TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Pingsan


__ADS_3

Devano mengapit jemari Nora tuk kemudian melangkah keluar kamar. Namun, terpisah karena Devano harus menemani Zain sementara Nora menjadi pendamping Maura menuju pelataran rumah yang telah disulap sedemikian rupa indahnya.


Devano merasa Dejavu, ketika mendampingi Zain menuruni tangga, menuju kursi dimana akan menjadi saksi pernikahan mereka. Sementara Nora, ia meraih tangan Maura, membawanya turun bersama sang mama, sedangkan Rain dan Radit sudah menunggu di bawah bersama Zain, papa juga Devano.


"Jangan gugup, berdoa semoga lancar!" bisik Nora.


"Iya, makasih Noe." ucapnya.


***


Acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai, dimana pak penghulu siap pun Zain dan Maura.


Acara ijab qobul pun dimulai, dalam satu tarikan napas, Zain mengucapkannya dengan sangat lancar.


"Sahhhh!" saat ucapan itu terucap dari saksi pun orang-orang yang menyaksikannya. Termasuk Devano dan Nora yang tersenyum haru turut berbahagia.


"Aku merasakannya," bisik Devano, membuat Nora mengukir senyum.


"Aku juga ikutan gugup, berasa mau nikah lagi." namun, tiba-tiba membekap mulutnya sendiri


karena Devano langsung menatapnya tajam, "Gak boleh nikah lagi." tegasnya dengan suara lirih, membuat Nora hampir terkikik karena geli.


***


"Selamat ya Zain, Maura! Aku seneng akhirnya kalian menyusul," ucap Nora memeluk keduanya bergantian, sementara Maura membalas dengan tersipu malu pun Zain yang ikut tersenyum.


"Orang yang menikah karena cinta, akan reflek berekpresi bahagia, tapi kenapa gue ngerasa pernikahan Zain dan Maura ada yang aneh." Batin Devano yang mengamati wajah keduanya tampak kikuk meski sedang tersenyum.


Ia menghela napas saat Shaka mengajaknya berkenalan dengan beberapa tamu kolega, kenapa harus dia? tapi ia tetap tak kuasa menolak, terlebih melihat binar bangga di raut papa mertuanya saat memperkenalkannya dengan para pembisnis.


"Dia Devano, menantu saya." ucapnya bangga, disusul Devano menyambut tangan orang-orang tuk berjabat, kemudian membungkuk sopan.


"Wah, pak Shaka gagal besanan sama Charley, malah dapet daun muda." seloroh bapak-bapak rekan bisnis Shaka sembari terkekeh.


"Ya selera Nora memang best lah, gak kalah ganteng sama itu." tunjuknya pada seseorang yang berjalan mendekat, dia adalah Alan Carley, datang dengan Papanya.


Mendadak mata Devano memanas. Namun, sepertinya Alan belum menyadari keberadaannya disini.


"Pa, aku permi...."


"Jangan pergi dulu, papa belum selesai ngenalin kamu ke teman-teman papa."


"Selamat Shaka, akhirnya Zain menikah juga! Tinggal Nora ini, ehmmm Alan kamu temui Nora, gih." ujar Carley saat berjabat dengan Shaka. Devano benar-benar memanas, akan tetapi ia memilih diam. Terlebih Alan belum benar-benar menyadari kehadirannya, tubuhnya terhalang beberapa kolega papa.


"Terima kasih, Car! Oiyaa, dia Devano!" ujar Shaka dengan senyum, membuat Alan menoleh karena satu nama yang sangat familiar.


Matanya melotot tajam tak percaya, mendapati Devano berada di pesta pernikahan Zain kembali menguar ingatan saat gagal menikah dengan Karin.


Benarkah Nora sudah menikah dengan Devano, tapi apa itu mungkin?

__ADS_1


"Devano, suami Nora, Dev! ini om Carley." selorohnya, suasana mendadak mencekam. Saat Carley justru melotot tak percaya, pun Alan yang wajahnya memerah padam.


"Jadi benar, kalian sudah menikah?" tanya Alan.


"Bahkan sudah satu bulan lebih." jawab Devano santai.


"Wah secret marriage ini ceritanya." seloroh beberapa orang.


"Acara cuma di saksikan keluarga," ucap Shaka menjelaskan.


Carley tak sanggup menahan emosinya, ia benar-benar kecewa, saat Alan gagal berjodoh dengan Nora, saat Alan gagal juga dengan Karin dan sekarang Nora justru sudah menikah.


"Apa Nora hamil dulu sampai harus pernikahannya disembunyikan? aku dengar dia juga sudah berhenti jadi wakil CEO di perusahaanmu, Shak? apa itu benar?" Carley memiringkan senyum.


Bugh! ia langsung emosi, hingga tangannya terkepal dan langsung maju memukul rahang Carley.


"Jaga ucapan anda, jika tidak tau lebih baik diam." emosi Devano.


Bugh! "Berani kamu memukul papaku." desisnya emosi, membalas Devano.


Shaka melerai, "Sudah Dev! Jangan diladeni."


"Tapi, Pa.."


Namun, Shaka memberi isyarat padanya untuk tetap tenang, terlebih ini pernikahan iparnya.


"Kalian pulanglah, jangan mengacau di acara orang!" ujar Shaka kepada Carley pun Alan.


"Whhh, ini sih kecewa karena gagal berbesan." seloroh salah satu kolega.


"Balas dendam nih."


"Anaknya sok ganteng gitu."


Membuat wajah Alan pun Carley semakin padam.


"Tunggu!" teriak Devano membuat keduanya menoleh, pun Shaka yang menautkan kedua alisnya.


"Nora sekarang bergabung di Aldeva group, tentu kalian tak asing dengan perusahaan itu. Saya akan pastikan, perusahaan manapun yang terhubung dengan Aldeva..." Devano menarik napas sejenak, "Tak akan bekerja sama dengan perusahaan kalian." tegasnya.


Rahangnya mengeras, demi mendengar penuturan Devano, "Dia anak Bayu Aldeva?" tanyanya kepada Alan setelah melangkah jauh dari area pesta.


Alan hanya mengangguk lesu, "Mantan karyawannya menggodaku, dan itu yang membuat pernikahanku dan Karin gagal!"


"Bo doh, harusnya kamu bisa mengontrol diri." desisnya marah, sembari masuk ke dalam mobil dan membanting pintu.


"Semua terjadi begitu saja pa, aku khilaf." membuat Carley semakin marah.


***

__ADS_1


Shaka bukan hanya mengenalkan Devano kepada para koleganya, tapi juga kepada Dion, Sam juga Radit.


Barulah ia bebas, "Jangan sungkan, mereka semua teman baik papa. Yang anaknya ganteng tadi, dia pemilik club Blackzone. Tau Blackzone?" tanya Shaka, Devano mengangguk.


"Tau, Pa!"


"Lain kali ngobrol panjang lagi sama papa, kita kesana dulu sapa para tamu yang baru datang."


Nora merasakan lelah luar biasa, disaat semua orang saling melempar senyum menyambut para tamu, ia memilih mundur hendak ke belakang tuk sekedar melepas lelah sebentar sebelum lanjut acara nanti malam.


Namun, keseimbangan tubuhnya melemah hingga akhirnya ambruk tak sadarkan diri, dan Zian yang tak sengaja melihat Nora pingsan spontan menggendong Nora dan merebahkannya di sofa.


"Noe, bangun!" ia masih berusaha membangunkan Nora, orang-orang sibuk di depan membuat fikirannya buntu. Zian memanggil saudaranya Ziando, agar memberitahukan pingsannya Nora kepada Devano. Tak sampai lima menit, Dev sudah datang dengan raut wajah panik.


"Bangun sayang." Dev mencoba membangunkan Nora berulang-ulang, sembari mengoleskan minyak kayu putih di area hidung, ia sangat khawatir. "Aku bawa ke atas." ujar Devano, "Kamu telepon dokter Zi," titahnya sebelum mengangkat tubuh Nora.


Ia masih berusaha menyadarkan istrinya, lantaran Nora tak terlihat sakit belakangan ini membuatnya semakin dilanda khawatir. Bahkan, waktu yang hanya beberapa menit menunggu kedatangan dokter terasa sangat lama, membuatnya uring-uringan tak jelas.


Beruntung tamu undangan sudah mulai pulang, saat tahu Nora pingsan, Shaka dan Kenia langsung menuju kamar Nora.


Sementara Zain dan Maura, ia sedang mengganti gaunnya di kamar, tanpa tau keadaan Nora.


"Nak, bagaimana Nora." Kenia langsung masuk melangkah menghampiri ranjang kemudian duduk di samping tubuh Nora.


"Sayang bangun." Kenia mengoles minyak kayu putih, bahkan memijat kaki Nora.


"Apa Noe sakit, Dev?" tanya Shaka yang merasa aneh kenapa Nora tiba-tiba pingsan.


"Enggak, Pa. Nora nggak sedang sakit." membuat Shaka semakin menautkan alis.


Beberapa saat dengan langkah tergesa, Ziando datang bersama dokter Arka. Ia membiarkan dokter Arka memeriksa keadaan Nora, mulai daro detak jantung juga tensi darah.


"Semua normal," ucap dokter Arka mengulas senyum bersama dengan Nora yang mulai mendapati kesadarannya.


Merasa kepalanya pusing dengan pandangan tak begitu jelas. Ia mencari keberadaan Devano.


"Ada aku." Dev mendekat dan menggenggam jemari Nora, lalu tangan satunya mengusap lembut pucuk kepala.


"Kapan terakhir datang bulan?" tanya dokter Arka. Namun, respon Nora justru menggeleng hingga membuat Kenia pun Shaka yang berada disana mulai menerka.


"Terakhir, satu minggu sebelum menikah." gumamnya pelan, kemudian beralih menatap Devano.


Dokter Arka menyerahkan testpack kepada Nora setelah memastikan kondisi Nora membaik.


Matanya membulat sempurna demi mendapati tiga testpack dengan tanda yang sama, dua garis merah.


Nora keluar kamar mandi, dengan gurat wajah takut. Hal pertama yang ia lakukan adalah menatap Devano lekat-lekat, seolah sedang bertanya dengan bahasa isyarat, seolah bertanya tentang bagaimana? dan Devano bisa menangkap kegundahan hati Nora, lalu tanpa ragu ia mengangguk. Seklebatan perkataan Devano membuat oase kekuatan dalam dirinya,


Ada aku!

__ADS_1


Kata singkat yang selalu berhasil memberinya kekuatan, hya apapun yang terjadi Devano akan selalu ada untuknya.


"Aku HAMIL." akunya kepada semua orang yang berada di kamarnya.


__ADS_2