
Hari terakhir di Singapura, mereka akan berjalan-jalan sebentar sebelum terbang ke Indonesia besok pagi, semua barang sudah Devano persiapkan. Namun, kini ia sedang mengajak Nora menikmati sarapan pagi di caffe akustik dekat hotel.
Dev menikmati secangkir capucinno, sesekali memperhatikan istrinya yang tampak lesu. Bulan madu kali ini terlihat kurang berkesan karena masalah Elle dan Albert yang membuat sikap Nora sempat berubah.
"Gapapa, gausah sedih, next time kita ke pulau seribu!"
Nora mendongkak, menatap manik mata Devano yang menatap ke arahnya lekat menunggu ekspresi.
"Pulau seribu?" tanya Nora tak yakin.
Sedang Devano mengangguk saja, "Pulau pribadi milik papa." serunya,
Nora tau, Keluarga Devano memang sultan. Namun, ia tak menyangka jika papa Bayu memiliki aset pulau pribadi.
Pulang dari caffe, Devano mengajak Nora singgah sebentar di apartemen yang jadi tujuan mama dan papanya ketika kunjungan bisnis ke Singapura.
Sampai di apartemen, Nora membulatkan matanya, lantaran apartemen milik papa Bayu di Singapura jauh lebih mewah.
"Ish tau gini kemarin gak usah ke hotel aja." gerutu Nora, "Tempat sebagus ini, dianggurin."
"Biar deket sama pusat dan rumah om Alex, yaudah nanti malem nginep disini sebelum pulang besok."
"Barang-barang kita gimana?" tanya Nora,
"Gampang, aku suruh orang buat nganter kesini." Sejenak Devano menelpon seseorang, ia memang masih meninggalkan barang-barangnya di hotel, tak berfikir jika Nora akan meminta menginap di apartemen yang jauh dari hiruk pikuknya pusat kota.
"Cariin beberapa baju juga buat nyonya, jangan sampai salah. Nanti modelnya kirim ke WA, biar aku yang milih."
"Siap tuan." sahut seseorang di seberang sana, yang tak lain adalah Hans, assisten om Alex.
Betapa sial sekali nasibnya, mendapat tugas dari Devano, kalau bukan karena ancaman Tuan Alex yang akan memotong gajinya, ia mungkin tak akan melakukannya dengan senang hati.
"Oh iya, cari jam tangan termahal wanita juga buat istriku, yang bagus. Aku percayakan sama kamu, Hans! Jangan lupa di bungkus." tegasnya lagi.
"Siap tuan."
Tut! telepon terputus, Nora menghampiri Devano yang sedang menelpon seseorang.
"Telpon dari siapa? kenapa harus menjauh?" tanyanya memicing curiga.
"Bukan siapa-siapa, sayang!" Ia mengusap rambut Nora, dan mengecup pucuk kepalanya singkat.
"Hmmm," Nora berbalik dan mendapati seorang perempuan paruh baya datang.
"Selamat siang Nona muda." sapanya, Nora mengangguk dengan senyum.
"Saya yang mengurusi apartemen ini, jika butuh apa-apa panggil saya nona,"
"Iya bi, bisa buatkan makan siang? aku pengen cumi asam manis, buatkan juga ayam asam manis untuk Devano ya bik."
"Iya nona," Asisten rumah tangga itu pun pamit, membuatkan pesanan makan siang Nora dan sembari membersihkan apartemen.
Siangnya, mereka makan dengan lahap karena beberapa masakan bi Rumi yang menggoda. "Kamu masak?" Nora menggeleng, "Bibi yang buat, aku lagi pengen makan masakan rumah, jadi aku minta saja."
Devano mengangguk, lepas makan mereka menikmati hari terakhir di Singapura dengan duduk bersantai di balkon.
"Bi, nanti kalo Hans datang, langsung letakkan di kamar ya, aku sama Nora di balkon."
"Iya Tuan."
Gegas Devano menyusul Nora yang sudah kesana lebih dulu, sembari membawa dua botol air mineral dingin serta camilan.
__ADS_1
"Dev, nyesel akutuh cuma sehari disini."
"Iya, lain kali kesini lagi." ucap Devano, menyodorkan air mineral.
"Makasih, harusnya aku yang ngambilin minum." gerutunya,
"Gak papa, lain kali bisa. Kita kan suami istri, sudah sewajarnya, kalo kamu terus ya enakan akunya dong." Nora mengukir senyum mendengar penuturan Devano.
Hans datang tergesa-gesa, setelah menyerahkan paperbag juga kotak kado kecil ke tangan bi Rumi, ia segera pamit karena om Alex, bossnya terus memanggil.
"Haishhh, menyedihkan sekali nasib pekerja bawahan." desisnya melangkah buru-buru.
Brukk! Hans tak sengaja menabrak Elle, saat akan masuk ke dalam lift, gadis itu sedang menangis.
"Are you okey?" tanya Hans, ia heran kenapa Elle bisa berada di apartemen ini tanpa menemui Devano, lalu sedang apa dia? batin Hans penasaran.
"Gak papa." sahut Elle, dengan isak.
Hans mendekus kesal, memang cewek ribet sekali, gak papa tapi diri menangis.
Tiba-tiba teringat cerita Devano saat memergoki Albert keluar dari hotel bersama perempuan lain yang jauh lebih muda.
"Sudahlah, laki-laki seperti itu banyak di pasaran." decak Hans tiba-tiba.
Elle yang tak pernah mendengar Hans bicara tanpa sekat pun mendongkak.
"Maksudmu apa Hans?"
"Gak papa, hanya saja heran kenapa laki-laki seperti Albert menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu, Ell. Kamu berhak bahagia."
"Kalo begitu, kamu saja yang jadi pacarku, Hans!" ucapnya tegas dengan mata menajam.
***
Ia masih betah berlama-lama di balkon, menikmati sejuknya terpaan angin dengan view pemandangan menakjubkan ditambah kebersamaan dengan orang tercinta menjadi momen sederhana yang indah.
"Dev, pulang ke Indonesia kita ke dokter ya?" ucapnya tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Devano.
"Cuma memastikan, apa aku bisa hamil dalam waktu dekat, aku pengen hamil lagi." ia menunduk dalam-dalam sembari melirik seperti apa ekspresi Devano sekarang. Namun, ia tersentak kala jemarinya terasa hangat. Hya, Devano menggenggam erat jemarinya saat ini hingga berhasil mencetakkan rona merah di pipi.
"Apapun untukmu, selama kamu bahagia. Aku akan berusaha,"
"Aku takut nggak bisa hamil lagi." cicit Nora.
"Pasti bisa sayang, percaya sama aku." ucapnya kemudian mencium punggung tangan yang kini dalam genggaman.
"Iyaa," Nora bangkit berdiri, lalu masuk ke dalam kamar.
"Dev, ini apa." pekiknya, kala melihat paperbag dan kotak kecil di atas ranjang. Matanya mengedar dan menangkap koper yang tertinggal di hotel sudah ada disana.
"Apa sayang, kenapa teriak hmm?" Devano mendekat, kala mendengar teriakan Nora.
"Apalagi kalau bukan buat kamu."
"Tapi kan, aku gak perlu baju baru."
"Gak papa, sesekali. Karena sedari kita menikah kamu belum pernah pakai uangku, padahal tiap bulan aku memantau transaksi atm yang pernah aku kasih."
Nora menggaruk kepalanya, "Aku kan pake kartu yang di kasih mama."
__ADS_1
"Itu punya mama bukan uangku sendiri, ya walaupun uangku dari mama juga." terang Devano.
Sejujurnya, ia merasa heran. Jika perempuan lain berlomba-lomba menghabiskan uang, lain halnya dengan Nora. Ia jarang berbelanja, jarang shoping, jikalau pun menghabiskan uang, pastilah untuk makanan.
"Sama aja sayang, lagi pula aku belum terlalu membutuhkannya." elak Nora.
"Baiklah, tapi kamu pakai ini, kita makan malam di luar." ajaknya.
***
Devano mengukir senyum melihat penampilan cantik dan sempurna istrinya, ia bahkan sampai tak berkedip dan terus menerus memandang Nora, baginya tak ada perempuan cantik versi lain selain Noranya, kecuali sang mama.
"Kita mau kemana sih?" tanya Nora penasaran.
"Nanti juga tau, ayo." ia membawa Nora ke taman apartemen yang telah di sulap emnjadi tempat dinner romantis, ini kesekian kalinya Devano mengistimewakan moment berdua.
Tidak bisa di pungkiri, jika kini Nora merasa sangat sangat dicintai.
"Dev, makasih untuk semuanya, semua hal indah, semua yang kamu kasih ke aku, aku sadar kamu adalah orang yang sangat tulus, maaf aku sering meragukanmu, seharusnya aku bisa melihat bahwa kamu adalah yang terbaik."
"Gak papa sayang, ragu itu wajar apalagi sama bocah sepertiku, setiap manusia punya sifat dan sikap masing-masing, tapi kamu harus tau cintaku dimulai dari nol, bukan karena perasaan labil sesaat."
"Iya, love you!" aku Nora dengan pipi merona.
"Love you too sayang." Balas Devano dengan mencium punggung tangan Nora.
Malam ini, tentu saja mereka lewati dengan penuh cinta, keduanya larut dalam kungkungan kebahagiaan.
**
Hans mengantar Nora dan Devano sampai di bandara sebelum akhirnya mereka terbang dengan jet pribadi milik keluarga Aldeva, Devano sempat berpesan kepada Hans agar pemuda itu menjaga Elle.
Hans tampak terkejut dengan penuturan Devano, namun lambat ia paham arti dari menjaga sesungguhnya.
Sampai di bandara Soekarno-Hatta, Devano langsung di sambut oleh Ziando dan keempat orang tuanya dengan sumringah. Shaka dan Kenia sengaja meluangkan waktu untuk menyambut putri tercintanya, pun sama haknya dengan Nara dan Bayu.
"Gimana bulan madunya," tanya Shaka seraya memeluk sang putri. Meski sudah berumur, ia senang sekali mengoda putra putrinya.
"Ishh, papa." ringis Nora.
Setelah saling memeluk satu sama lain, mereka pun akhirnya pergi dari bandara. Dan kini memutuskan untuk langsung ke rumah besar Aldeva, karena Bibi Liam dan Maya sudah menyiapkan acara kecil-kecilan sesuai interuksi dari pak Bayu.
Di kediaman Aldeva, tampak Alfin, Karin, Abiyan, Clara, Zain juga Maura yang menanti kedatangan Devano dan Nora. Terkhusus hari ini, mereka di undang langsung oleh papa Bayu untuk menyambut Devano dan Nora.
Devano, ia hampir tak percaya setelah sekian lama tak bertemu para sahabat. Kini Alfin dan Abiyan ada di rumah menyambut kedatangannya, bukan main bahagia.
Begitu juga dengan Nora yang sumringah karena kehadiran Karin dan Clara juga Maura.
"Makasih ya, udah main kesini." Nora memeluk mereka satu-satu. "Yah, kita kan temen kak. Harus dong main. Anggap aja kita seumuran." celoteh Clara.
"Iya kan kak Maura." Maura mengangguk sembari tersenyum, ia senang bertemu dengan orang-orang baik di rumah saudara iparnya, Devano.
Sungguh kehidupan yang ia jalani tak sebahagia dan seberuntung Nora.
**Assalamu'alaikum readers sayang, maaf ya baru up wehehehe, author lagi sok sibuk nih.
Jangan lupa like komen dan votenya ya kak.
Btw boleh mampir ke kisah Shaka dan Kenia, di MENIKAH DENGAN SEPUPU KEKASIHKU, atau mau kisah Maura dan Zain serta dua orang tuanya Radit dan Rain, best couple kesayanganku mampir di BUKAN PELARIAN CINTA
CEK PROFIL AUTHOR YA, boleh banget follow, boleh juga masuk gc, yuk saling kenalš**
__ADS_1