
Pagi-pagi langit sudah mendung, tampak jika sebentar lagi hujan akan segera turun. Nora bukannya bangun, ia justru menarik selimut hingga menutup ke leher. Begitu pun Devano, libur kuliah membuatnya enggan membuka segera membuka mata.
Namun, tersentak saat dibalik selimut Nora memeluknya erat.
"Sudah bangun, sayang?" tanyanya lebih mirip gumaman. Nora hanya bergerak pelan merespon pertanyaan Devano. Matanya masih terpejam.
Benar saja, tak berselang lama hujan turun meski tak begitu deras. Devano menyandarkan tubuh di kepala ranjang, memandang terpaan air hujan yang dibawa angin menerpa kaca jendela kamarnya.
Devano mengulas senyum sekilas menatap wajah bantal Nora yang masih pulas bersama mimpi, tak hiraukan ketukan pintu Maya di luar kamar. Makhlum saja, sudah jam tujuh dan mereka belum beranjak dari ranjang empuk.
"Tuan, Nyonya..." Maya masih setia mengetuk pintu, setelah lima belas menit tak ada sahutan, ia kembali turun menemui Tuan dan Nyonya besar.
"Maaf, nyonya. Sepertinya Tuan muda dan Nyonya muda masih tidur. Maya sudah mengetuk pintu berulang-ulang tapi tidak ada sahutan." lapor Maya, Nara menanggapinya dengan seulas senyum. "Ya sudah, mungkin memang masih tidur. Nanti saja kamu panggil lagi."
Bayu dan Nara pun memutuskan untuk sarapan lebih dulu, membiarkan Devano dan Nora menikmati paginya karena hari ini Devano libur.
Hujan turun, cukup menghalangi aktivitas Nara di pagi hari. Biasanya ia akan mengurus tanaman hias koleksinya di kebun belakang rumah. Nara pun akhirnya memilih ikut sang suami ke kantor untuk mengurus beberapa proyek yang membutuhkan kehadiran suaminya langsung.
Disaat Devano kembali mengeratkan pelukan, bunyi perut Nora berhasil membuatnya terkekeh kecil. Lucu dan menggemaskan, seolah anak-anaknya di rahim mama sedang protes karena sudah jam segini belum mendapat asupan.
Devano bangkit, menggoyang-goyangkan tubuh Nora agar istrinya itu terbangun. Benar saja, Nora langsung terbangun dan menggeliat pelan.
"Lapar ya?" Sapa Devano.
"Hehe, iya sayang. Makan, yuk?" Nora langsung bangkit dan membenahi baju tidurnya. Berjalan menuju cermin dan menyisir serta mengikat rambutnya tinggi-tinggi.
Grepp! Devano memeluk Nora dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher seputih su su, lalu membalikkan badan Nora dan berjongkok di hadapannya sembari mengusap perut istrinya yang mulai buncit.
"Pagi kesayangan ayah, pagi juga istriku." Dev mengusap lembut lalu mencium perut Nora, setelahnya barulah ia bangkit dan memberi kecupan singkat di kening, pipi dan bibir Nora.
**
*Terima kasih untuk segala kebahagiaan untukku, terima kasih selalu siap siaga menjagaku dan anak-anak kita, aku harap selamanya kita akan bahagia hingga menua bersama..
Nora Lee*_
Lima bulan berlalu, kini usia kandungan Nora menginjak tujuh bulan. Hamil anak kembar membuat perutnya terlihat sangat besar. Tapi ia selalu bahagia. Berusaha sebisa mungkin agar tidak banyak fikiran yang membuat kesehatan sekaligus pikirannya drop.
__ADS_1
"Laki-laki semua," ucap Nora dan Devano sumringah, untuk menceritakan hasil USG dokter kepada Shaka dan Kenia.
Mereka pun mengucap syukur dan memberikan pelukan selamat.
"Kalau sudah bengah, jangan sering-sering kesini, istirahatlah di rumah biar mama sama papa yang kesana." saran Kenia. Nora pun mengangguk saja.
"Jangan banyak fikiran, rileks semoga sehat terus sampai cucu-cucu papa lahir." pun juga Shaka yang terus menasehati Devano agar selalu siaga mendampingi Nora, terlebih saat ini usia kandungan Nora menginjak semester ketiga.
Beruntungnya Nora dan Devano, memiliki kedua orang tua yang benar-benar bisa mengarahkannya meski Devano sangat muda.
Devano dan Nora menyempatkan menginap dua hari, selama di rumah Kenia. Ibu paruh baya itu selalu memanjakan Nora dan dirinya.
Begitupun Maura yang bahagia mendengar anak Nora kembar laki-laki.
"Bagaimana denganmu?" tanya Nora kala melihat raut wajah Maura terlihat bahagia.
"A-aku, aku bahagia, Nora. Kamu kan yang menjebak kakakmu agar melakukannya denganku waktu itu." Nora tertegun, tapi dia tak bisa mengelak apalagi berbohong. Matanya menatap sekeliling, Devano sedang sibuk mengobrol dengan papa di teras.
"Iya, aku melakukannya agar mencairkan kecanggungan kalian." bisiknya pelan.
"Makasih banyak, berkat kamu juga kak Zain sadar dan meminta maaf, awalnya aku marah. Karena itu pertama kalinya." akunya malu-malu.
Tidak ada yang tidak mungkin, termasuk mencintaimu dan dicintai olehmu_
***
Tiba hari dimana hpl kelahirannya, Nora mulai panik saat merasakan kontraksi-kontraksi palsu, sementara saat ini Devano sedang kuliah. Hanya ada mama Nara yang mendampingi.
"Ma, sakit banget. Apa masih lama Dev pulangnya." rengek Nora dengan raut wajah berkeringat. Kontraksi masih terjadi dua jam sekali tapi wajahnya sudah pucat pasi.
"Sabar sayang, Devano lagi di jalan. Mama juga sudah telepon papa. Apa kita ke rumah sakit sekarang saja?" Nora menggeleng keras, bersikukuh menunggu kehadiran Devano.
"Enggak, ma? Aku nunggu Devano. Sebentar lagi." Nora duduk sembari memengang perutnya, sementara Nara berusaha menenangkan. Tak berselang lama, Devano datang tergesa-gesa dan menghampiri istrinya.
"Tahan ya, kita ke rumah sakit." Devano menyiapkan perlengkapan yang sudah ia persiapkan dan menaruhnya di mobil.
"Sakit, Dev! huhuhu..."
__ADS_1
"Gimana ini, ma?" panik Devano, Nara pun menyarankan agar tenang dan meminta Ziando saja yang membawa mobil.
Beruntung Bayu segera mengutus Ziando agar segera ke rumah dan mengantar menantunya, karena ia yakin dalam keadaan ugrent Devano tak akan bisa fokus menyetir. Nora lebih membutuhkannya.
Nara duduk di depan bersama Ziando sementara Devano di belakang berusaha menenangkan Nora.
"Sakit sekali." lirih Nora, ia meremas baju Devano kuat-kuat.
"Akh,," Seketika Nora pingsan membuat Devano panik dan Ziando mempercepat laju mobil.
Gegas ia mengoles minyak di hidung Nora berusaha menyadarkannya.
"Tunggu apa lagi, Dev! Beri istrimu napas buatan." titah Nara berhasil membuat Devano membulat.
"A-apa, ma yang benar saja di depan kalian?"
"Saya tidak melihatnya Tuan," ujar Ziando.
"Cepat, jangan buang waktu, kasian istrimu." Titah Nara geram sendiri melihat anaknya. Devano pun langsung memberi Nora napas buatan, benar saja perlahan Nora membuka mata."Sabar sayang, ini sudah sampai." ucap Nara setelah mobil masuk area rumah sakit. Devano langsung menggendong Nora gara segera di tangani. Beruntung langsung bertemu dokter dan suster, kini Nora sedang berjuang melahirkan anak kembarnya di temani Devano.
Keringan dingin mengucur di dahi Devano, jujur ia tak tega melihat Noranya kesakitan. Dev berusaha memberi kekuatan dengan menggenggam erat tangan Nora.
"Tahan, bu. Wah ketubannya sudah pecah dan sudah buka 10, ayo mengejan, tarik napas...."
Oek.. oek...
"Selamat, bu bayi pertama laki-laki." ucap dokter seraya menyerahkannya ke suster sebelum IND.
Nora menatap haru bayi dalam gendongan suster. Tapi ia belum selesai berjuang.
"Semangat sayang, kamu bisa, kamu hebat." bisik Devano membuat ia menitikkan air mata.
"Ayo, satu lagi sudah mau keluar, tarik napas..."
Oek.. oek..
Nora kehabisan tenaga, ia benar-benar kelelahan hingga kembali pingsan setelah IND anak kembarnya. Devano menangis, berusaha membangunkan Nora yang sedang di periksa oleh dokter, seketika Devano menghampiri sang mama dan dan bersujud sambil menangis.
__ADS_1
"Maafin Devano, ma. Maaf."