
Devano sempat bolak-balik dari rumahnya ke rumah papa Shaka, mengambil beberapa baju yang ia persiapkan untuk besok, dan malam menjelang pernikahan Zain dan Maura, ia dan Nora memutuskan untuk menginap disana, selain karena ia dan Nora belum pernah pulang sejak menikah, ia ingin memberi ruang bagi Nora untuk menikmati momen spesial bersama keluarganya.
Saat seluruh keluarga besar Nora bercengkrama, ia masih sedikit merasakan canggung. Terlebih mereka saling menanyakan kabar satu sama lain yang bahkan ia sendiri belum terlalu mengenal.
Menepi adalah pilihan yang tepat, jadi Devano memutuskan menikmati udara di kursi samping rumah, menatap kolam dan kebun yang terlihat sangat rapi. Juga taman bunga yang sangat indah meski di malam hari. Pandangannya mengedar, lalu tersentak kala seseorang menepuk pelan pundaknya.
"Papa." ia tersenyum canggung kala Shaka duduk di sisinya, tuk kemudian meraih satu batang rokok di dalam bungkus dan menyalakannya.
"Mau rokok?" tawar laki-laki paruh baya itu santai.
"Dev, belum pernah ngrokok, Pa!" ucapnya meringis sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau begitu cobalah sesekali, mumpung istrimu lagi sibuk sama mamanya, kamu takut sama Nora?" Shaka menaik turunkan alisnya, Ziando bilang merokok itu adalah hal paling menenangkan bagi laki-laki.
Ragu-ragu ia mengambil satu batang, lalu menyulutnya persis seperti yang dilakukan Shaka, papa mertuanya.
"Uhukk..." Dev, terbatuk kala mengesap rokok terlalu lama.
"Bo doh, jangan di telan asapnya, begini caranya!" Shaka memberi contoh cara mengesap rokok, sebentar kemudian menghebuskannya perlahan. Sementara Devano, ia dalam mode serius memperhatikan sang papa mertua. Selama ini, ia sering melihat Zi merokok, tapi tak menyangka jika akan sepayah ini saat ia mencobanya.
"Rencana kuliah dimana?" tanya Shaka, karena ia tahu sebentar lagi Devano ujian nasional.
Namun, Devano yang notebenenya santai, belum sempat berfikir ke kampus mana ia akan melanjutkan pendidikan.
"Belum tahu, Pa!" Ia menghembuskan napas kasar, "Maunya sih mana aja, asal di Jakarta." gumamnya pelan.
"Gak pengen kuliah ke luar negeri? Bukannya mama sama papamu di Singapura?" Lagi ia hanya meringis, "Gak bisa jauh dari tante, eh em maksudku Nora, Pa."
Shaka menggeleng-gelengkan kepala demi melihat ekspresi Devano, terlebih saat berkata tidak bisa jauh dari anaknya.
"Dasar bucin, Kamu kan bisa pulang beberapa bulan sekali." gerutu Shaka.
Ia menggerus rokoknya yang hampir habis, "Sudah larut, masuk sana! Kasian Nora." ujarnya menepuk pelan pundak Devano kemudian berlalu. Ada rasa hangat menjalar meski hanya obrolan singkat bersama papa mertua, tanpa sadar bibirnya mengu lum senyum, sebelum akhirnya bangkit menyusul Nora ke kamar.
Ia melihat Nora yang duduk di bibir ranjang, mengenakan gaun tidur yang justru membuat matanya tak berkedip. "Darimana saja?" tanyanya sebal, seperti sedang merajuk.
__ADS_1
"Kenapa? kangen, hmm?" membuat Nora memalingkan wajah, meski sedari tadi ia mengobrol dengan keluarganya, Nora justru sedang memikirkan Devano, dimana dia? saat menyusul ke kamar, nihil. Dan dilihatnya dari balkon kamar, jika sang suami tengah mengobrol dengan papanya di teras samping rumah. Hal yang membuat ia semakin berdecak kesal, adalah saat Devano mencicipi rokok.
"Gosok gigi dulu, bau rokok!" desisnya sebal, lalu merebahkan diri, memunggunginya.
Devano menurut, setelah dirasa mulutnya tak lagi bau, ia mendekat ke arah sang istri dan langsung memeluknya erat.
Tak ada gerak penolakan, tapi si empu justru membalikkan badan dan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam. Seolah aroma maskulin tubuh Devano adalah pengantar tidurnya yang nyenyak.
"Aku nggak nglarang kamu ngerokok, asal jangan banyak, asal nggak minum, asal..."
"Stttt, aku cuma nyoba tadi, sungkan kalo menolak papa. Aku nggak ngerokok!" potongnya cepat.
"Aku nggak nglarang kamu ngerokok, kamu boleh ngerokok," ia masih berujar meski
dengan suara lirih karena wajahnya yang asyik tenggelam dalam dekapan hangat Devano.
"Iyaaa, aku sayang kamu," ucap Devano, sembari mengusap rambut Nora, "Makasih sudah mengkhawatirkanku," sambungnya lagi.
Sayangnya Nora sudah lebih dulu terlelap dengan nyaman, ia pun turut memejamkan mata.
Matahari hampir merangkak naik, tapi Devano pun Nora masih sama-sama terlelap, meski hangat sinarnya menerobos lewat celah-celah jendela, mengusik wajah dengan silaunya, maklum saja dinding kamar Nora sebagian hanya kaca yang tertutup korden. Sehingga saat pagi menjelang, celah-celah kecil mampu meneroboskan hangat sinar mentari.
Devano menggeliat tuk kemudian membuka mata perlahan sembari meraih jam weker di atas nakas yang tak berbunyi, matanya membulat sempurna bersama dengan ketukan pintu berulang-ulang memanggil namanya dan istrinya. Sudah jam 7, artinya orang-orang sudah bersiap dan ia bahkan baru bangun.
"Nora, Devano..." tok tok tok, Kenia terus mengetuk pintu. Karena pernikahan Zain dan Maura akan segera di mulai dua jam lagi.
Ia berjalan meski dengan mata masih mengantuk, Ceklek!
"Em, maaf ma, Dev kesiangan!" begitu melihat wajah mama Kenia di depan pintu mengulas senyum.
"Gak papa, kamu bangunin Nora ya sayang, sebentar lagi acara dimulai." ia semakin merasa bersalah saat melihat mama Kenia sudah rapi dengan riasannya. Sementara ia dan Nora, bahkan baru bangun tidur, dengan tergesa ia membangunkan Nora.
"Bangun sayang," ia mengusap pelan pipi, namun respon si empu hanya menggeliat.
"Bangun udah siang," bisiknya sembari meniup telinga, Nora seketika langsung membuka mata.
__ADS_1
"Nahkan bangun, pules banget tidurnya, hmm? mimpi apa tuan putri sampai gak mau bangun." ia mencubit dua pipi Nora dengan gemas, "Ishhhh, sakit yang." gumamnya, masih dengan posisi tidur.
"Aku mandi dulu, tadi mama kesini bangunin kita, orang-orang udah pada rapi, cuma kita yang kesiangan." bisiknya di telinga tuk kemudian mencium pipi.
Nora yang sudah merona pun merespon dengan anggukan kepala, lalu ikut bangkit mengikuti langkah Devano ke kamar mandi.
"Biar cepet, kita bareng!" ucapnya sebelum benar-benar ikut masuk ke dalam kamar mandi, sementara Devano ia sudah tersenyum lebar saking senangnya.
Sayangnya kesenangan mereka kembali terusik oleh ketukan pintu yang berulang-ulang. Mau tak mau mereka mengakhiri ritual mandi dan segera keluar mengenakan kimono.
Ceklek!
"Astaga, kau!" desis Zain, yang merasa kehadirannya kurang tepat lantaran Devano dan Nora masih sama-sama mengenakan handuk dan kimono. Sementara Devano menampilkan ekspresi nyengir tanpa dosa sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Cepat bersiap, temani aku. Dan Nora, suruh dia ke kamar tamu menemani Maura."
"Oke, em kak, eh Zain." ucapnya langsung menutup pintu.
"Dasar ipar gak ada akhlak." umpat Zain, tuk kemudian kembali ke kamarnya.
Nora tengah mematut diri, pilihan Devano memang luar biasa, gaunnya melekat indah di tubuhnya, lalu gegas ia memake over wajah. Sementara Devano sibuk mengancingkan kemeja putihnya, yang akan di padu dengan jas hitam.
"Bagaimana, aku cantik?" tanyanya sembari memutar tubuh di depan cermin.
Devano mengu lum senyum, melihat tingkah Nora. "Benar-benar cantik, bahkan lebih cantik dari pengantin hari ini." bisiknya.
"Cehhh! kalau kak Zain tau pasti akan marah." desisnya namun dengan senyum yang di ku lum.
"Dia akan lebih marah kalau aku memuji cantik calon istrinya," jawabnya sembari merangkul pinggang Nora dari belakang dan menyadarkan dagunya di pundak seputih su su favoritnya.
yuk yuk berteman sama author receh ini, bisa masuk gc Mimah e gibran atau follow ig author Mimah e gibran 🖤
Jangan lupa like komen dan Votenya akak🥰
Big love you all🙏🏻🙏🏻
__ADS_1