
"Selamat ya bu, anak kalian kembar sepasang dan --." ucap Dokter menjeda ucapannya. Kedua bayi itu di dekatkan di samping brangkar Nora yang sedang istirahat. Namun, binar bahagia jelas terpancar di raut wajahnya. Rasa sakit, lelah dan menyerah hilang begitu saja terganti oleh kebahagiaan yang ada di depan mata.
"Sepasang?" ulang Devano yang langsung fokus saat dokter menyampaikan jika bayi kembarnya sepasang. Itu artinya anaknya laki-laki dan perempuan.
"Iya, pak. Selamat ya, jadi prediksi saya waktu itu salah. Semoga pak Devano dan Ibu Nora tidak kecewa." Dokter itu meminta maaf dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada seraya menunduk dalam karena telah salah melihat jenis kelamin hasil usg nyonya muda Aldeva.
"Tidak masalah, dokter juga manusia biasa. Saya dan istri saya justru sangat senang karena diberi anugrah terindah lengkap, laki-laki dan perempuan. Cantik dan tampan." tutur Devano lalu mendekat ke arah box bayi.
"Sudah boleh digendong kan sus,"
"Boleh, sangat boleh." tutur suster itu dengan senyum, kagum akan sosok ayah muda di hadapannya saat ini.
"Ternyata tuan muda Aldeva adalah sosok yang sangat penyayang dan perhatian. Sangat jauh dari kata arogan dan dingin." batin suster itu.
Devano menggendong bayi perempuan dan ia letakkan di sisi Nora, istrinya tersenyum bahagia. Sementara bayi laki-laki ia gendong.
"Hai jagoan ayah yang tampan," sapanya pada bayi laki-laki gembul nan menggemaskan.
Bayi itu merespon ucapan Devano hingga berhasil mencetak senyum simpul di wajah ayahnya.
"Semangat sehat ya, biar lekas pulih dan pulang. Bayinya sehat semua," ucap dokter sebelum meninggalkan kamar inap Nora.
Nara masuk bersama Bayu, Kenia dan Shaka. Mereka tampak bahagia menyambut kelahiran cucu-cucu mereka.
"Kalian sudah menyiapkan nama untuk mereka?" tanya Nara yang mengambil alih bayi laki-laki dari gendongan Devano sementara Kenia melihat bayi perempuan.
"Lihat, comel ini lebih mirip Devano." ucap Kenia memperhatikan raut wajah bayi perempuan.
"Kami menyiapkan dua nama laki-laki, ma." ucap Devano dan Nora hampir bersamaan.
Kenia menggelengkan kepalanya, "Seharusnya kau siapkan dua-duanya, bagaimana kalau prediksi dokter salah semua." kemudian ibu paruh baya itu melempar senyum penuh arti.
"Bagaimana menurutmu, jeng?" tanyanya lagi lebih kepada Nara.
"Biar nanti mereka pikirkan setelah pulang yaa, untuk sekarang kita panggil saja boy dan girl." usul Nara dan langsung mendapat persetujuan dari Devano.
Setelah memberikan asi anak-anaknya, Devano menyuapi Nora dengan telaten. Tubuh yang masih lemah memang harus mendapat asupan.
Saat kedua bayinya tidur dan kedua orang tuanya pulang untuk mengambil beberapa perlengkapan untuk Devano, ia mendekat ke arah Nora dan duduk di sisinya.
"Dev, kamu nggak makan? Kamu kurang tidur ya gara-gara ngurusin aku dan anak-anak kita." ucap Nora mengusap pipi Devano lembut.
"Nggak sayang, itu sudah tugasku sebagai suami. Terima kasih ya, sudah mengorbankan nyawa untuk melahirkan anak-anakku." ucap tulus Devano memberikan kecupan di punggung tangan milik Nora.
__ADS_1
Kedua netra itu saling tatap, lalu perlahan Dev mendekatkan wajah. Ia merindukan bibir merah jambu milik Nora. Namun, kurang dari satu centi ia tersentak kala menndengar suara pintu terbuka.
Alfin datang bersama Karin menengok mereka.
"Hai, Dev? Tante Nora." sapa Alfin, dengan senyum.
"Hai, kak. Jangan dengarkan Alfin, dia memang begitu." Karin mendekat, dan menyapa Nora pun juga Alfin.
Jujur Devano senang akan kehadiran teman-temannya, tapi kenapa harus disaat yang kurang tepat saat ia dan Nora hampir saja melepas rindu.
"Ck!" decak Devano tiba-tiba.
Alfin melempar senyum aneh ke arah Devano, diam-diam mengikuti sahabatnya yang memilih duduk di sofa, membiarkan Karin dan Nora mengobrol panjang lebar.
"Gue datang pas kalian nggak sedang ngapa-ngapain kan?" tebak Alfin menyeringai.
Bugh! Devano menimpuk kepala Alfin dengan bantal kecil yang ada di sofa, hingga pemuda itu meringis dan mengusap kepalanya berakting.
"Sudahlah, kalian kan bisa melakukannya nanti setelah aku dan Karin pulang." ucap Alfin tersenyum lebar.
"Temen gak ada akhlak emang lu," decak Devano, meski begitu akhirnya mereka mengobrol, Devano juga sempat menanyakan yang lain hingga akhirnya Alfin mengutarakan maaf dari teman-teman karena belum bisa menjenguk Devano dan Nora di rumah sakit.
"Mungkin nanti, kalau sudah di rumah. Semoga tante Nora lekas pulih dan kalian segera pulang. Gue dan Karin pasti akan sering mengunjungi kalian." janji Alfin.
"Makasih ya, Fin. Lu emang temen terbaik, dan gue yakin--" Devano menjeda ucapannya, melihat ke arah Karin yang sedang mengupas buah untuk Nora juga memotong-motongnya.
Oek...oek...
Disaat Karin sedang mengobrol sambil memotongkan apel untuk Nora, baby girl menangis kencang. Gadis itu sontak bangkit dan menghampiri box bayi.
"Biar aku bawa ke mamamu, sayang." Dengan sigap Karin menggendong baby girl dan menenangkannya. Lalu meletakkannya di sisi Nora untuk di su sui.
"Lu, keluar gih." titah Devano kepada Alfin.
"Lah, kenapa? gue baru dateng!" protes Alfin tak terima.
"Istri gue mau menyu su. Lu gak boleh lihat." gertak Devano, hingga berhasil membuat Alfiin langsung berdiri.
"Ah, baiklah." Alfin pun melangkah keluar, sementara Karin ia masih memperhatikan baby girl yang sedang menyu su.
"Kau tidak akan menyuruhku keluar kan, Dev?" tanya Karin. "Karena aku nggak mau." sambungnya lagi, Devano mengangguk saja.
Dev memilih menghampiri box bayi, memperhatikan jagoan kecilnya yang masih terlelap begitu pulas.
__ADS_1
"Hai, jagoan ayah. Anak pinter dan nggak rewel, kelak kamu akan jadi lelaki hebat yang selalu bisa melindungi adik kembarmu." gumam Devano lirih sembari mengusap-usap lembut kepala baby boy.
"Sudah diberi nama?" tanya Karin, keduanya kompak menggeleng.
"Aku berencana memberi ia nama Darren Aldeva," Aku Devano menjeda ucapan dan menatap Nora dengan senyuman.
"Kalo yang perempuan belum terfikirkan."
"Bagaimana jiga Qwen." usul Karin.
"Qwenza Alexsandra." celetuk Nora.
"Bagus sekali, secantik nama ibunya." puji Karin membuat Nora tersipu malu.
Karin pun pamit keluar sebentar untuk mencari Alfin, sementara Devano dan Nora semakin bahagia karena sudah menemukan nama untuk anak perempuannya.
"Uu, dia tertidur lagi." ucap Devano, lalu menggendongnya lembut dan meletakkannya di box bayi.
Setelahnya kembali mendekat ke arah Nora yang sudah merona merah dengan kelakuan Devano.
"Aku setuju nama itu, Qween Alexsandra Aldev."
"Aldeva," Ralat Devano yang berjalan mendekat kembali ke arah Nora.
"Iya, Aldeva."
Namun, bukan merespon ucapan Nora Devano justru memakas jarak.
"Kita lanjutkan yang tadi,"
Deg, seketika Nora menunduk malu-malu.
Sementara Karin menemukan Alfin di kantin karena pesan masuk di ponselnya.
"Kenapa keluar, yang?"
"Dev menyuruhku keluar, dia tidak rela aku melihat tante Nora." jawab Alfin dengan muka sedih.
"Ya bagus, memang harusnya begitu." ucap Karin seraya terkekeh.
Mereka menyempatkan pamit sebelum pulang, hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan, mobil Alfin sampai di pelantara rumah sederhana milik Karin.
Diam-diam Alfin meraih kotak yang sedari tenggorok di depan mobil tanpa Karin sadari dan memasukkannya ke dalam saku celana.
__ADS_1
Dengan niat tulus, Alfin mengutarakan keseriusannya di hadapan ibu Karin. Karin pun terkejut namun juga bahagia. Ia mengangguk lalu sepasang cincin emas kini jadi pengikat diantara cinta mereka.
Like komen dan votenya akak😘