano.
**
"Kamu beneran gak masuk sekolah lagi?" tanya Nora saat mereka menuruni tangga bersama dengan tangan saling bertaut, "Nggak, aku mau ngantor!" jawabnya tanpa memberi alasan, hingga membuat mata cantik itu memicing curiga, tapi bagaimana mungkin Devano tau apa yang menimpanya kemarin? mungkin saja ia hanya berinisiatif untuk datang ke Aldeva group, bukankah hal yang wajar jika Devano datang ke perusahaan milik orang tuanya sendiri.
"Pagi Tuan muda, Nyonya. Sarapan sudah siap." sambut Maya, saat tahu sepasang suami istri itu menuruni tangga.
"Ok May, makasih." Maya mengangguk, lalu gegas menuju dapur.
"Ayo kita sarapan dulu, sayang." ajaknya menuju meja makan, bibirnya tersenyum tipis kala melihat aneka masakan yang begitu menggoda, terlebih ada ayam masak asam manis favoritnya disana.
"Kemarin niatnya pulang kerja langsung masakin kamu, gak taunya kena musibah."
"Aku jadi gak bisa bantuin Maya sama bibi Li." sambungnya dengan wajah sendu.
"Kamu memang terbaik, musibah itu membawa berkah, menjadikan kita lebih kuat, kamu bisa." lagi mengusap pipi Nora sembari tersenyum.
"Hmmm, iya!" diam-diam Nora tersipu malu, mengingat kejadian kemarin, ada debar aneh yang selalu menggelitik ketika berhadapan dengan Devano.
Namun, untuk mengutarakannya Nora masih ragu-ragu, atau mungkin menunggu moment paling tepat untuk mengutarakan perasaannya.
Lalu mengalihkan kegugupan dengan mengambilkan Devano nasi plus lauk pauknya, tuk kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.
"Makasih sayang." eh benarkah mulai pagi ini dia memanggil Nora dengan sebutan sayang, nggak tante lagi. Mungkin begitu, mungkin juga tidak. Karena panggilan tante adalah panggilan sayangnya Devano untuk Nora.
Jika mama dan papa ada, mungkin saat ini sudah tersenyum senang melihat polah anaknya, atau jika kedua sahabatnya tau semuanya, mungkin akan mengatainya bucin level akut dan tak terselamatkan lagi.
__ADS_1
"Tuan muda tampan sekali, bukannya mau sekolah?" tanya bik Liam setelah mereka selesai sarapan pagi ini.
"Mau kerja bik, buat nafkahin istri." sahutnya terkekeh sembari melirik Nora.
"Eleh-eleh, emang kasep! Tuan mah, bibik doakan semoga kerjaannya lancar, eh emang udah kelulusan Tuan?"
"Doakan bik, gak nyampe tiga bulan lagi, kami berangkat dulu." pamit mereka, "Siap Tuan, nyonya. Hati-hati di jalan."
***
Mobil berhenti tepat di halaman depan pintu masuk Aldeva group, dada Nora mulai berdesir. Namun, berbeda dengan Devano yang berubah menjadi dingin seolah sedang menyimpan bom waktu yang sebentar lagi akan meledak.
"Ayo sayang," ia mengeluarkan tangan setelah membukakan pintu untuk Nora, memancing beberapa pasang mata memperhatikan sosoknya.
Lalu dengan senyum merekah Nora menyambut, lalu berjalan memasuki Aldeva group beriringan.
"P...pagi Tuan," sapa Ziando gugup, Kenzo pun mengikuti gerakan Ziando, membungkuk memberi hormat menyambut si calon pewaris tahta.
Masih terdengar gumaman samar tak jelas membicarakannya,
"Jadi itu, anaknya Pak Bayu?"
"Ya Tuhan, tampan sekali."
"Huh, sangat tidak cocok dengan bu Nora."
"Pantes bu Nora mau, orang ganteng gitu, kalo ada kesempatan, aku mau lah jadi yang ke dua,"
Membuat Devano menajamkan pandangan pada segerombol karyawan yang sedang berbisik tadi.
"Dev, kenapa berhenti." Tanya Nora keheranan kala Devano menghentikan langkahnya, meminta Ziando mendekat tuk mengumpulkan semua karyawan termasuk para pimpinan divisi.
Ia bahkan tak lagi menampilkan senyum saat semua karyawan berada di depannya, wajah-wajah menunduk hormat, juga wajah satu dua diantaranya penuh kemunafikan. Meski di sebelahnya berdiri Nora yang masih menautkan alisnya, heran.
" Selamat pagi, perkenalkan beliau adalah Pak Devano Aldeva, putra tungg..." jelas Ziando namun terhenti saat Devano mengibaskan tangannya ke atas.
"Saya kesini karena dua hal, pertama! Wanita cantik di samping saya ini adalah istri saya, tentu kalian tau siapa dia? menjadi wakil CEO karena ia pintar, bukan karena saya! Bukan karena dia menantu pemilik Aldeva group, jika kalian tidak suka atau tidak terima keberadaannya, silahkan keluar dari sini!
Jangan menabur kebencian, hanya karena sikap iri kalian karena mau saya kaya, miskin, ganteng, jelek dia tetaplah istri saya, yang sangat saya cintai. Kedua, saya tidak segan membuat menyesal siapapun yang menyakiti istri saya, paham!" tegasnya sembari merangkul pinggang Nora yang sudah mematung dengan pipi merona.
"Paham!" jawab mereka serempak.
"Kamu yang bernama Dasinta?" tunjuk Devano kepada Dasinta, yang sedari diam dengan tatapan benci.
__ADS_1
"Iya, pak."
"Kemasi barangmu, dan tinggalkan kantor ini sekarang!"
Namun, bukan Dasinta menyesal malah ia menyeringai lebar, "Baik, masih banyak kantor lain yang mau memperkerjakan saya." imbuhnya tanpa rasa bersalah.
Pak Wirya selaku atasan Dasinta, memohon maaf, meminta kesempatan untuk Dasinta agar tetap bekerja, karena bagi pak Wirya kinerja Dasinta sangat bagus.
"Ceh! kinerja bagus, kalo gak ada otak apa gunanya." Devano berdecih menahan emosi.
"Dev, udah ya!" kini Nora yang gantian menenangkan Devano, emosinya meluap begitu sampai kantor.
**
Devano menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan Nora, pun Ziando dan Kenzo yang ia panggil ke dalam.
"Masukkan nama Dasinta ke daftar hitam seluruh perusahaan yang bekerja sama dengan Aldeva." tegasnya membuat wajah Kenzo memucat, "Baik Tuan muda," jawab Ziando, ia sudah terbiasa dengan sikap Tuan mudanya ketika kesal, namun akan berubah baik jika moodnya sudah membaik. Berbeda dengan Kenzo yang memucat karena ini kali pertama ia bertemu dengan Devano.
Mungkin setelah ini, Aldeva group akan segera mempublikasikan pewarisnya.
"Dev, apa nggak sebaiknya...." namun buru-buru ia menutup bibir Nora dengan telunjuknya, "Aku hanya ingin, orang yang berani menyentuh istriku menyesal." katanya, lagi-lagi mengusap pipi dengan gerakan lembut yang menghipnotis. Tidak tahukah Devano, jika disana masih ada Ziando yang jomlo atau Kenzo yang sebenarnya menaruh hati pada istrinya?
This is damage!
***
"Dev, gak masuk lagi." ucap Abiyan memberitahu Alfin dan mengajaknya masuk ke dalam kelas.
"Oh, mungkin telat bareng Karin." seloroh Alfin membuat Abiyan menautkan alisnya.
"Aneh lo," desisnya tak terima, "Dev, udah punya tante Nora, ngapain ngurusin cewek alay kaya Karin." seloroh Abiyan.
"Karin nggak seperti yang lo omong." tiba-tiba Alfin mencengkram krah Abiyan lalu buru-buru melepasnya, "Sorry!"
Abiyan hanya menghela napas, dengan sikap aneh Alfin dari kemarin. "Lo suka sama dia?" tebaknya tepat pada sasaran.
"Nggak!" elaknya tanpa memandang Abiyan.
"Ceh, sok bohong! gue juga tahu kali, kejar kalo lo beneran sayang sama dia, sebelum tuh cewek jadi milik om si-Alan." Alfin fikir, Abiyan akan marah, atau mengejeknya. Kenyataannya, seperti apapun Karin yang ia suka, Abiyan tetap mendukungnya.
**
Dasinta mendekus sebal, meratapi nasib ketika harus ditendang paksa dari Aldeva group, sampai apartemennya, ia langsung mengirim email lamaran ke beberapa perusahaan. Namun, nihil tak ada satupun yang menerimanya.
Harapannya saat ini adalah perusahaan Carley. Satu-satunya perusahaan yang tak terikat kerja sama dengan Aldeva group. Tentu saja dengan harapan ia bisa masuk.
__ADS_1
Dan keberuntungan sedang berpihak dengannya, karena saat ini Alan Carley membutuhkan seorang sekertaris.