
"Gimana, Bri?" tanya Willy kepada Briyan yang sibuk membaca buku, Briyan menghela napas sejenak,
"Santai, nggak sekarang. Gue masih berbaik hati buat ngebiarin dia ikut Ujian Nasional." kekeuhnya meskipun ragu.
Willy mendesah kecewa, "Gak seru dong," gerutunya.
Namun, Briyan masih bersikap santai. Ia memang menceritakan perihal Devano kepada Willy, akan tetapi tak meminta temannya itu ikut dalam rencananya.
"Jadi kapan?" tanya Willy lagi tak sabar.
"Gue cari waktu yang tepat." ucapnya lalu bangkit menghampiri meja Karin.
"Pagi, Kar." Sapa Briyan mengulas senyum, duduk di kursi depan meja Karin.
"Iya, pagi." sahutnya namun dengan wajah tanpa senyum.
"Dih, jutek amat neng! nanti siang ada waktu gak? Ada yang mau gue omongin." ajak Briyan.
Sorry, Bri. Gue pulang bareng Alfin." ucapnya menolak. Briyan mngeraskan rahang, lagi dan lagi ia kalah.
***
Saat istirahat ia berpapasan dengan Devano yang hendak melangkah keluar.
Briyan mengikuti kemana langkah kaki Devano, saat tahu Devano akan ke toilet Briyan semakin melebarkan senyum.
"Lo ngikutin gue." salaknya begitu tahu, Briyan mengikutinya sampai toilet.
"Kalo iya kenapa? haha."
Devano mengepalkan tangan hendak memukul Briyan, namun dengan cepat ditangkis oleh Briyan.
"Gak kena," serunya, Willy datang, melihat Devano dan Briyan bersitegang pun ia berinisiatif memegang tangan Devano dari belakang.
"Pukul, Bri." Serunya, dan Briyan dua kali memukul rahang Devano hingga membuat sudut bibirnya kembali luka.
"Aduh tante sakit, hiks hiks." sindir Briyan, dengan nada suara mengejek. Devano mengepalkan tangan, lalu membalas pukul Briyan. Beberapa siswa yang tak sengaja melihat turut heboh hingga memancing guru tahu perkelahian itu. Pun Alfin dan Abiyan yang langsung mengikuti Devano ke ruang BK. Namun, baru sampai pintu Pak Tarma sudah melotot tajam, mengisyaratkan agar ia dan Abiyan tak ikut campur.
***
Brakkkk!
Pak Tarma marah, melihat kelakuan dua orang siswa berprestasi di hadapannya saat ini, sementara bu Siska memijat pelipisnya pusing.
"Kalian ini apa-apaan, sudah besar bukan memberi contoh yang baik pada siswa lain malah main tonjok-tonjokan."
"Maaf pak." ucap Devano, menunduk, menahan perih sudut bibirnya.
"Kamu Briyan, kamu anggota OSIS. Kenapa gak bisa bersikap lebih baik, kenapa memukul Devano? Masalah itu buat diselesaikan, dengan kepala dingin bukan dengan adu pukul. Mau jadi jagoan kamu, hahh?" bentak pak Tarma.
__ADS_1
Ia berkata seperti itu karena luka di bibir Devano jauh lebih kentara, pun beberapa saksi bilang jika Briyan yang telah menyerang Devano lebih dulu.
Briyan hanya diam, lalu tangannya berangsur mengeluarkan ponsel. Menunjukkan sebuah video yang beberapa waktu lalu sempat ia rekam.
Pak Tarma diam dengan wajah merah padam, setelah melihat video di ponsel Briyan, video saat Devano dengan bahagianya mengusap lembut perut Nora. What the hell!
"Briyan, kamu keluar!" titahnya, "Ponsel saya pak?" tanya Briyan.
"Ish, saya pinjam dulu." ucapnya melotot tajam.
Sepeninggal Briyan, Pak Tarma meminta Devano duduk.
Bu Siska pun mendekat, dua Guru BK itu menatap Devano dengan tatapan mengintimidasi.
"Lihat ini, apa kamu bisa jelaskan?" tanya pak Tarma, mata Devano membulat, melihat video dirinya di ponsel milik Briyan, ia menunduk dalam-dalam. Bu Siska pun tak kalah terkejutnya, hingga memilih menutup rapat bibirnya.
"Apa ini, kelakuan siswa paling berprestasi di sekolah?" kecam pak Tarma membuat Devano pucat pasi.
"Saya hubungi orang tua kamu sekarang, sebelum semuanya runyam. Nanti akan kita rapatkan dengan kepala sekolah, keputusan berada di tangan beliau." Devano mengangguk.
"Sebelumnya saya minta maaf pak, video itu memang real nyata, s-saya jujur saya...." dengan bergetar ia berusaha untuk jujur, setelahnya terserah ia menyerahkan nasibnya sendiri, yang penting baginya jujur dulu. Namun, berkata jujur tak semudah rencana saat ia berulang kali berusaha bicara dan menjelaskan tentang kebenaran sebenarnya, mendadak suaranya tercekat di tenggorokan.
"Kamu apa? kamu mau bilang kalau kamu memang menghamili anak orang."
Duarrrr! Akhirnya yang Devano khawatirkan terjadi juga, meski ia sudah mewanti- wanti dan berusaha siap, ini baru permulaan. Belum lagi, jika papa dan mama tau Nora hamil, mau jadi apa dia nanti?
"Hallo pak, Bayu? saya Tarma, guru BK SMA Tunas Bangsa," Pak Tarma menghela napas sebelum bicara tentang Devano.
"Iya saya, ada apa dengan Devano? Apa anak saya berulah pak." suara papa Bayu, terdengar khawatir.
"Apa bapak tidak tau? anak bapak menghamili perempuan?" tanya pak Tarma, hati-hati.
Duar!
Bayu langsung terdiam di seberang sana.
"Maksud bapak, bagaimana bisa?"
"Apa bapak bisa ke Sekolah, nanti saya jelaskan."
"Baik pak, saya akan segera pulang."
Tut! telepon terputus.
Pak Tarma mengirim video dari ponsel milik Briyan ke ponselnya, lalu menghapus video yang ada di ponsel Briyan. Berharap, Briyan sama sekali belum menyebar luaskan video tersebut.
"Kamu balik ke kelas," titah pak Tarma dingin.
__ADS_1
"Tapi, boleh saya jelaskan kalau video itu saya..." Pak Tarma melambaikan tangannya ke atas.
"Besok saja, sekalian orang tuamu saya panggil untuk membicarakan hal ini dengan kepala sekolah, bagaimanapun kamu masih seorang siswa." desisnya kecewa.
"Bu, tolong antar Devano ke kelasnya, dan berikan ponsel ini ke Briyan." Titah pak Tarma, Bu Siska mengangguk, " Baik, pak!"
***
Ia berjalan menunduk, meskipun berulang kali bu Siska menepuk pelan pundaknya. Dev sempat berhenti dan menatap bu Siska, "Apa ibu percaya sama saya?" tanyanya, Bu Siska mengangguk.
"Apa kamu mau jujur sama ibu." tanyanya tulus.
"Dia istri saya bu," lirihnya, menunduk dalam-dalam.
"Sejak kapan?" tanya bu Siska lembut.
"Sudah hampir dua bulan, bu! Saya menikahinya karena sangat mencintainya, saya nggak ingin dia menikah dengan pria lain," Akunya tersenyum getir, ingat pertama kali berusaha membujuk tante Nora, ingat betapa berantakannya tante kesayangannya waktu itu, ingat akan siasat dan segala kegombalan hingga akhirnya menjebaknya pada kesialan yang manis. Menikah muda!
Bu Siska tersenyum, menanggapi kejujuran Devano. "Semua masalah pasti ada jalan, percayalah orang yang menyukaimu tidak peduli seberapa buruk dirimu, pun sebaliknya orang yang tak suka tak akan pernah cukup dengan segala kebaikanmu. Kamu anak yang baik dan pintar, ibu percaya kamu jujur."
"Makasih bu." ucapnya, mereka pun lanjut berjalan melewati koridor demi koridor.
"Selamat belajar, Dev! Semangat dan jangan menyerah. Ibu ke kelas Briyan dulu." ucap Bu Siska, Devano pun mengangguk dan masuk ke dalam kelas.
***
Wajah Briyan merah padam ketika mendapati video dalam ponselnya sudah di hapus. Ia bertekad akan menghadang Devano pulang sekolah bersama Willy, tak peduli dengan dua tameng sahabat Devano, Alfin dan Abiyan.
Sialnya ia lupa, jika Karin ada disana. Tanpa sadar membuat imagenya di diri Karin semakin buruk terlebih saat spontan ia memukul kembali Devano.
"Lo punya dendam apa sama gue." desis Devano sembari meringis.
"Karena lo, karena lo Karin jadi milih Alfin, paham! Dan karena lo juga Clara menjauhi Willy." Sinisnya.
Alfin dan Abiyan pun langsung maju dan membabi buta, memukul Willy pun dengan Briyan.
Karin dan Clara berusaha menghentikan, namun nihil. Alfin dan Abiyan berhasil membuat wajah keduanya lebam.
Hanya Devano yang mendapat luka, dengan cepat Alfin mengemudikan mobil milik Devano, meninggalkan motornya pun Abiyan di sekolah.
Mobil itu memasuki pelataran rumah Devano, dan dua gadis itu begitu takjub dengan rumah itu, Devano the real tampan bin tajir.
Dua sahabatnya itu merangkul pundak Devano, memasuki rumah. Pun Karin dan Clara yang mengekor di belakang.
Begitu sampai ruang tamu, mata Karin dan Clara pun membulat sempurna demi melihat foto pernikahan yang terpampang besar disana.
***Dear🥰
Big hug dari author buat kalian yang dengan sabar menanti update dan setia dukung karya TANTE KESAYANGAN TUAN MUDA, terima kasih banyak dan salam sayang.
__ADS_1
Maaf kalau kadang-kadang terhalang kendala di Real life, semoga kalian sehat selalu..
Like komen dan votenya ya akak sayang, miss u 😘***