TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - Damage Resha


__ADS_3

"Kalau iya kenapa? Kamu keberatan kalau aku selingkuh sama laki-laki yang lebih kaya?" Resha menajamkan mata, sudah cukup rasanya ia sakit hati menerima perlakuan Rima juga adik iparnya di masalalu. Dan sekarang, Resha tidak akan tinggal diam, saat Luna menghinanya, mencercanya di depan umum. Resha rasa wajar jika ia melawan, dirinya bukan orang yang lemah sekarang.


"Bagus ya, bagus. Mbak Resha gak punya hati nurani emang, tanah makam mas Anton aja belum kering dan sekarang mbak Resha udah sayang-sayangan sama laki-laki ini." Luna menunjuk wajah Darren dengan nada berapi-api.


"Heh, kamu nggak ada hak buat bicara seperti itu sama istri saya, tau apa kamu soal tanah makam masmu yang belum kering, kalian bahkan berniat menjual Resha dan menjadikannya penebus hutang."


Resha membelalakkan mata, bagaimana bisa Darren tau? pikirnya.


"Itu karena sepanjang hidupnya cuma numpang di rumahku," ucap Luna sinis, "istri ya? udah tidur bareng berapa kali sampai-sampai menganggap mbak Resha istri, dasar memang murahan." desis Luna melipat tangan di dada.


"Jaga bicara kamu, Lun. Jangan sampai nyesel karena mulutmu hari ini akan menghancurkan hidupmu sendiri."


"Ceh, gak usah ngancem-ngancem deh mbak, aku hidup tinggal hidup, ingat ya mbak Resha. Mas Anton pasti bakal kecewa banget deh liat kamu kaya gini, aduh aku gak bisa bayangin wajah sedih mas Anton, ibu juga kalau tau mbak Resha begini pasti bakalan marah-marah tujuh hari tujuh malem nyariin mbak Resha buat ngomelin." Luna memegangi kepalanya, sambil mencibir ke arah Resha.


"Aku ngomong kenyataan, jangan sampai nyesel atas apa yang kamu ucapin hari ini, dan bilang sama ibu buat gak perlu nyari aku, gak perlu ngomel-ngomel kalau ketemu aku kalau gak pengen hidup kalian gak tenang." tekan Resha, ia mengancam seperti itu bukan tanpa alasan, karena ada Darren lah, ia punya kekuatan untuk membalas Luna dan mertuanya.


"Banyak omong, Mbak. Aku gak takut, lagian kamu pasti bayar orang ini buat ngaku-ngaku jadi suami kamu, hih menyedihkan sekali!" Seru Luna.


"Diam, dia memang istri saya, dan kami tidur bareng setiap hari, kenapa emang? keberatan? jangan bawa-bawa orang yang udah nggak ada di dunia ini, apalagi buat dijadikan alasan. Apa perlu aku seret orang yang bernama Candra agar mengakui kebusukan kalian karena sudah menjadikan Resha alat." ancam Darren.


Luna memucat, "Bagaimana dia tahu menahu soal itu," batin Luna kemudian melangkah tergesa.


"Awas kamu mbak," pekiknya sambil meninggalkan Darren dan Resha.


"Kamu gak papa kan? jangan dimasukin hati ucapan orang gila itu. Aku sebisa mungkin akan selalu di sampingmu," ucap Darren mengguncang bahu Resha yang kini justru terbengong memandang punggung Luna yang hampir menghilang.


"Gak papa, Der. Ayo sarapan." Resha meringis memegangi perutnya yang lapar sedari tadi.


"Oh, maaf sayang." Darren kemudian menarik Resha menuju restoran.

__ADS_1


Resha benar-benar kelaparan, saat Darren menyerangnya tanpa mengajak sarapan lebih dulu, tak heran jika kali ini wanita itu sedang makan dengan lahap, tak memperdulikan mata Darren yang diam-diam melirik, memeperhatikan istrinya yang sedang makan.


"Kasian sekali, istriku kelaparan."


"Kamu, gara-gara kamu nih." gerutu Resha, namun dengan bibir mengerucut gemas.


"Ya ampun, Res." Darren mengusap wajahnya.


Ia merasa bersalah karena membiarkan Resha kelaparan.


"Udah kenyang belum, mau nambah lagi nggak?" tanya Darren, Resha menggeleng malu lantas mengusap bibirnya dengan tisu. Jemarinya meraih gelas berisikan orange jus lalu meneguknya dengan segera.


"Ya ampun istriku," gumam Darren lagi.


Resha hanya meringis, sebentar lagi pasti suaminya itu akan mengulangi perkataannya.


"Maaf mbak, kami terjebak macet tadi." Darren memberikan alasan, satu-satunya alasan yang cukup masuk akal di telinga. Sementara Resha yang tahu Darren berbohong hanya bisa menggelengkan kepala pelan.


"Ini kebaya tren terbaik dari rumah butik kami, Bu Nora sendiri yang memintanya, bisa dicoba mbak Resha?" tanya manager butik langsung, suatu kehormatan bisa menyiapkan gaun acara pernikahan Darren dan Resha.


"Baik makasih, mbak. Ayo sayang, dicoba dulu." Darren meminta Resha agar mencoba kebayanya.


Setelah beberapa menit Resha masuk ke dalam ruang ganti, Resha keluar dengan kebaya yang melekat indah di tubuh mulusnya. Darren menelan salivanya kasar, Resha bukan hanya cantik tapi juga seksi.


Benarkah seksi?


"Kamu cantik." kata itu lolos begitu saja dari mulut Darren, meski lebih mirip sebuah bisikan. Resha yang malang kini sudah berubah menjadi wanita cantik, wanita yang mendampingi Darren dalam suka dan duka.


"Gombal," ucap Resha malu-malu, ia tak pernah menganggap pujian Darren serius selama ungkapan cinta belum terlontar dari bibir manis laki-laki itu. Resha bukan berharap, ia tak ingin terlalu menggantungkan hidupnya pada Darren. Wanita mandiri itu lebih betah menunggu, meski bukan hal yang pasti.

__ADS_1


"Kamu coba juga dong, terus kita foto." ajak Resha yang telah berhasil membuyarkan lamunan Darren.


"Oke tunggu sebentar." Darren masuk ruang ganti, tak berselang lama, pria tampan itu keluar dengan setelan jas senada dengan warna kebaya milik Resha, di sesi berikutnya adalah gaun yang akan mereka kenakan di pesta malam hari, pesta khusus teman dan keluarga tentunya.


Resha terpana, untuk seperkian detik ia terdiam dalam lamunan. Dulu, Resha tak pernah mimpi menikah dengan orang yang sempurna. Tapi kini, Darren hadir di sisinya, Resha tak menyangka jika ia telah menikah lagi dan benar-benar melupakan Anton.


"Kenapa, aku ganteng?" tanya Darren menggoda, namun jawaban Resha mengangguk seraya tersenyum, seolah mengiyakan jikalau Darren memang tampan.


Itu kenyataan kan.


"Kita foto, yuk?" ajak Resha, mereka pun berpose selfi dengan senyum selebar mungkin. Meski baju pengantin tak terlihat, senyum bahagia keduanya sudah cukup mewakilkan kebahagiaan yang ada, dibanding sewaktu Resha bersama Anton, Resha lebih bahagia bersama Darren, suaminya sekarang.


Sesi mencoba baju pengantin pun usai, kini keduanya sedang perjalanan menuju Arsa Group. Sudah lama Darren tak melihat kantor, dan ia ingin mengajak Resha singgah sebentar saja.


Mata karyawan terpaku akan sosok wanita yang berdiri di samping CEO Arsa Group, tak ada kabar tentang kedekatan Darren dengan siapapun. Dan kini, laki-laki tampan itu menginjakkan kaki di kantor dengan status yang berbeda, Suami orang.


"Kasih jalan Tuan muda kita," ucap seseorang berbaju serba hitam menginterupsi, lantaran sejak mobil sport hitam mewah terparkir di depan lobi. Semua karyawan tampak penasaran hingga ingin melihat seperti apa wajah boss mereka setelah beberapa hati tak terlihat batang hidungnya.


"Ayo sayang," Darren meraih tangan Resha dan mengajaknya masuk ke dalam, sementara Resha membalas seraya tersenyum anggun.


"Ya ampun, potek hatiku lihat pak Darren punya gandengan baru," ucap salah seorang karyawan wanita setengah berbisik saat melihat bossnya lewat dengan perempuan cantik.


"Serasi banget, ceweknya kalem. Astaga!" pekik sebelahnya.


"Mau bungkus satu yang kaya pak Darren, dong dimana nyarinya? so sweet banget,"


"Ehmmm, bubar ghibahnya." Leon tiba-tiba berdehem di belakang mereka sambil melipat tangan di dada.


Sontak ketiga wanita itu bubar seketika tanpa menoleh ke arah Leon karena takut.

__ADS_1


__ADS_2