
Tringggg!
Suara jam weker di atas nakas, seketika membuat Nora menggeliat. Rasanya malas sekali Nora bangun pagi. Namun, saat teringat aktivitasnya mulai bekerja pun Devano yang harus berangkat sekolah membuatnya buru-buru bangun dari tidurnya dan spontan mengusap mata.
Samar-samar terdengar suara gemericik air dari kamar mandi membuatnya kembali melihat jam di atas nakas, matanya membulat sempurna, terlebih ini sudah jam 6 pagi. Dengan santainya Devano keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang membalut pinggangnya, hingga terlihat jelas tubuh atletis suaminya yang berhasil membuatnya kesusahan menelan saliva.
"Mandi gih, udah aku siapin air hangatnya." ujar Devano sembari memilah-milah pakaian, mencari seragam sekolahnya.
"Hmm, makasih. Maaf aku bangun terlambat" ujarnya sebelum beringsut dari ranjang.
"Hm, iya!"
Gegas Nora mandi, dan mempercepat ritualnya.
Sementara Devano sudah rapi dengan seragam sekolah serta tak lupa melingkarkan jam di pergelangan tangannya. Begitu selesai, ia menunggu sang istri yang sedang mandi di sofa tuk turun bersama dan sarapan.
"Kok masih di sini, ntar telat gimana?" tanya Nora saat melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 7, belum lagi perjalanan yang kadang macet.
"Nungguin tante buat sarapan," jawabnya santai.
"Ishh, udah gak sempet, nanti kamu telat lagi. Kalo aku mah gampang, lah kamu?" Tanpa Nora sadari, sikapnya berubah 180° kepada Devano lebih perhatian meskipun terkesan bawel.
"Yaudah kita berangkat, aku anterin kamu dulu." ujar Devano, lagi-lagi membuat Nora menggerutu sebal.
"Yah makin telat lah, Dev! Udah ya, kita berangkat sendiri-sendiri." tolak Nora. Namun, Devano tak bergeming. Ia langsung berjalan menuruni tangga dan langsung disusul oleh Nora yang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya.
"Nah, gitu kan enak kalau nurut sama suami."
ucapnya sembari mengusap lembut kepala Nora, lalu membukakan pintu mobil.
"Hmm," sahutnya, langsung masuk ke dalam mobil disusul Devano yang memutar ke bagian kursi kemudi dan mulai melesatkannya, tak menghiraukan panggilan Maya yang berusaha menyuruh sepasang pasutri itu sarapan lebih dulu.
"Dev, kalo kamu telat gimana? mending ke Sekolah kamu dulu deh." usul Nora, Devano pun sekilas melirik jam di pergelangan tangannya.
Menghembuskan napas kasar, "Sudah telat, tant!"
"Terus gimana dong?" tiba-tiba wajah Nora berubah cemas, sudah pasti sampai sekolah Devano akan dihukum karena terlambat.
"Gak papa, hukumannya gak kejam-kejam kok, palingan keliling lapangan, bersihin aula, atau bersihin toilet." jelas Devano.
Beruntung, jalanan pagi ini tak begitu macet, meski banyak sekali kendaraan bermotor lalu lalang, Devano hanya mendekus kala sampai di depan gerbang SMA Tunas Bangsa, beberapa anak di giring satpam karena terlambat.
Kalo bukan karena kemarin-kemarin ia tak masuk, mungkin Devano memilih pulang.
"Daahh!" ia melambaikan tangan seraya tersenyum manis saat Nora hendak melesatkan mobil meninggalkan SMA Tunas Bangsa.
"Kamu telat sepuluh menit." ujar Pak Karno kemudian mengarahkannya agar bergabung dengan siswa-siswi yang datang terlambat hari ini.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, jika kini ia tengah berdiri tepat berdampingan dengan Karina anesya, gadis yang beberapa waktu hampir menjebaknya terang-terangan.
Saat pak Karno menggiring mereka ke ruang BK, tampak beberapa siswa yang sedang mengikuti pelajaran olahraga melihat ke arah Devano dan Karin langsung heboh.
__ADS_1
Saat Lima siswa dan satu siswi itu masuk ke ruangan BK, sontak Bu Siska, guru BK menggelengkan kepalanya.
"Devano, kamu kenapa terlambat?" tanyanya, seraya memijat pelipisnya.
"Kesiangan bu,"
"Kemarin kamu tidak masuk kan tiga hari?" Devano mengangguk sebagai jawaban, sedangkan mata Karin sudah membulat sempurna saat mendengarnya. Dev, nggak masuk tiga hari? itu artinya sejak kami pergi ke Blackzone club, Apa dia sakit? Kebetulan sekali sih.
Batin Karin bertanya-tanya, namun pertanyaan itu hanya berputar di kepala, enggan untuk terlontar mengingat kejadian di club waktu itu.
"Kenapa tidak masuk, sakit?" suara bu Siska mengintimidasi, dan hya jawaban Devano lagi-lagi hanya mengangguk.
"Kamu Karina, kenapa terlambat?" tanya Bu Siska, Karin mendongkak, "Maaf bu, saya juga kesiangan." jawabnya gugup dengan tubuh bergetar.
"Kenapa bolos tiga hari, janjian sama Devano?" membuat yang lain tergelak, karena tau Karin juga bolos tiga hari.
"Enggak bu!" sahut mereka hampir bersamaan.
"Nah kan barengan, kalian sama kamu Arda bersihkan aula pertemuan, ini kuncinya dan jangan lupa di pel." titah bu Siska membuat Devano, Karin dan Arda membulatkan mata, bagaimana tidak? Aula segede gaban itu dan cuma mereka bertiga plus ngepel?
"Tidak ada tapi-tapian, dan kalian berdua. Ikut saya ke perpustakaan." seolah tahu apa yang ada di pikiran siswa-siswi.
***
"Gara-gara lo berdua, gue jadi ikutan kena suruh bersih aula, mana segede gaban gini?" omel Arda kesal. Namun, tetap mengerjakan tugasnya menyapu aula.
"Eh, apaan lu! dihukum karena terlambat ya, bukan karena kita." elak Devano tak terima.
"Diam lu." bentak Arda dan Devano bersamaan, membuat Karin seketika menunduk dalam-dalam.
"Sorry, Kar!" ucap Devano setelah hening beberapa saat.
"Hmm," Karin mengangguk.
Arda yang melihat interaksi aneh keduanya pun mengernyit heran. Namun, matanya membulat sempurna kala mengingat sesuatu.
"Kalian pacaran?" tanya Arda kemudian.
"Nggak!" sahut Devano cepat.
"Andre liat lu sama Karin keluar club, yah walaupun kemudian masuk ke mobil yang berbeda, tapi kalian keluar di waktu yang sama tau nggak? dan lo, lo nggak masuk karena teler?"
Devano hanya mengedikkan bahu menanggapinya.
"Berarti bener kan?" tanya Arda tuk kesekian kalinya.
"Berisik lu, Da."
Hukuman pun usai, Devano, Karin dan Arda kembali ke kelas masing-masing. Saat sang dua sahabat menyambutnya dengan heboh kehadiran Devano.
"Gimana gimana gimana ni peng..." buru-buru Devano menginjak kaki Abiyan sebelum keceplosan, beruntung jam kelas sedang kosong.
__ADS_1
"Kalian ngomongin apa sih? Lu juga Dev, hilang di telan bumi lo?" tanya Clara yang merasa ketiga cowok tampan itu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Wahh, Dev! Kebetulan banget lo masuk, ada gosip baru dan lo mesti tau, kalau akhirnya Karina Anesya, berhasil mendapatkan si manusia kutub Devano Aldeva." Ujar Brian tiba-tiba kemudian menepuk pundak Devano tiga kali.
"Breng sek lo Bri," umpat Abiyan tak terima hingga menaik krah Briyan. Karena ia memang tahu, kenapa Devano tidak masuk sekolah selama ini.
"Kenapa, hmm? beredar foto di grup kelasnya Karin, lo keluar bersamaan Karin keluar dari club Blackzone malam jum'at kemarin. Ya, meskipun bisa jadi lo mengelak dan bilang itu kebetulan." tegas Briyan kemudian menghempas tangan Abiyan yang tersulut emosi.
Kini Alfin dan Abiyan yang dibuat bingung dengan pernyataan Briyan barusan, "Lo beneran ke club, Dev? sama Karin?" tanya Abiyan pun Alfin.
"Iyaa, tapi itu accident." santai Devano membuat kedua sahabatnya pun Clara saling pandang.
Bugh!
Bugh!
Tanpa aba-aba Briyan memukul rahang Devano, hingga mengenai sudut bibirnya.
"Gue udah cukup ngalah ya, lo dan selalu elo yang jadi pujaan cewek incaran gue." tekan Briyan.
Alfin berusaha melerai, sementara Abiyan tak terima dan memukul balas Briyan.
"Gue, gada urusan sama lo semua. Terlebih cewek-cewek itu, gue gak minat sama sekali. Dan lo Bri, lo salah kalo nyalahin semua itu ke gue, karena gue sama sekali gak perduli sama mereka. Kalo lo ngelihat gue sama Karin, itu karena ia berhutang penjelasan satu hal sama gue, gak lebih." tekan Devano, kemudian memilih melangkah pergi meninggalkan kelas.
Devano memilih menenangkan diri di kantin, karena jam pelajaran kosong membuat siswa bebas selagi tidak ada tugas. Asal tidak mengganggu kelas lain.
"Gimana kerjanya istri..." Pesan Devano kepada Nora. Namun, tak kunjung mendapat jawaban membuatnya berulang kali menghela napas.
Tidak tahukah Devano, jika di Kantor orang-orang semakin melebarkan sayap permusuhan kepada Nora, selain begitu masuk langsung mendapat posisi wakil CEO, pemilik Aldeva group kemarin mengumumkan jika Nora Lee adalah istri sah dari calon penerus Aldeva, meskipun para pengawai belum tahu pasti seperti apa wajah anak dari pasangan Bayu Aldeva - Nara.
"Jangan dengerin omongan orang, mereka cuma iri sama kamu sekarang," begitulah pesan Kenzo saat melihat Nora merenung selepas meeting.
"Udah ya, Nora. Gak usah terlalu dipikirin, ntar juga baik-baik sendiri. Kita gak perlu menunjukkan muka agar di anggap, karena yang baik dengan kita tak butuh itu, dan yang buruk dengan kita tak akan perduli seberapa baiknya kita." hibur Kenzo.
"Tapi mereka itu omongannya..." Nora tiba-tiba kesal sendiri, saat mengingat betapa orang-orang dengan tanpa dosa mengghibahinya tanpa ampun.
"Pake pelet tuh, jadi kena anaknya pak Bayu."
"Loh, aku kira simpanannya pak Bayu loh dia."
"Ck! Apa bagusnya sih, lempeng begitu"
"Main naik ranjang kali, makanya nikahnya nggak heboh, tau-tau dah jadi mantu."
"Jangan-jangan malah udah hamil, makanya nikahnya diem-diem."
"Jangan suudzon, gak baik."
Beruntung ada Kenzo yang langsung turun tangan, membuat segerombolan orang yang sedang asyik ngeghibah itu auto bubar.
Tapi meski begitu, Nora tetaplah Nora yang punya hati, bisa merasakan sakit saat hampir semua orang mencercanya terang-terangan.
__ADS_1