TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - bab 5


__ADS_3

Pagi menyapa, mentari samar mulai terlihat, kicauan burung di pagi hari membangunkan Resha dari tidurnya. Malam kelam penuh luka dan air mata, ia beranjak bangun lalu keluar dari kamar sempit bagian kedai yang kini menjadi tempat tinggalnya, paling tidak tempat tinggal yang aman dari jangkuan Luna dan Rima, mertua serta adik tirinya.


Resha bukan tak mau meminta maaf, dan menjelaskan semua. Resha bukan ingin lari dari masalah. Hanya saja ia terlalu lelah akan keadaan dimana tak seorang pun mempercayainya disini, bisa saja Resha kembali ke kampung. Disana masih ada rumah peninggalan kedua orang tuanya, bisa saja ia pergi dari kota ini. Hanya terlalu berat terlebih baru 100 hari Mas Anton suaminya, meninggal.


***


Darren menuruni tangga dengan setelan jass hitam yang melekat di tubuh, sesekali mengusap rambutnya ke belakang, penampilannya selalu terlihat sempurna dan tampan. Pesona turunan Devano yang kini juga ada di wajah Darren.


"Ehemmm," ia berdehem sebentar saat melihat sang ayah sedang menggoda mamanya yang sedang mempersiapkan sarapan bersama bi Liam.


Sepasang pengantin lawas itu masih tak mendengar deheman sang anak yang masih mematung di tengah tangga, tak ingin mengganggu sang ayah dan mamanya yang menurut Darren adalah hal yang sangat unik.


"Ah sudahlah, bersikap bodo amat dan anggap saja mereka tak kasat mata." Darren melanjutkan menuruni tangga, melangkah pelan sampai meja makan dan mengambil dua potong sanwich yang tersedia.


"Pagi jagoan ayah," sapa Devano menepuk pundak Darren, lalu ikut duduk di salah satu kursi sementara Nora menyiapkan sarapan untuk Devano.


"Pagi," sahutnya singkat.


"Dih cuek bener anak mama, lagi galau ya?" goda Nora kemudian menyiapkan segelas susu untuk Darren.


"Galau lah, siapa yang nggak galau tiap hari melihat kemesraan ayah sama mama terus, lama-lama Darren nikah juga nih sama janda sebelah rumah." kesal Darren.


Bukan marah Devano justru malah terkekeh, sama halnya dengan Nora.


"Anak kamu nih, Dev! satu server kayaknya pecinta wanita yang lebih tua." goda Nora.


"Hya dia memang anakku, jadi janda mana yang berhasil menggoda anak ayah?" tanya Devano setelah tawanya terhenti.


"Hm, masih dalam pantauan." jawab Darren sekenanya, bersama dengan itu Qween turun dengan wajah cantiknya sehabis mandi.


"Pagi All, ayah,momy, Darren." sapa Qween tersenyum manis lalu duduk di samping Darren.


"Derr, apa hari ini kau akan bertemu Mbak Resha lagi?" tanya Qween sembari mengambil sepotong sanwich.


Darren seketika menepuk jidat mendengar celotehan saudara kembarnya.


"Siapa Resha, Derr." tanya Devano dengan tatapan mata menyelidik, ia tak pernah tau menahu anak lakinya dekat dengan wanita mana. Yang Devano tau anaknya itu sangat dingin dengan banyak wanita.


"Ayah, dia calon kakak ipar Qw..." seketika Darren menginjak kaki Qween hingga gadis itu memekik kesakitan.


"Sakit tau, Derr!" keluhnya, memasang wajah sedih.


"Nahkan nahkan, anak mama kayaknya dekat sama seseorang?" tanya Nora mengoda Darren.

__ADS_1


"Sudah lah, Ma. Nanti juga dia bawa pulang. Oh ya, apa kalian sibuk banget? jika tidak kita akan ke makam mengunjungi Dera." ajak Devano.


"Bisa yah, bisa. Biar Leon atur ulang jadwalku nanti." ucap Darren.


"Ck! sok sibuk benget si Darren, padahal kan kerjaan kalian minum es susu di kedai." Qween terkekeh.


Hari ini ia membongkar beberapa kartu Darren, bukan jahil hanya saja saudara kembarnya itu tak ingin membagi hal yang sedang ia pikirkan. Padahal orang-orang sekitar selalu mendukung mereka.


"Ma, kita satu mobil aja bagaimana?" tawar Darren, karena pergi ke makam Dera termasuk sebuah momen bersama.


"Mama sama Papa mau ke tempat om Alfin setelahnya, emang mau ikut?"


Darren seketika menggeleng, " yaudah aku bawa mobil sendiri," ucap Darren.


"Kalau begitu, Qween ikut ya Darren aja."


Mereka pun akhirnya memutuskan berangkat setelah sarapan. Darren sudah rapi dengan setelan jassnya, namun mengernyit saat melihat langit hari ini tak begitu cerah.


"Tumben mendung," gumam Darren.


"Mungkin sebentar lagi hujan, Derr." Qween melirik sekilas wajah Darren yang tampak serius mengemudikan mobil.


"Kalau begitu kamu bawa payung buat jaga-jaga nanti,"


Hening, hingga mobil Darren berhenti tepat di depan pemakaman.


"Awhhh," ringis Qween kala kakinya hampir terkilir saat turun dari mobil.


"Hati-hati, Qween! Bisa jalan gak, apa perlu di gendong?" tanya Darren, Qween menggeleng. Keduanya berjalan masuk menyusul mama dan papa yang sudah menunggunya.


Devano dan Nora mengulas senyum, perlahan mereka melangkah menyusuri sisi gundukan demi gundukan sebelum sampai di rumah istirahat Dera.


"Pagi sayang, kami datang," ucap Nora di depan nisan kecil bertuliskan Dera.


Darren dan Qween terdiam, memperhatikan kedua orang tuanya berbicara di depan nisan hingga setelahnya doa adalah penutup sebelum mereka pergi dari pemakaman itu.


"Resha," gumam Darren yang melihat adanya Resha di sebuah makam.


"Qween kamu duluan sama Mama dan Ayah, aku ada urusan." pamit Darren kemudian melangkah menghampiri perempuan yang saat ini tengah menangis di depan nisan.


"Siapa perempuan itu Qween," tanya sang ayah. Nora pun mengikuti arah pandang Devano tak terkecuali Qween.


"Entah, mam. Mungkin mbak Resha,"

__ADS_1


"Resha, Resha siapa?"


"Anu, em temen Darren. Hya temen Darren," ucap Qween yang panik saat menatap mata Ayah dan mamanya memicing curiga.


**


Darren melangkah mendekat, ia tak mungkin salah lihat. Wanita di depan itu seperti Resha, dan kakinya melangkah tiba-tiba untuk menghampiri.


Darren mematung saat melihat Resha terisak. Entah mengapa hatinya seperti ikut merasakan sakit.


"Mau kamu menangis sampai basah nisannya pun, dia tidak akan pernah kembali bahkan tuk sekedar menghapus air matamu," ucap Darren setelah mengatur napas.


Deg


Resha terdiam, mengusap air matanya kasar lalu menoleh.


"Kamu,"


"Hmm, iya kenapa?" Darren berusaha bersikap santai meski sejujurnya ia tak bermaksud menyinggung perasaan perempuan di hadapannya ini.


"Kamu benar. Tapi, ini hanyalah air mata perpisahan." Resha menjauh dari nisan bertuliskan Antonio.


"Maksud kamu?"


"Hari ini adalah 100 hari meninggalnya suamiku, dan setelah aku menerima gaji, aku akan kembali ke asalku." Entah kenapa Resha begitu terus terang terhadap Darren.


Tiba-tiba gerimis melanda, bahkan Darren belum sempat menjawab. Tindakan impulsifnya justru melepas jass yang melekat dan menarik Resha agar mendekat. Mereka setengah berlari keluar pemakaman.


Sampai diluar, Darren semakin tersentak kala mereka. Kedua orang orangtuanya dan Qween masih disana, berteduh di sebuah gasebo.


Mau tak mau, Darren membawa Resha kesana.


"Ayah sama mama kok belum pulang?" tanya Darren kebingungan.


"Mbak Resha, jadi beneran mbak Resha." kaget Qween.


Resha tersenyum canggung, seolah ingin tenggelam saja di lautan. Memindai penampilan kedua orang tua Darren jelas mereka beda kasta.


"Pagi, Om, Tante, Qween." Resha menunduk hormat, berusaha sesopan mungkin.


Next kan?


Like komen rate dan hadiahnya🚶🏻‍♀🚶🏻‍♀

__ADS_1


300 like, up🤗


__ADS_2