TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Hampir


__ADS_3

"Kamu, ngapain kamu kesini?" Nora beringsut menjauhi Alan. Melihat seringai di wajahnya sontak membuat Nora bergidik ngeri.


"Santai Nora, bukankah aku tidak pernah macam-macam padamu," Alan memiringkan senyum lalu melangkah mendekati Nora.


"Beberapa orang mungkin akan berhasil lari dari tindak kejahatan, tapi tidak semuanya. Satu kali orang itu lolos, maka selanjutnya sang musuh akan menyiapkan kejutan yang lebih seru." Sambil menyeringai lebar, Alan mengintari Nora dengan tangan dimasukkan saku celana. Nora sudah pucat pasi, namun ia bukan orang yang lemah.


"Kamu mau apa Alan, aku sudah tidak ada urusan denganmu." Elak Nora dengan bibir sudah bergetar, "Mauku? tentu saja memilikimu sayang. Apa kamu fikir, setelah om Shaka membatalkan perjodohan itu. Hidupmu akan tenang, tidak-tidak bahkan aku lebih semangat kali ini, oh ya ngomong-ngomong dimana berondong simpananmu itu, apa ia kamu pakai hanya untuk bersandiwara saja? Alan mendekatkan wajahnya, kali ini sekujur tubuh Nora sudah bergetar.


Nora bangkit memundurkan langkah, hingga punggungnya menatap tiang penyangga lampu taman.


"Tenang, sayang! Aku tidak akan jahat, kamu tinggal pilih, mau dengan cara kasar atau halus." Mendengar ucapan Alan membuat emosi Nora meningkat, dengan segenap tenaga ia maju dan mendorong tubuh Alan dengan sekuat tenaga saat pria itu lengah. "Ceh, jangan harap." umpat Nora, sebelum akhirnya ia lari, mencari perlindungan.


"Damn, jangan lari kamu, Nora. Sampai kapanpun, gak ada yang bisa menolakku." cerca Alan sembari mengejar Nora.


Napas Nora tersengal, ia merasa mobilnya terlalu jauh, terlebih Alan terus mengejarnya. Tubuhnya bergetar karena panik, sambil terus berlari sesekali melihat ke belakang, Alan benar-benar tidak menyerah untuk mengejarnya.


"Kak, ayo naik." Alfin menghentikan motornya saat melihat Nora berlari. Tanpa aba-aba, Nora gegas naik ke jok belakang motor Alfin tanpa bersuara. Ia bisa bernapas lega kala dirinya kini jauh dari jangkauan Alan. Alfin pun merasa Nora dalam bahaya hingga melajukan motornya lebih cepat.


"Sialan, kenapa bisa lolos sih," umpat Alan dengan wajah emosi menahan kesal. "Kamu lihat aja Nora, aku nggak akan menyerah," gumamnya dengan napas naik turun karena ngos-ngosan.


**


Sementara Alfin bingung, harus mengantarkan Nora kemana.

__ADS_1


"Kak, aku anter ke mana?" tanya Alfin saat mereka sudah di posisi aman, bahkan Alan tak mengejarnya. Tapi tetap, Nora saat ini sedang dalam bahaya jika bertemu dengan Alan.


"Eh, sorry-sorry, kita balik ke taman lagi aja gimana, Fin? mobil aku masih disana." ucap Nora, Alfin memelankan motornya, "Terlalu bahaya, bisa kemungkinan Alan masih disana, kak." ucapan Alfin barusan membuat Nora menghembuskan napas kasar.


Nora tampak berpikir sesaat, jika pulang ke rumah pastilah mamanya akan bertanya siapa Alfin, Jika ia bercerita tentang Alan yang mengganggunya, apa iya akan percaya? Sedang dimana papa Shaka, Alan adalah orang baik, meskipun papanya tak lagi menjodohkan ia dengan Alan, citra baiknya masih melekat kuat di keluarga Nora. Padahal sedari dulu Nora selalu bilang, jika Alan bukan pria baik-baik.


"Ke apartemen Devano aja, Fin!" putus Nora akhirnya, dan Alfin langsung mempercepat laju motornya menuju apartemen Devano.


***


"Aku nggak tau apa yang Karin rencanakan dengan Alan, bisa jadi suatu hari nanti mereka berniat jahat sama kak Nora, aku masih menyelidikinya, kak Nora jaga diri baik-baik, jangan sampai bepergian sendiri, bahaya!" ucap Alfin saat mereka sudah sampai di parkiran Apartemen.


"Serius, Fin? Karin itu siapa? kenapa dia kenal dengan Alan?"


Alfin pun pamit pergi, lantas Nora segera masuk ke apartemen.


Sampai di kamar, Nora langsung meraih ponsel dan menghubungi kedua orang tuanya jika malam ini, ia akan tidur di apartemen. Ia juga enggan menceritakan apa yang menimpa dirinya sore tadi. Nora juga sudah memberi kabar Devano, bahwa ia pulang ke apartemennya.


Sejenak merebahkan diri, sembari melihat pemandangan apartemennya. Lalu tanpa sadar matanya terpejam karena tubuhnya yang letih dan belum sempat istirahat.


Devano baru saja tiba di apartemen setelah mendapat telepon dari Alfin bahwa tante kesayangannya hampir dalam bahaya karena Alan. Lalu dengan segera menekan pasword pintu apartemennya, Devano menghembuskan napas lega kala melihat tas milik Nora tenggorok di meja tamu. Hening, Devano mencari keberadaan Nora ke seluruh sudut ruang dan nihil. Dev lalu mengetuk pelan pintu kamar Nora, namun tak ada jawaban. Mendesah pelan, lalu memilih duduk bersantai di balkon, sembari menikmati senja yang mulai memudar.


__ADS_1


Tiba-tiba ia terlintas ide, untuk menyulap balkon itu menjadi tempat yang menyenangkan malam nanti. Dengan cekatan Devano mulai mendekorasi simple sudut balkon itu, agar terlihat sedikit berkesan ketika ia mengajak tante Nora duduk disana.



Devano memang sekreatif itu, selain ia tipe cowok romantis ia juga tipe orang yang suka memberi kejutan. Gegas ia melangkah masuk ke dalam dan berusaha mengetuk pintu kamar Nora, saat ia tahu ternyata pintu terkunci dari dalam.


Sementara Nora menggeliat dari tidurnya, lalu tersadar dirinya masih memakai pakaian formal dan belum mandi selepas pulang dari kantor.


"Huaa, aku ketiduran, jam berapa ini!" sembari menguap ia berusaha mencari dimana ponselnya, niat awal untuk melihat jam beraa ini? padahal sudah terpampang di tembok terpasang jam dinding.


Dengan lincah tangannya mencroll layar ponselnya, menggerutu kesal karena Devano sama sekali tak menghubunginya.


"Ceh, bilangnya cinta? Khawatir aja enggak! Padahal aku hampir aja di ganggu sama Alan, apa dia perduli." lalu dengan kesal melempar ponselnya meski dalam mode pelan. Nora beringsut dari tempat tidur lalu memutuskan untuk segera mandi.


Cukup lama ia berada di dalam guyuran shower, merasa kepalanya mendadak pusing memikirkan Alan, bagaimana bisa tiba-tiba laki-laki itu berubah begitu terobsesi padanya. Mendadak bergidik ngeri, andai Alfin tidak datang tadi, mungkinkah hal buruk akan terjadi padanya? seketika menggelengkan kepalanya sambil terus bergumam tidak.


Nora keluar, dan segera mengganti pakaiannya, lalu mengeringkan rambut di depan cermin.


"Ya Tuhan, apa lebihnya diriku ? di dunia ini bahkan ada ribuan wanita cantik yang lebih dari diriku, tapi kenapa Alan seperti itu, tidak bisakah ia membiarkanku hidup tenang?" gumam Nora, lalu memoles tipis wajahnya dan hendak keluar kamar untuk memasak makan malam. Dan matanya membulat sempurna kala melihat balkon apartemennya sudah berubah menjadi nuansa romantis.


"Sudah bangun?" suara serak Devano membuatnya tersentak dari ketakjuban.


Oke sorry, jadi tadi malem enggak up, karena baru setengah ngetik aku ketiduran wkwkwk, oh ya judul episode kaga nyambung jadi maafkan wkwkwk, oke jangan lupa setangkai mawar agar author merasa dicintai πŸ˜‰πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2