
"Selamat, bu! Anda hamil, ada janin kecil yang hidup di dalam sana." tunjuk dokter obgyn saat melakukan USG, mata Nora seketika basah. Ada rasa haru menyeruak. Begitupun dengan Nara, sang ibu mertua. Sudut matanya mulai berair, sesekali mengusapnya. Tuhan memang maha baik dan pemurah. Setelah kehilangan, akan datang lagi sosok bayi yang akan hadir dalam kehidupan pernikahan anaknya.
"A-aku, hamil ma?" ia menangis tak percaya, sementara Nara menggenggam lembut tangannya.
"Iya sayang kamu hamil,"
"Selamat ya bu, usia kandungannya kini menginjak 5 minggu, sejauh ini apa ada keluhan?" tanya dokter.
"Tidak ada, Dok! hanya saja saya tidak suka mencium bau suami." Jawaban Maura seketika membuat dokter obgyn tersenyum.
"Tidak masalah, bu! itu hanya terjadi di awal kehamilan, setelahnya mungkin akan kembali seperti semula. Yang terpenting nutrisi dan asupan ibu terjaga, agar bayinya selalu sehat." nasihat dokter, Nora mengangguk pun dengan mama mertuanya.
Setelah melakukan USG sekaligus pemeriksaan, kini Nora dan mama mertuanya pamit. Namun, sebelum itu dokter Maura meminta Nara ke ruangannya sebentar.
Nora bertanya-tanya dalam hati, kenapa hanya mama mertuanya? mungkin saja, mereka tidak membicarakan seputar kehamilannya.
"Begini, bu Nara. Sebenarnya ada hal yang belum saya sampaikan kepada bu Nora perihal kehamilannya." ucap dokter setelah mempersilahkan Nara duduk di ruang kerjanya.
"Kenapa, Dok? Apa ada masalah?" tanya ibu paruh baya itu khawatir.
"Tidak sama sekali, bu! hanya saja kehamilan menantu anda ada di tahap awal, masih rawan. Jadi ibu Nora mengandung anak kembar. Ada dua janin di rahimnya." jelas dokter Maura.
__ADS_1
"Kembar?" tanya Nara tak percaya, ia memperhatikan layar USG, tapi tak begitu detail.
"Iya, bu! Kandungan ibu Nora sangat lemah, dikarenakan sebelumnya pernah keguguran, akan lebih baik merahasiakan dulu. Agar tidak terlalu syok dan terbebani. Terlebih tri semeater pertama sangat rawan." jelas dokter Maura, Nara pun mengangguk-ngangguk, meski tak kuasa bereuforia, ia berusaha menahannya.
"Makasih banyak, Dok!" ucap Nara sebelum melangkah keluar ruangan, Dokter Maura mengangguk sembari tersenyum ramah.
Nara sempatkan membawa menantunya jalan-jalan sebentar, mengingat tak ada keluhan di awal kehamilan Nora. Masalahnya hanya satu, perlu menjaga jarak dengan Devano karena tak tahan mencium baunya.
"Dokter tadi bilang apa, ma?" tanya Nora penasaran.
"Enggak sayang, cuma bilang kamu harus bener-bener jaga kesehatan dan bayi kamu." tutur Nara lembut, kini mereka berdua tengah menikmati berbagai hidangan di sebuah caffe dekat mall. Selain mengajak menantunya makan siang di luar, Nara juga ingin mengajak menantunya belanja pakaian.
"Nora, makan yang banyak ya sayang." pinta Nara, Nora pun makan dengan lahap, bahkan ia merasa porsi makannya harus bertambah.
"Maaf ya, ma! Tapi Nora beneran lapar." akunya malu-malu, kala meminta tambah menu.
"Gak papa sayang, mama malah seneng kalo kamu makannya banyak gini."
"Dev, udah pulang belum ya ma, kok gak ada nyari aku apa telepon." gumam Nora begitu selesai menandaskan semua makanan.
"Mau suruh kesini? kamu gak papa?"
__ADS_1
."Gak papa, emang aku kenapa, ma." ucap Nroa.
"Baiklah, Dev sini." ucap mama Nara, lalu Devano yang duduk dari meja agak jauh pun mendekat.
Ia begitu istrinya pulang dari rumah sakit langsung meminta mama mengshare lok dimana keberadaan istrinya.
"Udah?" tanya Devano, Seketika perut Nora merasakan gejolak luar biasa. Namun, terhenti kala Devano berhasil menyodorkan minyak kayu putih ke hadapannya.
"Masih bau, kalau gitu aku pulang saja." ucapnya, pamit.
"Eh, enggak kok! duduk aja, Dev! Aku bisa nahan pake minyak." tutur Nora.
Ibu paruh baya yang melihat interaksi kedua anaknya pun tersenyum geli. Bagi Nara, Devano dan Nora adalah pasangan unyu yang bisa bikin baper semua orang yang melihat.
"Apa kabar anak ayah, apa dia menyusahkan ibunya?" tanya Devano dengan gerakan lembut mengusap perut Nora, lalu ikut duduk di hadapannya.
"Devano sudah tau, ma?" tanya Nora heran, padahal ia ingin sekali memberi kejutan untuk Devano.
"Iya sayang, bahkan sebelum kita ke dokter. Filiing ayah memang kuat ya,"
"Dev, kamu beneran udah tau?" tanya Nora, Devano mengangguk sembari tersenyum.
__ADS_1
"Makasih ya, makasih sudah mau jadi ibu untuk anak-anakku."Devano mengecup punggung tangan sekilas.
Berkat minyak angin, Nora tak lagi mual. Kini kedua serta mertuanya meninggalkan caffe setelah membayar tagihan.