
"Dev!"
Devano hanya bisa nyengir kuda, menanggapi Nora yang menatapnya dengan tatapan membunuh. Seolah meminta penjelasan dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Bara.
Lalu sejurus kemudian Nora memasang wajah kesal, kerena diamnya Devano tentu sudah menjadi jawaban baginya.
Setelah acara sakral pernikahan mereka usai, tentu masih ada acara pesta kecil di taman belakang rumah malam nanti, masih tersisa beberapa jam untuk Nora dan Devano istirahat.
Saat semua keluarga termasuk kedua orang tua Devano berbincang, Nora justru menarik tangan Devano paksa dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Langkah mereka terhenti saat melewati tempat dimana mereka berkumpul dan mengobrol, "Kalian istirahatlah di atas, pasti sangat lelah hari ini." ucap Shaka, "Nora, ajak Devano naik ke atas sayang, kasian." titah sang mama lembut.
"Tapi ingat ya Dev, masih sekolah harus ditahan dulu." peringat Bayu, dan itu berhasil membuat yang lain ikut terkekeh.
"Apa sih pa," sahut Devano sembari melirik Nora yang semakin menampilkan tatapan tajamnya.
"Kita ke kamar dulu, Pa, Ma, Oma, Opa." pamit Nora lalu menarik tangan Devano. Pun Devano yang hanya bisa pasrah.
"Sepertinya putriku terlalu agresif." ujar Shaka diiringi kekehan kecil.
"Dan Devano terlalu polos." sambung Kenia, sontak yang lain ikut tertawa.
**
Sampai di kamar, Nora menyodorkan bantal kepada Devano, "Tidur di sofa, ganti baju dulu." ujarnya melangkah lebih dulu ke ruang ganti.
"Ya Tuhan, kenapa dia cantik sekali kalo lagi marah." gumam Devano lalu membawa bantalnya ke sofa besar samping ranjang milik Nora, menaruh bantal dengan malas. Tapi setidaknya ia bersyukur karena ia dan Nora tidur di kamar yang sama.
Devano melepas jasnya, juga sepatu serta mengendorkan dasi lalu merebahkan diri.
"Jadi begini rasanya menikah," lagi ia bergumam pelan sembari menatap langit kamar.
"Devvvvvvvv!!!!!!" pekikan Nora berhasil membuatnya tersentak, "Iya tant," sahutnya gegas bangkit dan berjalan menghampiri ruang ganti.
"Bantuin buka baju dong." ujar Nora dari dalam sana.
Devano hendak masuk, namun ternyata pintu ruang ganti itu terkunci dari dalam.
"Gak bisa tant." sahut Devano dari luar.
"Ishhhh..." terdengar desis Nora kesal di dalam sana, "Buka pintunya, gimana aku bisa masuk, hmm!" ucap Devano.
Nora pun memutar kepala, benar saja pintunya ia kunci dari dalam. Segera ia memutar kunci dan membukanya.
"Masuk!" ucap Nora dingin, Melihat ekspresi Nora membuat Devano mendelik, "Ya Tuhan, buang aku ke rawa-rawa, punya istri ternyata galak sekali." Batinnya.
__ADS_1
"Apa, cepet bantu buka!"
Gegas Devano berpindah tempat di belakang punggung Nora.
Glek! ia menelan paksa ludahnya ketika melihat betapa menggodanya Nora dengan segala kesempurnaan yang ia punya.
Perlahan ia menurunkan resleting gaun indah itu, lagi ia dibuat mematung.
Sejurus kemudian memalingkan wajah dan menutup matanya.
"Tanteeee, mata suciku ternodai."
Dengan santai Nora mencibir lalu membalikkan badan, "Keluar sana, apa kau mau melihatku berganti baju disini." cibir Nora menahan senyum melihat tubuh Devano yang justru bergetar.
"Ck!" decak Nora saat Devano keluar sembari menutup mata, hingga tanpa sadar dahinya menatap pintu, sembari meringis bocah itu menatap Nora, "Gara-gara tante mesum nih." gerutunya memegangi dahi.
"Apa, hmm? aku kan cuma minta tolong, salah sendiri pake tutup mata, beruntung itu pintu nggak kenapa-napa." seloroh Nora.
"Ishhh, awas ya." ancam Devano, menaik turunkan alisnya.
Saat Nora kembali, Devano sudah mengganti kemejanya dengan baju yang lebih santai. Bahkan cowok yang kini sudah berubah status menjadi suaminya itu sudah merebahkan diri membelakanginya di sofa.
Hya, Dev memilih memiringkan tubuh menatap sofa untuk menghindari hal-hal yang mengganggu fikirannya, satu kamar bersama Nora bisa membuat ia bertraveling. Tidak untuk saat ini, lebih aman seperti ini.
"Jangan mimpi untuk menyentuhku." Oke dan mulai sekarang Devano akan menjadikan itu pegangan.
Nora merebahkan diri di ranjang kesayangannya, namun bukan tertidur ia malah terus memikirkan Devano, apa ia keterlaluan menyuruh Devano untuk tidur di sofa. Biar bagaimanapun, mereka kini sah menjadi suami istri baik di agama maupun negara.
"Tant," Nora melirik ke arah Devano, bocah itu sudah membalikkan badan dengan posisi menghadap dirinya. Tersenyum tipis dengan kaki meringkuk karena tubuhnya yang lebih panjang sofa.
"Tidurlah, biar nanti malem nggak ngantuk."
"Dev," bukan menjawab dari tadi, tapi sekarang Nora justru memangil namanya.
"Dev, kamu masih berhutang penjelasan padaku?"
"Dev!!!"
Hening, dan lagi matanya menangkap wajah tampan itu tertidur pulas.
***
Di waktu yang sama, Alan menyambangi rumah Karin. Ia tak ingin terus dihantui rasa bersalah, selain itu ia ingin menjadi laki- laki yang tanggung jawab akan perbuatannya.
"Kedatangan saya kemari, tak lain adalah melamar Karin untuk putra saya, Alan. Saya tahu, mungkin ini terlalu mendadak bu, terlebih Karin masih sekolah, tapi mereka sudah saling mengenal satu sama lain." ucap Carley sebagai ayah dari Alan.
__ADS_1
Karin mendelik, ia ingin lepas dari Alan tapi kenyataan justru menjebaknya semakin dalam.
Namun, egonya berfikir sekali lagi. Jika bukan Alan, apa masih ada laki-laki yang menerimanya?
"Maafkan atas perbuatan anak saya yang membawa pengaruh buruk untuk Karin, saya menyesal. Tapi izinkan mereka bersama, itu lebih baik untuk Alan, iyakan nak?" Carley melirik Alan sekilas. "I-iya, tante!" sahut Alan.
"Izinkan saya menikahi Karin, saya janji akan menjaganya dengan baik." ucap Alan bergetar.
Mama Karin bukan hanya terkejut dengan lamaran Alan yang tiba-tiba, melirik sekilas ke arah sang putri, dan dengan spontan Karin mengangguk.
Barulah ia mengulas senyum, "Iya nak Alan, tante percaya kamu bisa menjaga Karin. Tante sih terserah kalian, asal kalian saling mencintai. Sebagai orang tua tante hanya mau yang terbaik untuk Karin."
Deg!
Alan tertegun, namun gegas ia memasang senyum membalas.
Mengeluarkan kotak dan membukanya.
"Ini adalah cincin simbol pengikat tante, setelahnya saya akan segera mengurus pernikahan kami, iya kan sayang?" ucap Alan memberi kode kepada Karin agar gadis itu menurut saja dengan rencananya.
Dan hya, Karin hanya bisa mengangguk pasrah.
Sampai cincin itu terpasang di jari manisnya, ia masih enggan bicara.
Hanya seperlunya, dan kadang hanya menanggapi dengan anggukan dan senyum.
Bukankah senyum menutupi segalanya? Terlebih rasa sakit yang kini aku rasakan..
Saat dimana aku terjebak pada situasi yang sama sekali tak aku inginkan?
Inikah karma? ataukah ini akhir takdirku sesungguhnya, tapi kenapa harus kak Alan?
Saat aku berfikir untuk lepas dari jeratnya, Tuhan justru menghukum dengan mengikatku selamanya dalam hidupnya..
Aku mengerti sekarang, kenapa Devano mencintai wanita itu..
Karena wanita buruk sepertiku tidak pantas untuk laki-laki sebaik dirinya..
Kini resmi sudah mereka bertunangan, dengan cincin yang tersemat di jari manis keduanya sebagai tanda pengikat, bahwa mereka kini telah sama membuka hidup, entah dengan hati. Tak ada yang tau dengan hati Alan pun hati Karin.
Maaf untuk judul eps yang ala kadarnya, oke tinggalkan jejak dengan seikat bungaaaa š¤
Btw sebenarnya mau up besok, karena othor lagi mudik, tapi yaaa tetiba gabut melanda dan akhirnya senam jari di novel..
Berikan komen terbaikmuš
__ADS_1