TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - Restu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Leon bangun, ia tersenyum simpul menatap wajah bantal Qween yang masih terlelap nyaman. Ia mengusap lembut kepala gadisnya, tampak sekali jika Leon sangat menyayangi Qween.


"Makasih ratuku, karena kehadiranmu lah luka di hati ini berangsur pulih. Terima kasih karena telah menjadi bagian hati ini." bisik Leon lembut dan mendaratkan ciuman singkat di kening sebelum beranjak. Ia menyelimuti Qween lalu bangkit dari ranjang, melangkah keluar kamar menuju balkon. Langit masih gelap, karena jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Bekerja dengan Darren membuatnya terbiasa bangun pagi-pagi sekali, hal itu menjadi kebiasaan bagi Leon karena mau tak mau ia harus siap sedia saat dibutuhkan.


Fyuhhh...


Leon menghembuskan napas, memejamkan mata sembari merentangkan tangan. Hidupnya terasa bahagia dan penuh kelegaan.


"Hari merdeka, tentu saja harus dinikmati dengan baik," gumam Leon tersenyum sembari menatap langit yang masih nampak satu bintang disana.


Drtttt...


Bunyi ponsel membuyarkan lamunannya, dahi Leon seketika mengernyit heran karena satu nama. Ya, satu nama yang membuat hatinya pernah terjebak kesialan patah hati, satu nama yang membuat hatinya tak lagi utuh dan sempurna, satu nama yang pernah mengusik malam kelamnya. Siapa lagi kalau bukan Jesica.


"Hallo, siapa?" Suara datar Leon menyambut, meski sebenarnya saat ini hatinya berkecamuk hebat. Bagaimana tidak, mati-matian Leon berusaha move on kini dengan mudahnya gadis itu menghubungi kembali.


"Le... Leon." suara Jesica tampak bergetar. Leon memegangi dadanya pelan. Seharusnya ia tak perlu merasa iba hanya dengan mendengar suara gadis itu yang tampak bergetar ketakutan.


"Ada perlu apa Nona Jesica menghubungiku?" tanya Leon dingin.


Qween menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia terbangun saat merasakan kehadiran Leon tak lagi di sisinya kemudian memutuskan untuk mencari kekasihnya itu.


"Aku butuh bantuanmu?" Suara Jesica tampak lemah, jelas karena saat ini ia sedang terbaring di rumah sakit sekarang.


"Untuk?" tanya Leon sembari memijat pelipisnya, sementara Qween yang berusaha menguping harap-harap cemas.


"Baik, aku akan segera kesana." jawab Leon yang berhasil membuat Qween tersentak.


Sebelum Leon tahu, ia kembali naik ke atas ranjang menyelimuti diri dan pura-pura tidur.


Leon menghembuskan napas pelan kemudian kembali masuk, ia mendekat ke arah Qween yang tengah pura-pura tidur. Mengusap lembut kepalanya tuk kemudian mendaratkan kecupan di kening.


"Maaf sayang, aku harus pergi sebentar!" ucap Leon kemudian ia keluar dari kamar Qween.


🍁🍁🍁


Qween hanya bisa menatap tak berkedip dari balkon saat mobil hitam itu meninggalkan rumahnya. Jangankan berfikir hatinya patah, air matanya bahkan sudah tak terbendung lagi. Perasaan mellow yang kerap ia derita saat sendirian.

__ADS_1


"Le, rahasia apa yang kau sembunyikan dariku." Qween mengusap air matanya kasar, perasaan kecewa kadang mendominasi hati, mengacaukan pikiran dan membuatnya berfikir pendek.


Sementara di sebuah kamar, Resha menatap lembut Darren yang tertidur pulas di sampingnya. Wajah lelah tampak kentara, meski begitu Darren tetap terlihat tampan.


"Bangun, Derr." Resha menggoyangkan tubuh Darren.


"Heummt..." gumaman tak jelas Darren membuat Resha terkekeh pelan. Merasa lucu sekaligus menyenangkan mengganggu Darren sepagi ini.


"Bangun, Derr. Kalau bibi tau kamu disini bisa gawat," ucap Resha lagi mengguncang tubuh Darren lebih keras. Merasa tak ada pergerakan Resha akhirnya menyerah dan memilih bangkit tuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan diri. Berendam air hangat membuat kepalanya sedikit lebih baik, dan tenaganya berangsur pulih. Tapi bukankah ia memang sehat-sehat saja?


Resha keluar mengenakan dress santai. Kemudian melangkah menuju dapur. Disana tampak Nora sedang mencari sesuatu di kulkas.


"Sayang, bagaimana? apa sudah baikan?" sapa Nora lembut kemudian menghampiri Resha.


"Iya tante, maaf ya. Jadi merepotkan,"


"Tidak apa, sekarang biar tante yang masak. Kamu duduk aja ya." pinta Nora, Resha mengangguk.


"Maaf ya tante," ucap Resha merasa tak enak hati. Nora hanya menanggapinya dengan senyum.


Resha memperhatikan pergerakan ibu dari Darren. Beliau selain cantik juga sangat hebat di mata Resha. Tutur kata lembut, baik dan sangat penyayang membuat Resha semakin kagum akan sosoknya.


"Wah, kelihatan enak tante," ucap Resha yang menatap lezat masakan buatan Nora. Kemudian mulai mencicipi dan ternyata hasilnya memang luar biasa.


"Tante hebat," ucap Resha seraya mengacungkan dua jempolnya. Mereka kemudian dengan kompak membawanya ke meja makan.


Tak berselang lama, Devano keluar dan langsung memeluk Nora.


"Sayang, aku cari kemanapun ternyata sedang masak," ucap Devano yang tak menyadari keberadaan Resha dan langsung memeluk Nora begitu saja.


"Lepas, Dev. Malu ada Resha!" ucap Nora dengan pipi merona.


"Ehm maaf aku gak lihat kok, om, tante." Resha hendak pergi. Namun, Devano memintanya duduk.


"Res, om minta maaf jikalau pertanyaan om kemarin membuatmu tertekan. Terus terang kami bukan meragukanmu, hanya saja kami harus sedikit menguji kalian. Tapi om rasa..." Devano melirik ke arah Nora, lalu tersenyum.


"Apa om?"

__ADS_1


"Anak om sudah benar-benar tergila-gila padamu, jadi kami putuskan bahwa kamu lolos."


Resha bukan tak senang, ia hanya menahan diri agar tidak terlalu bahagia meski sebenarnya dalam hati sungguh ingin ber-euforia.


"Maaf om dan tante. Sebelumnya, apa tidak keberatan terlebih dengan statusku yang..." Resha menunduk, bagaimanapun ia cukup sadar diri. Tak akan setara jika dibandingkan dengan status sosial Darren.


"Tidak." jawab keduanya kompak. Resha tersenyum kemudian mengucapkan makasih tak henti-hentinya, hal itu semakin membuat Devano pun Nora bangga.


"Panggil Darren ya, kita sarapan bersama." Resha mengangguk, ia kembali ke kamar bermaksud untuk memanggil Darren.


Greppp!


Darren langsung memeluk erat Resha saat wanita itu masuk.


"Darimana? aku khawatir." bisik Darren disela pelukan.


"Apa sih, Derr?. Aku cuma masak sarapan pagi sama mama kamu." pekik Resha berusaha melepaskan diri.


"Morning kiss dulu," ucap Darren tersenyum.


Resha mencibir, bagaimana bisa laki-laki itu minta cium.


"Enggak ya," ucapnya melepaskan diri kemudian duduk di sisi ranjang. Resha melipat tangannya di dada dan menatap Darren datar.


"Duh galaknya calon istri." goda Darren tersenyum tipis.


"Aku cuma mau mengajakmu sarapan, itu karena permintaan tante Nora."


"Baiklah, jika kamu memaksa sayang." bisik Darren yang kemudian mencuri cium pipi Resha.


"Derr! Awas kamu." pekik Resha tak terima.


🍁🍁🍁


Sarapan pagi usai, Kini kedua orang tua Darren pamit pulang. Sementara Resha dan Darren menambah libur satu hari lagi sebelum balik ke Jakarta.


"Hati-hati, Tante, Om." Resha mencium punggung tangan kedua orang tua Darren.

__ADS_1


"Iya sayang, jangan lama-lama di sini ya." Nora melambaikan tangan kepada Resha juga Darren. Elin merasa tak enak hati ikut mobil Devano. Tapi bagaimana? ia harus ke Jakarta karena suatu hal penting.


"Bi El, hati-hati ya." Resha menatap sedih. Ia tahu, perasaan bibi El begitu terluka. Dan Resha hanya berharap semoga semua baik-baik saja.


__ADS_2