
Nora, ia bahkan tak lagi menutupi sikap agresifnya. Langsung meraih lengan Devano dan mengajaknya masuk, seolah sudah berhari-hari tak bertemu padahal baru tadi pagi mereka terpisah.
"Aku ganti baju dulu, habis ini kita makan sama-sama." ucapnya, diangguki kepala plus senyum manis wajah Nora.
Gegas Devano melangkah ke kamar, mengganti seragam sekolahnya dengan kaos oblong polos dan celana pendek lalu menuruni tangga, menghampiri sang istri yang diam terpaku menatapnya di kursi makan.
Nora mengambilkan nasi, lauk, plus sayur ke piring Devano, membuat seketika bibir tipis itu melengkung.
"Makasih, kita makan bertiga." sambutnya mengu lum senyum.
"Bertiga?" Nora menautkan alisnya, sejurus kemudian tersipu malu demi mendengar penuturan Devano, "Bertiga sama calon dedek bayi."
"Eh, iyaa ya." cengirnya kaku.
Nora bahkan belum memikirkan makhluk hidup yang ada di dalam perut datarnya, tapi respon dan sikap Devano membuat ia merasa sangat bersalah.
Kamu memang laki-laki hebat dan sempurna, batin Nora yang merasa ia sangat beruntung bisa mendapatkan laki-laki seperti Devano.
Ingin rasanya bilang bahwa ia sangat sangat mencintai Devano, mengutarakan isi hatinya, perasaan yang selalu membuatnya gelisah ketika jauh dari bocah SMA itu, perasaan kesal saat Devano menatap wanita lain.
Apakah itu namanya Cinta?
**
Selesai makan, ia membantu Maya membereskan meja, tuk kemudian mengambil rujak yang sempat ia simpan di dalam kulkas.
Ia menelan salivanya demi melihat rujak yang sangat menggiurkan, entah karena Devano yang membelikan untuknya atau karena memang wanita hamil sangat doyan dengan rujak.
"Makan di halaman belakang yuk?" ajak Devano, ia pun mengangguk.
Suasana halaman belakang memang sejuk, terlebih segala jenis tanaman terawat disana.
Dev yang tadinya mau makan bareng-bareng, kini justru sedang menyuapi Nora.
"Enak?" tanyanya mengu lum senyum.
"Enak." sembari mengacungkan dua jempolnya,
"Dia rewel nggak? masih suka mual-mual?" ia mengusap lembut perut datar Nora.
"Enggak begitu, cuma laper terus. Paginya doang mual,"
"Gak mau jauh-jauh dari ayahnya kali." selorohnya, " Iyakan." bisiknya lagi.
"Ishhhh, enggak!" elaknya, wajahnya tersipu malu.
Namun, keuwuan pasutri itu terhenti karena panggilan Maya,
__ADS_1
"Tuan, ada telepon dari Non Elle," ucap Maya takut-takut, tentu saja takut terlebih saat ini Nora sudah memasang wajah suram kala ia menyebutkan nama Elle.
"Oh oke, May! Sayang, aku angkat telepon dulu ya?" ia masih sempat mengusap rambut Nora, sebelum akhirnya bangkit dari kursi dan masuk ke dalam rumah.
Siapa wanita bernama Ellena? Aku tak pernah mendengarnya, apa dia wanita spesial?
Batin Nora berkecamuk, antara dada tiba-tiba memanas tambah rasa penasaran yang lebih dominan. Bahkan ia sudah tak lagi berselera makan rujak, memilih bangkit dan menyusul Devano masuk ke dalam rumah.
Dahinya mengernyit, jika Ellena menelpon Devano melalui telepon rumah, mungkinkah ia wanita spesial?
Sementara Devano terlihat asyik mengobrol dengan Elle sambil sesekali terkekeh, membuat dadanya tiba-tiba sesak.
Ia menjadi urung, memilih menghampiri Maya yang yang sedang membersihkan dapur.
"May," panggilnya lalu duduk di satu kursi kayu yang ada di sudut dapur.
"Iya nyonya, ada yang bisa Maya bantu?"
"Bik Liam kemana?" tanyanya basa-basi.
"Oh, bik Li belanja ke supermarket nyonya, soalnya isi kulkas sudah menipis." ucap Maya, Nora pun mengangguk paham.
"May...." Ragu ingin bertanya, kemudian menggaruk tengkuknya.
"Iya nyonya?"
**
"Hallo Dev, ya ampun Dev akhirnya aku punya waktu buat telepon kamu!" serunya riang di seberang sana.
"Ell, kamu terlalu sibuk selama ini. Jadi suatu kehormatan, jika nona Elle menyempatkan untuk menelponku." candanya sembari terkekeh.
"Aku tidak sibuk, bahkan aku bisa dalam sekejap sampai di rumahmu!" gerutunya tidak terima.
"Silahkan Ell, aku menantimu." sahutnya begitu santai.
"Aku akan menginap," serunya hingga berhasil memancing tawa.
"Silahkan pintu rumahku terbuka untukmu, kapan lagi kau ke indonesia, hmm?"
"Aku sedang di..." Namun, panggilan diputus oleh Ellena, sepihak.
Nora masih sempat mendengar ucapan Devano bersama Ellena itu, sialnya tiba-tiba ia merasa sangat kesal.
Lalu mempercepat langkah agar segera sampai di kamar, tidur adalah cara terbaik meluapkan kekesalannya.
Sementara Devano, ia kembali ke halaman belakang untuk melihat sang istri, namun langsung mengernyit kala tak mendapati sosok Nora disana.
__ADS_1
"Nyonya ke kamar, Tuan." ucap Maya memberitahu, Devano pun mengangguk dan gegas menyusul istrinya.
"Tidur siang rupanya, apa aku terlalu lama mengobrol sama Elle sampai dia sudah sepulas ini." batin Devano dengan tubuh ikut merebahkan diri.
***
Malamnya, Nora bersikap biasa saja. Memilih banyak diam, sedang Devano yang sibuk belajar untuk persiapan UN pun tingkat kepekaannya berkurang.
Pagi pun menyapa, meski merasa mual-mual Nora berusaha bangkit dan gegas ke kamar mandi, meluapkan gejolak perut yang menyiksa setiap paginya, dan seperti biasa pijatan lembut nan menenangkan adalah obat paling mujarab baginya.
"Kalo masih mual nggak usah kerja, biar aku bilang sama papa,"
"Nggak, udah enakan!" Devano pun mengangguk, "Yaudah, mandi gih gantian. Mau sarapan apa? biar aku ke bawah bilang sama Maya buat nyiapin." tawar Devano.
"Aku sarapan di kantor!" putusnya, sebelum menutup pintu. Devano heran dengan sikap Nora, apa itu efek hamil? Mungkin saja.
Ia memilih menyiapkan buku yang akan dibawa sembari menunggu Nora yang sedang mandi, bibirnya tak kuasa mengucap senyum demi melihat seragam yang tersiap rapi di atas ranjang.
Ia baru ngeh..
"Aku anter." ajaknya, Nora pun mengangguk.
Ia meraih kunci pemberian mang Jaja lalu membukakan pintu untuk Nora.
Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti mereka, Nora memilih banyak diam dengan tanda tanya sedangkan Devano diam dengam ketidak pekaannya.
"Sampai, semangat kerjanya! Gak boleh capek-capek, nanti aku jemput."
Nora hanya menanggapi dengan anggukan, tapi tangan telulur meraih punggung tangan Devano untuk diciumnya, "Aku kerja dulu."
"Iya, kalo ada apa-apa langsung telepon."
Dev lalu keluar untuk membukakan pintu mobil Nora, semua karyawan bahkan memandang kagum sikap Devano, benar-benar type idaman meski masih sekolah.
"Pagi pak Devano, pagi bu!" sapa para karyawan yang berjalan lalu lalang, Devano pun menjawab dengan anggukan kepala sebelum ia masuk kembali ke dalam mobil dan berangkat sekolah.
SMA Tunas Bangsa, baru ia memarkirkan mobilnya, seseorang sudah menunggunya tak jauh dari tempat ia memarkirkan mobil.
"Devano Aldeva, selain tampan dia juga kaya, tapi sayang pacarnya tante-tante." seloroh Briyan memiringkan senyum.
Beruntung keadaan sepi, dan hanya ada mereka berdua disana.
"Ceh, gue gak ada urusan sama lo!" decihnya, lalu berjalan melewati Briyan yang mengepalkan tangannya.
"Kita lihat, lo bisa apa buat ngelindungin temen lo yang udah ngrebut cewek inceran gue."
***
__ADS_1