TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - bab 9


__ADS_3

Darren kembali tertegun, perlahan membuka isi surat dengan ukuran kertas kebih kecil itu dengan jantung berdegup kencang. Ada rasa kesal menyeruak tiba-tibw, saat satu nama tak asing tersemat di awal kalimat.


Hya, siapa lagi kalau bukan Anton. Mantan suami Resha yang telah tiada. Namun, hal yang membuat Darren tak habis pikir adalah kenapa harus dengan surat. Bukankah berbicara langsung lebih baik?


Menghela napas kasar dan meraih botol berisi air mineral dingin yang diberikan Resha sebelum masuk kamar. Darren seolah harus menyiapkan diri demi membaca surat itu.


Teruntuk istriku, Resha...


Hari berganti hari, sejak aku mengenalmu aku merasa sangat iri terhadap Reyhan, laki-laki yang berhasil memenangkan hatimu cukup lama...


Aku mungkin licik, karena berusaha menjadi orang ketiga diantara kalian.


Berusaha menjadi orang yang sangat egois karena menjeratmu, menjebak Reyhan demi ambisi sesaatku...


Jika kamu menemukan surat ini, mungkin aku sudah tak lagi ada disisimu, dan maaf menjadikan hidupmu sulit karena menikah denganku...


Sayang, saat aku tahu umurku tak lama


terus terang aku merasa bersalah dan tak berguna, aku berharap takdir mempercepqt pergiku, agar kamu lekas menjemput kebahagiaanmu...


Maaf untuk ketidak sempurnaan kisah kita, aku berharap kamu bahagia setelah aku pergi


Antonio_


***


Darren menghela napas, entah kenapa ia tiba-tiba membenci sosok Anton yang ternyata telah egois memaksakan Resha di sisinya.


Cinta tidak boleh egois 'kan? bukankah akan menyakitkan jika tetap bersama namun hati tak pernah saling berpaut.


"Astaga," Darren menepuk jidatnya, sekarang yang harus ia lakukan adalah memberitahu Resha.


Perkara Resha akan memilih kembali kepada Reyhan mantannya atau tetap berada di sisinya itu urusan terakhir. Darren tak ingin jadi orang yang sama egoisnya dengan Anton.


"Asal Resha bahagia," gumamnya menatap langit-langit kamar yang sederhana. Darren memutuskan untuk segera tidur dan memberitahu Resha keesokan harinya.


Matahari merangkak naik, cahaya sinar kuning keemasan memaksa menerobos masuk celah jendela kayu kamar Resha. Sinarnya yang hangat menerpa wajah Darren yang masih pulas seolah sama sekali tak terusik oleh silaunya matahari pagi.


Hmmm...


Dengan mata yang masih terpejam ia merasakan aroma masakan lezat menguar.


"Nikmat mana lagi yang kau dustakan," batin Darren sebelum benar-benar membuka mata.

__ADS_1


Setelah bangun dan membasuh mukanya, Darren gegas keluar dari kamar Resha, mencari letak dimana dapur berada. Benar saja, Resha dengan gerakan lincah tengah mengaduk-aduk sesuatu dalam wajan dengan spatulla. Aroma lezat semakin membuat Darren tak bisa menahan lapar, senyum tipis tersungging.


"Masak apa?" tanya Darren kemudian melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Resha.


"Derr, lepas. Aku sedang masak!" protes Resha.


"Sebentar saja, lagian hanya memeluk seperti ini kenapa harus marah, hm?" tanya Darren yang berhasil menciptakan semburat merah di pipi Resha.


Bahkan mas Anton tak pernah bersikap semanis ini, saat aku sedang berkelut dengan asap dapur...


"Kenapa bengong, cepat lanjutkan. Calon suamimu sudah sangat kelaparan," titah Darren.


"Baiklah, tunggu disana. Aku akan menyiapkannya untukmu."


"Iya, sayang." Darren melangkah pergi meninggalkan Resha yang tengah menyiapkan makanan. Ia pun tak mengerti kenapa detak jantungnya seolah tak terkontrol tiap kali berdekatan dengan Resha.


"Sudah siap, saatnya sarapan." Resha tersenyum simpul seraya meletakkan beberapa piring berisikan aneka masakan hasil buatannya.


"Saatnya sarapan," ucapnya lagi kemudian meraih piring dan mengambilkan nasi untuk Darren.


"Benar-benar idaman!" batin Darren, ia tak cukup berani mengungkapkannya, dan hanya tersenyum saat Resha menyodorkan piring yang sudah lengkap dengan lauk pauk.


"Kedepannya aku ingin makan masakanmu setiap hari, apa bisa?" tanya Darren sebelum meraih sendok dan mulai mencicipi masakan buatan Resha.


"Pelan-pelan, belepotan."


Canggung, hingga akhirnya sarapan pagi usai. Darren membantu Resha membereskan meja makan, kemudian kembali ke kamar untuk mengambil sesuatu.


Keputusanku sudah bulat, aku harus membicarakannya dengan Resha, bagaimana pun ia berhak bahagia meskipun bukan denganku...


Astaga, apakah aku mulai meyukainya? rasanya kenapa begitu nyaman saat bersamanya?


"Res," panggilnya ragu-ragu saat perempuan cantik itu usai dari dapur.


"Iya, Derr." jawab Resha heran.


"Sini, ada hal penting." Mau tau mau Resha pun mendekat ke arah Darren yang duduk di sofa ruang tamu.


"Hal penting apa?" tanya Resha penasaran.


Darren menghela napas, tuk kemudian menyodorkan dua surat yang ia temukan. Resha bingung, "ini apa?"


"Baca saja," ucap Darren, mengusap rambut Resha.

__ADS_1


Lipatan kertas itu Resha buka, dan ia bergitu terkejut akan kenyataan bahwa selama ini mas Anton menyembunyikan surat dari Reyhan. Dan lebih mengejutkan lagi, jika mas Anton juga menulis surat seolah tahu jika hidupnya tak akan lama.


Tanpa sadar air matanya menetes, Darren membiarkannya karena tahu Resha belum selesai membaca surat tersebut. Namun, tiba-tiba tangan Resha mengepal hingga surat itu menjadi rusak.


"Kamu kenapa?" panik Darren.


"Tidak, hanya saja aku merasa takdir terlalu mempermainkanku, hiks... Apa salahku, apa aku tak pantas bahagia? Apa aku..." Resha tergugu, namun dengan sigap Darren memeluknya agar lebih tenang.


"Aku Darren Aldeva, selamanya tidak akan mempermainkanmu." Suara tegas penuh keyakinan itu berhasil meluluh lantahkan perasaan Resha, bagaimanapun ia hanya perempuan lemah tanpa cinta.


"Kau..." Resha semakin terisak, namun justru menenggelamkan wajahnya di lengan kekar milik Darren.


"Tidak perduli meskipun setelah ini, kau akan kembali pada Reyhan dan meninggalkanku, aku hanya ingin membuatmu bahagia dan melindungimu," batin Darren. Rasa simpatinya terhadap Resha semakin besar kala tau Anton hanya terobsesi memilikinya.


Di tempat lain, Leon menggerutu kesal lantaran pekerjaan yang harusnya selesai justru kian menumpuk karena Darren tak ada. Berulang kali berdecak kesal saat beberapa pertemuan membuatnya sangat sibuk hingga tak sempat mengabari Qween.


"Semoga dia tidak marah, bagaimanapun ini ulah saudara kembarnya, Darren. Seharusnya Qweenzaku mengerti," batin Leon.


"Permisi, Tuan. Ini dokumen yang anda minta," ucap seorang wanita berpakaian seksi yang saat ini bekerja sebagai bawahan Leon.


"Pergilah, lain kali benahi pakaianmu agar tidak terbuka, mengotori mataku saja." Decak Leon, tanpa memandang Yuna, sekertarisnya.


"Maaf Tuan, saya pikir anda lebih suka penampilan saya yang seperti ini," ucap Yuna percaya diri.


"Ck, keluar sekarang dan ganti dengan pakaian yang lebih sopan atau potong gaji 50%," ancam Leon.


Yuna pun mundur, "baik Tuan," dengan tubuh bergetar ia keluar dari ruangan Leon.


"Hai sayang, aku sedang masak bersama dengan tante Nala, tunggu aku datang untuk membawa makan siang untuk calon suami tercintaku." pesan Qween yang berhasil membuat Leon senyum-senyum sendiri.


Tak disangka, ia akan benar-benar menyukai saudara kembar dari sahabatnya, setelah mengajak Qween pulang. Leon semakin semangat bekerja keras untuk segera dapat meminangnya, kecocokan Qween dengan mamanya semakin meyakinkan Leon, bahwa Qween pantas menjadi ratunya.


Seorang wanita akan diperlakukan bak ratu jika bertemu dengan laki-laki yang tepat, begitupun sebaliknya_


Visual Darren



Visual Resha,



Dear Readers, mohon maaf jika visual tidak cocok hehe, like komen giftnya ya kak boleh juga bantu promo share novel ini🄰

__ADS_1


__ADS_2