
Dua hari setelah pernikahan, Darren dan Resha pamit untuk menempati rumah yang telah disiapkan kakek dan neneknya. Meski berat, Devano tetap harus melepas anak dan menantunya karena bagaimanapun ketika berumah tangga mereka pasti menginginkan suasana yang berbeda.
"Ayah gak mau nganter ke rumah baruku?" tanya Darren membuat Devano juga Nora hampir tergelak.
"Sudah besar, jangan manja!"
"Yah, Ma. Masa anaknya pindah sendiri kaya lagi diusir aja," gerutu Darren.
Resha menanggapi celotehan suaminya dengan senyuman dan gelengan kepala berulang kali.
"Siap-siap Mbak Res, nanti suaminya manja gak ketulungan." canda Qween.
"Iya ya," jawab Resha yang belum terbiasa berinteraksi dengan keluarga barunya.
"Resha sini sayang," pinta Nora, ibu paruh baya tersebut mengajak menantunya ke dalam kamar. Resha hanya bisa menurut pasrah, mungkin ada hal penting yang akan mama mertuanya sampaikan.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Resha dengan seulas senyum. Nora mencari-cari sesuatu di brangkas kamarnya lalu mengeluarkan kotak perhiasan berwarna maroon.
"Pakai ini ya, ini dulu mama dikasih nenek. Karena sekarang kamu menantu mama, jadi kamu yang akan memakainya." Nora mengeluarkan gelang yang berada di dalam kotak tersebut dan memakaikannya di tangan Resha.
"Makasih, Ma." Resha tak kuasa untuk tak menitikkan air mata, keluarga Darren sangat bertolak belakang dengan mantan mertuanya dulu.
"Udah jangan nangis, mama tau kamu perempuan baik. Hanya orang bodoh yang beranggapan buruk tentang kamu. Res, meski kamu pernah menikah sebelumnya tapi mama berharap kamu tidak merasa canggung. Bagaimanapun mereka adalah masalalu dan kami ada di kehidupan kamu yang sekarang."
"Ma..." Resha semakin terisak, lalu memeluk Nora. Wanita paruh baya itu menyambutnya dengan haru.
"Mau berbagi sama mama? mama siap mendengarkan keluh kesahmu, mama siap mendengar apapun ceritamu sayang, mulai sekarang mama adalah ibumu, temanmu, kakakmu juga sahabatmu."
Lagi-lagi Resha semakin terisak dan kembali mengeratkan pelukan.
Nora mengusap punggung Resha penuh sayang.
"Ehm..." terdengar deheman dari luar, rupanya sedari tadi Darren memperhatikan mereka diambang pintu kamar yang terbuka sedikit.
"Ayo?" ajaknya tanpa bertanya lebih lanjut apa yang mereka bicarakan sebelumnya, karena Darren sedikit banyak sudah mendengarnya.
"Nanti mama sama ayah nyusul, kalian berangkat dulu sama Qween dan Leon." Nora berujar.
__ADS_1
"Iya, Ma. Makasih ya." Resha pamit seraya mencium punggung tangan juga pipi kanan kiri mama mertuanya, pun dengan Darren.
Darren dan Resha pun berangkat ke rumah baru bersama Qween juga Leon untuk membantu disana.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tak butuh waktu lama untuk sampai di sebuah rumah kawasan elit berlantai tiga.
"Besar banget, Derr."
"Iya, biar nanti kalau anak kita banyak tempatnya nyaman." Darren berujar dengan senyum. Resha meringis, sepertinya ia belum membayangkan rasanya punya anak.
"Selamat siang, non. Saya art yang ditugaskan Pak Bayu, dan Bu Nara disini." Inah memperkenalkan diri, Resha mengangguk senyum, pun Darren. Tak berselang lama mobil Leon sudah menyusul masuk ke halaman rumah baru Darren.
"Le, istirahat aja dulu. Biar bi Inah yang bawa barangnya nanti sama Pak joko." Darren berujar seraya meninggalkan sepasang kekasih itu.
"Derr, kita mau kemana?" tanya Resha saat Darren mengamit tangannya masuk ke dalam rumah.
"Kita keliling, lihat kamar."
"Baiklah," ucap Resha tak kalah semangat.
"Derr makasih," ucap Resha kemudian memeluk Darren.
"Makasih doang, ke kamar yuk?" ajak Darren dengan mata mengerling.
"Ish me sum." Resha memukul dada Darren kesal.
"Hey hey, aku cuma mau ngajak kamu ngelihat kamar kita," ujar Darren.
"Oh, aku kira hehe."
Mereka pun naik ke lantai atas untuk melihat kamar utama yang akan menjadi kamar Darren dan Resha. Sementara di bawah, Leon menghempas tubuhnya langsung ke sofa disusul Qween yang duduk di sampingnya.
"Be, kita nikah juga yuk?" ajak Leon, Qween pun mendongkak.
"Nikah?"
"Iya, emang gak pengen segera nikah?" tanya Leon.
__ADS_1
"Iya pengen kok, tapi tunggu Mbak Resha hamil dulu ya?"
"Kenapa?"
"Gak apa-apa sayang, pengen liat Darren bahagia dulu."
Leon pun mengangguk, seraya mengacak rambut Qween gemas.
"Lusa ke rumahku ya, mama kangen sama kamu," ujar Leon. Qween pun tersenyum sumringah.
"Beneran?"
"Iya, bahkan nih mama mau ngajakin jalan bareng," pukas Leon membuat Qween semakin berbinar.
"Heran, sebenarnya anak mama aku apa kamu sih, bee."
Qween hanya terkekeh, tentu saja anaknya tetap lah Leon. Hanya, mamanya sangat menyayangi Qween.
"Mamamu kan mamaku juga," ucap Qween.
Leon mencubit gemas pipi kekasihnya, mereka berdua lantas menatap lantai atas.
"Suami istri nganggurin kita nih, jangan-jangan mereka melanjutkan perang yang tertunda." canda Leon.
"Hah!"
***
Di sudut lain, Jesicca tengah menikmati kebersamaannya dengan Noah. Namun, harus terganggu dengan sosok Luna yang tiba-tiba menghampirinya dengan wajah ketus.
"Mbak Jes, pasti tau kan alamatnya mbak Resha?" tanya Luna dengan nada songong.
"Buat apa?" tanya Jesica, karena ia tau tabiat keluarga mantan suami Resha yang tak baik.
"Bawel banget mbak, tinggal kasih juga."
Jesicca melirik Noah, namun pria tampan itu mengangguk santai, karena Noah yakin Luna tak akan berani macam-macam pada keluarga setingkat Darren.
__ADS_1