TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - Kedua kali


__ADS_3

Pagi ini, Darren sudah bersiap dengan setelan kemeja putihnya. Sambil menunggu Resha mandi, ia mengecek laporan kantor lewat ponselnya, Leon memang bisa diandalkan. Pikir Darren.


Sekarang kekasih Qween itu lebih hati-hati bertindak, terlebih bukan cuma Darren tapi juga sang ayah pernah membuatnya babak belur.


Resha melongokkan kepala, sadar Darren masih berada di kamar pun ia merutuki kebodohannya karena lupa membawa pakaian ganti masuk ke dalam mandi. Keluar dengan handuk diatas lutut yang melilit tubuhnya, Resha harus menguatkan mental dan pura-pura cuek.


"Hmm," Darren berdehem, melirik istrinya yang mengendap-endap sambil berjinjit, aneh memang.


"Mau aku bantu?" tawar Darren yang sudah berdiri di belakang Resha dengan senyum seringai, tangan jailnya dengan pelan menarik sedikit ujung handuk hingga berhasil membuatnya jatuh melorot.


"Ya ampun," pekik Resha terbelalak dengan tingkah Darren.


Segera ia menunduk dan memungut handuk untuk menutupi tubuh polosnya.


Menoleh ke belakang dan menajamkan mata, Darren melipat tangan di dada dengan senyum seringai.


"Mau menggodaku sepagi ini kenapa mesti kabur?"


Resha menunduk, ingin kabur bahkan tangan Darren sudah lebih sigap mengunci pergerakan tubuhnya.


"Aku lupa bawa baju ganti, kamu bisa minggir dulu nggak?"


"Enggak, kamu sudah membangunkannya jadi harus bertanggung jawab." kekeh Darren.


"Derr, ini udah siang. Kita harus segera turun dan ke butik, hya kita harus ke butik kata mama tadi gak boleh telat."


Darren mengendurkan tangannya, "Mama ada bilang gitu, kapan ke kamar?"


"Eh, iya kemarin kan bilang gitu."


"Yaudah." Darren berubah lesu dan berjalan lemas ke arah sofa, membiarkan Resha mengganti pakaiannya. Sementara di ruang ganti, Resha yang sudah rapi dengan dress warna putih selutut senada dengan pakaian Darren menghela napas lega. Lantaran Darren tak jadi meminta haknya. Jujur saja Resha belum siap, akan tetapi ia merasa sangat berdosa.


"Ma, kita pamit, ya? kita sarapan di luar." Sepasang pengantin baru itu mencium tangan Nora bergantian. Devano dan Qween sudah berangkat ngantor pagi-pagi sekali.


Mobil Darren meninggalkan pelataran rumah, Resha menatap keluar jendela mengabaikan suaminya yang tampak murung, Resha merasa bersalah.


"Masih jauh, ya?" tanya Resha yang merasa mobil sedari tadi tak sampai-sampai ke butik.


"Kita sarapan dulu," ucap Darren, membelokkan mobilnya ke sebuah hotel. Resha semakin mengernyit.

__ADS_1


"Kok ke hotel?" tanya Resha, Darren menarik napas pelan, ia perlu pelepasan sebentar karena pagi-pagi Resha sudah mengujinya.


"Sebentar saja ya?" tanya Darren dengan mata sayu menggenggam tangan Resha.


"Janji hanya sebentar?" tanya Resha, ia merasa kasian melihat Darren yang seperti itu.


Darren mengangguk, tapi masih dengan wajah lesu karena yang di bawah sana sudah meronta sedari melihat tubuh polos Resha.


Mereka akhirnya berjalan menuju resepsionis hotel untuk memesan satu kamar.


"Kamu gugup?" tanya Darren seraya menautkan alisnya, Resha menggeleng lemah.


"Bagaimana butiknya?" Resha bukan mengkhawatirkan diri, ia mengkhawatirkan janji pertemuan dengan pemilik butik untuk urusan baju pengantin mereka.


Darren dan Resha berjalan menuju kamar yang sudah di pesan. Resha dibuat takjub ranjang king size dengan pemandangan Jakarta yang menakjubkan, ia lupa tujuan Darren mengajaknya kesini. Hingga tersadar saat lengan kekar itu langsung memeluknya erat dari belakang.


Resha merasa gugup, entah kenapa pelukan Darren membuat sekujur tubuhnya bak tersengat aliran listrik. Darren menciumi tiap inci leher jenjang milik Resha, tangan satunya sudah bergerilya kemana-mana.


"Derr..." mata Resha berubah sayu seiring sentuhan kecil yang telah menenggelamkannya pada gai rah yang menantang.


"Hmm."


"Lalu?" tanya Resha pura-pura tak mengerti.


"Lalu, itu hasil kamu menggodaku tadi pagi, aku kurang sabar bagaimana untuk menahannya sampai detik ini, hm?" Darren mendekatkan wajah, hembusan napas hangat menerpa. Resha yang merona memalingkan wajah. Namun, terlambat sudah. Darren menangkup kedua pipi tersebut dan mendaratkan ciuman.


"Boleh 'kan?"


Resha tak menjawab, akan tetapi respon tubuhnya berbeda dari sebelumnya.


"Kalau gak boleh aku gak mau maksa," ucap Darren.


"B-boleh k-kok," ucap Resha.


Lalu Darren dengan sigap merebahkan istrinya, meloloskan penghalang masing-masing. Resha terpana pada tubuh sispack Darren.


Keren, pikirnya.


Lamunannya terhenti kala menyadari tubuhnya dan Darren sama-sama polos, bahkan laki-laki itu sudah siap memposisikan dirinya.

__ADS_1


Insting kelakiannya bekerja dengan sempurna, Darren sudah menghujani Resha dengan ciuman. Lum atan kecil di bibir, Resha membalasnya dengan lembut membuat gai rah dalam dirinya semakin membabi buta. Darren tersenyum, matanya menatap sayu ke arah Resha yang terus merona. Darren memulai petualangannya dengan penuh percaya diri dan bangga. Resha miliknya, Resha sudah benar-benar menjadi milik Darren seutuhnya.


Ciuman Darren perlahan mulai turun, Resha sudah tak sanggup menahan suara. Dan itu yang membuat Darren semakin bersemangat, dalam satu hentakan ia berhasil menguasai tubuh Resha, membawanya membumbung tinggi pada nikmat dunia yang lena.


Darren tersenyum puas, Resha meringis untuk kedua kali masih sedikit terasa nyeri. Meski begitu, ia bangga bisa melakukannya dengan Darren, ia bangga karena pada akhirnya memberikan apa yang sudah menjadi hak suaminya. Hingga akhirnya, hentakan terakhir melemahkan penyatuan mereka. Darren memeluk erat Resha, menciumi puncak kepalanya dengan kecupan kecupan singkat.


"Makasih sayang," bisik Darren dengan senyum termanisnya, pertama kali dan sangat manis, pikir Resha.


Hingga senyum itu pudar seketika saat bunyi perut tak bisa bertoleransi.


Krukk!


Resha meringis, "Aku laper banget, Derr." keluhnya memegangi perut.


"Kita bebersih dulu, baru keluar mencari sarapan."


"Iya, tapi baju gantinya?"


Darren lantas menghubungi seseorang. Perkara baju bukanlah hal yang sulit untuknya, tak berselang lama orang suruhan Darren datang membawa dua buah paperbag.


"Makasih," ucap Darren diambang pintu kamar hotel.


"Siap tuan!"


Resha sudah selesai, ia meraih baju yang dibawakan oleh Darren. Bibirnya mengukir senyum, Darren memang luar biasa, ia bahkan membelikan satu set dalaman untuknya dan hal itu membuat Resha senang sekaligus terharu kala suami memperhatikan hal detail tanpa ia minta. Darren yang luar biasa!


"Sudah selesai, tunggu aku beberapa menit." titahnyq mencium kening Resha dan berlalu ke kamar mandi. Tak berselang lama, Darren keluar. Kini keduanya hendak pergi mencari sarapan, baju semula ia masukkan ke dalam paperbag. Mereka akan langsung ke butik setelahnya.


Brukkk!


Seseorang tanpa sengaja menabrak bahu Resha hingga hampir membuatnya hilang keseimbangan.


"Kamu gak papa, Sayang?" tanya Darren yang langsung menangkap tubuh Resha.


"Enggak papa kok."


"Ohhh, jadi bener kan? Mbak Resha itu memang dari awal sudah selingkuh dari Mas Anton?" Luna menatap tajam mantan kakak iparnya, awalnya Luna tak ingin merusuh. Ia hanya ingin membuat Resha terjatuh. Namun, saat mendengar pria disamping Resha memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'. Luna menjadi emosi.


🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2