TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Prepare


__ADS_3

Nora Lee masih terlelap bersama mimpi saat sorot sinar matahari pagi, hangat menerobos celah-celah jendela, gadis itu masih enggan membuka mata padahal hari ini, adalah hari dimana persiapan pernikahan dilakukan. Tak terasa tinggal menunggu 24 jam menuju pernikahannya. Rasanya ingin terus tertidur, dan melewatkan hari pernikahannya begitu saja. Ponselnya berulang kali berdering di atas nakas, namun sepertinya ia memilih memejamkan mata menikmati istirahatnya.


"Sayang bangun, Nak?" suara ketukan pintu diluar kamar, Kenia berulang kali mengetuk pintu namun hening tak ada sahutan. Padahal pagi ini, rumah Shaka sudah kedatangan orang-orang yang akan mendekor ruang dan pelataran rumah untuk acara pernikahan besok.


Merasa tak ada sahutan, Kenia memilih turun. Mungkin saja Nora masih tidur pulas, sampai di bawah matanya membulat sempurna. Sepagi ini rumahnya sudah ramai banyak orang.


"Permisi Nyonya, kami dari pihak WO akan menghias rumah anda mulai pagi ini, pak Bayu langsung yang memerintahkan kami." ucapnya, lalu menunduk memberi hormat.


"Oh, mari silahkan." Kenia pun mempersilahkan mereka untuk melakukan pekerjaannya.


Gegas ia kembali lagi ke atas dan membangunkan Nora.


Belum sempat mengetuk pintu, Nora sudah lebih dulu keluar, tentunya dengan wajah masih kumal sebangun tidur.


"Ma, ada apa?" tanya Nora yang heran saat mamanya menghampiri dengan napas terengah.


"Orang-orang sudah datang, tadi mama bangunin kamu tapi kayaknya masih tidur. Mandi sana sayang, masa calon pengantin jam segini belum mandi."


"Yah mama, baru juga melupa udah diingetin lagi." gerutu Nora dengan bibir mengerucut, "Yaudah, aku mandi." membalikkan badan dan kembali masuk ke dalam kamar.


Kenia menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya, "Kenapa aku merasa Nora tak begitu semangat, bukankah ia sendiri yang bersikukuh ingin menikah dengan Devano." mata Kenia memicing curiga namun buru-buru ia menampik fikiran negatifnya.


"Dimana Nora? calon pengantin jam segini belum bangun, mau bagaimana ia mengurus suami nanti." omel Wina lebih kepada Kenia, "Sudahlah Win, anak muda sekarang begitu, toh lagi pula kan ada pembantu nanti, menikah itu menyatukan dua hati bukan perkara bisa mengurus tidaknya." sanggah Dina yang sedikit tak terima dengan ucapan Wina.


Kenia yang mendengar pembelaan mama Dina untuk putrinya pun memilih menahan senyum, ketimbang meladeni mamanya yang mungkin akan berujung perdebatan.


Nora turun, dengan langkah gotainya ia sampai bawah dan melihat rumah bagian depan yang sedang di dekorasi, menghela napas dan membuangnya kasar.


"Jadi aku beneran menikah besok?" gumamnya dengan tubuh lemas meski sudah mandi.


***


Sementara Devano, ia tengah membantu sang mama menyiapkan segala seserahan yang akan dibawa besok. Hya, besok pagi-pagi sekali Devano harus sudah sampai di rumah tante Nora, sedangkan pihak keluarga menyusul.


"Kalau sudah menikah, gak boleh bersikap kekanakan, ingat Dev! Nora itu lebih tua dari kamu, jika tidak bisa mengimbangi sikap dewasanya, paling tidak kamu harus bisa menjaga diri dan berusaha untuk tidak membuatnya kesal sayang." Sang mama memberikan wejangan, Devano pun menanggapinya dengan anggukan kepala.


"Setelah kalian menikah, mama dan papa akan ke luar negeri. Sementara Aldeva, biar orang kepercayaan papa dan Nora yang mengurus. Kamu cukup fokus sekolah sampai ujian tiba." ujar sang mama, dan Devano lagi-lagi mengangguk.


Sebenarnya bukan itu yang mengganggu fikiran Devano, tapi lebih kejadian dimana ia akan dijebak Alan kemarin.

__ADS_1


Kalau saja Devano terlalu polos, mungkin akan dengan mudah masuk perangkapnya.


Devano benar-benar berhutang budi pada Ziando dan Bara.


**


"Boleh ketemu tante gak ma," rengek Devano, Nara pun menggeleng. "Besok pagi aja, kalian boleh ketemu." ucap Nara.


"Yaaaa, besok pagi kan acara pernikahan ma, sudah pasti ketemu. Maksud Dev, sekarang ini. Bentar aja." bujuknya mode merayu dengan mengedipkan mata memasang wajah gemas.


"No no no, big no." ujar Nara seraya menggerakan telunjuknya ke kanan kiri tanda memang benar-benar tak memperbolehkan mereka bertemu.


Mengehela napas sejenak, "Yaudah, deh kalau gak boleh." dengan mimik muka sedih devano beranjak dan naik ke lantai atas.


Memilih menonton film di lantai tiga, dimana mereka jarang menghabiskan waktu di tempat itu.


Kesal Devano, kala harus menahan diri melihat wajah tante kesayangannya.


Sedari tadi bocah itu terus menghubungi Nora, tapi nihil tak ada jawaban.


"Awas saja besok," gerutu Devano sembari menatap layar ponselnya berulang.



"Aww..." pekik Nora kemudian meringis.


**


"Cie calon pengantin." tiba-tiba muncul Maura yang baru saja datang bersama Zain. Nora melebarkan senyum dan langsung menghambur memeluknya.


"Uwwww, kangen." rengek Nora manja, Maura hanya terkekeh menanggapinya. Mereka memang seakrab itu, berbeda dengan Zain yang lebih akrab dengan Aurora. Nora justru memilih akrab dengan Maura.


"Ceh, lo kangen sama Devano dan melampiaskannya sama gue." cibir Maura, dan Nora menutup mulutnya sembari terkekeh.


"Bocah tengil itu, besok aku akan menikah dengannya." lalu mereka tertawa lagi.


"Dasar wanita, memang aneh." ucap Zain yang memilih menjauh saat dua wanita manja itu asik bercengkrama.


***

__ADS_1


Berjalan ke arah dapur, bibirnya tersenyum lebar kala melihat Maura dan mamanya sedang memasak bersama.


"Kakak ipar," sapa Nora yang sudah mengubah panggilannya untuk Maura. Maura yang mendengarnya pun merasa geli.


"Kakak ipar apaan, sih hmm." protesnya.


"Kan lo bentar lagi nikah sama saudara kembar gue." santai Nora.


Deg! Deg!


"Eh, sorry Maura bukan maksud gue." ucap Nora, " Gue ke atas dulu ya." pamitnya untuk menghindari rasa canggung.


Seharian Nora sama sekali tak membuka ponselnya, dan begitu membuka ponselnya, mata Nora membulat sempurna.


"Bocah gajeeee, kenapa gak dateng kesini sih! Nelpon sampai 20 kali nggak ke jawab juga tumben gak nyamper kesini." gerutu Nora, dan ia langsung merutuki kebodohannya.


*From Devano :


Selamat pagi, siang, sore calis💞


Kata mama, Dev gak boleh ketemu tante dulu, jangan kangen loh. Karena aku nggak akan datang walaupun tante Nora sebut namaku tiga kali, sampai bertemu besok di pelaminan.


Peluk cium dari calon suamimu tertampan*_


Menghela napas kasar, Devano memang segaje itu. Membaca pesannya saja sudah berhasil membuat Nora tersenyum, bukan karena kangen ya? tapi karena gemas dengan kata-kata Devano yang menurut Nora lebih mirip gombalan.


"Serius beneran aku besok nikah." Nora mendadak menggigit jarinya, membayangkan yang tidak-tidak lalu sesekali menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.


"Ya Tuhan, aku benar-benar akan menikah!" pekiknya frustasi.


**


Sementara Alan kini ia sedang diliputi rasa bersalah dan penyesalan. Bersalah karena telah memaksa Karin untuk mengikuti rencananya untuk menjebak Devano, dan menyesal karena telah merenggut ke sucian Karin, gadis itu bahkan tak ingin menemuinya dan menbalas pesannya dua hari ini.


"Kok gue merasa khawatir sama Karin ya." batin Alan sembari terus memijat pelipisnya.


Belum lagi tuntutan Carley yang mendesaknya menikahi Karin segera.


Alan benar-benar merasa kepalanya mau pecah.

__ADS_1


"Kar, angkat dong!" monolog Alan saat ia terus berusaha menghubungi Karin, namun sebanyak itu pula Karin menolak panggilannya. Kemarin, Alan sempat menyambangi rumah gadis itu, namun kata mamanya, Karin tak enak badan dan menolak bertemu dengannya.


"Aku nggak mungkin kan terus mengejar Nora sementara kamu?" melempar ponselnya kasar ke atas ranjang dengan kesal.


__ADS_2