TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - Sah


__ADS_3

Darren menunduk dalam, di hadapan kedua orang tua yang sibuk dengan fikiran masing-masing. Nora beranjak mengambil sesuatu, minuman dingin untuk mencairkan suasana.


"Apa terjadi sesuatu hingga kamu memutuskan menikah secepat ini, bahkan dengan acara yang sangat sederhana." Suara bariton Devano.


Deg.


Darren tertegun, ia tak pernah menyangka jikalau sang ayah akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Maka jawabannya ia hanya bisa mengangguk jujur.


Bug.


Bug.


"Ayah tak pernah mengajari kamu jadi anak breng sek." Devano memukul wajah Darren dua kali, hingga membentuk lebam di pipi.


"Sayang, apa yang kamu lakukan." Nora buru-buru meletakkan minuman di atas meja dan berusaha menarik Devano yang mencengkram kuat lengan Darren.


Dengan kasar, Devano melepaskan cengkramannya hingga Darren terhempas. Ia sudah pasrah mau di apakan oleh sang ayah, mau dipukul, dihajar sampai hancur wajahnya juga tidak akan bisa mengembalikan keadaan.


"Maaf, Ma... Yah... Maafin Darren," ucap Darren terbata sambil meringis kesakitan.


Sebelumnya, ia mengantarkan Resha ke apartemen untuk tinggal disana. Selain nyaman, ia juga tak ingin jika Resha bertemu dengan mantan mertua dan iparnya.


Devano mengusap wajahnya frustasi.


"Kalian harus segera menikah minggu ini." tekan Devano.


"Kenapa, Yah? Jangan marah-marah. Darren anak kita." Nora mengusap lembut bahu Devano.


"Dia sudah melakukan hal yang sebenarnya belum pantas di lakukan. Pukulanku belum ada apa-apanya," ucap Devano meninggalkan ruang tamu.


"Apa yang kamu lakukan, Derr?" tanya Nora.


"Maaf, Ma. Maaf, tapi Darren sudah mengecewakan kalian. Ayah pantas melakukannya.


🍁🍁🍁


Kekecewaan kedua orang tuanya membuat Darren berfikir keras, hingga akhirnya dia sendiri yang mengatakan kepada bibi Elin perihal menikahi Resha.


"Asal aku tetap harus bekerja," ucap Resha mengajukan sebuah syarat.


"Tapi kalau kamu hamil, kamu harus berhenti."

__ADS_1


Kini dua insan itu tengah saling tatap dan menyepakati satu sama lain.


Resha mengangguk samar, lebih baik mengiyakan keputusan Darren.


"Aku antar kamu pulang untuk mempersiapkan segalanya, tunggu aku dan orang tuaku datang." tegas Darren, Resha pun mengangguk setuju.


Lagi pula, semenjak keluar dari rumah sakit Bibi Elin dan Jesica sudah kembali ke Bandung. Hal rumit lainnya, apakah Qween tidak akan marah jikalau ternyata saudara kembarnya menikah dengan sepupu Jesica. Mantan kekasih Leon.


🍁🍁🍁



Resha menatap diri di cermin, tubuhnya dibalut kebaya sederhana warna putih membuat bahu seputih su su miliknya terlihat dengan jelas. Setelah berfikir panjang, akhirnya ia menerima dengan lapang pernikahan yang di gelar amat sederhana di kampung halamannya, Bandung. Awalnya Resha begitu khawatir, tentang pengurusan surat, pernikahan yang menurutnya terlalu cepat dan satu ia bahkan tak sempat menata hati saat Darren dan orang tuanya memutuskan untuk menggelar ijab segera.


"Aku beneran menikah lagi, Mas. Aku juga cuma manusia biasa, tak selamanya akan hidup bersama bayangmu." gumaman Resha di depan cermin. Elin menepuk pelan pundaknya, Suaminya pulang dari kota untuk menikahkan keponakannya.


"Jesica gimana, Bi?"


"Jesica, dia titip salam sama kamu. Maafin Jesica ya Res, dia sangat menyesal tidak bisa hadir di pernikahan kamu. Namun, kamu juga tau ini demi kebaikanmu dan adik iparmu. Jesica memutuskan pergi agar tak lagi dianggap orang ketiga. Pacarnya mau bertanggung jawab dan bulan depan insyaallah bibi akan menikahkan mereka."


Resha mengangguk tersenyum, lantas memeluk bibinya dengan mata berkaca.


"Res, bibi nggak bisa ngasih apa-apa. Tapi bibi seneng kamu nikah lagi, aku baik-baik sama yang ini. Apalagi orang tuanya sayang banget sama kamu. Kelak, bibi doakan kamu tidak bertemu dengan mantan mertuamu lagi."


"Kamu juga anak bibi, meskipun tidak hadir dari rahim bibi."


Sekali lagi Resha memeluk Elin dengan erat, matanya berkaca. Namun, ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. Ijab qobul sebentar lagi, tak ingin memancing keingintauan orang-orang kenapa dia menangis.


Sementara di pelataran rumah yang telah disulap sederhana, Darren menunggu bersama kedua orang tuanya juga keluarga besarnya. Hanya kedua orang tua, kakek, nenek, Leon juga Qween.


Setelan jas putih melekat di tubuhnya, ia tampah gagah dengan senyum tipis tersungging di wajah.


Flash back on,


"Seminggu, cepet banget apa gak bisa biarin aku nyiapin banyak hal dulu." Resha yang mendengar keputusan Darren dan orang tuanya membelalakkan mata.


"Iya, keburu perutmu besar. Mau?"


"Astaga, Derr. Aku belum hamil." elak Resha, pipinya merona.


"Makanya aku gak mau keduluan sama anak kita, malu. Nanti dia tau kalau papanya breng sek."

__ADS_1


"Bukannya emang bener," ucap Resha.


"Enggaklah, yaudah ayo kita liat-liat kebaya. Kamu mau maskawin apa?" Pertanyaan itu lolos terlontar dari mulut Darren.


"Apa aja, jangan muluk-muluk."


Darren tersenyum mendengar penuturan Resha, lalu ia punya ide brilian untuk memberikan kedai miliknya kepada Resha.


"Kamu gak mau berlian, rumah atau mobil?" tanya Darren.


"Astaga, buat apa? aku punya rumah. Aku gak bisa pakai mobil, percuma." bohong Resha.


Meski tak memiliki, ia pernah beberapa kali mengemudikan mobil.


Flash back off.


🍁🍁🍁


"Saya terima nikah dan kawinnya Olivia Resha binti Suherman dengan maskawin seperangkat alat sholat, satu buah kedai dan uang 100 juta dibayar tunai."


Sahh????


"Sahhhhh." Teriak beberapa saksi tak tak bisa menyembunyikan keterkejutan tapi tetap berkata sah. Resha sendiri mengusap dada syok setelah mendengar Darren menyebutkan maskawin untuknya.


Ia harus merasa beruntung kah? Iya, Resha sangat beruntung menikah dengan Darren. Ia bukan perempuan penggila harta, tapi Darren memberikan banyak hal tanpa ia minta.


Acara pernikahan sederhana itu sangat hikmat. Hingga tibalah sesi akhir mereka. foto-foto!


"Selamat ya sayang, Maafin mama gak bisa didik anak mama yang nakal itu sampai harus nyakitin kamu." Nora memeluk erat wanita yang kini telah sah menjadi menantunya.


"Selamat ya nak, bahagia selalu. Dan ternyata Darren mengikuti jejak ayahnya ya, suka wanita yang lebih." Nara terkekeh, memeluk Resha juga Darren bergantian.


Ucapan selamat silih berganti, dan itu membuat Resha sangat bahagia pun dengan Darren yang mengharu.


Kini tinggalah keluarga kedua belah pihak.


"Terima kasih nak Darren dan keluarga karena mau menerima Resha menjadi bagian dari keluarga kalian, saya sangat beruntung. Sedari remaja gadis kecilku sudah ditinggal pergi kedua orang tuanya, pernikahan pertama juga tak berjalan dengan semestinya. Saya cuma bisa menggantungkan harapan kepada kalian tentang kehidupan Resha selanjutnya..." Alex mengusap sudut matanya yang berkaca.


"Kami sangat menerima kehadiran Resha, selain cantik dia juga berhati lembut, pantang bagi kami menilai seseorang berdasarkan status sosial." Pak Bayu membuka suara, memang benar kenyataannya sedari dulu ia tak pernah mempersulit Devano, dan kini Devano juga tak mempersulit anak-anaknya. Bayu sangat bangga.


"Iya, Resha cantik dan baik. Kami sangat-sangat menerima kehadirannya," ucap Nora dengan seulas senyum. Devano menggenggam tangan Nora dan hal itu memancing gelak tawa.

__ADS_1


"Darren, siap-siap kamu bakalan kalah mesra sama dua orangtuamu." Canda Nara yang merekam jejak putranya yang sudah berkepala empat itu.


__ADS_2