
Menjadi sosok lembut memang bukan peragai Nora Lee, tapi untuk terlalu jahat ia juga tidak bisa. Kenyataannya saat ini ia berada di titik terendah dalam bersikap.
Memilih pasrah dan menurunkan ego, mungkin dengan begitu ia bisa belajar mencintai Devano.
Setelah drama kejar-kejaran yang terjadi di parkiran Villa, Nora dan Devano memilih mengistirahatkan diri di kamar Villa yang ia sewa. Meski hatinya meronta ingin segera menikmati indahnya pantai berdua. Berdua? Iya mungkin begitu lebih baik.
Dan terkhusus hari ini, Nora akan menuruti si bocah yang sudah berstatus suaminya, apapun itu. Benarkah?
Buktinya ia sama sekali tak berprotes saat Devano menyewa villa pribadi dengan satu kamar.
Bahkan saat ini Nora sedang membiarkan Devano tertidur pulas di sampingnya tanpa guling pembatas. Menatap lamat-lamat wajah tampan itu tak berkedip. Ia masih enggan tuk sekedar ikut terpejam, memilih menikmati wajah tampan Devano yang terus dipandanginya tanpa rasa bosan.
Namun, semilir angin yang menerpa lewat dinding kaca yang ia buka demi ingin melihat view pemandangan yang menakjubkan pun membuatnya seketika terserang rasa kantuk. Lalu, tanpa permisi ia merebahkan diri tepat di samping Devano, membiarkan tubuh mereka tak berjarak untuk sekali barang dua kali.
Menjelang sore, suasananya berubah saat ia membuka mata, melihat sesosok Devano yang tengah berdiri di balkon villa sembari terus memandang ke arah pantai, sesekali ia memotret hingga membuat kening Nora mengkerut karena penasaran.
Dengan gerakan pelan, ia beringsut dari ranjang dan berjalan mendekati Devano. Namun, tiba-tiba Nora menghentikan langkah, memilih memperhatikan apa yang sedang dilakukan bocah itu, tanpa harus Devano tau.
Pemandangan di sini memang indah, sangat berbeda dengan kota yang identik dengan panas dan polusi.
Bukan Devano jika tak tau pergerakan Nora, bahkan saat ini ia sedang pura-pura sibuk, dan mengabaikan si istri yang terus memperhatikannya dalam diam, tanpa tau ia sedari tadi menahan senyum.
"Dev..." Sapaan itu akhirnya keluar juga, padahal cukup lama Devano tau Nora berada di belakangnya.
Devano membalikkan badan, Nora menatapnya dengan bibir mengerucut.
"Iya sayang," Devano melepas kamera yang mengalung di lehernya, lalu menyimpannya di atas meja balkon kamar villa.
Menghampiri sang istri yang justru terpaku menatapnya, "Kamu udah bangun, mandi terus kita keluar cari makan gimana?" sembari mengusap rambut Nora dan tak lupa senyum tipis tersungging. Oh my Dev!
"Bajunya?" tanya Nora sembari melirik ke Baju yang di pakai Devano, sudah berganti dan ia terlihat tampan.
"Sudah aku siapkan untuk tuan putriku." jawabnya sembari menarik tangan Nora masuk kembali ke dalam kamar, lalu menunjuk tiga paperbag yang tenggorok di sofa dekat ranjang, seketika Nora menepuk jidatnya.
"Aku nggak liat, tadi langsung nyamper kamu di balkon," ucapnya langsung meraih satu paperbag dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Lima belas menit, dan terdengar pekikan keras dari dalam kamar mandi sontak membuat Devano melangkahkan kaki mendekat.
"Iya, tant! ada apa?" tanyanya di balik pintu.
__ADS_1
"Ish," sedang di dalam kamar mandi, Nora menggerutu sebal karena baru sekali Dev memanggilnya sayang dan sekarang kini, dengarlah! Dia memanggilnya tante lagi, sungguh benar-benar menyebalkan.
Perlahan membuka pintu dengan handuk yang melilit di tubuhnya, kembali menyodorkan paperbag ke tangan sang suami dengan kesal.
"Ini baju kamu, mana mungkin aku pakai." selorohnya, namun bukan menjawab, Devano justru mematung di tempat demi melihat kulit mulus Nora seputih su su terpampang indah di depannya. Membuat berulang kali harus menelan paksa ludahnya karena lagi dan lagi mata sucinya ternodai.
"Ishhhh, Dev!" desis Nora sebal, saat Devano justru tak meresponnya.
"Eh, iya maaf!" sadarnya dan langsung membawa paperbag, menukarnya.
Lalu tiba-tiba ide jahatnya muncul, lalu dengan santainya justru keluar dan menghampiri Devano yang terlihat gugup.
"Mana Dev?" tanyanya membuat Devano menghela napas kasar. Oh my Dev, menggemaskan sekali!
Nyatanya hanya dengan menatap tubuh Nora, berhasil membuatnya panas, seperti tersengat aliran listrik ribuan volt.
Diam tak berkutik, ketika dua bisikan terus menganggu telinganya.
"Oh ayolah Dev, dia istrimu sekarang dan kamu berhak melihatnya!"
"Jangan, kamu harus menahannya! ingat kamu masih sekolah!"
"Aku mau ganti baju, berbaliklah." ucap Nora, menahan senyum demi melihat wajah kikuk Devano yang entah.
"Hah!" ekspresi melongo saking kagetnya, sejurus kemudian ia pun menurut. Membalikkan badan.
"Dev, kancingin tolong!" pintanya memelas. Devano pun membalikkan badan, bernapas lega karena Nora sudah memakai dressnya, namun ada satu ujian lagi. Ya, kini ia harus berhadapan dengan punggung seputih susu milik Nora, membuatnya lagi dan lagi menelan paksa ludahnya.
Otaknya sedang bergejolak, antara tetap berpegang teguh pada akal sehat atau memilih berkhianat dan mengikuti insting alami pergerakan tubuhnya.
Saat tangannya justru mengusap lembut kulit seputih susu, menelusupkan jemarinya hingga berhasil mengalirkan gelenyar-gelenyar aneh pada si empu.
Lagi dan lagi Nora terjebak di permainannya sendiri, merasakan sensasi aneh akibat sentuhan Devano, namun bukan marah atau menolak ia bahkan menikmatinya, diam dan tak berprotes.
"Dev, kam..!" pekik Nora terpotong karena Devano sudah lebih dulu membungkamnya dengan ciu man. First kiss!
Setelah membalikkan tubuh Nora dan membawanya ke dalam pangkuan.
Namun, lambat Nora mulai menikmatinya bahkan secara alami tangannya mengalung begitu saja di leher milik Devano, menuntut lebih.
__ADS_1
Secara pengalaman, mungkin ini pertama kali bagi keduanya. Tapi Devano hanya mengikuti gerakan alami tubuh serta nalurinya sebagai lelaki.
Tangannya berhasil meloloskan dress milik Nora.
"Boleh," bisiknya memelas, bukan memelas tapi lebih ke memohon. Saat matanya menatap tubuh sang istri dengan ga irah tertahan.
Saat otak Nora berusaha untuk berkata tidak, kenyataan respon tubuhnya justru berkhianat. Dan Hya, rontaan Tidak! kenyataannya tak mampu terucap, tersekat di tenggorokan.
Menit berikutnya, Devano mulai mengabsen setiap inci dari tubuh Nora.
Bagi Devano, Nora adalah perpaduan sempurna juga indah yang mampu menenggelamkan dan menerbangkannya diwaktu bersamaan.
"Come on, Dev!" kata itu lolos begitu saja dari mulut Nora, membuat ego dalam otaknya berkecamuk dan ingin sekali merutuki kebodohannya sendiri.
Merasa tak ada penolakan, Devano pun melanjutkan permainannya, dengan ritme lembut tangannya mulai bergerilya, mengajak si empu melayang pada kenik matan yang melenakan.
Dalam satu hentakan bersama suara rintihan serta cakaran di punggungnya, kini dua insan itu berhasil menyatu, terbang melayang tinggi dalam nikmat tiada tara.
"Aku cinta kamu," bisik Devano tepat ditelinga, tapi masih memacu dalam gerakan slow motion.
Namun, bukan jawaban dari mulut Nora yang terdengar, tapi suara asing yang, entahlah. Selalu berhasil membuat Devano semakin bersemangat.
Bahkan tanpa sadar sudah satu jam lebih mereka berdua melakukannya, Nora mungkin lelah, tapi Devano justru semakin menggebu bersemangat. Dan terakhir, peluh membasahi tubuh keduanya, Ia beringsut dan memilih merebahkan diri di samping sang istri yang kelelahan.
"Jadi seperti ini rasanya, sungguh nikmat mana yang kau dustakan!"
"Terima kasih sudah menjaganya untukku," ucapnya sembari memiringkan tubuh, menghadap Nora yang justru mematung.
Meski ia harus meringis, menahan sakit bekas cakaran tante kesayangannya itu.
"Hmm," Nora hanya bergumam, karena kini matanya terpejam saking lelahnya.
***
"Ma, kenapa nangis?" tanya Karin saat melewati kamar mamanya yang sedikit terbuka. Sejak kejadian accident antara ia dengan Alan. Karin memang lebih memilih diam. Cara terbaik meluapkan kekesalan versinya, namun Karin sama sekali tak menyangka jika sang mama merasa peragainya menyinggung.
"Maafin mama, sayang! Mama selalu sibuk itupun demi kamu, mama jarang ada waktu bahkan tuk sekedar memperhatikanmu." Karin langsung memeluk sang mama. "Bukan salah mama, kenapa mama nangis?" tanya Karin hati-hati, berharap bukan karena ia yang membuat sang mama bersedih.
"Mama sedih, sebentar lagi kamu akan menikah dan ninggalin mama sendiri, tapi disaat yang sama mama juga seneng, kalo nak Alan akan menjaga kamu dengan baik, mama yakin dia sangat mencintai kamu sayang, mama yakin dia bisa..."
__ADS_1
"Stop ma, mama gak usah khawatir! mungkin Kak Alan adalah takdir Karin, tapi apapun hidup Karin nantinya, mama adalah mama Karin, dan Karin akan slalu ada buat mama." ucapnya seraya memeluk wanita paruh baya itu dan mengusap punggungnya berulang-ulang.