TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
S2 - bab 4


__ADS_3

Byur!


Seorang perempuan dengan rambut sebahu dan baju minim menghampiri mereka dan dengan gerakan cepat menyiram wajah Resha dengan air putih.


"Ja lang tidak tau diri, masih berani pura-pura bersikap polos di depan semua orang!"


Resha mendongkak saat wajahnya basah oleh siraman air. Ia cukup tersentak oleh kehadiran Luna, adik iparnya atau lebih tepatnya adik dari mas Anton.


Brakkkk!


Darren menggebrak meja dan menatap tajam wanita yang telah menyiram Resha.


"Jaga ucapan anda, lebih baik pergi sebelum saya berteriak kepada satpam untuk mengusir anda!" ucap Darren tegas dengan mata menatap tajam ke arah wanita itu.


"Sudah tidak apa-apa, tuan!" Resha membuka suara. Namun, suara itu hanya angin lalu bagi Darren.


Baginya, pantang ditindas oleh orang yang sama sekali tak lebih baik.


"Anda tidak tau apa-apa, dia ini pembunuh! dia yang menyebabkan kakak saya meninggal," Luna berapi-api, teman sebelahnya berusaha menarik tangannya agar tak memancing keramaian tapi nihil.


"Resha, apa kamu akan diam saja ketika orang lain menindasmu," Darren melirik ke arah Resha, perempuan itu menunduk dalam dalam.


"Dan kamu, orang mati itu sudah takdir, kamu ada bukti dia membunuh kakakmu? bisa jadi saya akan melaporkanmu atas kasus pencemaran nama baik," ancam Darren yang berhasil membuat Luna berdecak kesal dan memilih pergi.


Baru beberapa langkah, Luna kembali menoleh.


"Aku akan membalas kematian kakakku, kamu harus menderita dasar ja lang!"


Darren duduk saat punggung Luna dan temannya menghilang dari pandangan.


"Perempuan gila," umpatnya yang di dengar oleh Leon, Qween juga Resha.


"Kenapa kamu yang emosi, Der?" tanya Qween yang merasa emosi saudara kembarnya langsung naik saat ada orang yang berusaha menindas Resha.


"Aku hanya membantunya, tak disangka sampai akhir malah memilih diam, dasar bo doh." kesal Darren.


"Kau ini seperti ibu-ibu pms saja," ejek Leon, yang berhasil mendapatkan pukulan dari Darren.


"Sudah-sudah, maaf." Resha menengahi, ia merasa bersalah dengan situasi seperti ini.


Darren menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan, ada yang bergetar tapi bukan dering ponsel. Tanpa sadar memegangi dadanya dan berusaha menampik rasa yang kerap kali mengganggunya.


"Siapa dia kak?" tanya Qween penasaran. Resha pun menjelaskan jikalau perempuan cantik tadi adalah adik dari suaminya yang telah meninggal.


"Kakak jan..." Qween terdiam saat Leon mencubit lengannya.


"Le, sakit tau," Qween mengaduh dengan bibir mengerucut, sementara Darren yang sudah tau memilih diam.


Leon memberi isyarat kepada Qween agar mengikutinya pergi sebentar. Di aebuah taman samping caffe, ia meminta agar Qween tidak terlalu bertanya detail tentang status Resha.


"Bukan karena apa-apa, aku takut aja dia jadi gimana gitu, biar nanti kalau kalian udah akrab, pasti Resha akan cerita dengan sendirinya." Leon mengusap-usap rambut Qween, lalu menyelipkannya di belakang telinga agar wajah cantik itu terlihat.


"Le, memangnya kenapa?" tanya Qween tak mengerti.


"Bukan apa-apa, hanya saja belum saatnya."


Sementara di meja, dua insan saling terdiam dengan fikiran masing-masing. Resha yang menunduk sedangkan Darren yang menerka-nerka kisah masalalu Resha.


"Kau tidak mau menceritakan kehidupanmu sebelumnya?" tanya Darren memecah keheningan.


Dahi Resha seketika mengernyit, manik matanya menatap Darren tak mengerti.


"Aku fikir, kau harus bercerita agar aku tau aku harus membela siapa? jangan-jangan yang dikatakan perempuan tadi benar." Darren berbisik.


"Tidak Tuan, ini hanya, itu hanya saja saya..." Resha terdiam, bibirnya terkunci rapat, entah kenapa berbicara dengan Darren membuat dadanya berdesir aneh.

__ADS_1


"Sudahlah, kita lanjut saja!" ucap Darren saat melihat Qween dan Leon kembali ke arah mereka.


Caffe cukup rame pengunjung, iringan musik menemani malam indah mereka. Resha terpaku saat mendengar sebuah lagu yang dibawakan oleh pemuda sambil memetik gitar. Lagi-lagi ia teringat mas Anton suaminya.


Sial, tanpa sadar air matanya luruh dari sudut mata. Darren melirik, ia tahu perempuan sebelahnya sedang terbawa suasana.


Lirik lagu milik joeniar arif memang menggambarkan suasana hatinya yang rapuh saat ini, dan pemuda itu membawakannya dengan penuh menghayatan hingga berhasil membuat hatinya kembali porak poranda.


Kau tak tahu betapa rapuhnya aku


Bagai lapisan tipis air yang beku


Sentuhan lembut kan hancurkan aku


Walaupun cinta tak sempurna


Menghampiri ku seketika


Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku


Kau tak tahu betapa rapuhnya aku


Masih merasa luka di masa lalu


Ku pernah mencintai sepenuh hati


Dan ku terluka, luka membekas


Bekas membuat, buat selamanya


Selamanya ku, ku kan selalu


Ku kan selalu rapuh


Tak hanya ada karena masa lalu


Tapi masih ada harapan bagi yang baru


Kau tawarkan ku sejuta harapan


Namun kenangan itu tak pernah hilang


Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku


Kau tak tahu betapa rapuhnya aku


Masih merasa luka di masa lalu


Ku pernah mencintai sepenuh hati


Dan ku terluka, luka membekas


Bekas membuat, buat selamanya


Selamanya ku, ku kan selalu


Ku kan selalu rapuh


Kau datang bagai hujan basahi tanah hati


Tapi kau lihat sendiri, luka ini..


Dan ku terluka, luka membekas


Bekas membuat, buat selamanya

__ADS_1


Selamanya ku, ku kan selalu


Ku kan selalu rapuh


ku kan selalu rapuh....


Tes...


Tes...


Air mata Resha luruh juga, meski berusaha menutupi dengan mengusap wajahnya, Darren menangkap kesedihan teramat dalam di diri wanita itu.


"Sudah selesai kan? Kita pulang," ucap Darren sambil bangkit, moodnya mendadak berubah.


"Tunggu ben..." Leon langsung mengisyaratkan agar Qween menurut saja.


"Baik, Derr!"


Mereka akhirnya memilih pulang, setelah membayar bill, mereka langsung menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.


Hening, tak ada yang berani membuka suara hingga sampai di kedai milik Darren, bersama dengan itu Dania datang bersama Erick.


"Kalian tunggu di mobil, aku akan mengantar Resha sampai ke dalam." titah Darren yang diangguki Qween dan Leon.


"Tuan, apa anda tidak marah melihat mbak Dania dengan laki-laki lain," tanya Resha memberanikan diri.


Pletak !!


Darren menyentil kening Resha hingga membuatnya mengaduh kesakitan.


"Apa aku salah bicara?" batin Resha bertanya-tanya.


"Tentu saja tidak, terserah dia mau pergi dengan siapa, sama om-om, kakek-kakek atau bocah sekalipun, bukan urusanku." Darren melipat tangannya di dada, kedai sudah tutup. Namun, Dania kembali untuk menyerahkan kuci kepada Resha.


"Malam tuan," sapa Dania membungkuk, Resha semakin tak mengerti, ia pikir Dania adalah kekasih laki-laki yang saat ini di hadapannya, apa dia salah pemikiran?


"Malam," balas Darren cuek.


"Kalau begitu, saya pulang." pamit Darren membalikkan badan tanpa menunggu respon dua wanita yang kini tengah kebingungan.


"Apa dia kekasihmu, mbak?"


"Apa kau berkencan dengannya, Res?"


Seketika dua wanita itu terkekeh bersama.


"Kamu dulu," ucap Dania.


"Mbak dulu aja deh,"


**


Dania menemani Resha sebentar, ia penasaran kenapa Resha bisa berkencan dengan bossnya, Resha pun menceritakan semuanya hingga berhasil membuat Dania tergelak tawa tak berhenti.


"Sudah pernah nikah, tapi kamu ini masih polos-polos aja, Res." ejek Dania.


"Nikah cuma status mbak," gumam Resha pelan nyaris tak terdengar.


***


Next?


200 like, up🤗


Like komen dan gift vote ya sayang👌🏻

__ADS_1


__ADS_2