TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - bab 6


__ADS_3

"Mbak Resha disini juga?" tanya Qween kebingungan, Nora yang mendengar putrinya menyebut nama Resha seketika teringat obrolan tadi pagi.


"Apa iya dia yang bernama Resha," batin Nora bertanya-tanya.


"Pagi," jawab Devano dan Nora hampir bersamaan. Senyum ramah jelas tercetak di bibir keduanya. Resha terpaku, sungguh tidak menyangka jika respon kedua orang tua Darren begitu ramah.


"Dia Resha, Ma. Temen Darren dan Qween, kebetulan tadi dia habis dari makam suaminya, karena hujan jadi Darren ajak sekalian."


Penjelasan Darren membuat Devano dan Nora mengangguk.


"Suami," Nora tersentak setelah menelaah perkataan Darren jika Resha habis dari makam suaminya.


"I-iya, tante." Meski ragu, Resha akhirnya menjawab.


"Astaga, aku kira masih single loh Res, gak kelihatan kalau udah punya suami, pasti nikah muda ya?"


Resha pikir, jika Nora akan ilfill atau berfikir buruk tentang statusnya sebagai janda, Resha berfikir jika wanita cantik paruh baya di hadapannya akan berteriak atau memelototinya dan berkata, jika ia harus menjauhi anak-anaknya persis seperti kisah di novel-novel.


Resha mengangguk, "Iya tante, tapi baru dua bulan saya menikah." Resha jujur, entah kenapa hatinya merasa kalau ibu dari Darren itu berhati lembut dan sangat penyayang.


"Res, ikut pulang sekalian. Biar nanti aku antar kamu." Darren ketar-ketir menunggu jawaban Resha, saat perempuan itu mengangguk ia pun bernapas lega.


"Iya ajak mampir aja sekalian boy," tawar Devano yang berhasil membuat senyum tersungging di bibir Nora.


"Iya, jarang-jarang lho kamu ajak teman pulang kecuali Leon."


"Iya, tante. Maaf merepotkan." Ada perasaan hangat menyeruak mendengar obrolan mereka.


Terus terang, Resha sangat iri dengan kehidupan Darren yang penuh akan kasih sayang.


Hujan mulai reda, dan mereka yang sedang mengobrol di gazebo depan pemakaman pun memilih masuk ke dalam mobil.


"Astaga, ma kita harus ke rumah Alfin." Devano menepuk jidat saat sudah masuk ke dalam mobil, menoleh dan mendapati Qween ikut bersamanya.


"Qween ikut ya, ma." Gadis itu tersenyum manja, tentu Qween lebih memilih ikut dari pada harus menjadi obat nyamuk bagi saudara kembarnya.


"Oh baiklah, nanti biar aku yang bilang ke Darren," ucap Nora.


Mereka pun melajukan mobilnya, Nora membuka kaca sedikit dan mengatakan kepada Darren sesuatu.


"Sayang, mama sama ayah ada janji sama om Alfin. Kamu pulang duluan ya, ingat jaga Resha dan gak boleh macam-macam." pesan Nora.


Resha tertegun, ia mendengar cukup jelas penuturan ibu dari Darren, benar-benar membuat hatinya merasa dikhawatirkan.


"Mama dan ayahku ada urusan, jadi kita kemana?"


"Terserah,"


"Ck! kau seperti wanita pms yang sedang ngambek sama pacarnya, aww!" Darren mempraktekkan gaya macan mengaung membuat Resha menautkan kedua alisnya.


"Tuan, kau kenapa?"


"Kenapa? kau yang kenapa, hmm. Tadi manis sekali dengan kedua orang tuaku, sekarang? kau ini menyebalkan." Darren menggerutu, sementara Resha hanya menatapnya.


"Salah lagi," gumam Resha.

__ADS_1


Darren memutuskan melajukan mobilnya, ia kesal melihat Resha yang justru lebih asyik menatap kaca jendela mobil ketimbang bicara dengannya. Sungguh aneh, tapi Darren menepis apa itu rasa suka.


Jatuh cinta? ck! itu bukan diriku...


"Kita mau kemana Tuan, bukankah ini arah pusat kota?" tanya Resha.


"Iya," singkat Darren.


"Bagaimana kalau kita putar arah? aku tidak mau bertemu adik atau mantan mertuaku." Pinta Resha, Darren mengernyit, lalu menghentikan mobilnya sebentar.


"Jakarta terlalu luas, kamu seharusnya tidak perlu khawatir jika bertemu dengan mantan mertua atau adikmu. Toh kamu tidak salah, mereka saja yang tidak bisa bersikap baik."


"Baiklah, terserah! Aku hanya tidak ingin semuanya menjadi semakin rumit,"


"Jangan khawatir," tiba-tiba spontan tangan Darren menggenggam jemari Resha hingga membuat perempuan cantik itu tersentak dan membeku seperkian detik.


Deg


Deg


Detak jantungnya semakin cepat kala Darren mendekatkan wajahnya dan mulai memakas jarak.


"Jadi wanitaku, aku akan membantumu membalas mereka."


Oh Derr, tidak bisakah ia menggunakan kata yang lebih romantis atau puitis, tak bisakah lebih lembut dan meyakinkan.


"Apa maksudmu?" Resha menjauhkan tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya merona karena malu, sementara Darren kembali melajukan mobilnya dengan bibir menyeringai tipis.


"Olivia Resha, jika kau butuh perlindungan. Kau tidak akan bisa sembunyi selain kepadaku! Mertuamu sampai saat ini masih terus mencari, bahkan ia menawarkan dirimu kepada laki-laki beristri dengan harga fantastis. Apa kamu masih berfikir akan bisa lari?"


"Ak, aku takut--" Resha terbata, ia menunduk, tak menyangka Rima akan melakukan hal sekeji itu hanya karena membencinya.


"Maaf, sebaiknya kita pulang."


"Sudah sampai sini, lagi pula matahari sudah sampai atas. Kita makan siang di restorant terdekat," ajak Darren.


Darren memarkirkan mobilnya tepat di depan restorant cepat saji.


"Kita makan, biar aku yang tlaktir," ucap Darren sebelum turun lalu melangkah ke sisi mobil untuk membukakan pintu Resha.


"Terima kasih," ucap tulus Resha dengan seulas senyuman lalu mengikuti langkah Darren masuk ke dalam restorant. Mereka memesan makan siang, Darren menatap Resha tak berkedip. Namun, ekspresi datarnya lebih mendominasi.


"Cantik, sayang janda." batin Darren, mengetuk-ngetuk meja dan memperhatikan setiap inci wajah Resha, bibir tipis warna pink, rambut lurus tergerai. Lesung di pipi serta kulit wajah yang keliatan lembut meski tanpa sentuhan make up mahal. Dress hitam yang melekat, membuat Resha kelihatan seperti masih gadis.


"Tuan, kenapa melamun." Resha menggerakkan tangannya di hadapan Darren hingga laki-laki itu tersadar dari lamunan.


"Makanan sudah datang," ucap Resha sambil memainkan sendok garpu dan mulai menyentuh makanan.


"Ah, baiklah kita makan." Darren pun mulai menyuapkan makanan ke mulut.


"Selesai, aku ke toilet sebentar." pamit Resha, Darren mengangguk saja.


***


"Resha," suara keras penuh emosi memanggilnya, Resha yang hendak melangkah ke toilet pun menoleh dan mendapati Rima juga Luna menatapnya tajam penuh amarah.

__ADS_1


"Kakak ipar, lebih baik ikut kami. Bukankah kamu sangat mencintai mas Anton, jadi dia akan tenang disana jika kamu membuat kami, keluarganya bahagia." Luna menyeringai, mendekat ke arah Resha.


"Resha, kamu harus melunasi hutang ibu. Jadilah istri kedua Candra," ucap Rima tegas.


"Bu, itu hutang ibu. Bukan hutang Resha, jadi tolong biarkan Resha pergi." Resha berusaha sesopan mungkin kepada Rima, bagaimanapun wanita paruh baya itu adalah mantan mertuanya.


Plakkk...


"Berani kamu sama ibu," geram Rima, lalu menampar Resha.


Resha tersenyum sinis, ada kalanya kesabaran bisa habis. Seperti saat ini, bahkan rasa cinta, kasian dan impatinya mulai habis. Hya, untuk terakhir kalinya berusaha bersikap sopan tapi justru keburukan sebagai balasan.


"Ibu, selama ini saya sudah cukup sabar. Menganggap anda sebagai orang yang patut saya hormati karena mas Anton. Tapi saya juga manusia, saya punya batas kesabaran. Sayangnya, batas itu sudah terkikis oleh ibu dan Luna. Saya, Resha dari awal tak pernah berhubungan lebih dengan mas Anton selain dari pada status!" tegas Resha.


Plakkk, Luna menampar Resha hingga perempuan itu mundur beberapa langkah.


"Ja lang sepertimu, jangan sok suci. Tidak mungkin mas Anton tidak pernah menyentuhmu, bukankah sejak awal kamu berusaha naik ke ranjangnya sampai dia tiba-tiba menikahimu. Kamu seharusnya mati, masih mending kami hanya menjadikanmu penebus hutang!" Luna emosi, ia berusaha menahan keras tangan Resha.


"Lepas, biarkan aku pergi."


Plakkk...


"Diam dan menurutlah," tekan Rima.


Suasana lorong toilet memang sepi, dan Resha merasa sial karena bertemu dengan dua iblis di restorant ini.


"Bu, tolong lepas. Saya tidak mau," Resha berusaha melepaskan diri saat tangan Rima dan juga Luna mencengkram erat pergelangan tangannya.


"Jauhkan tangan kotor kalian dari calon istri saya," suara bariton khas dengan mata tajam. Darren akhirnya menyusul Resha ke dalam toilet karena khawatir dengan perempuan itu.


"D--Darren," Resha bernapas lega saat mendengar suara Darren, dan melihat wajah tampan itu datang. Tampak kilat amarah di raut wajahnya, Resha tak lagi perduli jika Darren mengklaimnya sebagai calon istri. Dia memanfaatkan kelengahan Rima dan Luna, lalu berlari dan bersembunyi di balik lengan kekar Darren.


"Tolong bawa aku pergi dari sini, Derr!" ia bahkan sudah tak memanggil dengan sebutan Tuan lagi, tubuhnya bergetar dan hampir merosot.


"Siapa kamu, berani mencampuri urusan kami." oceh Rima.


"Ma, dia pasti lelaki simpanan kak Resha, Luna pernah bertemu mereka dinner bareng, kak Resha pasti sudah menyelingkuhi mas Anton dari dulu," ucap Luna, tersenyum sinis seolah berhasil mengobarkan api permusuhan.


"Ja lang, apa kamu pantas berlaku seperti itu disaat anakku telah meninggal!" kecam Rima.


Bersambung🍂


***


Assalamu'alaikum Readers sayang, maaf upnya lama ya? semoga sabar menanti, kemarin anakku sempet masuk rs beberapa hari, maaf jadi telat up🙏🏻


Semoga gak bosan menunggu ya🤗


LIKE KOMEN RATE DAN GIFT🖤


BTW HAPPY NEW YEAR 2022, APA HARAPANMU? HARAPANKU SEMOGA NOVEL INI BISA DISUKAI BANYAK ORANG, DIBACA DILIKE, SIAPA TAU ADA YG MAU BANTU SHARE BIAR MAKIN NAIK POPULARITASNYA, SALAM SAYANG KAWAL SAMPAI 1M DAN LEVEL UP YA🤗


FOLLOW IG : EMMA_PESEKK


Bagi yang mau gabung gc, gedor saja ya saya aktif disana kalau gak sibuk🖤

__ADS_1


__ADS_2