
"Ah ayolah, pengantin dilarang bekerja keras malam ini, cukup duduk manis dan makan untuk menikmati perayaan kecil pernikahan kalian." ucap Zain yang tak ingin Devano repot-repot untuk membakar daging dan aneka makanan pelengkap lain.
"Aku hanya ingin membantu, rasanya canggung jika hanya berdiam diri." ucap Devano, lalu menggaruk kepalanya. Saat matanya menangkap sang istri sedang mengobrol hangat dengan sang mama, Nara.
Senyum tipis pun terbit, andai sikap itu juga Nora tunjukan padanya, bukankah pernikahan ini lebih sempurna.
"Hey, malah melamun! Ini cobalah, dan bawakan juga untuk istrimu." titah Zain, Dev pun menerima seporsi sosis bakar juga daging yang tampak lezat dengan sumringah.
"Makasih, aku akan membawanya untuk Nora." ucapnya sebelum melangkah menghampiri sang istri dan mamanya.
Devano melangkah mendekati Nora dan mamanya yang duduk dalam satu kursi memanjang di taman.
"Hmmm, sepertinya kalian terlalu asyik sampai melupakanku," gerutu Devano lalu menyodorkan seporsi sosis bakar yang nampak sangat lezat.
"Ah, tidak Dev! aku hanya mengakrabkan diri sama mama, makasih makanannya." ujar Nora menyambut.
"Hmmm." Setelah menerimanya dengan mata berbinar, Devano mengusap lembut kepala Nora hingga istrinya itu membulatkan mata.
"Ehm, kalian ini so sweet banget si, jadi gemes liatnya." ucap Nara yang tersenyum simpul melihat tingkah putranya.
"Yaudah ya, mama tinggal dulu, kasian papa." ujar Nara yang memilih bangkit meninggalkan sepasang pengantin baru itu.
Hening!
Detik berikutnya, Nora mengambil satu tusuk sosis bakar dan menyuapkannya ke mulut Devano.
"Aaa... buka mulutmu Dev!" titah Nora, lebih tepatnya memaksa Devano membuka mulut dan menerima suapannya.
"Enakkan," ujarnya setelah Devano mengunyah makanannya.
"Hmmm, apalagi yang nyuapin istri." Devano pun melakukan hal yang sama, "Kamu juga harus coba, tant!"
Brushhh! Seketika wajah Nora memerah, mendengar ucapan Devano. Perlahan membuka mulutnya dan menerima suapan Devano, merasa ada debar aneh pun Nora memalingkan wajahnya. Mencoba berfikir untuk mengalihkan kegugupannya saat ini.
"Oh iya, aku tak melihat Abiyan dan Alfin di pesta tadi, apa kau melarang mereka untuk datang kesini?" tanya Nora, karena setau ia, Abiyan dan Alfin adalah sahabat baik Devano, bukan hanya sekedar sahabat tapi juga seperti saudara sendiri baginya.
__ADS_1
"Astagaaa, aku lupa bilang ke mereka kalau minggu ini, yah bagaimana lagi. Udah terlanjur kelar." keluh Devano yang merasa menyesal karena melupakan dua sahabatnya.
"Kalau begitu, telpon mereka sekarang dan minta datang kemari. Tak apa kan, toh ini cuma ada orang tuaku dan orang tuamu, juga Maura. Rasanya mereka juga tak begitu canggung hadir disini." mendengar penuturan Nora, Devano pun mengulas senyum, " terima kasih istriku," ucapnya dengan tangan lagi-lagi tergerak untuk mengusap rambut Nora.
Semilir angin malam menerpa kulit mulus Nora, hingga tanpa sadar jika saat ini ia merasa sedikit kedinginan dan memegangi kedua lengannya.
Sedangkan Devano, akhirnya ia menelpon dua sahabatnya dan meminta agar Alfin dan Abiyan datang ke rumah Nora.
Tak lupa pemuda jangkung itu mengirim lokasi rumah Nora, terlebih mereka belum pernah sama sekali datang ke sini.
"Dingin?" tanya Devano lalu melepas hoodienya dan menyodorkannya kepada Nora.
"Dressmu terlalu terbuka, jadi lebih baik pake hoodie ku agar tidak masuk angin." pint devano, baru hendak menerima hoodie milik Devano,
"Hachieeee..." tiba-tiba saja Nora bersin, sepertinya ia benar-benar kedinginan.
Gegas ia memakai hoodie milik Devano dan memakainya, "Makasih, Dev!" ucapnya kali ini dengan nada lembut.
Tak berselang lama, Alfin dan Abiyan sampai di rumah Nora. Lalu gegas dua sahabat Devano itu bergabung setelah menyapa kedua orang tua Devano pun Nora.
"Sudahlah, yang penting Devano sudah meminta maaf." ucap bijak Alfin membuat Abiyan akhirnya memeluk Devano.
"Selamat, bahagia selalu." ujar Abiyan sungguh-sungguh, pun Alfin yang langsung mendekat dan memeluk dua sahabatnya itu, "Kita sahabat, selamat buat lo Dev, lo hebat." puji Alfin.
Tanpa mereka bertiga sadari bahwa kini Nora menatap ke arah mereka dengan haru, hya Nora sedari tadi memilih duduk dan memperhatikan obrolan seru ketiga sahabat itu, tanpa ada niat sedikit pun untuk bergabung.
Pesta usai, kedua orang tua Devano pun sahabatnya pamit pulang.
Tinggalah sepasang pengantin dengan langkah menahan lelah berjalan menuju kamar.
Dev sudah siap untuk tidur di sofa, membaringkan tubuh lelahnya.
Nora yang sudah terbaring di atas ranjang dan mengganti pakaiannya dengan piyama menatap devano, tiba-tiba ia merasa kasian. Bukankah tidur di sofa rasanya tak begitu nyaman?
"Dev, tidurlah disini." ucap Nora menepuk ranjang sebelahnya.
__ADS_1
"Ah iya, emang boleh! Nanti kalo aku gak sengaja peluk tante gimana?" tanyanya, menaik turunkan alis, Nora tampak berfikir sejenak. Sejurus kemudian ia memasang dua guling pembatas di tengah-tengah.
"Peraturan pertama, tidak boleh melebihi batas! Peraturan kedua, jika melanggar tanpa sengaja kamu atau aku harus mengabulkan satu permintaan." Sedikit ragu Nora mengucapkannya, namun ia yakin Devano tak akan melewati batas.
Lalu dengan berbinar, Devano bangkit dari sofa dan naik ke atas ranjang tepat samping istrinya.
"Oke deal." ia mengulurkan tangan, dan Nora menyambutnya, namun dengan gerakan cepat ia menahan tangan milik Nora dan menciumnya.
Ya, dan Devano berhasil membuat si empu mematung namun tak menolak.
"Selamat tidur istriku."
"Ah iya," sahutnya lalu membaringkan diri.
Satu jam, dua jam Nora tak bisa terlelap, matanya terpejam namun tak bisa. Nyatanya pikiran dan hatinya sedang tidak singkron.
Terus menatap langit kamar, setelah bosan ia memiringkan tubuh menatap Devano.
"Huhhh, kenapa ia bisa tidur sepulas ini."batin Nora dengan mata tak lepas memperhatikan Devano.
Nora menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, ya entah kenapa ia merasa sangat keterlaluan dengan Devano yang jelas-jelas masih polos, harusnya ia cukup percaya bahwa Devano pun akan menjaganya sampai saat mereka sudah boleh melakukannya, "Astagaaaa," Nora lalu menepuk jidatnya, kesal dengan fikiran yang terlampau jauh.
"Fyuh kenapa dia tampan sekali kalau tidur begini." gumam Nora, tangannya kini teralih mengusap pipi Devano membiarkan jemarinya menusuk-nusuk pipi.
"Ck! aku melupakan peraturanku sendiri." lalu hendak mengindahkan tangannya.
"Ishhh, kenapa berhenti tant?" protes Devano membuka matanya lalu tersenyum lebar penuh kemenangan. Sementara Nora, bukan hanya malu, ia bahkan tak bisa berkata-kata lagi.
"Satu kosong." ucap Devano dengan seringai lebar.
Bersambung✍🏻
**Dear!
Maaf ya, kemarin aku sibuk mudik wkwk dan hya kerempongan ketika keluarga lama gak kumpul membuatku melupakan nulis, hehe gak ada tabungan chapter pula👉🏻👈🏻😌
__ADS_1
Like komen dan votenya akak😘**