
Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta...
Kepadaku,
Beri sedikit waktu, agar cinta datang karena terbiasa...
πππ
Mungkin seperti itulah gambarannya, meski telah sah menjadi suami istri nyatanya Darren tak cukup punya nyali untuk menghadapi Resha di malam pengantin mereka.
Brukkk!
"Aduh." Ringis Darren terjatuh dari ranjang saat tengah malam tak bisa tidur karena kegelisahan yang melanda, sementara Resha begitu lelap dan nyaman tidurnya, meski kaki berulang kali menendang tak beraturan.
Malamnya Qween dan Leon langsung kembali ke Jakarta, sementara Orang tua Darren menginap sehari sebelum meninggalkan mereka.
Di kamar sebelah, Devano dan Nora yang mendengar suara Darren dari kamar sebelah pun terkikik bersama.
"Denger kan sayang, kayaknya dia nurun kamu deh."
"Nggak, entah turunan siapa itu. Kok bisa bisanya ngrusak anak orang sebelum nikah." elak Devano.
"Sudah lah Dev, yang penting mereka sudah sah dan sudah aman sekarang kalau melakukannya."
"Melakukan apa?" tanya Devano, mengerlingkan mata.
"Ish kamu ya, tanya-tanya apa? tanganmu udah sampai mana." Protes Nora saat tangan Devano sudah bergerilya.
Devano meringis, meski sudah berumur dan memiliki anak yang sudaha dewasa, ia terus candu akan tubuh istrinya.
"Dev, ini di rumah orang." pekik Nora berbisik.
"Dikit," godanya seraya menarik ke dalam pelukan.
"Aku pengen ngerasain sensasinya main di atas ranjang sempit, tuh Darren sampai jatuh berulang kali di sebelah."
Abu-abu kelabu, malam pengantin yang seharusnya menjadi malam penyatuan cinta tidak berlaku bagi Darren. Kini ia tengah meringkuk di sofa kecil yang tak lebih panjang dari tubuhnya. Itu lebih baik ketimbang berulang kali terjatuh karena ulah Resha.
Sialnya, ia semakin tak bisa tidur.
"Gimana agar tidur dia tenang?" Darren memikirkan cara, baru setengah jam ia tidur di sofa punggung dan kakinya terasa sangat nyeri.
__ADS_1
"Astaga," gumamnya kesakitan.
"Met tidur ya Res," gumaman Darren melingkarkan tangan ke tubuh Resha agar tidur istrinya lebih tenang tanpa menendang dirinya lagi.
Namun, bukan tertidur Darren justru asik memandangi Resha. Menikmati maha karya Tuhan yang indah itu dengan segala kesempurnaannya.
"Kamu cantik Res, sampai aku gak tau mesti ngomong apa. Sekarang kamu istriku, tapi kok malah canggung banget."
Darren sepanjang malam hanya bisa menggerutu, ia seperti laki-laki mengenaskan di malam pengantinnya. Tanpa sadar, detik demi detik ia habiskan untuk menghisap beberapa batang rokok di ambang jendela.
Darren mulai jenuh, ia pun keluar kamar menuju dapur. Bayangan Resha berada dibawah kungkungannya hanya berakhir halusinasi. Nyatanya sekarang, ia sedang di dapur membuat segelas susu hangat.
"Sial." Jam sudah hampir pagi dan ia hampir gila karena tak bisa tidur, gelisah sambil menahan sesuatu yang bergejolak di tubuh bagian intinya.
"Kamu ngapain malam-malam di dapur." Suara serak Resha membuat Darren tersentak lalu menoleh.
"Kenapa bangun?" bukan menjawab Darren justru bertanya balik. Lalu dengan tiba-tiba Resha melingkarkan tangannya di pinggang Darren.
"Suamiku tidak ada," ucapnya menyandarkan kepala. Resha menemukan kenyamanan saat wajahnya berada di da da bidang milik Darren.
"Aku haus, jadi keluar buat susu. Kamu mau?" tawar Darren, Resha mengangguk saja.
"Biar aku buatkan." Darren melepaskan diri. Namun, tangan Resha menahannya.
"Ayo tidur lagi." ajak Resha, ia menarik tangan Darren langsung ke kamar tanpa menunggu persetujuan.
Diam-diam Darren tersenyum tipis.
"Kamu pasti gak bisa tidur ya?" tanya Resha, Darren mengangguk polos, malam ini ia benar-benar menjadi laki-laki polos tanpa pergerakan.
Mereka duduk bersisihan, tiba-tiba Resha menggenggam lembut jemari Darren.
"Aku belum siap melakukannya, maaf ya..." Resha menghela napas, menatap Darren lamat-lamat.
"Hmm, tidak apa." bisik Darren, mereka memang berbicara dengan volume kecil, karena tembok pembatas kamar Resha tidak kedap suara. Lalu tiba-tiba suara aneh mengiringi percakapan mereka.
Resha bukan orang yang polos, ia sudah pernah menikah sebelumnya. Meski Anton tidak pernah menyetuhnya lebih ia tahu aktivitas apa yang membuat ranjang kamar berdencit. Lantas yang ia lakukan adalah menutup rapat-rapat telinga Darren dengan dua telapak tangannya.
"Kita tidur sekarang." putus Resha, memaksa Darren ambruk. Dalam hati, Darren tersenyum geli melihat tingkah Resha.
"Dasar orang tua gak ada akhlak, apa gak tau kalau sebelah kamar anaknya sedang nelangsa karena tak ada malam pertama." batin Darren dalam hati yang sudah berhasil memahami situasi.
__ADS_1
Seperti anak menemukan induknya, itulah yang terjadi saat Resha justru membawa Darren dalam pelukan yang erat. Meski canggung, Resha tak ingin Darren merasa sedih karena mendengar suara horor kamar sebelah. Namun, untuk melakukannya atas dasar sama-sama sadar, Resha sangat belum siap untuk itu.
Darren terlelap, jika tau akan seperti ini. Mungkin, Darren sudah menenggelamkan wajahnya sejak tadi di pelukan Resha. Sayangnya, Darren tak cukup nyali untuk melakukannya. Ia butuh izin Resha, meski sebenarnya sah-sah saja.
Matahari mulai merangkak naik, sinarnya menerobos masuk lewat jendela kayu rumah Resha. Dua insan pengantin baru itu masih terlelap, apalagi Darren yang baru terlelap lewat tengah malam.
Nora sudah menyiapkan masakan sederhana di atas meja, lantas menghampiri Devano yang baru selesai mandi.
"Mereka belum keluar, sayang?" tanya Devano, Nora menggeleng.
"Ya sudah mungkin lelah karena bergelut," ucap Devano, Nora yang mendengar penuturan suami hanya meringis dan salah tingkah. Padahal semalam, Devano juga berulang kali menggagahinya karena sensasi menantang ranjang sempit.
"Me sum." Devano menjitak kepala Nora tiba-tiba.
"Apaan sih, Dev. Kamu kok selalu bisa tau pikiranku ke arah mana?"
"Tau dong."
Bersama dengan itu, Resha keluar dengan tubuh yang lebih fresh sehabis mandi.
"Pagi sayang." sapa Nora, Resha mengulas senyum, lantas membalas sapaan mertuanya.
"Darren masih tidur, Ma. Mama sama Ayah sarapan dulu, ya? Biar Darren nanti aku yang siapkan, semalam dia baru tidur jam dua."
Nora dan Devano yang mendengar itu terkekeh kecil, Resha tersenyum penuh arti. Tidak taukah mereka, jikalau semalam Darren dan Resha tak melakukan apapun.
"Mungkin kecapekan, mama juga denger loh berulang kali kaya ada suara jatuh. Apa Darren jatuh, Res." goda Nora sambil terkekeh.
Astaga, mendengar candaan Nora seketika membuat hati Resha menghangat dengan pipi merona merah. Padahal ia sungguh tidak tau apa yang dimaksud kedua mertuanya.
"Kamu sarapan juga, Res. Jangan nunggu Darren. Dia bangunnya siang." Titah Nora, Resha mengangguk lantas mengekor ke meja makan.
"Maaf ya Ma, Malah mama yang masak dan Resha gak bantu."
"Gak papa sayang, lagi pula kebetulan ada banyak bahan di kulkas, dan memang mama ini hobi memasak makanan rumahan."
"Iya, Res. Cobain masakan mama kamu," ucap Devano.
Resha pun memutuskan sarapan bersama mertuanya, setelah melihat kembali Darren di kamar masih begitu pulas.
Benar saja, seperti perkataan Nora bahwa Darren lebih memilih bergelung lama-lama dengan selimut ketimbang bangun dan segera mengisi perut. Begadang dengan fikiran hampir gila membuat Darren merasa lelah sendiri.
__ADS_1
πππ
LIKE KOMEN DAN GIFTNYA AKAK SAYANGπ