
"Zain," panggil Nora disaat hanya ada mereka berdua karena Devano langsung berangkat ke kampus tadi pagi. Pun Maura yang sedang berada di kamar. Kebetulan Zain sedang meliburkan diri hari ini, jadi Nora tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengorek informasi hubungan pernikahan saudara kembarnya. Jiwa keponya terus meronta jika belum mendengar dari bibir Zain ataupun Maura langsung, sementara jika ia bertanya pada Maura. Kemungkinan, kakak iparnya itu lebih memilih diam mengunci rapat mulutnya.
"Hm," Sahut Zain menarik turunkan alisnya, Nora menghela napas sejenak. Ia masih bingung mau memulai dari mana.
"Ikut aku ke belakang sebentar, aku mau curhat." Akhirnya Nora menemukan alasan yang cukup tepat, di raihnya tangan Zain dan ia seret menuju taman belakang rumah.
"Aku lagi galau, tau!" ucapnya mendramatisir dengan bibir mengerucut, Zain gemas sendiri melihat tingkah Nora. Baginya, ia tetaplah gadis kecil yang menggemaskan.
Nora berfikir sejenak, ia harus menemukan cara.
"Galau kenapa, hm? galau karena Devano ke kampus?" tebak Zain, tapi Nora justru menggeleng kuat-kuat.
"Zain apa kamu mencintai Maura?" tanyanya,
Deg! Jantung Zain langsung berdetak kencang mendengar nama Maura, satu nama yang saat ini mulai tersemat di hati.
"Kenapa tanya gitu?" heran Zain dengan alis mengkerut.
"Belakangan aku nggak bisa tidur kepikiran kalian, aku akan merasa bersalah banget kalau kalian menikah karena sama-sama terpaksa, lebih baik kalian jujur sama mama dan papa kalau enggak saling cinta." tutur Nora.
Namun, bukan itu yang menjadi titik fokus Zain. Tapi penuturan Nora perihal tak dapat tidur karena memikirkan ia dan Maura, benarkah?
Bukankah semalam ia begitu lelap dalam pelukan Devano, lantas Definisi tak bisa tidur itu yang seperti apa?
Zain tampak berfikir sejenak, "Baiklah aku akan jujur."
Nora tersentak, bukan itu maksud dari perkataannya, tapi ia ingin Zain mengaku jika dirinya mencintai Maura, tapi sepertinya Nora gagal.
Aku tahu, kamu sedang ingin mengujiku Nora, tapi untuk saat ini, aku tak ingin siapapun tau perasaanku untuk Maura kecuali Bara,batin Zain.
Ia kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah kecewa, benar-benar kecewa.
Nora menumpahkan segalanya dengan Devano, sementara suaminya hanya meringis bingung, mau bagaimana lagi perasaan memang tak bisa di paksa.
Meski begitu, ia bersikap biasa selama di rumah orang tuanya, membiarkan Zain dengan segala kerumitan rumah tangganya. Meski sebenarnya ia tak tahan melihat Maura menjadi sosok yang pendiam tak banyak bicara.
***
__ADS_1
Hari terakhir di rumah mama, Nora masih belum menemukan apapun. Ia menyerah, benar-benar menyerah. Mungkin memang ia sudah tak seharusnya ikut campur dalam rumah tangga Zain. Namun, tiba-tiba ketukan pintu membuat lamunannya tersentak.
Gegas ia membuka, awalnya Nora pikir itu Devano tapi ternyata Maura dengan wajah pucatnya.
"Heii, kenapa?" tanya Nora membibing Maura masuk kemudian menutup pintu.
Saudara iparnya itu langsung ambruk di pelukan Nora dengan segala isak tangis pilunya. Nora berkaca-kaca, hatinya mendadak sakit melihat keadaan Maura. Meski belum cerita, melihat keadaan Maura yang sedih membuat ia mulai menerka-nerka.
"Ra, cerita sama aku?" ia memeluk wanita yang kini sudah resmi menjadi iparnya itu.
"A-aku, apa salahku Nora, kenapa aku tidak pernah sedikit pun merasakan bahagia karena cinta." ucapnya dengan bibir bergetar.
Deg! Nora tertegun, mendengar itu, ia bisa menyimpulkan jika hubungan Maura dengan Zain sedang tidak baik-baik saja.
Nora menghibur Maura dengan mengajaknya keluar berdua, agar lebih nyaman untuk bercerita dan yang pasti Nora ingin sekali membuat mood dan suasana hati Maura kembali membaik. Sebelumnya, ia sudah meminta izin kepada Devano untuk jalan bersama Maura, Devano yang disibukkan dengan mata kuliah pun mengizinkannya.
Di kampus, Devano hendak bersiap untuk pulang. Namun, mendengar istrinya sedang keluar bersama iparnya. Ia kembali mengurungkan diri, dan memutuskan untuk singgah sebentar di rumah Alfin.
Mobil sport hitam itu melesat kencang menembus jalanan kota, tak butuh waktu lama Devano sudah sampai di depan rumah Alfin.
"Alfin ada, pak?" tanyanya kepada satpam, kepalanya melongok lewat kaca mobil yang sengaja ia buka.
Devano langsung melesatkan mobilnya menuju pelataran rumah Alfin.
"Widih papa muda." sambutnya penuh semangat kala melihat Devano turun dari mobil.
"Apa kabar calon pengantin." gurau Devano begitu Alfin menyambutnya, pemuda satu generasi dengannya itu hanya terkekeh pelan.
"Masuk dulu, kita ngopi." titahnya, yang diangguki kepala oleh Devano.
"Abiyan gak kesini." tanya Devano menatap sekeliling rumah Alfin yang tak kalah mewah.
Devano sendiri heran, lantaran Alfin memutuskan untuk kerja ketimbang kuliah.
Meski begitu, kedua orang tuanya pun tak melarang, malah orang tuanya ingin Alfin segera menikah seperti Devano agar punya teman untuk tinggal saat orang tuanya ke luar kota.
"Abiyan kan sekarang kerja di kantor lo sama Karin." ucap Alfin seketika membuat Devano tepuk jidat karena lupa.
__ADS_1
"Sorry gue lupa." Devano nyengir kuda, Alfij melempar sebungkus rokok ke arah Devano.
"Mumpung gak lagi sama bini kan," ujarnya nada mengejek.
Devano terkekeh pelan, "Bini gue baik tau." elaknya.
"Wih peningkatan nih, udah gak marah kalo lo ngrokok?" tanya Alfin, ia penasaran sebenarnya dengan kehidupan pernikahan sahabatnya itu.
"Bukan, bukan itu. Baik karena tiap malem gue dikasih." ucapnya sebelum meraih sebatang rokok dan menyulutnya dengan korek.
"Haisssh, lo cerita gituan ama gue." Alfin langsung melempar bantal kecilnya ke arah Devano.
Tawa konyol mengiringi keduanya, tadinya Alfin ingin ikut bekerja di Aldeva group. Tapi orang tuanya melarang dan meminta Alfin belajar mengurus bisnis orang tuanya agar kelak bisa melanjutkan.
"Tante kemana, Dev!" tanya Alfin, biasanya sahabatnya itu tak terpisahkan dengan istrinya.
"Jalan-jalan dia, game kuy!"
Alfin pun setuju, setelah memberi kabar Nora jika Devano telat pulang, kini keduanya berada di kamar Alfin untuk duel game.
**
Wanita selalu melampiaskan mood buruknya dengan belanja dan bersenang-senang, awalnya Nora cukup syok mendengar cerita Maura, ia pun sedih. Namun, ada satu hal yang membuatnya menahan senyum dan ingin segera bercerita dengan Devano. Bahwa rencana menjebak saudara kembar dan iparnya waktu itu benar-benar berhasil, mereka melakukannya!
Kini harapan Nora satu, ia sangat berharap jika Maura segera hamil dan sikap dingin Zain perlahan mulai mencair.
Nora dan Devano pulang bersamaan, meski kebetulan hal itu menandakan jika filling keduanya kuat.
"Habis dari mana aja?" tanyanya langsung mencium pucuk kepala sang istri hangat.
Nora hanya tersipu malu seraya mencubit pinggang suaminya, ia tak enak lantaran ada Maura disana.
Namun, satu yang membuat Nora gemas. Saat dimana Zain tiba-tiba menautkan jemari ke tangan Maura dan mengajaknya pergi dari hadapan Devano dan Nora.
***
Setelah melewati hari-hari di rumah Nora, kini Devano kembali ke rumah Aldeva.
__ADS_1
Mama Nara yang dilanda kerinduan pun langsung memeluk erat menantunya.
"Akhirnya anak mama pulang juga." sambut mama Nara, Dev hanya meringis. Kini kedudukannya sebagai anak kesayangan mama sudah tergeser oleh sang istri. Meski begitu, ia sangat bahagia karena Nora pun mamanya benar-benar saling menyayangi.