TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - bab 8


__ADS_3

Darren membeli beberapa makanan ringan juga minuman kaleng, sementara Resha menurut di belakang dengan bibir sedari tadi mengerucut.


"Sudah belum?" tanya Resha memberanikan diri. Sementara Darren masih asyik berkeliling.


"Kau tak butuh sesuatu?" tanya Darren dan mendapati Resha hanya diam mengikutinya.


"Nggak,"


"Yaudah, kita bayar dulu." ajak Darren.


Kita? kata yang baru saja Resha dengar dari bibir Darren, entah kenapa berhasil mengaduk-aduk perasaannya. Kita? satu tanda bahwa saat ini dirinya menjalin hubungan dengan Darren Aldeva.


Setelah membayar makanan di kasir, Darren mengajak Resha kembali masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan.


"Makanlah, aku membeli banyak memang untukmu!" ucap Darren setelah sama-sama duduk dan ia siap melajukan mobilnya.


"Makasih," jawab Resha sekenanya, kepalang cuek.


Darren pun bingung, ia tak mengerti kenapa begitu banyak obrolan kedua orang tuanya saat bersama, sedangkan dirinya yang saat ini mengalami justru dibuat mati kutu oleh keadaan.


Mereka terdiam, gerimis yang melanda sama sekali tak mengganggu perjalanan mereka. Hingga deru mobil milik Darren memasuki sebuah perumahan minimalis tapi masih terlihat sangat asri dan tak banyak polusi. Pohon rindang dan taman juga menghiasi pintu masuk komplek kecil ini hingga siapapun yang baru datang merasa tempat ini sangat nyaman.


"Benar ini kompleknya?" tanya Darren untuk ketiga kalinya.


"Iya, Derr." jawab Resha, dan entah kenapa tangan sebelah Darren justru mengacak lembut rambut Resha.


"Teruslah memanggil namaku seperti itu, bagaimanapun kamu lebih tua dan tidak pantas jika memanggilku dengan panggilan kaku."


"Maksud kamu aku lebih tua?" Resha menajamkan mata seraya melipat tangan di dada.


Darren terkekeh, kembali menyetir dan berusaha mengabaikan gerutuan Resha yang saat ini kesal karenanya.


"Tentu saja, apa kamu tahu umurku 5 tahun lebih muda darimu. Apa aku panggil kamu kakak saja," pikir Darren.


"Ck! aku bukan kakakmu, Derr." kesal Resha memalingkan wajahnya.


"Baiklah, sayang."


"Stop, itu rumahku." Resha menunjuk rumah minimalis bercat kuning coklat. Terlihat asli, bahkan rumah itu terlihat sangat terawat.


Darren menghentikan mobilnya, lalu turun mobil. Kedatangan Resha disambut senyum sumringah seorang ibu paruh baya. Namun, senyum itu pudar dan menjadi raut wajah datar saat Darren turun menemani Resha.


"Bibi," panggil Resha langsung memeluk wanita itu.


Elin tersenyum menyambut kedatangan ponakannya dengan sumringah dan pelukan hangat penuh kerinduan. Elin melirik ke arah Darren dan bertanya siapa dia.


"Siang, Bi. Saya Darren bossnya Resha." Darren memperkenalkan diri, sementara Resha tersentak. Bukankah Darren akan berbicara serius dengan keluarganya, kenapa dia justru memperkenalkan diri sebagai boss?


"Oh iya masuklah kalau begitu," ajak bibi Elin dengan seulas senyuman.


Resha dan Darren menurut, selama Resha pergi, Elin-lah yang mengurus dan merawat rumah ini di pagi dan sore hari. Namun, tidak untuk tinggal karena jarak rumah Elin dan prang tua Resha yang hanya lima langkah dan berbatas pagar tembok.

__ADS_1


"Biar bibi siapkan minum," ujar Elin lalu melangkah ke dapur. Darren tertegun. Meski minimalis, rumah milik Resha sangat nyaman dan asri. Darren jadi betah berlama-lama, entah karena Resha atau karenaa memang suasana di disini.


"Silahkan diminum nak Darren maaf seadanya," Elin meletakkan dua cangkir teh serta camilan untuk mereka.


"Begini, bi. Kedatangan saya kemari untuk berbicara serius."


Deg, jantung Resha berdetak cepat. Siapkah ia mendengar niat atau ucapan Darren?


"Silahkan nak Darren, tidak apa-apa, saya pun tau kamu memiliki hubungan spesial dengan Resha, kamu adalah laki-laki ketiga yang datang ke rumah ini." jelas Elin karena dialah yang paling tau siapa saja yang dekat dengan Resha.


"Ketiga, bi?" tanya Darren.


Elin mengangguk, sementara Resha justru terlihat panik.


"Tak apa, Res. Cerita saja soal Reyhan kepada Darren. Biar kelak jika kalian serius tak ada hal tersembunyi lagi. Kamu berhak bahagia." tutur Elin sangat lembut.


"Reyhan mantanku, Derr. Bagaimanapun dia dan aku hanya masalalu. Kita berhubungan sangat lama, banyak kenangan pahit manis tapi seorang wanita sepertiku, bahkan semua wanita pasti juga ingin hubungan itu berkembang, bukan jalan di tempat." jelas Resha.


"Bibi, apa boleh saya menjalin hubungan serius dengan Resha?" tanya Darren, wajahnya tenang dan terlihat tanpa keraguan.


"Kalau bibi terserah bagaimana Resha saja, apa suratmu sudah di urus Res, bagaimanapun Anton status kalian adalah cerai."


"Sudah, bi. Bibi tenang saja,"


"Belakangan bibi sering bertemu Reyhan, dia sering berhenti di depan rumah ini lalu pergi lagi,"


"Dia masih mencarimu hingga sekarang?" tanya Darren menatap Resha.


"Entah, kalaupun iya aku tidak perduli." jawab Resha, Elin menggelengkan kepala dengan sikap ponakannya yang berubah-ubah saat bicara dengan Darren.


"Baik, bi." Sahut Resha dan Darren bergantian.


Sepeninggal Elin, suasana kembali canggung. Resha pun berinisiatif melihat kamar barangkali belum rapi.


"Derr istirahatlah, kamarmu di sebelah sini. Bandung - Jakarta memang tidak jauh. Tapi cuaca sedang buruk dan tidak bisa di tebak, lebih baik tinggal semalam."


"Apa tidak apa-apa?" tanya Darren, Resha menggeleng.


"Disini aman."


"Apa suamimu dulu pernah menginap? atau mantanmu Reyhan?" tanya Darren. Entah kenapa ia malah kesal saat Resha dengan mudahnya menyuruh dirinya tinggal.


"Tentu saja, dulu kami bahkan tinggal disini sebelum sakitnya parah,"


"Ck, begitu ya? di kamar mana kalian tinggal?"


"Disana?" tunjuk Resha ke arah kamarnya berada.


"Kalau begitu, nanti malam aku yang tidur disana." Santai Darren, ia meraih sesuatu di dalam saku jassnya melihat beberapa panggilan dari Leon.


"Urus semuanya, lusa aku baru kembali!" ucap darren saat menelpon Leon. Resha mengernyitkan dahi, "Lusa? untuk apa menginap lama?" tanya Resha tak mengerti.

__ADS_1


"Aku ingin menikmati hidup, memangnya kenapa? apa kau keberatan?" cerca Darren, seketika Resha menggeleng.


Lantas yang dilakukannya adalah melihat isi kulkas untuk membuat makan malam mereka berdua.


"Hanya ada ini, semoga tidak membuatmu sakit dan kelaparan." Resha meletakkan omelette, saus juga sayur untuk lauk di atas meja.


"Apa kau meremehkanku, sayang?" tanya Darren.


Menghembuskan napas pelan, lalu menatap Darren sekilas. Yang terjadi justru, Darren terlihat sangat antusias menyantap makanannya.


"Ini enak, aku pikir kamu tidak bisa memasak."


"Tentu saja bisa, aku ini berpengalaman." protes Resha.


Cup!


Darren mengecup bibir Resha tanpa permisi membuat si empu mematung dengan mata tajam.


"Kenapa?" tanya Darren tanpa rasa salah.


"Kau, berani menciumku?" gerutu Resha namun bukan merasa bersalah Darren justru tersenyum.


"Bukankah kau lebih berpengalaman, aku hanya sedikit memberimu pelajaran."


***


Malam yang hening, Resha memutuskan untuk tidur. Sementara Darren kini menempati kamar milik Resha. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan. Desain unik dan nyaman membuat Darren betah.


Sebenarnya bukan itu, ia hanya ingin melihat isi kamar Resha apakah ada hal yang akan Darren temukan.


Setelah berfikir, akhirnya Darren memutuskan mengunci pintu hingga pandangannya tertuju pada sebuah amplop kecil berwarna pink yang terselip di bawah bantal.


*Untuk Reshaku, tercinta


Beribu maaf mungkin tak akan cukup mengganti lukamu, bahkan jika aku bersujud sebanyak aku menyakitimu tak akan membuatmu kembali...


Res, kepergianmu membuatku sadar bahwa aku merasa begitu kehilangan.


Ketulusan, senyum dan kasih yang tulus tanpa memandang siapa diriku..


Res, selamanya kamu akan menempati satu ruang di hati ini, hanya itu...


Karena untuk merengkuhmu kembali, aku harus menunggu waktu berpihak padaku, aku harus menunggumu sendiri lagi yang mungkin itu tak akan terjadi...


Res, berbahagialah karena kelak kebahagiaanmulah satu-satunya semangat aku menjalani ini semua, namun jika kamu tak pernah merasakan apa itu bahagia, kembalilah padaku! aku berjanji akan memperbaiki semuanya.


Terima kasih karena pernah menerimaku dan menemani disaat titik terendahku.


yang mencintaimu,


Reyhan*~

__ADS_1


***


Darren tertegun, ia membaca bahkan berulang kali menghela napas. Entah kenapa ia merasa kesal membaca surat itu. Dan yang membuat Darren tak habis fikir adalah satu surat lagi dari nama yang berbeda.


__ADS_2