TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - Kilas balik


__ADS_3

Ada yang datang hanya sekedar singgah, lalu membuat patah.


Ada juga yang datang berulah, dan lama-lama jadi betah.


🍁🍁🍁


Seperti halnya Darren, kehadirannya di kehidupan Resha hanya berawal karena sebuah empati. Darren merasa, wanita seperti Resha pantas bahagia.


Suasana rumah minimalis itu tampak hening karena hanya ada Darren dan Resha. Keduanya lebih banyak diam ketimbang mengobrol banyak hal entah apa.


"Ehmmm." Darren hanya mampu berdehem, melirik ke arah Resha yang sibuk menata makanan di meja untuk makan malam. Devano dan Nora sudah kembali ke Jakarta sore tadi untuk mempersiapkan pesta selanjutnya seminggu kemudian.


"Makan yuk, Derr? Sudah siap." ajak Resha.


Darren malah melamun menatapi Resha dalam diam.


"Ayo makan, ngelamunin apa sih? mantan kamu." cibir Resha, karena kesal lantaran Darren tidak menggubris ucapannya.


"Enggak, yaudah ayo."


Sampai di meja makan, Darren tertegun melihat banyak menu makanan sederhana yang npak sangat lezat. Darren seketika merogoh saku celana untuk mengambil dompet.


"Ini blackcard, kamu bisa pakai sesukamu. Buat belanja dan apapun kebutuhan kita." Darren menyodorkan sebuah kartu hitam di hadapan Resha.


Resha menunduk dalam diam, ingatan masalalu dengan segala rekam jejaknya terngiang di kepala.


Flash back on,


"Enak banget, ya? dikasih uang belanja 100rb. Sini, uang Anton itu uang Ibu. Kamu belanja pakai uangmu sendiri." Rima merebut selembar uang merah yang diberikan Mas Anton pagi tadi.


"Tapi, Bu. Resha gak punya uang buat belanja. Dan itu uang Mas Anton buat belanja dua hari kok, bukan hanya hari ini."


"Udah mulai ngelawan ya kamu! Makanya kerja, jangan cuma ongkang-ongkang di rumah. Manfaatin uang anakku."


"Astaga, Bu." Resha hanya bisa mengelus dada, perasaan belum ada setengah tahun menjadi menantu Rima, dan tinggal bersama. Hidupnya semakin menyedihkan.


Flash back off.


"Heyyy." Darren melambaikan tangan tepat di depan wajah Resha, hingga istrinya itu tertegun.


"Kok diam, itu simpan buat beli apapun keperluan kita."


Resha mengusap wajahnya lantas mengambil kartu itu dan menyimpannya.


Kita? kata asing yang akhir-akhir ini menggelitik hidup Resha, sudah lama tak mendengar kata itu. Bahkan Anton pun sangat jarang mengucapkan kita, hanya sebatas aku kamu.


Dan kini, kata kita terasa begitu manis di telinga Resha.


"Makan yuk," ucap Resha ia mulai mengambil nasi dan lauk pauk untuk Darren, dan pria itu menerimanya dengan sangat antusias.


"Masakan kamu enak, Res. Bisakah memasak untukku tiap hari," ucap Darren penuh kesungguhan, Resha tersenyum simpul lalu mengangguk.

__ADS_1


"Tentu saja, itu sudah tugas istrimu. Jadi aku akan melakukan apapun untuk suamiku."


"Benarkah?" tanya Darren sumringah lalu tersenyum penuh rencana.


Resha yang melihat gelagat aneh Darren pun hanya mengernyit heran. Selepas sarapan pagi, Darren menyeretnya ke dalam kamar.


"Mau apa?" panik Resha, bukankah ia sudah mengatakan jika diri belum siap? tapi kenapa Darren menariknya masuk ke dalam kamar? batin Resha berkecamuk.


"Kamu tahu, Res. Aku masih terlalu penasaran banyak hal tentang kamu, sekarang kamu istriku jadi jika aku bertanya kamu pun harus menjawabnya dengan jujur."


"Iya, apapun pertanyaanmu aku akan berusaha."


"Ya, harus." perintah Darren.


"Jadi, kenapa bisa seperti ini?" tanya Darren.


Resha yang tak tau maksud Darren hanya mengangkat bahu.


"Loh kata tadi dijawab," Darren menekuk wajah, sementara Resha mencibir.


"Apa orang pertanyaanmu aja gak jelas. Sepeeti ini bagaimana?"


Darren malah mendekatkan bibirnya, lantas menyerang Resha dengan ciuman yang lembut.


Resha pun tak sempat mengelaka atau menolak, hanya saja mereka habis sarapan tentu sensasinya berbeda.


"Mantan suami kamu itu bodoh." umpat Darren.


"Memang, jangan memaki orang mati." kesal Resha.


"Jari kamu ke arah mana?"


"Biarin, halal juga." protes Darren. Kini keduanya tengah mengemasi barang, besok pagi mereka harus pulang ke Jakarta. Akan ada pesta pernikahan kedua yang akan di gelar, di rumah Darren tentunya. Sebagai pewaris tahta, Darren memang pantas mempublikasikan pernikahannya. Terlebih, Resha sepertinya sudah siap untuk semua itu.


🍁🍁🍁


"Derr, tidur yuk." Jam masih menunjukkan pukul delapan malam.


"Mau apa jam segini ngajak tidur, hmm?" Darren yang baru menghabiskan sebatang rokok pun tersentak karena ulah Resha yang menariknya ke dalam kamar.


"Mulai agresif ya sekarang." cibir Darren, Resha tidak perduli dan langsung menghempas tubuhnya di ranjang.


"Gak ganti baju dulu?" protes Darren.


"Baju apa, ini aku sudah pakai baju tidur mau pake baju apa lagi?" protes Resha.


Darren lantas membuka lemari pakaian Resha, seharusnya bingkisan yang dsiapkan orang tuanya ada salah satu yang Darren maksud.


"Nah ketemu," pekik Darren, ia menyodorkan sebuah ligerie transparan yang berhasil membuat Resha bersemu merah.


"Pakai ini." titah Darren.

__ADS_1


Mata Resha membulat sempurna, Darren memintanya memakai ligerie kurang bahan itu.


"Mau apa?" pekiknya, menyilangkan tangan di dada.


"Apa lagi, ganti bajumu dengan ini."


Resha hanya bisa pasrah, meraih gaun itu, ia bukan tidak tahu, bukan!


Tapi merasa aneh membayangkan tubuhnya memakai gaun tipis itu.


"Mau kemana? ganti disini."


Resha semakin terperanjat saat Darren mencekal tangan dan menariknya mendekat.


"Ganti disini, memang bagian tubuhmu sebelah mana yang belum aku lihat, hmm?" tanya Darren, Resha sudah bersemu merah, tapi apa mungkin? ia jadi salah tingkah sendiri.


"Aku akan ganti di kamar mandi." Lirih Resha, Darren malah melepas ikatan rambut Resha.


"Jangan perlihatkan lehermu itu pada siapapun selain padaku," bisik Darren seraya menciuminya kecil-kecil. Hembusan napas hangat menerpa, Resha meremang seketika.


Resha membalikkan tubuh, lantas berjinjit untuk meraih bibir Darren dan menciumnya sebentar.


"Makasih," bisik Resha lantas berlari ke arah kamar mandi.


"Mulai nakal." gerutu Darren, pandangannya mengikuti langkah Resha.


***


Di Jakarta, Qween sedang ke suatu tempat. Ia diminta Darren ke kedai untuk mengatur ulang agar terlihat lebih bagus. Kedai itu sekarang milik Resha, dan sebelum si pemilik tahu, Darren berencana menata ulangnya lebih dulu agar menjadi kejutan.


"Mbak Dania." panggil Qween.


"Eh, ibu Qween." Dania menunduk hormat.


"Astaga, apa aku sudah ibu-ibu?" gerutu Qween tak terima.


"Pak Leon mana?" tanya Dania, ia tahu jikalau Darren menikah dengan Resha. Namun, atasannya itu memberi perintah agar datang ke pesta yang di gelar di Jakarta.


"Leon sibuk sekarang, Darren masih cuti pengantin sampai batas tak ditentukan," sontak keduanya terkekeh.


"Jangan panggil aku ibu, Mbak. Panggil Qween aja, aku bukan bos kamu loh, kita temenan aja gimana?"


Dania mengulas senyum, " Iya, Mbak Qween."


"Ish canggung banget, nama aja." protes Qween.


Lagi dan Lagi mereka terkekeh, setelah berbasa basi akhirnya Qween menyampaikan konsep kedai yang akan di rubah, Dania pun setuju.


"Yaudah ya, Mbak. Aku pulang, sopir udah nunggu." canda Qween.


Leon pun menggerutu, "Jadi aku sopir kamu ni?"

__ADS_1


"Ish ngambek deh, canda sayang. Kamu sopir hatiku."


"Dasar gombal." Leon menarik kepala Qwen dan membawanya ke dalam pelukan.


__ADS_2