
Resha berlari, meninggalkan Reyhan. Kehadiran pria itu selalu berhasil memporak-porandakan hatinya. Luka lama yang berusaha ia kubur dalam-dalam menguar bersama tangis bak gerimis yang berjatuhan.
Secara spontan air mata itu menetes, membasahi pipi terus menerus.
Ia berhenti di ujung taman, di kursi bawah pohon kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan, menunduk dan terisak.
Tak bisakah takdir membiarkan dia tenang, bahagia tanpa adanya orang-orang di masa lalu yang telah menorehkan luka. Luka yang membuatnya tanpa pertimbangan memutuskan menikah dengan Anton. Dan kini, kepergian Anton, segala amarah ibu mertua dan adik ipar membuatnya tak habis fikir. Sampai kapan takdir akan terus menerus mempermainkannya?
Izinkan aku merasakan apa itu bahagia, apa itu dicintai, apa itu dispesialkan...
Izinkan aku merasakan kedamaian hidup sebentar saja, izinkan aku bisa menikmati bahagiaku sendiri, izinkan aku memilih...
Tuhan, tak bisakah aku hidup lebih baik lagi?
πππ
"Bahkan jika kamu menangis, dia tidak akan pernah kembali bahkan untuk sekedar menghapus air matamu."
Kata-kata Darren di pemakaman waktu itu membuatnya berhenti dan merenung.
"Hapus air matamu pakai ini," Ucap Darren sembari menyodorkan sapu tangan ke arah Resha.
Namun, bukan berhenti kini Resha justru semakin terisak keras.
Darren kelabakan, ia baru kali ini menghadapi wanita yang rumit. Bukan, bukan wanita yang rumit tapi percintaan yang rumit dan dia ada diantaranya. Darren duduk di sisi Resha, lembut mengusap pundak yang bergetar dengan isak tangis. Hatinya mencelos dan entah kenapa ia bisa merasakan sakit yang Resha rasakan.
"Ada aku," Darren merutuki mulutnya yang berkata spontan, ingin sekali menarik lagi kata-kata itu.
"Res, sudah." Dan sepertinya Resha sudah mulai menyadari keadaan dimana ada Darren di sisinya.
"Maaf," ucap Resha merasa bersalah. Darren mengangguk, sama sekali tak memaksa Resha untuk segera keluar dari lingkar masa lalu. Bagaimanapun, ini sudah menjadi bagian dari takdir.
"Astaga, kita harus segera ke supermarket. Bahan di kulkas habis, Derr." Resha menyadari sesuatu dan langsung berdiri, menarik segera tangan Darren karena mereka harus belanja.
"Iya, kita ke mall saja."
"Di mall? Mana mungkin? Disana serba mahal." protes Resha, Darren hanya menarik turunkan alisnya.
"Tak masalah, karena aku mau mencari sesuatu."
***
Keduanya berjalan beriringan, hingga tanpa sadar jemari mereka saling bertaut saat berjalan menuju parkiran dimana mobil milik Darren berada.
__ADS_1
"Silahkan, Nona!" Darren membukakan pintu meski terlihat kaku, senyum tipisnya terlihat sangat manis.
"Makasih, Derr!"
Lambat laun sikap Darren benar membuatnya sangat nyaman.
"Derr," Resha memberanikan diri.
"Iya, Sayang." Membuatnya lagi dan lagi bersemu merah hanya karena Darren memanggilnya dengan kata sayang.
πππ
Ada banyak hal tentang masa lalu yang bisa jadi pelajaran, tentang siapa aku? Tentang bagaimana statusku? Cukupkah aku tau diri, atau tentang bagaimana cara kita menerima setiap hal yang bukan keinginan kita, menjadi pilihanmu salah satunya.
Tidak perduli, bagaimana porak porandanya hati.
"Res, lihat ini. Bagus tidak?" tunjuk Darren pada kalung berliontin hati dengan berlian kecil ditengahnya.
Resha mendekat, "untuk apa, Derr?"
"Untuk kekasihku," jawab Darren yang mampu menelisik hati Resha, dan entah kenapa ada rasa sesak dan sakit mendominasi tiba-tiba.
"Oh, bagus. Apapun pilihanmu pasti bagus."
"Derr kapan kita belanja bahan?" tanya Resha setelah mereka pergi dari gerai perhiasan. Darren membeli satu set untuk Resha. Namun, yang ada dalam pikiran Resha adalah Darren memiliki kekasih sungguhan, toh dia pun tidak mungkin karena Resha cukup sadar kondisi dan posisi.
"Baiklah kita ke market sekarang?" ucap Darren. Mereka pun membeli beberapa bahan makanan selama Darren tinggal, Resha beruntung ada tabungan yang ia tinggal di Bandung.
"Biar aku yang bayar," ucap Resha menyela.
"Aku saja sekalian."
"Tidak bisa, Derr! Itu aku yang belanja."
"Res, jangan kekanakan. Biar aku sekalian, lagi pula kamu itu calon istriku," tegas Darren penuh tekanan saat menyebut calon istri.
"Calon istri? apa aku akan bahagia hanya kamu mengucapkan kata itu?"
"Res apa maksudmu?" tanya balik Darren. Resha menatap sinis, tak peduli beberapa pasang mata memperhatikan mereka yang berdebat di area antrian kasir.
"Derr, berhenti bersandiwara. Aku paham, aku ngerti kalau kamu punya pacar. Kita tidak bisa terus menerus seperti ini, aku tidak ingin semua berjalan semakin rumit."
Darren memijat pelipisnya, "Pacar katamu?"
__ADS_1
"Iya,"
"Res, di dunia ini selain mamaku dan Qween. Kamu wanita terdekat yang ada di sisi. Apa masih berfikir aku punya pacar, bahkan kalau iya untuk apa aku repot-repot disini, untuk apa aku membelamu di depan mertua dan adik ipar, untuk apa?"
Deg
Resha tertegun, perkataan Darren langsung mengenai hati. Resha tak pernah menyangka jika Darren menganggap dirinya serius.
"Aku bukan wanita yang sempurna, Derr!" Resha tersenyum getir. Banyak mata yang memperhatikan mereka hingga saat Darren berjongkok, membuat semua orang di sekitar bersorak.
"Aku tau, bukankah tak ada manusia sempurna di dunia ini? jadi maukah kamu, melengkapi bagian sisi cacatku dan menemaniku hingga tua?" tanya Darren menggenggam jemari Resha dengan sorot mata penuh harapan.
"Terima.. Terima... Terima..." teriakan itu menggema, Darren lupa jikalau mereka saat ini sedang mengantri bayar belanja di maeket mall.
"Maaf semua, sudah meresahkan." Darren mengatupkan tangan ke arah mereka semua dan menunduk sopan, lalu menarik Resha san segera membayar serta pergi segera dari tempat itu.
Hosh hosh... Napas mereka memburu lalu tergelak bersama saat sudah sampai di parkiran.
"Jadi diterima ni, mas?" ucapan seseorang yang baru saja lewat di samping mereka, dan berhasil memancing kembali gelak tawa keduanya.
"aiyaa, hehe."
Mereka pun masuk ke dalam mobil, tuk kemudian melesat pulang ke rumah.
Di dalam perjalanan mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, Resha yang merona karena tingkah Darren begitupun sebaliknya. Darren tak pernah menyangka, jika akan melakukan hal sekonyol itu untuk Resha. Semua yang terjadi spontan dan di luar kendali. Seolah memang hatinya tergerak begitu saja bersama naluri.
Alis Darren mengkerut saat melihat sebuah mobil yang sangat familiar di depan rumah Resha.
"Bukankah itu mobil Ayah, kenapa ada disini?" batin Darren bertanya-tanya, terlebih rumah Resha terlihat terbuka pintunya membuat Darren berfikir.
"Ada tamu sepertinya, Derr!" ucap Reshanyang belum menyadari bahwa di depan mereka adalah mobil orang tua Darren.
"Tapi siapa ya?" Resha bertanya-tanya dan penasaran.
"Kita turun kalau begitu," ajak Darren, sembari membawakan barang belanjaan.
Elin tampak gusar, berulang kali menoleh ke arah pintu menunggu kedatangan Resha dan Darren.
"Maaf ya, Pak. Tapi mereka beneran keluar tadi."
"Tidak apa, jeng. Kita bisa menunggu."
Elin bernapas lega kala melihat deru mobil berhenti.
__ADS_1
"Mereka sudah datang, Bu."