TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
There is my son


__ADS_3

Devano, ia sudah berencana pulang sekolah tuk segera melesat ke kantor menjemput sang istri.


Hari ini adalah kali kedua ia dan Nora akan memeriksa kandungan, sebelum sibuk persiapan ujian Nasional dan kelulusan.


Sebelumnya, ia sempat membuat janji dengan dokter obgyn rumah sakit Hermina, recomended dari om Radit, sepupu dari papa mertuanya sekaligus pemilik rumah sakit besar itu.


Namun, nasib sedang sial sepertinya karena di jalan tiba-tiba ban mobilnya kempes. Membuatnya berdecak kesal, lalu menghubungi Ziando agar mengurus mobilnya lalu gegas mencari taxy online menuju kantor.


"Siang Tuan muda." sapaan tiap kali karyawan melewatinya, ia hanya mengangguk sekilas lalu berjalan cepat masuk ke dalam lift. Sampai di ruangan Nora, benar saja disana sang mama dan Istri tercintanya sedang menunggu hingga ia hanya mampu meringis karena merasa bersalah.


"Maaf, bannya kempes tadi." bisiknya dengan Nora.


"Pantes lama." sahutnya pun sama, berbisik.


Mama Nara yang habis dari toilet pun tersenyum melihat interaksi Devano dan Nora.


"Meskipun Devano masih sekolah, dia adalah sosok yang bertanggung jawab, aku benar-benar gak nyangka kalau dia sudah tumbuh sedewasa itu," gumam Nara,


"Ma, kok malah ngelamun! Ayo berangkat." ajak Devano pun Nora, mereka pun berjalan beriringan memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar.


"Pakai mobil papa, Ma. Mobil Dev, bannya kempes."


"Iya sayang." ucap sang mama mengulas senyum.


Devano melesatkan mobil menuju rumah sakit Hermina, sampai disana ternyata sang mama mertua, Kenia dan tante Rain ada disana.


"Hai sayang, anak mama sehat?" tanya Kenia memeluk putrinya rindu, kemudian bersapa dengan Nara dan Devano.


"Sehat ma, mama sehatkan?" Kenia mengangguk, lalu Nora beralih menyapa tante Rain, ibu paruh baya yang tak kalah cantik dari sang mama itu menyambutnya dengan pelukan hangat.


"Habis yang masuk itu, giliran kamu sayang. Tadi tante sudah bilang sama dokternya." ucap Rain membuat Devano pun Nora melongo, "Kita kan belum ..."


"Sttt, udah tante urus sama mama kamu." ucapnya begitu lembut.


"Makasih banyak, tante." ucap Nora bersungguh-sungguh.


Ia dan Devano langsung tertegun ketika namanya di panggil, dengan gugup ia masuk setelah sebelumnya mama Kenia mengusap lembut pundaknya.


"Masuklah dengan Devano, biar mama tunggu di luar." ucapnya.


Devano mengapit tangannya, lalu membawanya masuk.


"Selamat siang ibu Nora." sapa sang dokter ramah.

__ADS_1


"Siang dok, saya mau periksa sekaligus konsultasi." ucapnya ragu, ia mana mengerti perihal kehamilan.


Dokter Maura pun mengulas senyum.


"Pak Devano, silahkan duduk disini. Bu Nora berbaring dulu." Dengan dibantu suster, Nora berbaring di atas brangkar yang akan digunakan untuk pemeriksaan.


Dengan telaten, dokter Maura memeriksa tekanan darah pun dengan detak jantung, sebelum akhirnya sang suster menyingkap pakaian Nora dan menutup tubuh bawahnya dengan selimut.


"Istri saya mau diapain dok." ucap spontan Devano, membuat suster pun dokter Maura menahan senyum.


"Mau diperiksa kan dedeknya?" tanya dokter Maura, Devano pun mengangguk ragu. Karena kemarin dokter Arka hanya memeriksa tangan dan da da, bukan perut. Ia bahkan tak mengerti sama sekali, saat sang suster mengoles gell di perut istrinya, namun begitu tajub saat dokter Maura menyentuhkan alat di perut Nora hingga di layar monitor menampilan sebuah janin kecil.



Devano, Ia terharu ketika mendengar penjelasan dokter Maura tentang kehamilan Nora, diusia kehamilan sekarang janinnya sudah mulai bergerak, mata dan telinganya mulai terbentuk. Membuat ia ingin sekali menyentuh atau memeluknya terlebih saat mendengar detak jantung malaikat kecilnya.


There is my son! batinnya.


Nora pun tak kalah terharunya, meski perutnya masih datar-datar saja. Ada malaikat kecil, buah cintanya dengan Devano disana.


Lepas pemeriksaan, ia masih berkonsultasi dengan dokter Maura mengenai seputar kehamilan dan menghadapi morning sickness.


"Biasanya apa yang membuat mual di pagi hari berhenti?" tanya dokter.


Devano bukan tak mendengar, tapi iya masih takjub pada cetakan potret USG yang membuat rasa bangga sekaligus haru yang menyeruak membuatnya tak fokus pada obrolan dokter dan Nora.


"Ini obat dan vitamin yang diminum ya, sudah saya tulis resep penggunaannya disini." ujar dokter Maura dengan senyum ramah.


"Makasih dok," ucapnya serempak.


"Sama-sama, sehat selalu."


**


Mereka keluar dengan perasaan lega, ia sempatkan mengusap perut datar Nora sambil berceloteh, "Anak pintar, gak bikin susah mama."


Sebelum akhirnya menghampiri dua mama dan tante Rain di kursi tunggu.


"Gimana sayang hasilnya," tanya mama Nara pun Kenia tak sabar. Devano menyodorkan hasil USGnya, "Semua sehat, ma." jelasnya membuat yang lain bernapas lega.


"Syukurlah! Sehat-sehat ya dedek bayi." ucap spontan tante Rain mengusap lembut perut Nora.


Ketika para mama memutuskan untuk menikmati waktunya dengan shopping, salon dan makan-makan.Dev dan Nora enggan ikut, memilih mencari tempat nyaman yang lebih bisa menaikkan moodnya yang berubah.

__ADS_1


"Mau kemana? Mau makan apa? kamu pengen apa?" rentetan pertanyaan Devano yang membuat Nora tersenyum penuh arti, dipandanginya sang suami yang fokus menyetir mobil.


"Mau makan kamu!" bisiknya, pelan dengan wajah menggoda.


Chittttt!!!


Dev langsung menghentikan laju mobilnya mendadak, "Serius?" tanyanya dengan mata berbinar, bak kejatuhan rejeki nomplok ia pun langsung menyambut dengan ciuman hangat.


Sialnya, terhenti karena berulang kali mobil di belakang menekan klakson berulang-ulang, ia langsung terkekeh saat menyadari mobilnya kurang menepi.


"Lanjut di rumah? atau mau di hotel?" Dasar memang Devano, selalu candu dan candu pada tubuh Nora, bagaikan bara yang mengalir hangat saat menyentuhnya.


Dengan wajah yang semakin merah merona, Nora pun mengangguk saja. Entah, belakangan ia selalu ingin dekat dengan bocah kesayangannya itu.


Dev langsung melesatkan mobil papanya ke kantor, ia bernapas lega kala Ziando sudah membereskan mobil sportnya yang kini bertengger di parkiran Aldeva group, segera ia meminta Zi turun dan bertukar kunci, lalu kembali meninggalkan kantor, setelah meminta izin pada sang papa.


"Awas khilaf lagi nanti jadi dua." seloroh sang papa tadi.


Mereka pun melesatkan mobil, Devano mengajak Nora ke salah satu villa di puncak milik keluarga, suasana dingin mungkin akan lebih membantu.


***


Ranjang king size dengan view pemandangan indah menjadi mood boster bagi Nora, pasalnya sebelum menikah ia jarang sekali menikmati waktu sesantai ini, berteman susu hangat dan orang yang dicintai.


Devano memeluk pinggang Nora dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu seputih su su favoritnya, sambil menatap sejuknya pegunungan tangannya mulai bergerilya.


"Aku mencintaimu," bisik Devano penuh goda, sementara Nora sudah membalikkan badam hingga dua mata itu saling tatap.


"I too," jawabnya mengu lum senyum.


"Coba, ulang lagi yang lebih jelas?" pinta Devano, ia ingin sekali mendengar kata cinta dari bibir semanis madu sang istri.


"Gak..."


"Ulang, sayang." pintanya, menggoda.


"Ishhh, aku mencintaimu Devano." ucapnya, langsung menenggelamkan wajahnya yang merona di dada bidang milik Devano, Malu.


***Dear sayang, sorry baru up nieeee...


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like komen dan vote juga tap favorit yaa agar author semangat lagi, sehat-sehat kalian, big laffyu😘


Pengen di tampol segepok mawar🙃***

__ADS_1


__ADS_2