TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Damn it


__ADS_3

Meski sudut bibirnya terluka, Devano enggan mengobatinya. Ia memang sebandel itu, dan kini ia menjadi titik pusat perhatian para siswi SMA Tunas Bangsa, terlebih saat semua orang pun kedua sahabatnya melihat pulang Sekolah, Devano langsung menyeret tangan Karin keluar area SMA Tunas Bangsa, mencari tempat paling aman dari jangkauan para siswa untuk menuntut kejelasan kejadian beberapa hari yang lalu.


"Gue bukan lagi berbaik hati ngajak lo makan siang ya Kar, tapi gue kesini buat minta penjelasan maksud lo mau jebak gue di club waktu itu." tegas Devano to the point.


"Itu karena gue pengen milikin lo seutuhnya, Dev! gue pengen.."


"Bohong." potong Devano cepat, Karin hanya bisa menunduk dalam-dalam, "Gue gak bohong!" elaknya membela diri.


"Mungkin kalo lo jujur, gue bisa pertimbangin lo buat jadi temen gue." ujarnya begitu santai.


Sambil menunggu jawaban Karin, Devano lebih memilih mengaduk-aduk minumannya.


Kini dua insan yang habis mendapat hukuman bersama itu memilih caffe yang berjarak 100 meter dari sekolah sebagai tempat paling pas.


"Gue dipaksa sama kak Al..." jawaban Karin berhasil membuat Devano menautkan alisnya, "Bo doh! Jadi karena itu," kesal Devano, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi, memijat pelipisnya.


Ia sudah menduga, semenyebalkannya Karin ia tak akan melakukan hal buruk jika tidak ada orang di belakangnya.


"Gue minta maaf, gue nyesel dan gue udah dapet hukumannya." sesal Karin, tak terasa air matanya luruh. Membuat Devano mengiba, "Lo tidur sama dia?" tanya Devano lirih dengan mata menyipit.


Pertanyaan yang terlalu sensitif dan berhasil menyentil perasaan Karin.


"Iyaaa." jawabnya dengan suara hampir tak terdengar.


Sangat-sangat disayangkan, membuat Devano menggelengkan kepala berulang demi mendengar jawaban Karin.


"kenapa lo mesti sama om si-Alan? kan lo bisa milih Alfin atau Briyan." terang Devano, Karin mendongkak bingung.


"Kok Alfin..?" tanyanya yang merasa aneh, karena yang ia tahu, Alfin sekarang sangat membencinya.


Berbeda dari pandangan Devano, yang sama-sama menyukai satu spesies yaitu perempuan. Dari awal, ia tahu jika Alfin menaruh simpati pada Karin, terlihat dari gurat wajah khawatirnya saat Karin hilang di Mall beberapa waktu lalu, kemudian tanpa Alfin sadari jika Devano tau, saking khawatirnya ia sampai menyambangi rumah Karina Anesya.


Cinta kadang seaneh itu?


"Alfin suka sama lo, dan lo liat ini?" ucap Devano menunjuk sudut bibirnya yang luka.


"Ulah Briyan karena cemburu lo bolos pas barengan sama gue!" sambungnya lagi membuat si empu tersentak.

__ADS_1


Haruskah ia menyesal sekarang, karena telah membuka hati dan menerima lamaran Alan?


"Aku nggak pantes buat mereka, begini lebih baik." pasrahnya kemudian bangkit, setelah menghabiskan minumannya.


Menghela napas kasar, kemudian mengikuti langkah Karin keluar caffe, setelah membayar bill.


***


"Tuh Devano sama Karin tuh!" tunjuk Abiyan kepada Alfin, karena dua sahabat Devano itu sedang menunggu di tempat yang tak jauh dari Caffe.


"Sama Karin?" membuat Alfin menautkan alisnya sejurus kemudian menggeleng cepat demi melihat adegan saat Devano berusaha mencekal pergelangan tangannya.


"Lo bisa pikirkan omongan gue, Alan itu psikopat." Membuat langkah Karin tiba-tiba terhenti, terlebih saat Devano berusaha mencekal pergelangan tangannya.


"Gue tahu, gue bisa menghadapinya." ujarnya sebelum melenggang pergi.


Devano melangkah mendekati kedua sahabatnya yang sudah duduk di atas motor menunggunya.


"Darimana lo, sama Karin?" cerca Abiyan, "Ada urusan dikit." jawab Devano memilih untuk tidak berterus terang. Namun, ada satu yang menarik perhatiannya yaitu keterdiaman Alfin.


"Gue cabut duluan ya, ada urusan." pamit Alfin, kemudian memakai helm dan menyalakan motornya.


"Ngambek kan dia." gumam Devano seraya membuang napas kasar.


Lalu melirik Abiyan yang memperhatikannya, "Anterin gue pulang, bi."


"Naik, Dev! Lo mau pulang kemana?"


"Ke rumah." ujar Devano, saat ia sudah naik ke jok belakang motor Abiyan, gegas ia menyalakan mesin dan melesatkan motornya.


**


Sorenya, Nora hendak pulang karena jam kantor telah usai. Namun, diluar dugaan karena begitu sampai ia di parkiran seseorang sengaja menyiramnya dengan air, hingga tubuhnya basah kuyup.


"Damn it!" umpatnya sembari mengibas bajunya yang basah.


"Ups, Sorry!" celetuk seseorang dengan nada remeh, disusul segerombolannya yang ikut tertawa karena berhasil mengerjai Nora disaat sang pelindung, Kenzo melenggang pulang terlebih dulu.

__ADS_1


"Sok cakep sih, modal apa bisa dapetin anak tunggalnya pak Bayu, uhh jadi penasaran seperti apa wajah penerus Aldeva group." desis perempuan bernama Dasinta itu, bidadari Aldeva group sebelum Nora hadir dan merebut posisinya.


"Gue saranin, lo pada berhenti gangguin gue! Atau kalian akan menyesal." ucap Nora penuh tekanan, lalu melenggang menuju dimana mobilnya berada. Namun, belum juga sampai di mobil. Lagi, ia dibuat emosi karena bukan hanya air yang menyiram tubuhnya, tapi juga tomat busuk yang sepertinya sudah direncana oleh Dasinta dan teman-temannya, melempari Nora tanpa satupun mendapat pembelaan kerena suasana perusahaan yang sudah sepi.


"Damn it." umpatnya berkali-kali setelah berhasil membuat Dasinta dan yang lain tertawa puas karenanya. Tanpa sadar, tangannya mengepal erat, dengan emosi meletup di kepala, ia berjanji akan membuat mereka semua yang menari di hadapannya saat ini menyesal, benar-benar menyesal.


"Bubar! Bubar!" suara dua satpam yang berlari sambil berteriak, membuat gerombolan Dasinta auto bubar. Disusul seseorang di belakang satpam itu dengan wajah cemas.


"Bu Nora gak papa, maaf Dewi terlambat." ucapnya penuh penyesalan saat tahu kondisi Nora yang basah dan kotor.


"It's oke, Dew. Aku gak papa." sembari tersenyum getir. "Makasih udah nolongin." sambungnya lagi.


"Maaf bu, saya benar-benar nggak tahu." sesal Dewi.


"Gak papa, kalau begitu aku duluan." pamit Nora yang diangguki kepala oleh Dewi.


Nora melesatkan mobilnya, dan langsung pulang. Sampai di kediaman Aldeva, buru ia masuk, tanpa menghiraukan Devano yang menatapnya dengan kening mengkerut lalu buru-buru menyusul sang istri ke kamar.


"Tant, tant." panggilnya berulang-ulang saat tau Nora langsung masuk kamar mandi, khawatir dan emosi di waktu bersaman melihat bagaimana kondisi Nora pulang kerja.


Samar terdengar isakan tangis yang membuatnya mengepalkan tangan dan langsung berinsiatif mendobrak pintu.


Matanya nyalang penuh emosi terlebih saat melihat sang istri duduk memeluk lutut di bawah guyuran shower sambil terisak.


Selalu ada titik lemah dibalik kuatnya seorang wanita, meski ia selalu bilang nggak papa!


Meski ia selalu tersenyum dan menutupinya, tapi siapa yang tahu, jauh di dasar hatinya ia hanyalah wanita biasa yang terluka.


Tanpa persetujuan si empu, Devano langsung memeluknya, membawanya ke dalam pelukan menenangkan juga memabukkan.


"Why, cerita sama aku?" Hening, tak lagi terdengar isakan. Dengan gerakan lembut ia mengusap rambut Nora, kini mereka berdua sama-sama basah karena berada dibawah guyuran shower.


"Aku suamimu, aku berhak tau apa yang terjadi dengan istriku." katanya pelan, sembari mengurai pelukan. Nora mendongkak, menatap lekat manik mata itu, lalu menggerakkan jemarinya untuk mengusap sudut bibir Devano.


"Kamu terluka, Dev!" Devano menggeleng kuat-kuat, "Jawab dulu pertanyaanku!" ujar Devano.


"Aku gak papa selama masih ada kamu, karena kamu akan melindungiku." sahutnya sembari mendekatkan wajah lalu mendaratkan ci*man di bibir Devano.

__ADS_1


"Kita mandi sekarang!" ucapnya, lalu membalas Nora dengan hal yang lebih memabukkan.


__ADS_2