
Pagi-pagi sekali Kenia membangunkan Nora, lebih tepatnya memaksa agar anak gadisnya itu gegas membuka mata karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan Devano Aldeva, hya hari hari yang akan menjadi sejarah baru hidup Nora karena setelah ini, statusnya akan berubah menjadi istri dari Devano Aldeva.
***
"Oh, Damn! aku tak percaya ini, hari ini aku beneran menikah." monolognya di dalam kamar mandi, bahkan tanpa sadar air shower terus membasahi tubuhnya lebih dari setengah jam.
"Nora sayang," Panggilan samar sang mama membuyarkan lamunannya, gegas ia menyelesaikan mandinya dan keluar dengan kimono yang melekat di tubuhnya.
"Iya ma," sahutnya tanpa semangat,
"Sudah siap? sudah ditunggu MUA untuk make-up, sayang."
Menghela napas, bahkan ia tak memiliki selera tuk sekedar sarapan. Entah gugup atau apa, Nora merasa seluruh tubuhnya membeku dan sulit untuk digerakkan, alhasil ia berjalan dengan malas menuju ruang make-up yang terletak di kamar tamu.
"Nona, kenapa tak begitu semangat, pengantin harus selalu tersenyum terlebih ini momen istimewa." ucap salah seorang wanita yang tengah memake over wajahnya.
Nora memilih membuang napas kasar, dan mengabaikan pertanyaan penata riasnya. Diam, dengan detak jantung yang berpacu dua kali lebih cepat.
"Nona senyumlah, tidak baik bersedih dihari pernikahan." lagi si mbak-mbak yang tengah memake up wajahnya mencoba mengajak Nora berbicara. Terdengar seseorang membuka pintu, manik mata Nora melirik sekilas dan mendapati saudara kembarnya berdiri disana dengan senyum sumringah.
"Devano dan keluarganya sudah menunggu di bawah." ucapnya dengan seulas senyum, dan entah kenapa Nora merasa sedih melihat senyuman itu. Kenyataan bahwa ia terjebak oleh permainannya sendiri.
Diamnya Nora menjadi tanda tanya besar untuk Zain, namun kecurigaannya tak berarti apa-apa jika mengingat sikap Devano dengan segala hal yang ia lakukan untuk Nora.
"Ah, mungkin Nora hanya merasa gugup." batin Zain yang terus melihat ke arah Nora yang sedari tadi memilih diam tanpa kata.
"Sempurna." kata itu meluncur bersama dengan senyum puas setelah selesai menyulap wajah Nora, dengan make up natural namun terlihat sangat cantik luar biasa.
Dengan gaun indah berwarna ungu muda yang melekat di tubuhnya, Nora turun dengan dibantu Zain yang menjadi penompang lengannya. Kesan cantik, kata pertama yang keluar saat pengantin wanita turun untuk mengucapkan ikrar pernikahan.
__ADS_1
Devano, meski ia masih muda dan duduk di kelas 3 SMA, kenyataannya bocah itu menjelma menjadi pangeran tampan berkuda putih hari ini.
Dengan senyum yang nyata tercetak di bibir Devano, Nora sama sekali tak lepas dari pandangan matanya. Pemuda itu terus memandang si calon istri yang telah lama membawa separuh hatinya.
Jika ditanya, apakah ia bergetar. Bahkan ia tak bisa menetralkan detak jantungnya, entah saking bahagia atau karena terlalu gugup karena berhadapan dengan banyak orang dan dialah yang menjadi pusat perhatian mereka.
Dan disinilah kami, di depan para orang tua, saksi dan penghulu, Devano mengucap ikrar janji bersama untuk menjadikan Nora, satu-satunya cinta terakhir dalam hidupnya. Setelahnya, Devano membuka kotak berisikan dua cincin, lalu menyematkan satunya ke jari manis Nora, diam sesaat akhirnya Nora pun melakukan hal yang sama. Suara riuhan tepuk tangan menggema mengiringi mereka, lalu dengan penuh perasaan Devano mendaratkan kecupan singkat di kening Nora hingga berhasil membuat si empu mematung dengan pipi bersemu merah.
Lepas ijab qabul, Devano dan Nora kemudian melakukan acara sungkem kepada orang tua, setelahnya kepada keluarga besar mereka untuk meminta restu, karena setelah ini mereka akan menjalani hidup sama-sama, versi Devano. Sedangkan Nora, ia masih terus membeku diam tanpa kata.
"Tant, bisakah sedikit tersenyum? paling tidak agar mereka tahu bahwa kita menikah karena cinta," pinta Devano berbisik.
"Hmm, iya." sahut Nora yang merasa canggung. Namun, setelahnya Nora benar-benar tersenyum.
"Begitukan manis, istriku." Lalu kemudian Devano meringis saat merasakan highhell Nora menginjak sepatunya.
"Selamat ya Noe," ucap Zain begitu sumringah, lalu merentangkan kedua tangan meminta Nora agar memeluknya.
Dan detik berikutnya Nora menghambur memeluk Zain erat dengan mata berkaca karena haru, disusul ucapan dari kedua orang tua mereka "Selamat kalian, bahagia selalu." ucap Shaka dan Kenia.
"Lekas buatkan kami cucu-cucu yang lucu." sambung Bayu dan Nara, kini giliran nenek dan kakek mereka yang memberi ucapan serta pelukan.
"Jadi ini yang namanya Devano, pantas Nora mau sama berondong. Orang ganteng gini." puji Sam dan langsung terdengar gelak tawa Radit dan istrinya.
"Selamat," ucapan itu terus hadir dari setiap orang.
"Selamat ya Nora, gue nggak nyangka kalo selera lo berondong, masih sekolah lagi." ucap Aurora sembari terkekeh, sekedar bercanda namun tanggapan Nora bak sebuah ejekan.
"Selamat ya Nora, doa terbaik untukmu. Jangan dengarkan ucapan orang yang mengganggu perasaanmu, bukankah yang terpenting itu tidak merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain." serobot Maura sembari melirik Aurora yang berubah kesal.
__ADS_1
"Siap Maura doa terbaik juga untukmu." sambung Nora kembali tersenyum.
Selepas menyapa seluruh keluarga, semua orang hampir terkejut karena tiba-tiba Zain Alexan, putra lelaki Arshaka tengah maju ke depan dan mengutarakan niatnya untuk melamar Maura Annajira.
"Kebahagiaan yang sempurna." gumam Devano menatap kedua pasangan yang tak lain adalah kakak ipar dan calonnya.
"Aku tidak menyangka akan terjebak dengan permainanku sendiri, hmm! tapi ini lebih baik ketimbang aku menjadi istri Alan Carley, setidaknya aku tidak hidup tertindas." gerutu Nora pelan.
"Tapi kamu menindas, tant!" sahut Devano, seketika Nora memicingkan matanya, "Menindas?" tanyanya.
"Hmm, menindas hatiku." ucap Devano, mengu lum senyum.
"Ya Tuhan," pekik Nora.
***
Acara pun hampir usai, mengingat pernikahan mereka tanpa tamu undangan selain dari keluarga, namun ada satu yang mencuri perhatian Devano, lalu gegas ia menghampiri laki-laki yang tak kalah tampan darinya.
"Kamu Bara kan?" tanya Devano, setelah membuat pemuda itu menoleh ke arahnya.
"Iya," Bara pun terheran, kenapa Devano bisa mengenalinya, padahal malam itu ia pingsan.
"Ziando yang memberitahuku, makasih sudah menolongku malam itu," ucap Devano menepuk pundak Bara.
"Menolong apa?" kali ini suara Nora yang mendekati mereka, Devano meringis. Menggaruk kepala yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.
"Hanya membantu saat ia pingsan karena mabuk." ucap santai Bara dan itu berhasil membuat Nora membulatkan matanya.
"Dev....." Nora menatap Devano tajam.
"Habislah aku!" Batin Devano mendelik melihat Nora menatapnya dengan tatapan membunuh.
__ADS_1