TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - Di luar kendali


__ADS_3

Darren melihat meja makan, disana terdapat beberapa masakan.


"Apa Qween masak?" batinnya yang kemudian menatap ke arah Resha.


"Sini makan dulu, biar pikiran-pikiran burukmu itu hilang." Perintah Darren yang seketika membuat Resha menekuk bibirnya.


"Aku sehat, aku baik-baik saja." Resha meraih kursi samping Darren kemudian duduk. Membuka piring yang tersiap kemudian mengambilkan sesuatu untuk Darren.


"Nah gitu, calon istri yang baik." puji Darren dengan senyum manis. Resha hanya diam, ia tak mau terlena akan pujian manis Darren yang bisa-bisa membuatnya terbang ke awan.


Grep, Darren menarik tubuhResha hingga jatuh ke dalam pangkuan. Bersama dengan itu, Leon dan Qween masuk dan membelalak demi melihat adegan di depan mata.


"Kalian mau ngapain?" tanya Qween, Resha langsung bangkit dan mengubah posisi, sementara Leon berusaha menahan tawa.


"Sudah baikan?" bukan menjawab, Darren malah berbalik tanya dan menatap Leon dan Qween bergantian. Leon mengangguk sementara Qween menggeleng.


"Gimana sih? gak kompak banget jawabannya. Gak kaya kita, iya kan sayang?" Darren melirik ke arah Resha, hingga berhasil memancing rona merah tercetak di pipi.


"Mau cari yang lain aja, Derr." Jawab cuek Qween langsung duduk. Leon menekuk wajahnya lalu menyusul.


"Bee, kok gitu." Protesnya tak terima.


"Habis kamu plin plan, bilangnya udah tersakiti bla bla bla. Nyatanya apa? baru di telpon udah ngegas kesana. Gimana kalau dia menikah terus calon suaminya kabur, apa kamu juga bakal datang buat gantiin." keluh Qween mengeluarkan unek-uneknya.


Darren menggelengkan kepala melihat perdebatan mereka sementara Resha memilih diam dan enggan ikut campur.


"Makan dulu aja," ucap Resha lantaran ia Darren sudah mengambil makanan di piring.


"Bee, ambilin." Leon menyodorkan piring saat Qween akan mengambil nasi.


"Iya!" jawabnya cuek, meski cuek ia tetap mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Leon.


"Bee, kalau cemburu cantik banget." gombal Leon yang langsung mendapat pelototan dari Darren.


"Kalian mau makan apa mau ngebucin."


"Ampun kakak ipar."


***

__ADS_1


Malamnya, Darren tak dapat memejamkan mata. Tidur sekamar dengan Leon membuatnya tersiksa. Bagaimana lagi? ranjang ukuran king size itu sudah berhasil dikuasai.


"Dih menyebalkan, mana tidurnya pules kaya orang koid." Darren menggerutu, lantas keluar dari kamar villa dan menuju balkon.


Menyulut sebatang rokok sambil menatap hamparan laut dan ombak besar di malam hari. Udara dingin terasa sangat menusuk, andai Resha berada di sini menemaninya.


Darren melangkah turun. Menemui satpam barangkali mempunyai minuman yang bisa menghangatkan tubuhnya.


"Ada tuan, tapi yang ini keras. Kalau banyak bisa mabuk." Darren mengerti, ia mengangguk lantas membawa minuman itu ke lantai atas.


"Derr!"


Darren menoleh, mendapati Resha berjalan ke arahnya dengan baju tidur. Hya, Darren sudah mempersiapkan semuanya termasuk perlengkapan Resha. Ia juga sudah mengabari orang tuanya tentang keberadaan Qween dan memutuskan tinggal beberapa hari di villa, berempat.


"Kamu, mau kemana? Lekas tidur." bisik Darren saat mereka sudah dekat. Ia sempatkan mengusap kepala Resha pelan, menyibak anak rambut yang menutupi dahi dan mendaratkan ciuman pengantar tidur disana.


"Adakah kamar lain, aku tidak bisa tidur dengan Qween, maaf." Resha menunduk, ia merasa tak enak hati mengatakan hal itu kepada Darren.


Masih ada satu kamar lagi di villa itu, ya tapi sebenarnya akan Darren gunakan untuk tidur karena ia pun tak bisa tidur bersama Leon.


"Ikut aku," ucap Darren akhirnya menarik tangan Resha, menuntun wanita itu ke sebuah kamar.


Resha mengangguk, namun saat hendak naik ke kasur ia tertegun akan Darren yang berada di balkon kamar sambil membawa sebotol minuman.


Rasa hangat menjalar di tenggorokan, sensasi minum wine ditengah kesunyian dan ketenangan. Namun, ia seolah lupa ada Resha yang terus memperhatikannya dari dalam.


"Derr, kamu mabuk?" Resha menghampiri dan meraih botol minuman itu. Terdiam saat Darren justru meraih tubuhnya hingga jatuh ke dalam pangkuan. Resha membelalak sempurna saat dengan liarnya Darren mencium bibirnya.


Meski bukan pertama kali Resha berciuman, tapi ia sangat terkejut dengan perlakuan Darren yang tiba-tiba menyerangnya, hingga ia tak cukup tenaga untuk melepaskan diri.


"Derr, stopp!" lirih Resha, matanya sudah hampir basah saat menyadari Darren hilang kendali.


Sial.


Darren mengumpat, pandangan matanya berkabut menahan sesuatu yang terus memberontak di bawah sana.


Tanpa memberikan pilihan ia menggendong tubuh Resha yang terus memberontak dan menghempaskannya di atas ranjang.


"Derr, jangan kumohon." Lirih Resha, namun Darren tak menggubris, ia tak bisa mengendalikan diri saat berdekatan dengan Resha.

__ADS_1


Tanpa persetujuan si empu, Darren mengunci tubuh Resha mengabsen setiap inci kemolekan tubuh seputih su su itu.


"Derr, jangan."


"Kenapa, hmm." Darren menciumi seluruh wajah Resha.


"Aku tidak bisa, Derr. Jangan seperti ini."


Tenaga Darren yang kuat nyatanya mampu memporak porandakan pertahanannya. Dengan sigap ia merobek pakaian yang menjadi satu-satunya penghalang lantas tertegun saat sesuatu yang indah terpampang nyata.


Petualangan pun dimulai. Darren menelusuri setiap inci dari lekuk tubuh itu, sementara Resha sudah berderai air mata dengan memalingkan wajahnya tanpa menatap ke arah Darren.


Darren sudah dikuasai ga irah. Terus menerus mengumpat kala dua fikiran berkecamuk di kepala. Ia menanggalkan pakaian hingga dua tubuh polos itu bertemu.


"Maaf aku tidak bisa menahannya," gumam Darren saat sesuatu tajam berusaha menerobos bagian tubuh Resha. Darren menegang, bukankah Resha sudah menikah?


Ia mengernyit heran saat merasa ga irah diujung tanduk akan tetapi begitu kesusahan menebus gawang.


Hingga hentakan terakhir berhasil membuat tangis Resha semakin menjadi.


Darren merengkuhnya dalam pelukan. Namun, pukulan kecil harus berulang kali ia terima.


"Kamu jahat, Derr. Kamu jahat."


"Res, kamu masih perawan." Gumam Darren, tanya tanya besar di kepala. Namun, disisi lain ia juga bahagia karena Resha ternyata sosok yang sangat spesial.


"Maafkan aku, Res. Kamu boleh membenciku, tapi jangan pernah berfikir untuk pergi dari sisiku." Darren terpejam, ini di luar kendalinya.


Resha begitu terpukul, ia merasa kotor saat belum pernah memberikan kehormatannya kepada suami tapi kini justru terampas oleh sosok yang belum menjadi muhrimnya. Sungguh kenyataan yang memilukan.


🍁🍁🍁


Pagi hari sekali, Resha terbangun. Ia memunggut pakaiannya yang tenggorok di lantai. Rasa nyeri di bagian inti tak ia hiraukan. Berjalan ke kamar mandi terseok-seok untuk membersihkan diri. Saat keluar, tubuhnya jauh lebih baik. Dipandanginya Darren yang masih terlelap. Rasa kecewa mendominasi fikirannya, terlebih saat melihat bercak merah yang tercetak di sprei tempat mereka semalam melakukannya. Resha membenarkan selimut Darren lantas pergi meninggalkan kamar itu sebelum Qween ataupun Leon menyadari jika semalam ia dan Darren tak ada di dalam kamar.


Bersambung🍁


Like komennya kak, sekalian gift votenya jika berkenan🥰


Salam sayang🤗

__ADS_1


__ADS_2