
Gadis cantik dengan lesung di pipinya itu tak henti-hentinya merona merah, menatap diri di depan cermin kamar saat MUA terbaik merubah penampilannya, balutan kebaya berwarna putih melekat indah di tubuhnya. Sementara Alfin, ia sudah siap menunggu bidadarinya di pelataran rumah sederhana yang sudah disulap untuk pergelaran akad pernikahan Alfin dan Karin.
Dengan langkah malu-malu, Karin keluar dengan ditemani mamanya dan Clara, menuju tempat dimana Alfin menunggunya, ia tampak gagah dan tampan dengan setelan tuxedo warna senada. Kedua orang tuanya menyambut Karin dengan sumringah. Akad pun segera dimulai.
"Saya terima nikah dan kawinnya Karina--" ucap Alfin dalam satu tarikan napas.
Sahhh! Suara teriakan sah terdengar keras serentak penuh dengan kelegaan.
Binar bahagia jelas tercetak di wajah keduanya.
Alhamdulillah, setelah ritual doa kini Karin dan Alfin diperkenankan untuk sungkeman atau meminta restu, dan hal yang paling mengharukan adalah saat Karin meminta restu pada mamanya. Ada rasa sedih menyeruak, bagaimanapun setelah ia sah menjadi nyonya Alfin, ia akan ikut tinggal dengan suaminya.
"Kenapa, hmm?" tanya Alfin menatap istrinya khawatir, Karin hanya menggeleng sembari menyusut sudut matanya yang berair.
Kini keduanya sudah berdiri sejajar di singgasana yang sudah disiapkan untuk menyambut para tamu undangan.
"Karin, sekarang kamu sudah resmi jadi seorang istri, jaga hati jaga kehormatan suamimu, jadilah istri yang baik dan menurut pada suami, semoga kalian selalu di limpahi kebahagiaan." nasihat mama.
"Iya, ma." ia memeluk erat ibu kandungnya dengan mata berkaca-kaca, "Makasih ma, udah diizinkan menikahi Karin." Alfin tampak kikuk, antara bahagia sekaligus gerogi menghadapi mama mertua.
"Iya, Sayang."
Papa dan mamanya Alfin pun tak segan memberi wejangan kepada sang anak, makhlum saja Alfin adalah anak satu-satunya meski kedua orang tua pengusaha.
Rangkaian acara demi acara pun terlewat, Alfin lega sekaligus bahagia saat sahabat-sahabatnya hadir mengiringi resepsi pernikahannya, hingga kado liburan terindah ke pulai seribu bersama keluarga Aldeva akan mengiringi perjalanan cinta mereka.
"Selamat ya, sesuai janjiku jadi kapan kamu siap untuk liburan bersama Karin?" tanya Devano. Alfin pun menjawab dengan antusias jika dirinya sudah sangat siap, dengan syarat Devano, Nora dan anak-anaknya ikut.
Devano pun iya-iya saja, ia memang sudah berencana mengajak sahabat-sahabatnya berlibur setelah si kembar sudah bisa jalan.
Dan, momen setelah pernikahan Alfin adalah momen yang paling tepat.
Malam yang dingin membuat Karin gelisah, ia takut. Meski Alfin sudah tahu bagaimana dirinya dan kesuciannya yang terenggut, tak bisa mengurangi kegugupan serta ketakutannya. Keringat dingin mengucur saat Alfin menatapnya penuh intens.
"Maaf, aku- aa-ku takut." Dengan bergetar, Karin mendekat ke arah Alfin, senyum terpancar di wajah tampannya.
__ADS_1
"Kenapa," tanyanya khawatir.
"Aku takut kamu kecewa, aku sudah tidak pe.." Dengan sigap ia menutup bibir Karin dengan ciuman. Lembut dan menyenangkan.
Ini, apa ini..
kenapa aku merasa nyaman, batin Karin yang sama sekali tak menolak pergerakan dari Alfin.
Alfin berusaha meyakinkan Karin, bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan. Malam panjang pun di mulai, meski hanya mengandalkan insting keduanya sama-sama memadu kasih dengan penuh gelora dan bahagia.
Hya, dia Alfin Narendra. Baginya, mencintai Karin adalah keputusan. Mau seperti apapun, bagaimanapun keadaannya, tak akan pernah mengurangi rasa cinta yang tumbuh sejak gadis itu mengalihkan dunianya.
**
Seminggu setelah pernikahan Alfin, mereka benar berlibur ke pulau seribu. Suasana sejuk astri di tambah villa pribadi milik keluarga Devano benar-benar menyenangkan.
Dan liburan kali ini, Devano membawa pasukan. Alih-alih pengantin baru berduaan, Alfin dan Karin malah lebih asyik menggoda Darren dan Qween.
Devano memberi kode kepada Alfin lewat sorot mata, akhirnya ia pun menurut dan mengajak Karin menikmati momen berdua dengan Karin, sementara Darren dan Qween ada Maya yang juga ikut bersama Ziando. Mereka berdua sengaja Devano tugaskan menjaga si kembar.
"Ini bulan madu kedua kita," bisiknya pelan sembari memeluk pinggang Nora.
"Sudah sebentar saja, mereka aman sama Ziando dan Maya."
Nora menghembuskan napas kasar, jika sudah begitu bisa dipastikan Devano akan melahapnya habis-habis.
"Haii sayangnya ante, papa sama mamamu kemana?" sapa Clara menggoda Darren. Pun dengan Abiyan yang terus menautkan tangannya di jemari Clara.
"Mereka tidur." jawab Maya dan Ziando serempak, hingga keduanya saling pandang.
"Cie kompak, jangan-jangan jodoh." ejek Abiyan, Maya hanya mampu menunduk malu, sementara Ziando terkekeh kecil.
"Doakan saja, mas Abiyan." jawabnya tanpa ragu.
"Wah, aamiin kalau begitu." ucap Clara.
__ADS_1
"Kalian gak pengen kaya mereka," tanya Maya, malu-malu.
"Aku masih kuliah, belum mau nikah muda."
"Iya, aku juga harus sukses dulu, agar bisa menjadi orang yang pantas untuk Clara." ucap Abiyan.
Beruntung saat ditinggal kedua orang tuanya, Darren dan Qween tidak rewel, tak ingin menyiakan kesempatan Devano pun mengajak Nora jalan-jalan menikmati momen berdua setelah percintaan singkat mereka.
***
Nora, ia sudah membawa kembali Darren dan Qween bersama Devano, gilirannya memberi kesempatan kepada Ziando menikmati keindahan pulau seribu bersama Maya, membiarkan dua insan mengagumi dalam diam itu mengungkapkan perasaan.
"May, mau nggak jadi istriku." ucap Ziando tiba-tiba, Maya mendongkak. Ia tak menyangka Zi akan mengungkapkan perasaan secepat ini.
"Mas, yakin?" tanyanya, Maya menjelaskan jika dirinya hanyalah seorang gadis yatim piatu sederhana. Ziando merasa iba, ia memeluk Maya dan mengusap lembut punggungnya.
"Kelak, kamu akan punya keluarga utuh setelah jadi istriku, aku janji akan membuatmu bahagia." Maya mengangguk. Dua insan yang sedang dimabuk asmara itu menikmati indahnya senja di pantai.
Pulau kecil penuh pesona dengan keindahan laut dan pantai yang menenangkan, siapapun akan jatuh cinta dengan tempat ini.
Mereka benar-benar menikmati liburan gratis yang diberikan Devano, selain untuk Alfin dan Karin, nyatanya ia juga berhasil membuat Ziando dan Maya memutuskan untuk menikah.
Meski terkesan cepat, tapi Devano yakin pilihan asistennya sudah matang.
"Bahagianya melihat mereka," ucap Nora yang melihat sahabat-sahabatnya tertawa berlarian sana-sini.
"Aku juga, lega rasanya."
"Sekarang, kita tinggal fokus membesarkan anak-anak kita, dengan penuh cinta." ucap Nora tersenyum bahagia. Devano menautkan jemarinya ke tangan Nora.
"Iya, istriku tercinta. Kita akan besarkan mereka sama-sama. Menua bersama dan hidup bahagia."
"Ngomong-ngomong soal tua, kapan usiamu lebih tua dariku, Dev!" Nora menggerutu, teringat akan usia yang lebih tua dari suaminya.
"Jika kamu gak mau menganggap suamimu ini berondong, anggap saja aku memang sudah tua."
__ADS_1
"Hmm, nasib punya laki berondong."
Like komen dan ratenya kakš¤