
"Aku bisa saja dengan mudah ngasih alamat Resha ke kamu..." Jessica menyilangkan tangan di dada.
"Tinggal kasih aja apa susahnya sih, Mbak?" Luna memutar bola mata malas.
"Oke," ucap Jesica, ia pun meminta kertas juga bolpoin pada Luna. Seringai tipis terbit di bibirnya. Tentu, Jesica bukan orang bodoh yang akan mengirim alamat sepupunya itu kepada Luna. Tapi, dia memberikan alamat mertua Resha.
Luna gegas pergi setelah mendapatkan alamatnya yang bahkan tanpa berucap terima kasih.
"Kamu senyum-senyum pasti merencanakan sesuatu, Jess?" tanya Noah menarik turunkan alisnya.
"Tentu tidak, aku tak sepicik dirimu." Jesica memiringkan senyum menatap kekasihnya. Tampak Noah berulang kali menghela napas.
"Ya, maaf. Tapi, aku waktu itu beneran gak berniat ninggalin kamu. Sudahi kesalah pahaman ini, kita akan segera menikah kan?"
"Ya, tapi kamu membunuh anakku, Noe."
"Apa kau pikir anak itu ada begitu saja tanpa adanya diriku, hey! dia juga anakku, aku sama sedihnya seperti dirimu terlebih aku belum sempat tahu keberadaannya."
"Ya ya, kamu benar! karena aku sempat berfikir kamu pergi, aku juga sempat membuat kekacauan di hubungan Leon dan kekasihnya."
"Kau memang pintar mengacaukan hidup orang," ujar Leon sambil mengacak rambut Jessica gemas.
"Hm, ayo kita pulang!"
***
Luna tersenyum sinis setelah mendapatkan alamat dari Jessica.
"Mbak Resha, aku pikir tidak ada salahnya kita bertemu dan berbagi nasib. Mau senang sendiri? enak saja. Setelah membuat mas Anton pergi malah menikahi pria kaya," gerutu Luna.
Sementara di rumah baru, Resha sedang mengatur tata letak barang-barangnya. Meski ada pembantu, tapi ia ingin membereskan kamarnya bersama Darren sendiri karena menurut Resha, ia masih mampu melakukannya dan bukankah hal itu adalah kewajiban seorang istri.
"Non, mau makan malam dengan apa?" tanya Bi Inah saat Resha menuruni tangga.
"Ehm, apa ya bik?" Resha malah balik bertanya, ia juga bingung. Darren sudah mulai bekerja hari ini, bukan karena tak ingin menikmati momen pengantin barunya dengan bulan madu. Hanya saja perusahaan sangat membutuhkan dirinya.
Resha pun tak mempermasalahkan hal itu, baginya yang terpenting ia sudah hidup nyaman bersama Darren sekarang. Tak ada lagi ocehan Ibu Rima, tak ada lagi tatapan sinis Luna dan sikap mas Anton yang tak ingin menyentuhnya dan selalu beralasan.
Akhirnya ia pun bergelut dengan dapur bersama bi Inah, menyiapkan berbagai hidangan untuk makan malamnya nanti bersama Darren, setelah selesai ia kembali naik ke atas untuk mandi.
"Hmm, nyamannya." Resha merebahkan diri sebentar di atas ranjang. Dering ponselnya berbunyi, membuat Resha segera meraihnya.
"Jes." Resha bergumam, lalu dengan cepat menggeser tombol hijau ke atas.
'Hallo, Jessi?'
'Hai, Pengantin baru apa aku mengganggumu?'
'Tentu tidak, kenapa? apa kau mau main ke rumahku?'
'Next time ya, aku juga pengen segera mengesahkan hubunganku dan Noah. Oh, ya sepertinya mantan ibu mertua dan adik iparmu tak akan berhenti, aku harap kamu berhati-hati.' ucap Jessica, di sambungan telepon. Ia pun menjelaskan jikalau tadi tak sengaja bertemu Luna, gadis itu mendesak alamat rumah Resha.
'Hah, benarkah? baiklah! aku akan berhati-hati. Tapi, bagaimana jika dia berbicara yang tidak-tidak dengan keluarga Darren?' Resha tampak khawatir. Namun, Jessica malah terkekeh mendengar ucapannya.
__ADS_1
'Keluarga Darren itu kaya, mereka tidak akan melakukan atau mempercayai hal bodoh tanpa menyelidikinya, lagian kamu kok jadi negatif thinking sih.'
'Tidak Jess, hanya saja aku takut.' lirih Resha.
Sambungan telepon terputus, kala tanpa sadar Darren sudah sampai di dalam kamar.
"Lho sudah pulang, Derr?" tanya Resha seraya meraih tas dari tangan Darren dan mencium tangan tersebut.
Bukan menjawab, Darren malah tertegun.
"Eh, iya. Aku rebahan bentar."
"Baiklah, aku mandi lebih dulu kemudian siapkan kamu air hangat." Resha berucap sambil berlalu.
"Fyuhhh..." Darren menghela napas, badannya terasa remuk karena hari ini ia harus mondar-mandir bertemu banyak clien penting.
Darren melepas jasnya, kemudian melonggarkan dasi dan membuka kancing teratas lalu merebahkan diri sejenak.
Lelah.
Resha keluar kamar mandi dengan pakaian lengkap, melihat Darren yang tertidur membuatnya tak tega untuk membangunkan. Perlahan Resha melepas sepatu yang masih melekat di kaki Darren kemudian membenarkan posisi tidurnya.
"Kasian, kamu pasti lelah." gumam Resha.
Tiba-tiba, tangannya ingin sekali mengusap rahang tegas itu.
Bukan ingin menggoda Darren, ia hanya penasaran lantaran, rahang tegas itulah yang membuat Darren sangat mempesona bukan hanya di matanya tapi juga di mata banyak wanita, mungkin!
Resha tersenyum geli, cambang tipis nyaris tak terlihat itu membuat dirinya tergoda untuk menyentuhnya.
"Sudah puas melihatnya?" tanya Darren menarik tangan Resha,
si empu terkejut seraya memalingkan wajahnya.
"Siapa? aku cuma mau bangunin kamu," elak Resha. Namun, hal itu tak bisa menutupi pipi putihnya yang sudah memerah.
"Benarkah, aku pikir sedang berinisiatif menggodaku!" Darren melepaskan tangan lalu membuka kancing baju, melirik Resha sekilas yang mematung.
"Bantu aku melepas dasi," Pinta Darren.
"Harus aku?" tanya Resha.
Kehidupan orang kaya, apa tidak berlebihan? untuk melepas dasi saja kenapa harus istri? Resha membatin, kemudian menggelengkan kepala.
"Tidak mau?" tanya Darren berhasil membuat Resha tersentak.
"M-mau kok," ucap Resha gugup, lalu tangannya perlahan melepaskan dasi Darren yang sudah longgar, kemudian membuka bajunya satu-persatu.
"Mandilah, aku akan siapkan air hangat yang baru."
"Hm, ya? tidak usah diganti! Airnya hanya sedikit lebih dingin," ujar Darren kemudian bangkit.
Resha tertegun, meski sudah berulang kali melihat Darren bertelanjang da da. Namun, ada rasa malu menangkup saat melihatnya dalam keadaan benar-benar sadar.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, Darren tersenyum. Ia memang tak benar-benar tidur meski matanya terpejam. Entah kenapa mengingat wajah Resha tadi membuat moodnya yang buruk karena kelelahan menjadi lebih baik.
"Apa seperti ini yang dirasakan ayah saat bersama mama?" batin Darren, ia kerap kali memergoki hal-hal sederhana yang menurutnya saat berlebihan. Tapi, bahkan dirinya yang belum tau ada rasa cinta mulai menghangat karena merasakan hal sederhana yang kedua orang tuanya rasakan.
"Kalau aku dan Resha beneran saling cinta, apa rasanya jauh lebih manis?" batin Darren lagi seraya merendam tubuhnya agar lebih rileks.
Setengah jam kemudian, ia keluar dengan handuk putih yang melilit tubuh bagian bawah. Di atas ranjang, sudah ada pakaian tersedia membuat Darren mengu lum senyum dan menghampiri istrinya.
"Makasih, Res!" ujarnya mengacak rambut Resha, istrinya itu sedang sibuk berselancar dengan ponselnya langsung mendongkak.
"Aaa...." teriak Resha menunduk.
"Kenapa harus teriak?" tanya Darren.
"Cepat pakai bajumu, Derr!" ujar Resha, bagaimana tidak berteriak. Ia sedang membaca novel online, berhalu tentang pria beroti sobek yang menggoda hingga Darren membuyarkan semuanya dan penampakan itu nyata di depan mata.
"Kamu masih malu-malu saja, bukannya sudah sering melihat," gerutu Darren yang malah memakai baju tanpa dosa di hadapan Resha.
"Aku reflek." alibi Resha.
Darren sudah selesai, ia mengajak Resha turun untuk makan malam.
"Seharian ngapain aja?" tanya Darren mengamit jemari lentik itu untuk menuruni tangga.
"Banyak," sahut Resha. Di bawah, bik Inah sudah menyiapkan makan malam hasil eksekusinya bersama Resha.
"Harum banget, kamu yang masak?"
"Iya, Derr. Sama bik Inah juga," ucap Resha ragu-ragu.
Darren tampak antusias, ia sangat suka sekali masakan rumahan.
"Hmm, enak!" gumamnya pelan saat memasukkan suapan ke mulut.
"Beneran?"
"Hya ini memang enak, rasanya sama persis dengan masakan mama. Kalian memang banyak memiliki kemiripan," ucap Darren.
Resha pun tersenyum lega, pun mulai makan bersama.
Menjelang tidur, da danya kembali berdebar hebat. Seperti remaja yang sedang jatuh cinta, Resha selalu merasa malu dan salah tingkah menghadapi sikap Darren. Kadang biasa, kadang terlihat seperti sosok yang sangat penyayang.
"Belum tidur?" tanya Darren setelah selesai berkutat dengan laptopnya.
Resha memang sudah merebahkan diri sedari tadi, tapi matanya enggan terpejam.
"Aku besok boleh kerja, ya?"
"Besok?" tanya Darren, Resha mengangguk.
"Boleh, tapi aku yang antar!" ujar Darren lagi.
"Sekarang tidurlah, hari pertama jangan sampai terlambat. Nanti bossmu marah!" perintah Darren meraih pinggang Resha agar mendekat.
__ADS_1
"Hei hei, sekarang aku yang jadi boss." protes Resha.