
Sepagi ini, Resha sudah menyiapkan segala keperluan Darren mulai dari sarapan juga hal-hal kecil lainnya. Setelah itu, barulah ia naik untuk membersihkan diri dan membangunkan Darren untuk mandi.
"Pagi?" baru saja Resha hendak membangunkan suaminya, Darren sudah lebih dulu membuka mata dan menyibak selimut.
"Pagi, Derr. Aku siapkan air panas ya," ucap Resha sebelum Darren menariknya agar lebih dekat.
"Iya, kamu juga siap-siap karena hari ini keluarga Leon akan datang ke rumah."
"Serius, Derr?" tanya Resha penasaran. Perasaan ia belum lama menikah dan kini, keluarga Darren mungkin akan segera menggelar resepsi lagi. Orang kaya memang tak pernah memikirkan ini itu. Dulu jangankan mau resepsi, mau menikah saja ia harus melakukannya di KUA untuk menghemat biaya.
"Iya, Res! Mereka sama-sama sudah dewasa, jadi akan lebih baik untuk segera dinikahkan. Untuk menghindari hal-hal yang diinginkan."
"Hal apa yang diinginkan?" tanya Resha yang kini berubah kelam.
"Eh," Darren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, meski sudah memaafkan kekhilafannya, Darren yakin jika saat ini tiba-tiba istrinya teringat malam kelam itu.
Resha berbalik tanpa sepatah kata masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
Klekk, suara pintu tertutup membuat Resha terkejut.
"Derr, aku mau keluar!"
"Hm, sudah terlambat. Sudah ku kunci," Darren berujar tanpa dosa dan langsung menarik tubuh Resha hingga jarak diantara keduanya tak ada.
"Derrr!"
"Ya ya, boleh keluar tapi di dalam," sahut Darren membuat Resha membelalakkan mata.
"Itu berlaku buatmu, bukan buatku!" Resha mengerucutkan bibir. Darren mendekat dan tanpa dosa melucuti pakaiannya sendiri tanpa sisa.
"Mau bareng?" tanya Darren, Resha yang memalingkan wajah hanya mampu membeku tak bergerak layaknya maneking.
__ADS_1
"Ish, ayolah sayang." Tanpa aba-aba Darren langsung menggendong tubuh Resha hingga istrinya itu memekik karena saat ini ia sudah berada di bathub dengan pakaian basah semua.
"Kau..." Resha tak mampu berkata-kata saat Darren menyuruhnya menggosok punggung.
Huft, kukira mau melakukannya di kamar mandi, batin Resha kemudian menghela napas lega.
Bajunya telah basah karena kelakuan absurd Darren, mau tak mau Resha pun ikut mandi bersama dengan suaminya. Pertama kalinya ia menggosok punggung Darren. Resha sadar, suaminya itu sudah mulai menunjukkan sikap manja.
Bernapas lega saat Darren tak berbuat macam-macam, waktu pun semakin mepet dan keduanya harus segera beranjak.
"Kita pakai warna ini aja ya?" Resha menyodorkan setelan jass berwarna biru laut, karena ia akan memakai dress dengan warna senada.
"Hm, ya pilihan istriku terbaik," ujar Darren membuat pipi Resha seketika memerah. Mereka pun mulai bersiap, Resha dengan mahir merias diri sementara Darren yang sudah rapi menyunggingkan senyum saat melihat istrinya yang sudah berubah menjadi bidadari.
***
Di kediaman Devano, Qween tengah mempersiapkan diri di depan cermin. Dirinya merasa sangat nerveus hingga berulang kali mengecek penampilannya.
Luna memberhentikan taksi tepat di depan rumah Devano. Bersama dengan itu, Mobil sport Darren juga sampai disana.
Jika benar itu Luna, perkataan Jessi kemarin bukanlah main-main.
Sebenarnya apa tujuan Luna mencari alamatnya? tanya Resha dalam hati.
"Aku mau kesana dulu," ucap Resha, ia hendak menghampiri Luna sebelum wanita itu masuk dan membuat kacau.
Darren terpaksa mengangguk, ia masuk lebih dulu untuk menyambut keluarga Leon.
Bukan hanya itu, Devano sang ayah juga tampak berbincang-bincang dengan kawan lamanya. Darren pun menyapa mereka satu persatu mulai dari Om Alfin, Om Abiyan, Tante Karin, Clara juga orang tua Leon yang ternyata adalah teman SMA Ayahnya, Brian dan Zahra. Itu artinya usia Leon jauh lebih muda.
"Mana istrimu, sayang?" tanya Nora dengan dahi mengernyit.
__ADS_1
"Bentar, Ma. Tadi ada lihat temanya di luar."
"Oh oke."
Tak butuh waktu lama, Resha sudah kembali meski dengan raut wajah memerah.
"Selamat siang untuk Om Devano, tante Nora, Papa dan Mama, juga semuanya yang hadir disini. Kedatangan saya, dengan niat dari hati untuk melamar Qweenza Alexsandra, menjadi bagian dari perjalanan saya selanjutnya," ucap Leon penuh kesungguhan.
"Qween, maukah kamu menjadi istriku, juga ibu untuk anak-anakku." Leon berjongkok di hadapan Qween yang sudah merona malu.
"Aku mau."
Leon lantas melingkarkan cincin di jari manis Qween dan menciumnya. Leon bangkit dan kini giliran Qween yang memakaikan cincin di jari manis Leon. Keduanya resmi terikat pertunangan.
Beberapa menit yang lalu.
"Mbak Resha, ternyata sudah benar jadi prang kaya. Mau dong mbak, diajak tinggal disini." Seloroh Luna.
"Kamu tuh ya, kamu emang gak punya malu apa gimana sih Lun?" desis Resha.
"Mbak tuh yang gak punya malu, mentang sudah punya mertua kaya, mertua miskin dihina-hina."
"Aku gak ada ya ngehina ibu, emang kalian dari dulu gak bisa ya berhenti. Lun, selama ini aku gak masalah kalian mau hina aku kaya gimana, tapi tolong jangan campur adukkan kehidupanku yang kemarin dengan sekarang. Aku bukan kamu, yang rela melakukan apapun demi uang. Aku menikah karena murni ingin menikah."
"Mbak, jaga ya mulutnya."
"Kamu yang harusnya dijaga, Luna. Apa kamu mau tau siapa suamiku? bagaimana kekuatannya? ia bahkan bisa merusak reputasimu dalam hitungan detik. Kamu bicara seolah aku wanita paling buruk, padahal justru kamu yang keluar masuk hotel dengan banyak laki-laki, disini siapa sebenarnya yang gak punya harga diri?" ucap Resha penuh emosi.
Luna terdiam, ia tak menyangka Resha tahu kelakuannya selama ini. Mau tidak mau, ia pun harus pergi meski kesal karena gagal mengusik kakak iparnya.
***
__ADS_1
Acara demi acara pun terlewat, Leon tak henti-hentinya menatap Qween yang cantik dengan balutan gaun berwarna putih dengan aksen broklat dan mutiara di bagian atasnya. Tampak cantik sekali.
Sementara Darren, ia menghela napas lega karena sebentar lagi Qween akan menjadi tanggung jawab Leon, sahabatnya.